Selasa, 27 Mei 2008

Permusuhan Antara Umat Islam Dengan Bangsa Yahudi

Kumpulan Artikel Islami

Permusuhan Antara Umat Islam Dengan Bangsa Yahudi Permusuhan Antara Umat Islam Dengan Bangsa Yahudi

Kategori Fokus Utama

Sabtu, 20 Agustus 2005 06:50:08 WIBPERMUSUHAN ANTARA UMAT ISLAM DENGAN BANGSA YAHUDIDisalin dariEditorial Majalah Salafiyah Al-AshalahPertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksitensi, bukan persengketaan perbatasan.Musuh-musuh Islam dan pengikut-pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakikat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, konflik perbatasan, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan [diciptakannya suasana hidup] berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah, dan mendirikan sebuah negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu [justeru] menjadi pagar-pagar pengaman bagi negara zionis.Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama, semenjak berdirinya negara Islam di Madinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi seluruh manusia, yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.Allah telah menceritakan kepada kita hakikat kedengkian dan permusuhan orang-orang Yahudi kepada Umat Islam dan Umat Tauhid [dalam firman-Nya] :"Artinya : Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik ... [Al-Maidah : 82]Perhatikan, bagaimana Allah menyebutkan permusuhan orang-orang Yahudi terlebih dahulu, baru kemudian permusuhan orang-orang musyrik, padahal kekafiran merupakan satu agama, namun tingkat permusuhan mereka terhadap umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berbeda-beda. [Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman ] :"Artinya : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga mengikuti agama mereka" [Al-Baqarah : 120]Sejak tarikan nafas umat Islam pertama dalam Islam, orang-orang Yahudi sudah melancarkan permusuhannya kepada umat Islam dan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah aman dari ganguan bangsa Yahudi itu sendiri. Mereka pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak tiga kali.Pertama : Percobaan pembunuhan dengan menjatuhkan batu penggiling gandum di kepala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.Kedua : Ketika mereka meletakkan racun dalam daging kambing yang diperuntukkan bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.Ketiga : Ketika Labid bin A'sham al-Yahudi -la'natullah 'alaih- menyihirnya.Lihatlah [kini] bangsa Amerika, ternyata selalu membekali orang-orang Yahudi dengan senjata-senjata penghancur yang tak tanggung-tanggung, supaya dapat digunakan untuk membunuh anak-anak, para wanita dan orang-orang tua muslim bangsa Palestina. Pada saat yang sama bangsa Amerika membikin sibuk dunia dengan pemilihan Presidennya, guna menutupi penyembelihan-penyembelihan masal muslim bangsa Palestina yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.Perhatikan pula bangsa Inggris. Mereka juga senantiasa membekali orang-orang Yahudi dengan peluru-peluru berhulu ledak pemusnah yang mengakibatkan terbunuhnya manusia secara biadab dan menimbulkan cacat seumur hidup bagi para pemuda Palestina. Inilah umat yang, baik pemuda, orang tua, anak-anak maupun wanita, menjadi sasaran bantai orang-orang Yahudi dan kaki tangannya.Lihatlah para kaki tangan Yahudi membikin sibuk umat dengan luka-luka rakyat Palestina yang muslim, di sisi lain mereka menutupi kejahatan orang-orang Yahudi dengan mengadakan pertandingan-pertandingan olah raga yang tiada guna serta acara-acara sia-sia yang dapat meracuni dan menina bobokan umat.Belumlah kaum Muslimin menyadari bahwa pertarungan kita dengan kaum Yahudi adalah pertarungan aqidah, pertarungan budaya, pertarungan peradaban, pertarungan eksistensi dan pertarungan identitas Bukankah kaum Yahudi membakar masjid Al-Aqsha, bukankah mereka menggali lobang-lobang di bawahnya supaya bangunan itu runtuh Bukankah mereka membantai kaum Muslimin ketika tengah bersujud pada bulan Ramadhan di masjidnya nabi Ibrahim Al-Khalil 'Alaihis sallam itu Bukankah mereka merobek-robek perut wanita hamil, membantai anak-anak balita serta membumi hanguskan segalanya, baik yang hijau basah maupun yang kering kerontang Bukankah bangsa Yahudi telah menjadikan masid-masjid di Palestina sebagai toko-toko minuman keras dan tempat-tempat perjudian Bukankah mereka juga menjadikan sebagian masjid itu sebagai kandang-kandang ternak dan tempat pembuangan sampah Apakah setelah itu semua, lalu dikatakan bahwa pertarungan kita melawan Yahudi sekedar pertarungan memperebutkan tanah perbatasan yang penyelesainnya adalah dengan mendirikan sebuah negari kecil Palestina dengan ibukotanya Al-Quds As-Syarief, sebuah negeri yang -menurut anggapan mereka- mampu menghimpun pemeluk tiga agama sekaligus untuk hidup berdampingan Apakah mereka tidak memahami bahwa agama yang ada di sisi Allah hanyalah Islam Ataukah mereka tidak memahami bahwa Ibrahim 'Alaihis sallam berlepas diri dari kemusyrikan dan paganisme kaum Yahudi dan Nashrani "Artinya : Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan [pula] seorang Nashrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi Islam [menyerahkan diri kepada Allah] dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik". [Ali Imran : 67]Sesungguhnya penyelesaian [satu-satunya] yang bangsa Yahudi sendiri sudah memahaminya adalah [penyelesaian melalui] jihad -yang sesuai persyaratan- dalam rangka menjunjung tinggi kalimat Allah.Orang-orang Yahudi tidak menghendaki perdamaian, yang dikehendaki adalah menyerah [takluk]nya umat ini. Yang dikehendaki adalah ruku' dan merendahnya umat ini kepada Yahudi serta hapusnya bahasa jihad dari kaum Muslimin. Supaya mereka menjadi budak, buruh serta orang-orang upahan kaum Yahudi, sehingga dapat dipukul dengan sandal atau dihajar dengan cambuk menurut kehendaknya.Sungguh konflik sejati antara kita dengan bangsa Yahudi tidak akan berakhir dengan berdirinya sebuah negara kecil yang tidak mengangkat syi'ar Islam dan tidak [pula] menegakkan syari'at Islam. Bagaimana mungkin konflik itu akan berkahir, sedangkan seorang Muslim dalam shalatnya setiap sehari semalam membaca sebannyak tujuh belas kali [kalimat] :"Ghayril maghdhubi 'alaiyhim wa laa-adh-dhaalliin""Artinya : Bukan jalanya orang-orang yang dimurkai Allah [yaitu orang-orang Yahudi] dan bukan pula jalannya orang-orang sesat [orang-orang Nashrani]".Orang-orang yang dimurkai dalam ayat di atas adalah orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang sesat adalah orang-orang Nashrani, menurut kesepakatan para ahli Tafsir hingga hari kiamat.Pertempuran dahsyat yang akan memusnahkan orang-orang Yahudi hingga orang terakhir pasti akan terjadi kelak. Yaitu pertempuran atas dasar Iman, pertempuran yang merupakan peribadatan kepada Allah. Sebagaimana yang disebuitkan dalam hadits [Shahih Bukhari dan Muslim], bahwa :"Kalian akan memerangi kaum Yahudi, kalian akan memerangi mereka, sampai batu dan pohon berkata : "Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada orang Yahudi, bunuhlah ia". Kecuali pohon Gharqad, sebab pohon itu adalah pohon kaum Yahudi".Ini merupakan janji yang benar dari seorang Nabi yang tidak pernah berkata berdasarkan hawa nafsu. Janji tersebut menegaskan hakikat permusuhan [kaum Muslimin] dengan orang Yahudi. Tidak sebagaimana opini yang dibentuk oleh media-media massa yang sesat dan menyesatkan.[Diambil dari Editorial redaksi majalah salafiyah yaitu Al-Ashalah Edisi 30/Th V/15 Syawal 1421H. dan dinukil kembali dari Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/11422H/2001M dari judul Yahudi Musuh Bebuyutan Umat Islam Sampai Mereka Musnah oleh Ahmas Faiz Asifuddin, hal 19-20 & 25]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1541&bagian=0


Artikel Permusuhan Antara Umat Islam Dengan Bangsa Yahudi diambil dari http://www.asofwah.or.id
Permusuhan Antara Umat Islam Dengan Bangsa Yahudi.

Mendahulukan Kepentingan Orang Lain

Kumpulan Artikel Islami

Mendahulukan Kepentingan Orang Lain Al-Waqidy bercerita:Suatu saat, saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu keras.Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak mempunyai uang sedikit pun.Saya bingung, lalu aku menulis surat kepada teman saya yang seorangalawy [keturunan Ali bin Abi Thalib]. Saya memintanya meminjami sayauang sebesar seribu dirham. Dia pun mengirimkan kepada saya uangsebesar itu dalam sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu saya taruhdi rumah ... Malam harinya saya menerima sepucuk surat dari teman sayayang lain. Dia meminta saya meminjaminya uang sebesar seribu dirhamuntuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa pikir panjang, saya kirim untuknyakantong uang yang tutupnya masih utuh.

Besok harinya, saya kedatangan teman yang meminjamiku uang, juga temanalawy yang saya berhutang pada-nya. Yang alawy ini menanyakan kepadasaya perihal uang seribu dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telahmengeluar-kannya untuk suatu kepentingan. Tiba-tiba dia mengeluarkankantong itu sambil tertawa dan berkata, 'Demi Allah, bulan Ramadhansudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali 1000 dirham ini.Setelah kau menulis surat pada saya, saya kirim uang ini kepadamu.Sementara saya juga menulis surat pada teman kita yang satu ini untukpinjam uang seribu dirham. Lalu dia mengirimkan kantong ini kepadasaya. Maka saya bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini Diapun bercerita kepada saya. Dan sekarang ini, kami datang untuk membagiuang ini, buat kita bertiga. Semoga Allah akan memberikan kelapangankepada kita semua.'

Al-Waqidy berkata:Saya berkata pada kedua teman itu, 'Saya tidak tahu siapa di antarakita yang lebih dermawan.' Kemudian kami membagi uang itu bertiga.Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besarhasil pembagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi, sayaberfikir, aduhai bagaimana ini

Tiba-tiba datanglah utusan Yahya bin Khalid Al-Barma-ky di pagi hari,meminta saya untuk menemuinya. Ketika saya menghadap pada Yahya Al-Barmaki,dia berkata, 'Ya Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu. Kondisimusaat itu sangat memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu'

Maka saya menjelaskannya sampai pada kisah tentang teman saya yangalawy , teman saya yang satunya lagi dan uang 1000 dirham. Lalu diaberkomentar, 'Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang lebihdermawan.' Selanjutnya, dia memerintahkan agar saya diberi uang tigapuluh ribu dirham dan dua puluh ribu dirham untuk dua teman saya. Dandia meminta saya untuk menjadi Qadhi.

Artikel Mendahulukan Kepentingan Orang Lain diambil dari http://www.asofwah.or.id
Mendahulukan Kepentingan Orang Lain.

Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram

Kumpulan Artikel Islami

Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram

>> Pertanyaan :

Syaikh Utsaimin ditanya: Tentang hukum wanita mengenakan purdah danmasker saat ihram ?

>> Jawaban :

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam melarang wanita yang sedangihram untuk mengenakan cadar. Dan purdah lebih utama untuk dilarang.Dan dia menutupi seluruh wajahnya dan kerudung yang ia kenakan tatkalaberpapasan dengan kaum laki-laki. Jika telah lewat hendaknya dibukakembali penutup wajah tersebut dan yang demikian itu lebi baik dansesuai sunnah..

Artikel Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hukum Mengenakan Purdah Dan Masker Saat Ihram.

Apakah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Mencakup Segala Hal ?

Kumpulan Artikel Islami

Apakah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Mencakup Segala Hal ? Apakah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Mencakup Segala Hal

Kategori Birrul Walidain

Rabu, 13 Juli 2005 06:41:45 WIBAPAKAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MENCAKUP SEGALA HAL OlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaanSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang, beranggapan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah dalam segala hal. Kami mohon perkenan Syaikh untuk menjelaskan batasan-batasan berbakti kepada kedua orang tua.JawabanBerbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang bakti ini dalam firmanNya.â€Å"Artinya : Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kemu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” [Al-Isra : 23]Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun demikian Allah menyebutkan.â€Å"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’”Yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya.â€Å"Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”Bentuk perbuatan, hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan kedua orang tuanya serta bersikap sopan dan penuh kepatuhan karena status mereka sebagai orang tuanya, demikian berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.â€Å"Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” [Al-Isra : 24]Lain dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hal yang paling utama, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersada.â€Å"Artinya : Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” [1]Lain dari itu, juga mengabdi dengan bentuk berbuat baik, yaitu berupa perkataan dan perbuatan seperti umumnya yang berlaku, hanya saja mengabdi dalam perkara yang haram tidak boleh dilakukan, bahkan yang termasuk baktin adalah menahan diri dari hal tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.â€Å"Artinya : Tolonglah saudaramu baik ia dalam kondisi berbuat aniaya maupun teraniaya”Ditanyakan kepada beliau, â€Å"Begitulah bila ia teraniaya, lalu bagaimana kami menolongnya bila ia berbuat aniaya ” beliau menjawab.â€Å"Artinya : Engkau mencegahnya dari berbuat aniaya” [2]Jadi, mencegah orang tua dari perbuatan haram dan tidak mematuhinya dalam hal tersebut adalah merupakan bakti terhadapnya. Misalnya orang tua menyuruhnya untuk membelikan sesuatu yang haram, lalu tidak menurutinya, ini tidak dianggap durhaka. Bahkan sebaliknya, ia sesungguhnya telah berbuat baik, karena dengan begitu ia telah mencegahnya dari yang haram.[Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]_________Foote Note[1] Hadits Riwayat Abu Daud dalam Al-Buyu 3530, Ibnu Majah dalam At-Tijarah 2292 dari hadits Ibnu Amr, Ibnu Majah 2291 dari hadits Jabir[2] Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Mazhalim 24444 dari hadits Anas, Muslim meriwayatkan seperti dalam Al-Birr 2584 dari hadits Jabir, Ahmad 12666 dari Anas. Lafazh di atas adalah riwayat Ahmad

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1484&bagian=0


Artikel Apakah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Mencakup Segala Hal ? diambil dari http://www.asofwah.or.id
Apakah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Mencakup Segala Hal ?.