Selasa, 17 Juni 2008

THAAWUS IBN KAISAN (Allah Permalukan Penguasa LalimYang Hendak Mempermalukannya!!)

Kumpulan Artikel Islami

THAAWUS IBN KAISAN (Allah Permalukan Penguasa LalimYang Hendak Mempermalukannya!!) “Aku tidak pernah melihat seorang pun yangseperti Thaawus ibn Kaisan” [‘Amr ibn Dinar]

Dengan lima puluh bintang [sahabat Nabi SAW] dari bintang-bintanghidayah ia mengambil sinarnya lantas cahaya meliputinya danterpancarlah cahaya atasnya...cahaya di hatinya...cahaya di lisannya...dancahaya yang berjalan di hadapannya.

Ia lulus di bawah asuhan lima puluh tokoh ‘Perguruan Muhammad.’Ternyata ia adalah satu potret dari sahabat Rasulullah SAW dalamkekokohan iman, ketulusan tuturkatanya, kecongkokan terhadap fanadunia dan rela berkorban hingga mati demi mendapatkan keridlaan Allahserta kelantangan menyuarakan kalimat kebenaran sekali pun mahalharganya.

‘Perguruan Muhammad’ telah mengajarinya bahwa agama adalah nasehat;nasehat bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para imam kaum Muslimin danorang awamnya.

Pengalaman hidup telah menunjukinya bahwa kebaikan seluruhnya bermuladari Waliyul amri dan berakhir padanya. Apabila pemimpin baik,rakyat menjadi baik, dan bila rusak rakyat ikut rusak.

Dialah ‘Dzakwaan ibn Kaisan’ yang berjuluk ‘Thaawus’*. Iniadalah julukan yang dilekatkan padanya karena ia adalah Thaawusal-‘Ulama’ [burung merak para ulama] dan pemimpin bagi merekasemasanya.

Thaawus ibn Kaisan adalah penduduk Yaman. Tampuk kekuasaan wilayahYaman ketika itu dipegang oleh Muhammad ibn Yusuf ats-Tsaqafi saudaraal-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi [seorang tirani]. Al-Hajjaj telahmengangkatnya sebagai gubernur Yaman setelah kekuasaannya sudahmenjadi besar dan kekuatannya bertambah. Bahkan wibawanya semakinbertambah setelah berhasil mengalahkan Abdullah ibn az-Zubair.

Pada diri Muhammad bin ats-Tsaqafi menurun karakter buruk kakaknya,al-Hajjaj, sayangnya tak sebuah kebaikan pun yang ia turunkan darikakaknya itu.

Pada suatu pagi yang dingin di musim dingin, Thaawus ibn Kaisanbersama Wahb ibn Munabbih** datang menemui Muhammad ibn Yusuf.

Setelah keduanya mengambil tempat duduk di sisinya. Mulailah Thaawusmenasehatinya, memberikan Targhiib [motivasi] dan Tarhiib [ancaman].Sedangkan sejumlah orang duduk di hadapannya. Sang penguasa iniberkata kepada salah seorang penjaganya, “Wahai Ghulam [panggilanuntuk budak/anak kecil], hadirkan Thailasan*** dan lemparkan kepundak Abu Abdirrahman [Thaawus].”

Penjaga tersebut kemudian mengambil sebuah Thailasan mahal lalumelemparkannya ke pundak Thaawus.

Mulut Thaawus terus saja berucap memberikan wejangan. Ia mulaimenggerak-gerakkan pundaknya dengan pelan hingga Thailasan ituterjatuh. Ia lalu bangkit berdiri dan beranjak pergi.

Dari merah padam raut wajahnya, kelihatan sekali Muhammad ibn Yusufmarah dan menahan emos namun tak berani mengucapkan sepatah kataapapun.

Ketika Thaawus dan sahabatnya berada di luar majlis, berkatalah Wahbkepadanya, “Demi Allah, kita tidak perlu membangkitkan emosi Muhammadbin al-Hajjaj. Apa salahnya kamu ambil saja Thailasan itu, lalukamu jual dan harganya kamu sedekahkan kepada orang-orang faqir danmiskin.”

Thaawus berkata, “Seharusnya seperti yang kamu katakan itu. Tapi akukhawatir kelak ada ulama setelahku yang beralasan, ‘Mari kita ambilsaja seperti alasan Thawus mengambinyal’ lalu kemudian mereka tidakmelakukan terhadap barang yang mereka ambil itu seperti yang kamukatakan tadi [tidak menyedekahkannya].!”

Seakan-akan Muhammad ibn Yusuf ingin balas dendam kepada Thaawus, iakemudian membuat jebakan untuknya dengan cara menyediakan sebuahkantong kain berisi tujuh ratus dinar emas. Ia lalu memilih salahseorang bawahannya yang cerdik seraya berkata kepadanya, “Bawalahkantong kain ini kepada Thaawus ibn Kaisan dan perdayailah ia agar maumengambilnya. Bila ia mengambilnya darimu, maka aku akan memberikanhadiah yang banyak untukmu, memberi pakaian dan mengangkatmu sebagaiorang dekatku.”

Orang tersebut keluar membawa kantong kain itu lalu mendatangiThaawusdi sebuah desa dekat dengan Shan’a yang bernama al-Janad’ dimana iatinggal di sana.

Sesampainya ia di sisinya, ia mengucapkan salam dan berlemah lembutkepada Thawus. Ia berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdirrahman, ininafkah yang dikirim Amiruntukmu.”

“Aku tidak membutuhkannya!” kata Thaawus.

Dengan berbagai cara ia merayunya agar mau menerimanya, namun ia tetapmenolak. Ia pun berusaha menundukkannya dengan berbagai hujjah[argumen], namun ia menolak.

Tidak ada jalan lain baginya kecuali memanfaatkan kelengahan Thaawus.Di saat Thaawus lengah, ia melemparkan kantong kain tersebut ke lubangjendela yang terdapat dalam dinding rumahnya. Ia lalu pulang kembalikepada Amir seraya melaporkan, “Thaawus telah mengambil kantongtersebut, Wahai Amir.”

Muhammad ibn Yusuf gembira atas hal itu dan memdiamkannya untukbeberapa waktu. Setelah berlalu beberapa hari, ia mengutus dua orangpembantunya dan bersamanya orang yang telah membawa kantong kainkepada Thaawus. Ia menyuruh keduanya untuk berkata kepadanya,“Sesungguhnya utusan Amir telah salah dalam memberikan hartakepadamu, sebenarnya itu untuk orang lain. Kami datang untukmengambilnya kembali darimu dan membawanya kepada pemiliknya.”

Thaawus menjawab, “Aku tidak pernah mengambil sedikitpun harta Amirtersebut hingga harus mengembalikannya kepadanya.”

“Tidak, engkau memang telah mengambilnya,” keduanya berkata.

Ia [Thaawus] menoleh kepada orang yang telah membawa kantong kain itukepadanya sambil berkata, “Apakah aku telah mengambil sesuatu darimu”

Orang tersebut ketakutan dan bingung, lalu berkata, “Tidak, akantetapi aku telah meletakkan harta tersebut di lubang jendela dalamrumahmu pada saat engkau lengah.”

“Kalau begitu, silahkan saja lihat ke lubang tersebut!” kata Thaawus.

Keduanya melihat ke dalam lubang yang ditunjuk Thaawus dan menemukankantong kain tersebut dalam keadaan semula bahkan telah diselubungijaring-jaring rumah laba-laba. Keduanya lalu mengambilnya dan kembalimembawanya kepada Amir.

Seakan-akan Allah ingin membalas Muhammad ibn Yusuf atas perbuatannyaini dan menjadikan pembalasannya dilihat dan disaksikan oleh orangbanyak. Bagaimana itu terjadi

Thaawus ibn Kaisan menceritakan,

“Saat aku berada di Mekkah menunaikan haji. Al-Hajjaj ibn Yusufats-Tsaqafi mengutus seseorang kepadaku. Ketika aku masuk menemuinya,ia menyalamiku dan mendekatkan tempat dudukku darinya. Ia melemparkanbantal kepadaku dan memintaku untuk bersandar padanya. Lalu iamenanyaiku masalah-masalah yang pelik baginya dalam manasik haji danmasalah lainnya.

Di saat kami seperti itu, al-Hajjaj mendengar seseorang yangbertalbiyah di sekitar Ka’bah, ia mengeraskan talbiyahnya, danintonsinya tinggi sehingga menggetarkan hati. Al-Hajjaj berkata,“Bawalah orang yang bertalbiyah ini kepadaku.”

Ia pun didatangkan kepadanya dan ditanya, “Dari mana kamu”

“Dari kaum muslimin” jawabnya.

“Aku tidak menanyaimu tentang hal ini, akan tetapi aku bertanyatentang negerimu”, kata al-Hajjaj.

Ia menjawab, “Dari penduduk Yaman.”

“Bagaimana kamu meninggalkan pemimpinmu [maksudnya saudaranya,Muhammad bin Yusuf],” tanya al-Hajjaj.

Ia menjawab, “Aku tinggalkan dia dalam keadaan besar, gemuk, banyakpakain, banyak berkendaraan dan banyak bepergian.”

“Bukan tentang ini aku bertanya kepadamu,” kata al-Hajjaj.

“Kalau demikian tentang apa engkau bertanya kepadaku,” katanya.

Al-Hajjaj menjawab, “Aku bertanya tentang sepak terjangnya di antarakalian.”

Ia menjawab, “Aku tinggalkan dia sebagai orang yang banyak berbuatzhalim dan sangat zhalim, taat kepada makhluk dan berbuat maksiatkepada Khaliq.”

Wajah al-Hajjaj berubah merah karena malu terhadap orang-orang yanghadir di majlisnya. Ia berkata kepada orang tersebut, “Apa yangmenyebabkanmu mengatakan tentangnya apa yang telah kamu katakan tadi,sedangkan kamu tahu kedudukannya dariku.”

Ia menjawab, “Apakah kamu melihatnya dengan kedudukannya darimu lebihmulia daripada aku dengan kedudukanku dari Allah SWT! Aku adalahdelegasi rumah-Nya [Ka’bah], yang membenarkan Nabi-Nya dan Qadhi [pelaksana]agama-Nya.”

Al-Hajjaj terdiam dan tidak mengucapkan jawaban sepatah kata pun.”

Thaawus melanjutkan, “Tidak lama kemudian orang tersebut bangkit danpergi tanpa meminta izin atau dipersilahkan pergi. Aku lalu berdirimengikutinya di belakang. Aku berkata dalam diriku, “Sesungguhnya iaorang shalih, ikuti dan temuilah ia sebelum kumpulan orangmelenyapkannya dari pendangan matamu.” Aku lalu mengikutinya. Akumenemukannya telah berada di Ka’bah dan bergelayut di kainnya. Iamenempelkan pipinya pada dindingnya seraya mulai berkata, “Ya Allahkepada-Mu aku berlindung, dengan pengawasan-Mu aku membentengi diri.Ya Allah jadikanlah aku tenteram kepada kedermawanan-Mu, ridha denganjaminan-Mu, terhindar dari kekikiran orang-orang yang bakhil, merasacukup terhadap apa yang dimiliki yang egois. Ya Allah aku memohonkepada-Mu pertolongan-Mu dalam waktu dekat, kebaikan-Mu yang lama dankebiasaan-Mu yang baik wahai Rabbul’aalamin.”

Kemudian gelombang manusia pergi bersamannya hingga menyembunyikannyadari penglihatanku. Maka, aku merasa yakin bahwa tidak ada jalan untukberjumpa dengannya setelah itu.

Hingga di saat sore hari Arafah aku melihatnya telah bertolak bersamamanusia. Aku mendekatinya, dan ternyata ia berkata, “Ya Allah, bilaEngkau belum menerima hajiku, kelelahan dan keletihanku, makajanganlah Engkau menghalangiku dari pahala atas musibahku, yaitudengan cara Engkau tidak mengabulkanku.”

Ia pergi dalam kerumunan manusia hingga kegelapan menutupinya dariku.

Setelah berputus asa untuk berjumpa dengannya, aku berkata, “Ya Allahterimalah doaku dan doanya...kabulkanlahlah harapanku dan harapannya,mantapkanlah kakiku dan kakinya pada hari tergelincirnya kaki-kakimanusia. Kumpulkan aku bersamanya di telaga Kautsar wahai Dzat YangPaling Mulia.”

[Sampai berjumpa lagi di episode lain dari kisah Thaawus, Insya Allah]

* Thaawus adalah burung yang indah bentuknya, panjang lehernya danbagus ekornya [burung Merak]. Banyak dari para ulama dan orang shalihyang menggunakan nama tersebut.

** Wahb ibn Munabbih seorang tabi’i keturunan Yaman dan Persia, iaorang yang paham terhadap berita-berita ahlul kitab

*** Thailasan adalah jubah yang berwarna hijau, mahal harganya dan dipakai oleh orang-orang tertentu

Artikel THAAWUS IBN KAISAN (Allah Permalukan Penguasa LalimYang Hendak Mempermalukannya!!) diambil dari http://www.asofwah.or.id
THAAWUS IBN KAISAN (Allah Permalukan Penguasa LalimYang Hendak Mempermalukannya!!).

Tidak ada komentar: