Sabtu, 07 Juni 2008

ABU HANIFAH- 2-habis (Sikap Bela Agama DanArgumentasinya Yang Kuat)

Kumpulan Artikel Islami

ABU HANIFAH- 2-habis (Sikap Bela Agama DanArgumentasinya Yang Kuat) “Abu Hanifah an-Nu'man adalah seorang yangsangat keras pembelaannya terhadap hak-hak Allah yang tidak bolehdilanggar, banyak diam dan selalu berfikir.” [Imam Abu Yusuf]

Pada suatu hari Abu Hanifah mendatangi majlis Imam Malik yang sedangberkumpul dengan para sahabatnya, maka tatkala ia keluar [karenapengajian sudah bubar], berkatalah Imam Malik kepada orang-orang yangada di sekitarnya, “Apakah kalian tahu siapa orang itu.” Merekamenjawab, “Tidak.” Kemudian sang Imam berkata, “Ia adalah an-Nu'manbin Tsabit, seorang yang apabila mengatakan bahwasanya tiang masjidini adalah emas maka perkataannya itu tentulah menjadi hujjah dansungguh benar-benar tiang itu akan keluar seperti yang dikatakannyaitu.”

Tidaklah Imam Malik berlebihan dalam mensifati Abu Hanifah dengan haldemikian karena memang ia memiliki hujjah yang kuat, kecepatan dalammegambil keputusan yang tepat dan ketajaman dalam berfikir.

Kitab-kitab sejarah telah menceritakan bagaimana pendirian dansikapnya terhadap para penentang dan musuh-musuhnya dalam hal ra'yudan aqidah, yang kesemuanya itu menjadi saksi akan kebenaran apa yangdikatakan oleh Imam Malik tentang Abu Hanifah, yang mana jikaseandainya ia mengatakan bahwasanya pasir yang ada di depanmu adalahemas maka tidak ada alasan bagi kamu kecuali percaya dan menerimaterhadap apa yang ia katakan. Maka bagaimana halnya jika ia mendebattentang kebenaran.

Sebagai satu contoh apa yang terjadi dengan salah seorang dari Kufahyang disesatkan Allah ia adalah seorang yang terpandang di matasebagian orang dan kata-katanya didengar oleh mereka. Ia mengatakankepada orang-orang bahwasanya Utsman bin Affan pada asalnya adalahseorang yahudi dan ia tetap menjadi yahudi setelah datangnya agamaIslam. Maka demi mendengar perkataannya tersebut Abu Hanifahmenghampirinya dan berkata, “Saya datang kepadamu hendak melamar anakperempuanmu untuk salah seorang sahabatku.”

Ia menjawab, “silahkan wahai Imam, sesungguhnya orang seperti dirimutidak akan ditolak apabila meminta sesuatu, tetapi kalau boleh tahusiapakah orang yang mau menikahi anak perempuanku itu.”

Abu Hanifah menjawab, “seseorang yang dikenal oleh kaumnya dengankemuliaan dan kekayaan, dermawan dan ringan tangan serta suka membantuorang lain, hafal kitab Allah Azza wa Jalla, selalu menghidupkanseluruh malamnya untuk beribadah dan banyak menangis karena takutnyakepada Allah.”

Maka orang itu berkata, “cukuplah wahai Abu Hanifah, sesungguhnyasebagian dari sifat yang engkau sebutkan tadi telah menjadikan orangitu pantas untuk menikahi anak perempuan Amirul Mu'minin.”

Kemudian Abu Hanifah berkata lagi, “akan tetapi ia memiliki satu sifatyang harus engkau pertimbangkan.”

Ia bertanya, “apakah sifat tersebut.”

Sang Imam menjawab, “sesungguhnya ia adalah seorang yahudi.”

Maka setelah mendengar jawaban tersebut ia terguncang kaget serayaberkata, “ia seorang yahudi apakah engkau akan memintaku untukmenikahkan anak perempuanku dengan seorang yahudi wahai Abu Hanifah!Demi Allah aku tidak akan melakukannya sekalipun ia memiliki semuasifat baik dari kaum terdahulu hingga yang terakhir.”

Maka Abu Hanifah pun berkata, “engkau menolak untuk menikahkan anakperempuanmu dengan seorang yahudi dan engkau sangat mengingkarinya,kemudian engkau mengatakan kepada orang banyak bahwasanya RasulullahSAW telah menikahkan kedua putri beliau dengan seorang yahudi !!”

Maka demi mendengar apa yang dikatakan Abu Hanifah tubuhnya bergetarkemudian berkata, “aku memohon ampun kepada Allah dari perkataan jelekyang telah aku katakan, dan aku bertaubat kepada-Nya dari kedustaanyang pernah aku lakukan.”

Contoh yang lain adalah apa yang terjadi pada salah seorang Khawarij*yang bernama adh-Dhahhak asy-Syary. Pada suatu hari ia mendatangi AbuHanifah dan berkata, “Bertaubatlah engkau wahai Abu Hanifah.”

Sang Imam menjawab, “Dari hal apakah aku bertaubat”

Orang itu menjawab, “Dari perkataanmu tentang dibolehkannya menentukansatu hakim untuk memutuskan apa yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah.”

Abu Hanifah berkata, “Apakah engkau mau berdebat denganku tentangmasalah ini” ia menjawab, “Ya”

Kemudian Abu Hanifah berkata, “Jika kita berselisih tentang apa yangkita perdebatkan, siapakah yang akan menjadi hakim antara kita”

Orang itu menjawab, “Pilihlah yang engkau mau.”

Maka sang Imam memandang salah seorang temannya dan berkata, “Wahaifulan, jadilah engkau penengah di antara kami tentang apa yang kamiperselisihkan”

Selanjutnya ia berkata kepada Sang khawarij, “Aku ridlo temanmumenjadi penengah antara kita, apakah kamu juga demikian”

Maka dengan senang hati ia menjawab, “Tentu”

Namun kemudian Abu Hanifah berkata, “Celakalah kamu, bagaimana kamumembolehkan adanya penengah di antara kita tentang apa yang kitaperselisihkan, sedangkan kamu mengingkari adanya di antara dua sahabatRasulullah SAW!

Maka orang terebut diam seribu bahasa dan tidak dapat menjawabnya.

Kemudian di antara contoh lainnya adalah kisah perdebatan beliaudengan Jahm bin Shafwan seorang pemimpin aliran Jahmiyah yang sesatdan seorang yang menanam kejelekan di bumi Islam. Pada suatu saat iamendatangi Abu Hanifah dan berkata, “Aku ingin berbincang-bincangdenganmu tentang beberapa perkara yang telah aku siapkan.” Akan tetapiAbu Hanifah menjawab, “berbincang-bincang denganmu adalah merupakanaib, dan membicarakan tentang apa yang kamu yakini adalah seperti apiyang menyala.”

Maka Jahm berkata, “bagaimana engkau menghukumiku demikian, sedangkanengkau belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum pernahmendengar perkataanku”

Kemudian Abu Hanifah menjawab, “sesungguhnya hal yang demikian telahtersebar dan terkenal di kalangan orang awam maupun para ulama,sehingga boleh bagiku untuk berkata demikian karena berita tentangmutelah mutawatir.”

Setelah itu Jahm berkata lagi, “aku tidak akan bertanya kepadamukecuali tentang iman.”

Abu Hanifah menyela, “apakah sampai saat ini kamu belum tahu tentangiman sehingga kamu bertanya kepadaku tentangnya”

Jahm menjawab, “aku tahu, akan tetapi aku merasa ragu pada salah satumacamnya.”

Abu Hanifah berkata, “ragu dalam hal keimanan adalah kufur.” KemudianJahm berkata, “kamu tidak boleh mensifatiku dengan kekufuran sebelumkamu mendengar apa yang membuatku kafir,”

Maka Abu Hanifah berkata, “katakan apa yang ingin kamu tanyakan!”

Jahm berkata, “kabarkanlah kepadaku tentang seorang yang meyakini akankeberadaan Allah dengan hatinya, dan ia yakin bahwasanya Allah adalahEsa dan tiada sekutu baginya. Ia juga tahu tentang sifat-sifat Allahdan yakin bahwasanya tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Kemudiania mati akan tetapi tidak menyatakan keimanannya itu dengan lisannya.Apakah ia mati dalan keadaan mukmin atau kafir.”

Abu Hanifah menjawab, “ia mati dalam keadaan kafir dan termasuk ahlineraka jika ia tidak menyatakan dengan lisannya tentang apa yangdiyakini hatinya, kecuali jika ada sesuatu sebab yang menghalanginyauntuk menyatakan keimanan dengan lisannya.”

Kemudian Jahm membantah dengan berkata, “bagaimana ia tidak menjadimukmin sedangkan ia telah benar-benar meyakini adanya Allah.”

Maka kemudian Abu Hanifah berkata, “jika kamu beriman kepada al-Qur'andan kamu menjadikannya sebagai hujjah maka aku akan menjawabpertanyaanmu dengannya, tapi jika kamu tidak mengimani al-Qur'an dankamu tidak memandangnya sebagai hujjah, maka aku akan menjawabpertanyaanmu dengan sesuatu yang biasa kami katakan kepada orang yangmenyelisihi Islam.”

Akan tetapi kemudian Jahm menjawab, “justru aku mengimani al-Qur'andan menjadikannya sebagai hujjah.”

Maka Abu Hanifah menjawab, “sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'alatelah menjadikan keimanan itu dengan dua anggota badan yaitu hati danlisan, tidak dengan salah satunya, dan yang demikian itu telah disebutkan dalam Kitab Allah al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW,diantaranya adalah:

Firman Allah Ta'ala, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yangditurunkan kepada Rasul [Muhammad], kamu lihat mata mereka mencucurkanair mata disebabkan kebenaran [al-Qur'an] yang telah mereka ketahui [darikitab-kitab mereka sendiri]; seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kamitelah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadisaksi atas [kebenaran al-Qur'an dan kenabian Muhammad s.a.w] Mengapakami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datangkepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kamike dalam golongan orang-orang yang shalih” Maka Allah memberi merekapahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, [yaitu] surga yangmengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya.Dan itulah balasan [bagi] orang-orang yang berbuat kebaikan [yangikhlas keimanannya].”[ al-Maidah: 83-85]

Disebutkan dalam ayat di atas bahwasanya mereka meyakini kebenarandengan hati dan menyatakannya dengan lisan, maka karena apa yangmereka ucapkan Allah memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalirsungai-sungai di dalamnya.

Dia juga berfirman, “Katakanlah [hai orang-orang mukmin]: “Kamiberiman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yangditurunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya,dan apa yang diberikan kepda Musa dan 'Isa serta apa yang diberikankepada nabi-nabi dari Tuhan-Nya.”[ Al-Baqarah: 136]

mereka diperintah untuk melafadzkan keimanan mereka dan tidak cukuphanya dengan hati.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah, Laailaaha illallaah, maka kalian akan selamat.” beliau tidak menjadikankeselamatan hanya dengan keyakinan hati, akan tetapi harus disertaidengan dengan ucapan.

Di dalam hadits yang lain beliau SAW bersabda, “akan keluar darineraka orang yang mengatakan Laa ilaaha illallaah.” Beliau tidakmengatakan, akan keluar dari neraka orang yang tahu adanya Allah. Danjikalau perkataan itu tidak dibutuhkan, akan tetapi cukup keimanan ituhanya dengan hati, maka iblis itu termasuk orang yang beriman. Karenaiblis tahu bahwasanya Allah itu ada, ia tahu bahwasanya Allah lah yangtelah menciptakannya dan Allah pula yang akan mematikannya. Ia jugayakin bahwasanya Allah yang akan membangkitkannya dan Allah pula yangmenyesatkannya.

Disebutkan dalam al-Qur'an bahwasanya iblis berkata, “Engkaumenciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” Al-A'raaf:12

“Ya Tuhanku, [kalau begitu] maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari[manusia] dibangkitkan.” [Al-Hijr: 36]

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan [menghalang-halangi]mereka dari jalan Engkau yang lurus.”[al-A'raaf: 16]

Dan jika apa yang engkau yakini adalah benar wahai Jahm, maka sebagianbanyak orang kafir menjadi beriman karena mereka mengakui adanya Allahdengan hatinya walaupun mereka mengingkari dengan lisan mereka.

Allah berfirman, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dankesombongan [mereka] padahal hati mereka meyakini [kebenaran]-nya.”[An-Naml:14]

Keyakinan yang ada di hati mereka tidak dapat menjadikan merekaberiman, akan tetapi mereka tetap orang kafir karena pengingkaranlisan mereka.

Demikianlah Abu Hanifah menjelaskan tentang permasalahan iman dengansangat gamblangnya, kadang dengan al-Qur'an dan terkadang denganhadits, sehingga tampak pada wajah Jahm rasa minder dan kalah sampaikemudian ia berpamitan kepada Abu Hanifah seraya berkata, “engkautelah mengingatkanku akan sesuatu yang terlupa, aku pamit sebentar.”Akan tetapi ia pergi tanpa kembali lagi.

Di antara contoh yang lain, diceritakan bahwasanya pada suatu saat AbuHanifah menemui sekelompok orang yang mengingkari adanya Sang Pencipta[Atheis], maka ia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian katakan jikaada sebuah kapal yang penuh dengan muatan barang, di tengah lautan iadikelilingi oleh ombak besar yang saling bertabrakan dan diterjangoleh angin yang sangat kencang, akan tetapi kapal tersebut dapatberlayar dengan sangat tenang menuju tempat tujuan tanpa adanyagoncangan sedikitpun, sedangkan di atas kapal tersebut tidak adaseorang nahkodapun didalamnya. Apakah hal tersebut masuk akal”

Mereka menjawab, “Tidak, sesungguhnya kejadian tersebut sama sekalitidak dapat diterima oleh akal”

kemudian ia berkata, “Begitukah Subhaanallah!! Kalian mengingkariadanya sebuah kapal yang dapat berjalan dengan tenang tanpa nahkoda,sedangkan kalian meyakini bahwasanya alam semesta yang penuh denganlautan luas, gugusan bintang yang selalu beredar, burung-burung yangselalu bertashbih dan berbagai macam binatang ada [tercipta] dengansendirinya tanpa ada Sang Pencipta yang menciptakan dan mengatur semuaitu Celakalah kalian.!”

Demikianlah perjalanan hidup beliau yang selalu membela agama Allahdengan apa yang telah dianugerahkan oleh-Nya yang berupa kekuatanberhujjah dan kefasihan dalam berbicara.

Kemudian tatkala maut menjemput, telah ditemukan bahwasanya di antarawasiat beliau adalah agar jasadnya dikuburkan di tanah yang bersih [tidakada syubhat rampasan atau lainnya] dan agar dijauhkan dari setiaptempat yang dikhawatirkan diambil dengan ghosob [diambil tanpa seizinpemiliknya].

Maka tatkala wasiat tersebut sampai ke telinga al-Manshur ia berkata,“siapakah yang berani mencela dia di depanku.”

Abu Hanifah juga telah berwasiat agar jasadnya dimandikan oleh al-Hasanbin 'Ammaroh, maka tatkala memandikannya ia berkata, “Semoga Allahmerahmatimu wahai Abu Hanifah, dan semoga Dia menghapus dosa-dosamusebagai balasan dari apa yang pernah engkau lakukan. Sesungguhnyaengkau tidak pernah berbuka sejak tiga puluh tahun, dan tidak pernahtidur sejak empat puluh tahun. Dan sungguh engkau telah membikin susahulama setelahmu [karena harus mencontoh dan meniru perilakumu].”

CATATAN:

* Al-Khawarij: orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Ali danMu'awiyah RA

Artikel ABU HANIFAH- 2-habis (Sikap Bela Agama DanArgumentasinya Yang Kuat) diambil dari http://www.asofwah.or.id
ABU HANIFAH- 2-habis (Sikap Bela Agama DanArgumentasinya Yang Kuat).

Tidak ada komentar: