Kamis, 22 Mei 2008

SAID IBN AL-MUSAYYIB (Sosok Ulama Langka; TakutFitnah, Lamaran Khalifah Ditolaknya)

Kumpulan Artikel Islami

SAID IBN AL-MUSAYYIB (Sosok Ulama Langka; TakutFitnah, Lamaran Khalifah Ditolaknya) “Said Ibn al-Musayyib sudah berfatwa saat parasahabat masih hidup” [Ahli Sejarah]

Amirul Mukminin Abdul Malik ibn Marwan bertekad untuk menunaikan hajike Baitullah al-Haram dan berziarah ke al-Haram an-Nabawy serta untukmenyampaikan salam kepada Rasulullah SAW.

Ketika bulan Dzul Qa’dah datang, khalifah yang agung tersebutmenyiapkan untanya untuk perjalanan menuju tanah Hijaz dengan ditemanioleh para petinggi kalangan umara Bani Umayyah dan para pejabat terasnegaranya serta beberapa orang putranya.

Rombongan berangkat dari Damaskus menuju Madinah Munawwarah dengantidak terlalu pelan dan tidak pula tergesa-gesa.

Setiap kali singgah di suatu tempat, mereka mendirikan tenda,menggelar permadani dan mengadakan majlis-majlis ilmu dan penyampaiannasehat untuk memperdalam agama mereka dan mengikat hati dan jiwamereka dengan hikmah dan Mau’izhah Hasanah.

Tatkala khalifah sampai di Madinah Munawwarah, beliau mengimami MasjidNabawi dan memberikan penghormatan dengan menyampaikan salam kepadapenghuninya, Nabi Muhammad â€"shalawat yang paling afdlol dan salam yangpaling suci semoga tercurahkan kepadanya- serta berbahagia denganmengerjakan shalat di Raudlah yang suci lagi mulia. Beliau merasakankesejukan hati dan keselamatan jiwa yang belum pernah beliau rasakansebelumnya.

Beliau juga bertekad untuk tinggal dalam waktu yang lama di kota RasulSAW selama ada jalan untuk itu.

Di antara hal yang sangat menarik perhatiannya di Madinah Munawwarahadalah adanya halaqoh-halaqoh ilmu yang memakmurkan masjid nabawi yangmulia.

Di masjid itu para ulama yang langka dari para pembesar tabi’inberkumpul sebagaimana kumpulan [gugusan] bintang-bintang yang bersinardi jantung langit.

Ada halaqoh yang dipimpin ‘Urwah ibn az-Zubair...

Ada halaqah yang dipimpin Said ibn al-Musayyib...

Dan ada halaqah yang dipimpin Abdullah ibn ‘Utbah… [salah seorangkibar tabi’in]

Pada suatu hari, khalifah terbangun dari Qailulah [tidur diwaktu dhuha atau siang hari] di waktu yang beliau tidak terbiasaterbangun padanya. Ia lantas memanggil penjaganya dan berkata, “WahaiMaesaroh.”

“Aku penuhi panggilanmu, wahai Amirul Mukminin” jawab Maesaroh.

Ia berkata, “Pergilah ke masjid Rasul SAW dan undanglah salah seorangulama untukku agar ia memberikan petuahnya kepada kita....”

Maesaroh pergi menuju masjid nabawi yang mulia. Ia menerawangkanpandangannya namun tidak melihat kecuali hanya satu halaqoh ilmu saja,di tengah-tengahnya ada seorang syaikh yang berumur lebih darisembilan puluh tahun. Padanya terpancar wajah ulama, wibawa danketenangan ulama...

Maesaroh berdiri tidak jauh dari halaqoh, kemudian ia menunjuk [memberiisyarat] ke arah syaikh dengan jarinya. Namun, syaikh tidak menolehdan tidak memperdulikannya.

Maesaroh mendekat kepadanya seraya berkata, “Tidakkah kamu melihatbahwa aku menunjuk ke arahmu.”

“Kepadaku!” jawab syaikh.

“Ya” kata Maesaroh.

“[Lalu] apa hajatmu” tanya syaikh.

Maesaroh menjawab, “Amirul Mukminin terbangun dari tidurnya danberkata, “Pergilah ke masjid dan carilah seseorang dari parapenceramahku dan bawalah kepadaku.”

“Aku tidak termasuk penceramahnya,” jawab syaikh

“Akan tetapi ia menginginkan seorang penceramah yang bisamenceramahinya,” kata Maesaroh

Syaikh menjawab, “Sesungguhnya orang yang menginginkan sesuatu maka iaakan mendatanginya...dan sesungguhnya halaqoh masjid ini masih lapang[luas] bila ia menginginkannya. Ceramah itu hendaklah didatangi, bukanmendatangi....”

Penjaga tersebut kembali dan berkata kepada khalifah, “Aku tidakmenemukan seseorang di masjid kecuali hanya seorang syaikh yang akutunjuk ke arahnya namun ia tidak mau bangkit. Lalu aku mendekatkepadanya dan aku katakan, sesungguhnya Amirul Mukminin telahterbangun pada waktu ini dan berkata kepadaku, “Carilah, apakah kamumelihat seseorang dari para penceramahku di masjid dan undanglah untukmenemuiku...”, lalu dengan tenang ia menjawab, “Sesungguhnya aku tidaktermasuk penceramahnya dan sesungguhnya halaqoh masjid ini masihlapang bila ia menginginkan ceramah.”

Abdul Malik ibn Marwan mendesah panjang beberapa saat dengan perasaansedih dan sakit. Ia lalu bangkit berdiri menuju ke dalam rumahnyaseraya berkata “Ia adalah Said ibn al-Musayyib...alangkah bagusnyaseandainya kamu tadi tidak mendatanginya dan tidak mengajaknya bicara...”

Ketika Abdul Malik telah menjauh dari majlis itu dan berada di dalam,putra Abdul Malik yang termuda [sang adik] menoleh ke arah saudaratuanya [sang kakak] dan berkata, “Siapa orang ini yang telah beranimembangkang terhadap Amirul Mukminin dan tidak mau berdiri dihadapannya serta tidak mau menghadiri majlisnya...[padahal] duniatelah tunduk kepadanya dan raja-raja Romawi tunduk karena wibawanya.”

Kakaknya berkata, “Ia adalah orang yang putrinya telah dipinang AmirulMukminin untuk saudaramu al-Walid, akan tetapi ia enggan untukmenikahkannya dengannya.”

Sang adik berkata, “Ia tidak mau menikahkah putrinya dengan al-Walidibn Abdul Malik! Apakah ia akan menemukan suami untuknya yang lebihmulia dari putra mahkota Amirul Mukminin! Yang akan menggantikannyasebagai khalifah muslimin.”

Kakaknya diam dan tidak menjawab sepatah katapun...

Adiknya berkata lagi, “Apabila ia telah bakhil terhadap putrinya untukdinikahkan dengan putra mahkota Amirul Mukminin, apakah ia [akan]menemukan orang yang setara dan cocok dengannya Ataukah iamenghalangi putrinya menikah seperti yang dilakukan oleh sebagianorang dan membiarkan putrinya terus-menerus tinggal di rumah.”

Kakaknya menimpali, “Sungguh aku tidak mengetahui sedikitpun tentangkisahnya, dan kisah dia bersama putrinya....”

Maka, salah seorang anggota majlis dari penduduk Madinah menolehkepada keduanya seraya berkata, “Apabila Amir mengizinkan, [maka]aku akan ceritakan kepadanya seluruh kisahnya. Ia [gadis tersebut]telah menikah dengan seorang pemuda dari kampung kami yang biasadipanggil “Abu Wada’ah”, ia adalah tetangga samping rumah kami. Adacerita menarik tentang pernikahannya dengan gadis tersebut yang iaceritakan sendiri kepadaku.”

“Ceritakanlah” kata kedua bersaudara tersebut kepadanya.

Orang tadi berkata, “Abu Wada’ah bercerita kepadaku, ia menuturkan,“Aku â€"sebagaimana yang kamu tahu- selalu berada di masjid RasulullahSAW untuk menuntut ilmu. Aku senantiasa berada di halaqoh Said ibn al-Musayyib,dan aku ikut berdesak-desakan bersama manusia...[Kemudian] dalambeberapa hari aku menghilang dari halaqoh syaikh sehingga iamencari-cariku dan menyangka aku sakit atau ada sesuatu yang menimpaku...Iabertanya tentang aku kepada orang-orang di sekelilingnya, namun tidakada berita yang ia dapatkan dari mereka. Tatkala aku kembali kepadanyasetelah beberapa hari, ia menyalamiku dan mengucapkan selamat datang.Ia bertanya, “Dimanakah kamu wahai Abu Wada’ah”

“Istriku meninggal, sehingga aku sibuk dengan urusannya” jawabku.

“Mengapa kamu tidak memberitakannya kepada kami wahai Abu Wada’ah,sehingga kami bisa menolongmu dan menghadiri jenazahnya bersamamuserta membantumu atas apa yang telah menimpamu” kata syaikh.

“Jazakallahu khairan” jawabku...Aku berkehendak untuk bangkit,namun ia menahanku untuk tetap tinggal sehingga seluruh orang yang adadi majlis pergi. Kemudian ia berkata kepadaku, “Tidakkah kamu berpikiruntuk mencari istri baru wahai Abu Wada’ah”

“Yarhamukallah [semoga Allah merahmatimu], siapakah yang akan [mau]menikahkan anak gadisnya denganku, sedangkan aku adalah pemuda yangtumbuh yatim dan hidup fakir, dan aku tidak memiliki kecuali hanya duaatau tiga dirham saja,” jawabku

“Aku, aku akan menikahkan kamu dengan putriku,” kata syaikh

Lidahku menjadi kelu, dan aku berkata, “Anda!...Apakah Anda akanmenikahkan aku dengan putri Anda setelah mengetahui perkaraku!”

“Ya...dan kami apabila ada orang yang datang kepada kami yang kamiridlai agama dan akhlaknya maka kami nikahkan ia, sedangkan kamu disisi kami adalah orang yang diridlai agama dan akhlaknya,” jawabnya

Ia kemudian menoleh kepada orang yang [duduk] dekat dari kami danmemanggil mereka. Setelah mereka menghampirinya dan berada di sisinya,ia memuji dan menyanjung Allah AWJ dan bershalawat kepada NabiMuhammad SAW. Kemudian ia mengakadkan aku dengan putrinya danmenjadikan dua dirham sebagai maharnya...

Aku berdiri, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saking gemetardan bahagianya.

Kemudian aku menuju rumahku. Ketika itu aku sedang berpuasa sehinggaaku lupa akan puasaku. Aku mulai berkata, “Celaka kamu wahai AbuWada’ah, apakah yang telah kamu perbuat dengan dirimu!...Dari siapakamu akan berhutang!...Dari siapa kamu akan meminta harta!...”

Aku terus menerus dalam keadaan seperti itu hingga adzan Maghribberkumandang.

Aku lalu melaksanakan shalat fardlu, dan duduk untuk menyantap makananberbuka yang ketika itu adalah roti dan minyak [zaet]. Belum selesaiaku menyantap satu atau dua suap tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk.Aku bertanya, “Siapa yang datang”

“Said,” jawabnya

Demi Allah seluruh orang yang bernama Said yang aku kenal telahterlintas dalam benakku kecuali Said ibn al-Musayyib [yang tidakterlintas dalam benakku]. Hal ini, karena semenjak empat puluh tahunlamanya ia tidak terlihat kecuali hanya antara rumahnya dan masjid.

Aku membuka pintu, dan ternyata Said ibn al-Musayyib telah berdiri dihadapanku. Aku mengira ia telah merubah keputusannya dalam perkarapernikahanku dengan putrinya.

Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad [Said]!...Mengapa andatidak mengutus seseorang kepadaku, sehingga aku mendatangi anda.”

“Bahkan, engkaulah yang lebih berhak untuk aku datangi hari ini,”jawabnya

“Silahkan masuk,” kataku

“Tidak, aku hanyalah datang untuk suatu keperluan,” katanya

Aku bertanya, “Apa itu, semoga Allah merahmati anda.”

Ia berkata, “Sesungguhnya putriku telah menjadi istrimu dengan syariatAllah sejak siang, dan aku tahu tidak ada seorang pun bersamamu yangmenemani kesepianmu. Sehingga aku tidak suka kalau kamu tinggal malamini di suatu tempat dan istrimu di tempat lain. Maka, aku datangmengantarkannya kepadamu.”

“Celakalah aku, Anda datang mengantarkannya kepadaku,” kataku

“Ya...” katanya.

Aku memandangnya, dan ternyata ia [putrinya] telah berdiri tegap.

Ia [Said] menoleh kepadanya seraya berkata, “Masuklah ke rumah suamimuwahai purtiku dengan memohon nama Allah dan berkah-Nya.”

Ketika akan melangkah, ia tersandung pakaiannya karena malu sehinggaia hampir jatuh ke tanah.

Adapun aku, aku berdiri di hadapannya, bingung dan tidak tahu apa yangakan aku katakan. Kemudian aku bersegera menuju tempayan yang terdapatroti dan zaet padanya, aku menyingkirkannya dari cahaya lentera agaria tidak melihatnya.

Aku lalu naik ke loteng dan memanggil para tetanggaku. Merekamenghampiriku seraya berkata, “Ada apa denganmu”

“Said ibn al-Musayyib telah menikahkanku dengan putrinya hari ini dimasjid. Sekarang ia telah datang mengantarkannya kepadaku tanpasepengetahuanku. Maka, kemarilah hiburlah dan temanilah kesendiriannyahingga aku memanggil ibuku karena rumahnya jauh,” kataku

Seorang wanita tua di antara mereka berkata, “Celaka kamu, apakah kamusadar atas apa yang kamu katakan! Apakah Said ibn al-Musayyib [benar-benar]telah menikahkan kamu dengan putrinya, dan mengantarkannya sendiriuntukmu ke rumah! Padahal dialah yang enggan menikahkannya dengan al-Walidibn Abdul Malik!!”

“Ya...sekarang dia ada di sisiku, di rumahku. Segeralah temui dia danlihatlah,” kataku

Para tetangga bersegara menuju ke rumah dan mereka hampir-hampir tidakmempercayaiku. Mereka mengucapkan selamat datang kepadanya danmenemani kesepiannya.

Tidak begitu lama sehingga datanglah ibuku. Tatkala ia melihat istriku,ia menoleh kepadaku dan berkata, “Haram bagiku melihat wajahmu apabilakamu tidak meninggalkannya bersamaku sehingga aku meriasnya, lalu akumenyandingkannya kepadamu sebagaimana disandingkannya wanita-wanitamulia.”

“Terserah ibulah.” kataku.

Ia [ibuku] menemaninya selama tiga hari, kemudian menyandingkannyakepadaku. Dan ternyata ia adalah wanita Madinah tercantik, manusiayang paling hafal terhadap kitab Allah AWJ, paling banyak meriwayatkanhadits Rasul SAW, dan wanita yang paling paham terhadap hak-hak suami.

Aku tinggal bersamanya beberapa hari. Ayahnya atau salah seorang darikeluarganya tidak mengunjungiku. Kemudian aku mendatangi halaqohsyaikh di masjid. Aku mengucapkan salam kepadanya. Ia menjawab salamkunamun tidak mengajakku bicara. Ketika orang-orang yang hadir di majlistelah pergi, dan tinggal aku, ia berkata, “Bagaimana keadaan istrimuwahai Abu Wada’ah.”

“Ia dalam keadaan yang dicintai oleh teman dan dibenci oleh musuh”jawabku.

“Alhamdulillah,” katanya

Ketika aku pulang ke rumah, aku mendapatkan syaikh telah mengirimkepada kami harta yang cukup untuk kami jadikan penopang kehidupankami.

Setelah selesai berkisah, putra Abdul Malik berkata, “Sungguh anehperkara orang ini [yaitu Said]...”

Seorang penduduk Madinah yang menceritakan kisah tersebut berkatakepadanya “Apa yang aneh darinya wahai Amir Sesungguhnya iaadalah orang yang telah menjadikan dunianya sebagai bahtera untukmenuju akhirat dan membeli akhirat yang kekal untuk dirinya dankeluarganya dengan dunia yang fana. Demi Allah, ia bukanlah orang yangenggan untuk menikahkan putrinya dengan putra Abdul Malik. Aku tidakmelihatnya tidak setara dengan putrinya, hanya saja ia takut fitnahdunia atas diri putrinya. Sungguh beberapa sahabatnya telah bertanyakepadanya, “Apakah kamu menolak pinangan Amirul Mukminin danmenikahkan putrimu dengan orang biasa dari kaum muslimin!”

Ia manjawab, “Sesungguhnya putriku ini adalah amanah di pundakku danaku berusaha mencari untuk kebaikan urusannya pada apa yang telah akuperbuat.”

“Bagaimanakah itu!” Tanya seseorang kepadanya.

Ia menjawab, “Apa anggapan kalian terhadapnya bila ia pindah ke istanaBani Umayyah dan bergelimang di antara baju-baju mewah dan perabotanmegah. Pembantu, pengawal serta para budak berdiri di depannya,sebelah kanan dan kirinya...kemudian ia mendapatkan dirinya setelahitu telah menjadi istri khalifah Bagaimana jadinya agamanya ketikaitu.”

Maka seseorang dari penduduk Syam berkata, “Nampaknya sahabat kalianini [Said] adalah model manusia langka.”

Dan seorang penduduk kota yang lain berkata, “Demi Allah, engkau tidaksalah ...”

Ia adalah orang yang selalu berpuasa di siang hari...

Bangun di malam hari...

Menunaikan haji sekitar empat puluh kali...

Dan sejak empat puluh tahun ia tidak pernah terlambat dari takbirpertama di masjid Rasul SAW...

Dan tidak pernah diketahui darinya bahwa ia melihat kepada tengkukseseorang di dalam shalat sejak itu selamanya, karena ia selalumenjaga untuk berada di shaf pertama. Adalah ia dalam kelapanganrizkinya bisa menikah dengan siapa saja yang ia kehendaki dari wanitaQuraisy, namun ia lebih memilih putri Abu Hurairah RA dari seluruhpara wanita. Yang demikian itu karena kedudukannya dari Rasulullah SAWdan keluasan riwayatnya terhadap hadits serta raghbah-nya [keinginannya]yang begitu besar dalam mengambil hadits darinya. Ia telahmempersembahkan dirinya untuk ilmu semenjak kecil.

Ia masuk [belajar] kepada istri-istri Nabi SAW dan mengambil manfaatdari mereka...

Ia berguru kepada Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Abbas dan Abdullah ibnUmar.

Ia juga mendengar dari Utsman, Ali dan Shuhaib serta sahabat Nabimulia SAW yang lainnya.

Akhlak dan kepribadiannya meniru mereka. Ia memiliki kalimat yangselalu ia ulang-ulang hingga tersebar, seakan-akan itu adalahsyi’arnya, yaitu perkataanya,

“Tidak ada yang seperti perbuatan ta’at kepada Allah di dalam dapatmemuliakan jiwa hamba dan tidak ada yang seperti perbuatan maksiatkepada-Nya di dalam menghinakan jiwanya.”

[Sumber: Buku Shuwarun Min Hayaati at-Taabi’iin karya Dr AbdurrahmanRa`fat al-Basya]

CATATAN:

Sebagai bahan bacaan tambahan, silahkan merujuk:

· ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’ad 5/119

· Tarikh al-Bukhari

· al-Ma’arif, h. 437

· Hilyatul Auliyaa, 2/161

· Tahdziibul Asmaa wal Lughaat, bagian pertama, juz pertama: 219

· Wifyatul A’yaan karya Ibnu Khalqaan, 2/375

· Tadzkiratul Huffaadz, 1/51

· al-‘Ibar, 1/110

· an-Nujumuz Zaahirah, 1/228

· Syadzarat adz-Dzahab, 1/102

Artikel SAID IBN AL-MUSAYYIB (Sosok Ulama Langka; TakutFitnah, Lamaran Khalifah Ditolaknya) diambil dari http://www.asofwah.or.id
SAID IBN AL-MUSAYYIB (Sosok Ulama Langka; TakutFitnah, Lamaran Khalifah Ditolaknya).

Tidak ada komentar: