Rabu, 14 Mei 2008

Arti Sebuah Hadiah

Kumpulan Artikel Islami

Arti Sebuah Hadiah Anjuran agar saling mendekatkan hati, salingbersaudara dan mencintai di antara sesama kaum muslimin merupakansalah satu sisi keindahan Islam. Islam mensyari'atkan sarana yangdapat menyebabkan keakraban, mendamaikan dan menghilangkan kabut hati.Di antara sarana itu adalah saling memberikan hadiah di antara sesamamuslim.

Hadiah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan danpermintaan ma'af. Ia mampu menghilangkan kabut hati, memadam kan apipermusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dankedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelahsekian lama tercerai-berai.

Hadiah selalu memberi kesan perdamaian, rasa cinta dan penghargaandari si pemberi kepada yang diberi. Karena itulah Nabi shallallahu‘alaihi wasallam menganjurkan agar memberi dan menerima hadiah.Beliau menjelaskan pengaruh hadiah di dalam meraih kecintaan dan kasihsayang di antara sesama manusia,Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan salingmencintai. [HR. al-Bukhari, al-Adab al-Mufrid]

Beliau juga bersabda,Penuhilah undangan orang yang mengundang, janganlah menolak hadiah...

[HR.Ahmad dan al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrid]

Mengenai hadits ini, Ibn Hibbân mengomentari, Dalam hadits ini, Nabi

shallallahu ‘alaihi wasallam mengecam tindakan menolak hadiahdi kalangan sesama muslim. Bila seseorang diberi sebuah hadiah, wajibbaginya untuk menerimanya dan tidak menolaknya. Saya menganjurkanorang-orang untuk saling mengirim hadiah kepada sesama saudara. Sebabhadiah dapat melahirkan kecintaan dan menghilangkan rasa dendam.

Antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Hadiah

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan tidakmenerima sedekah. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia berkata, Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdisuguhi makanan, ia selalu bertanya; Apakah ia hadiah atau sedekah.Jika dijawab, 'Sedekah' maka ia berkata kepada para shahabatnya, 'Makanlaholeh kalian' sementara ia tidak ikut memakannya. Sedangkan biladijawab, 'hadiah' maka beliau mencuci tangannya lalu memakannyabersama mereka.' [Muttafaqun 'alaih]

Hadits lainnya berasal dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha, iaberkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerimahadiah dan mendoakan pahala bagi [pemberi]-nya. [HR. al-Bukhari]

Salah satu jenis hadiah yang tidak pernah ditolak Nabi shallallahu‘alaihi wasallam adalah wewangian. Hal ini sebagaimana hadits Anas

radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam tidak pernah menolak wewangian. [HR. al-Bukhari] Beliau

shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, Siapa saja yangdihadiahi 'Raihan', maka janganlah menolaknya sebab ia ringan dibawanamun sedap baunya. [HR.Muslim]

Apa Yang Dilakukan Orang-Orang Anshar

Orang-orang Anshar amat mengetahui betapa hajat Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam dan kesulitan hidup yang dialaminya.Karena itu, mereka selalu mengirim kan hadiah dan pemberian untukbeliau. Hal ini diceritakan oleh 'Aisyah radhiyallahu ‘anhakepada 'Urwah radhiyallahu ‘anhu bahwa seringkali di rumahRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dinyalakan apikarena tidak memasak. Lalu ketika 'Urwah bertanya apa yang dimakanbila kondisinya demikian. 'Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, Hanya korma dan air. Kemudian 'Aisyah radhiyallahu ‘anhamenceritakan bahwa sekalipun demikian, Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam punya tetangga orang-orang Anshar yang selalumengirimkan hadiah, yaitu berupa air susu onta. [Muttafaqun 'alaih]

Memberi Hadiah Jangan Diukur Nilai Materinya

Anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar salingmemberi hadiah walaupun sedikit tidak ditinjau dari sisi nilaimaterinya tetapi lebih kepada nilai maknawinya sebagaimana yang telahdisinggung di atas. Hal ini dapat terlihat dari sabda Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadits Abu Hurairah

radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bersabda,Wahai para wanita kaum muslimin, janganlah ada seorang tetanggameremehkan pemberian tetangganya yang lain sekali ia [pemberiantersebut] berupa ujung kuku [teracak] unta. [HR.al-Bukhari].Padahal, apalah artinya kuku yang tentunya hanya menyisakan sedikitdaging.

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammemberikan permisalan menarik yang menunjukkan perlunya sikap tawadlu'[rendah hati] dalam menerima hadiah apa pun,Andaikata aku diundang untuk menyantap makanan [yang berupa]bagian hasta atau bagian di bawah tumit, niscaya aku penuhi undanganitu, dan andaikata aku dihadiahi hal yang sama juga niscaya akumenerimanya. [HR. al-Bukhari]

Bila kita renungkan lebih mendalam, apakah Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam masih membutuhkan makanan dari orang lainJawabannya sudah pasti, tidak. Sebab sebagaimana yang kita ketahuibahwa beliau diberi makan dan minum oleh Rabbnya akan tetapi hal itumerupakan pelajaran praktis agar bersikap tawadlu' dan rendah hatiterhadap kaum muslimin apa pun kedudukan mereka.

Kehidupan para ulama Salaf juga sarat dengan hal itu di mana merekasaling memberi hadiah, sekecil apa pun bentuknya, terkadang ada yanghanya berupa kurma yang belum matang, ada yang berupa setangkai bungamawar, ada yang hanya berupa garam yang ditumbuk dan tetumbuhan yangwangi aromanya.

Saling Memberi Hadiah antara Suami-Istri

Hadiah adalah sesuatu yang mengagumkan, apalagi bila terjadi di antarasuami-isteri. Ia dapat menambah rasa kecintaan dan kedekatan hatiantara keduanya, memperbarui ruh kehidupan rumah tangga danmenghilangkan perselisihan yang sebelumnya bisa saja akan bertambahmeruncing bila kedua pasangan tidak menyadari apa yang dapatmenghilangkannya.

Seorang istri lebih mudah tersentuh oleh hadiah yang diberikansuaminya ketimbang terhadap hadiah orang lain, demikian pula dengansang suami. Bahkan bila ingin, isteri boleh memberikan sebagianmaharnya kepada sang suami asalkan secara sukarela. Allah subhanahuwata’alaberfirman,Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian darimaskawin itu dengan senang hati, maka makanlah [ambillah] pemberianitu [sebagai makanan] yang sedap lagi baik akibatnya.

[an-Nisâ`:4]

Beberapa Hal Penting yang Perlu Diperhatikan

1. Tidak boleh mengambil kembali hadiah yang telah diberikan kepadaorang lain sebab hal itu sebagaimana makna sebuah hadits sama sepertianjing yang menelan lagi makanan yang telah dimuntahkannya. [Muttafaqun'alaih].

Akan tetapi, boleh mengambil kembali hadiah yang telah diberikankarena alasan yang sesuai syari'at seperti curiga bahwa ia berasaldari hasil suap. Contohnya, ash-Sha'b bin Jatstsamah radhiyallahu‘anhu pernah memberi hadiah seekor keledai liar kepada Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam ,, ,,namun beliau menolak nyakarena ia sedang berpakaian ihram. Demikian pula, bila seorang pegawaiyang sudah memiliki gaji diberi hadiah, maka ia tidak bolehmenerimanya dan ini seperti kasus Ibn al-Lutbiyyah di mana Rasulullahmengecamnya. [Muttafaqun 'alaih]

2. Hendaknya yang lebih diutamakan di dalam memberi hadiah adalahkeluarga terdekat; kaum kerabat seperti paman pihak ibu dan ayah danorang semisal mereka. Demikian juga boleh mendahulukan orang yang dihati seseorang mendapat tempat yang dekat. Imam al-Bukharimencantumkan bab tentang siapa yang lebih dahulu harus diberi hadiah,lalu beliau mengetengahkan dua hadits; yang pertama, beliaumenyarankan kepada sang penanya agar diberikan kepada paman dari garisibunya dan yang ke dua ketika ditanyai kepada beliau mana di antaradua tetangga yang didahulukan dalam memberi hadiah, beliau menjawab, Yang paling dekat pintunya darimu.

Sumber: Barid al-Hadiyyah, Seksi Ilmiah Dar al-Wathan] [Ibnu Yahya]

Artikel Arti Sebuah Hadiah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Arti Sebuah Hadiah.

Tidak ada komentar: