Sabtu, 10 Mei 2008

Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu)

Kumpulan Artikel Islami

Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu) Di antara bencana besar yang menimpa kaum Musliminsejak periode-periode pertama adalah tersebar luasnya hadits-hadits

Dla’if [lemah] dan Mawdlu’ [palsu] di tengah mereka. Tidakada seorang pun yang dikecualikan di sini sekalipun mereka adalahkalangan para ulama mereka kecuali beberapa gelintir orang yangdikehendaki Allah, di antaranya para imam hadits dan Nuqqaad [ParaKritikus hadits] seperti Imam al-Bukhary, Ahmad, Ibn Ma’in, Abu Hatimar-Razy dan ulama lainnya.

Penyebaran yang secara meluas tersebut mengakibatkan banyak dampaknegatif, di antaranya ada yang terkait dengan masalah-masalah aqidahyang bersifat ghaib dan di antaranya pula ada yang berupaperkara-perkara Tasyri’ [Syari’at].

Adalah hikmah Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui, bahwa Dia tidakmembiarkan hadits-hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang benciterhadap agama ini untuk tujuan-tujuan tertentu menjalar ke tubuh kaumMuslimin tanpa mengutus orang yang akan menyingkap kedok yang menutupihakikatnya dan menjelaskan kepada manusia permasalahannya. Merekaitulah para ulama Ahli hadits dan pembawa panji-panji sunnahNabawiyyah yang didoakan Rasullah dalam sabdanya, “Semoga Allahmencerahkan [menganugerahi nikmat] seseorang yang mendengarkanperkataanku lalu menangkap [mencernanya], menghafal danmenyampaikannya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu tetapi tidaklebih faqih [untuk dapat menghafal dan menyampaikannya] dari orangyang dia sampaikan kepadanya/pendengarya [karena ia mampu menggalidalil sehingga lebih faqih darinya].” [HR.Abu Daud dan at-Turmudzyyang menilainya shahih].

Para imam tersebut â€"semoga Allah mengganjar kebaikan kepada merekadari kaum Muslimin- telah menjelaskan kondisi kebanyakan hadits-haditstersebut dari sisi keshahihan, kelemahan atau pun kepalsuannya dantelah membuat dasar-dasar yang kokoh dan kaidah-kaidah yang mantap dimana siapa saja yang menekuni dan mempelajarinya secara mendalam untukmengetahuinya, maka dia akan dapat mengetahui kualitas dari hadits apapun meski mereka [para imam tersebut] belum memberikan penilaianatasnya secara tertulis. Itulah yang disebut dengan ilmu Ushul Haditsatau yang lebih dikenal dengan Llmu Mushthalah Hadits.

Para ulama generasi terakhir [al-Muta`akkhirin] telah mengarangbeberapa buku yang khusus untuk mencari hadits-hadits dan menjelaskankondisinya, di antaranya yang paling masyhur dan luas bahasannyaadalah kitab al-Maqaashid al-Hasanah Fii Bayaan Katsiir Min al-Ahaadiitsal-Musytahirah ‘Ala al-Alsinah karya al-Hafizh as-Sakhawy.Demikian juga buku semisalnya seperti buku-buku Takhriijaat [untukmengeluarkan jaluar hadits dan kualitasnya] yang menjelaskan kondisihadits-hadits yang terdapat di dalam buku-buku pengarang yang bukuberasal dari Ahli Hadits [Ulama hadits] dan buku-buku yang berisihadits-hadits yang tidak ada asalnya seperti buku Nashb ar-Raayah LiAhaadiits al-Bidaayah karya al-Hafizh az-Zaila’iy, al-Mugny ‘AnHaml al-Asfaar Fii al-Asfaar Fii Takhriij Maa Fii Ihyaa` Min al-Akhbaarkarya al-Hafizh al-‘Iraqy, at-Talkhiish al-Habiir Fii TakhriijAhaadiits ar-Raafi’iy al-Kabiir karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany,

Takhriij Ahaadiits al-Kasysyaaf karya Ibn Hajar juga dan

Takhriij Ahaadiits asy-Syifaa` karya Imam as-Suyuthy, semua bukutersebut sudah dicetak dan diterbitkan.

Sekalipun para imam tersebut â€"semoga Allah mengganjar kebaikan kepadamereka- telah melanggengkan jalan kepada generasi setelah mereka, baikbuat kalangan para ulama maupun para penuntut ilmu hingga merekamengetahui kualitas setiap hadits melalui buku-buku tersebut dansemisalnya, akan tetapi â€"sangat disayangkan sekali- kami melihatmereka malah telah berpaling dari membaca buku-buku tersebut. Makakarenanya, mereka pun buta terhadap kondisi hadits-hadits yang telahmereka hafal dari para guru mereka atau yang mereka baca pada sebagianbuku yang tidak interes terhadap hadits yang shahih dan valid. Karenaitu pula, kita hampir tidak pernah mendengarkan suatu wejangan darisebagian Mursyid [penyuluh], ceramah dari salah seorang ustadzatau khuthbah seorang khathib melainkan kita dapati di dalamnyasesuatu dari hadits-hadits Dla’if dan Mawdlu’ tersebut, dan ini amatberbahaya di mana karenanya dikhawatirkan mereka semua akan terkenaancaman sabda beliau SAW., yang berbunyi, “Barangsiapa yang telahberdusta terhadapku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkantempat duduknya di api neraka.” [Hadits Shahih Mutawatir]

Walau pun secara langsung mereka tidak menyengaja berdusta, namunsebagai imbasnya mereka tetap berdosa karena telah menukil [meriwayatkan]hadits-hadits yang semuanya mereka periksa padahal mengetahi secarapasti bahwa di dalamnya terdapat hadits yang Dla’if atau pun haditsdusta. Mengenai hal ini, terdapat isyarat dari makna hadits Rasulullahyang berbunyi, “Cukuplah seseorang itu berdusta manakala iamenceritakan semua apa yang didengarnya [tanpa disaring lagi-red.,].”

[HR.Muslim] dan hadits lainnya dari riwayat Abu Hurairah.

Kemudian dari itu, telah diriwayatkan bahwa Imam Malik pernah berkata,“Ketahuilah bahwa tidaklah selamat seorang yang menceritakan semua apayang didengarnya dan selamanya, ia bukan imam bilamana menceritakansemua apa yang didengarnya.”

Imam Ibn Hibban berkata di dalam kitab Shahihnya, “Pasal: Mengenaidipastikannya masuk neraka, orang yang menisbatkan sesuatu kepada al-Mushthafa,Rasulullah SAW., padahal ia tidak mengetahui keshahihannya,” setelahitu, beliau mengetengahkan hadits Abu Hurairah dengan sanadnya secaramarfu’, “Barangsiapa yang berkata dengan mengatasnamakanku padahalaku tidak pernah mengatakannya, maka hendaklah ia mempersiapkan tempatduduknya di neraka.” Kualitas sanad hadits ini Hasan dan maknaasalnya terdapat di dalam kitab ash-Shahiihain dan kitab lainnya.

Selanjutnya, Ibn Hibban berkata, “Pembahasan mengenai hadits yangmenunjukkan keshahihan hadits-hadits yang kami isyaratkan pada babterdahulu,” kemudian beliau mengetengahkan hadits dari Samurah binJundub dengan sanadnya, dia berkata, Rasulullah SAW., bersabda,

“Barangsiapa yang membicarakan suatu pembicaraan mengenaiku [membacakansatu hadits mengenaiku] di mana ia terlihat berdusta, maka ia adalahsalah seorang dari para pendusta.” [Kualitas hadits ini Shahih,dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam mukaddimahnya dari haditsSamurah dan al-Mughirah bin Syu’bah secara bersama-sama]. Ibn Hibbanberkata, “Ini adalah hadits yang masyhur.” Kemudian dia melanjutkan,“Pembahasan mengenai hadits kedua yang menunjukkan keshahihan pendapatkami,” lalu dia mengetengahkan hadits Abu Hurairah yang pertama diatas.

Dari apa yang telah kami sampaikan di atas, jelaslah bagi kita bahwatidak boleh menyebarkan hadits-hadits dan meriwayatkannya tanpaterlebih dahulu melakukan Tatsabbut [cek-ricek] mengenaikeshahihannya sebab orang yang melakukan hal itu, maka cukuplah itusebagai kedustaan terhadap Rasulullah yang bersabda, “Sesungguhnyaberdusta terhadapku bukanlah berdusta terhadap salah seorang diantarakamu; barangsiapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, makahendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di api neraka.” [HR.Muslimdan selainnya], wallahu a’lam.

[SUMBER: Mukaddimah Syaikh al-Albany di dalam bukunya Silsilah al-Ahaadiitsadl-Dla’iifah Wa al-Mawdluu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi` Fi al-Ummah,jld.I, h.47-51 dengan sedikit perubahan dan pengurangan]

Artikel Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu) diambil dari http://www.asofwah.or.id
Bahaya Hadits Dla’if Dan Mawdlu’ (Palsu).

Tidak ada komentar: