Minggu, 06 Juli 2008

Hukum Membeli Barang-Barang Hasil Curian Di Pasar Lelang

Kumpulan Artikel Islami

Hukum Membeli Barang-Barang Hasil Curian Di Pasar Lelang Hukum Membeli Barang-Barang Hasil Curian Di Pasar Lelang

Kategori Fatawa Jual Beli

Jumat, 2 September 2005 08:42:27 WIBHUKUM MEMBELI BARANG-BARANG HASIL CURIAN DI PASAR LELANGOlehAl-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal IftaPertanyaan.Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Terkadang, di pasar lelang terdapat barang-barang hasil curian. Yang menunjukkan hal tersebut adalah munculnya rasa bingung pada penjualnya atau ketidak tahuannya apa yang dikandung oleh barang-barang tersebut atau kulalitas perlatannya, cara menjalankannya, harga barang atau dari mana dia membelinya. Apa hukum membelinya Melihat banyaknya pengunjung pasar lelang yang datang pada hari Kamis dan Jum’at, banyak hal yang menyulitkan dan pencurian di tengah orang banyak. Dan Anda akan banyak mendapatkan orang yang tidak mau saling tolong menolong untuk melaporkan hal tersebut dengan alasan bahwa dia bukan penanggung jawab di pemerintahan daerah, polisi atau lembaga Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Apakah orang yang melaporkan hal tersebut berdosa atau malah layak mendapatkan balasan Tolong berikan fatwa kepada kami, mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepada Anda.JawabanJika seseorang meyakini bahwa barang yang dipajang untuk diperdagangkan itu hasil curian atau pemerasan atau orang yang menawarkannya bukan pemilik yang resmi dan bukan juga orang yang ditugasi untuk menjualnya, maka haram baginya untuk membeli barang tersebut, karena dengan membelinya berarti telah membantu melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran serta menghilangkan barang dari pemilik yang sebenarnya. Selain itu, dalam perbuatan tersebut terkandung tindakan menzhalimi orang lain serta mendukung kemunkaran dan bergabung dengan pelakunya dalam berbuat dosa. Allah Ta’ala berfirman.â€Å"Artinya : Dan tolong menolonglah kalian dalam [mengerjakan] kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Maa’idah : 2]Berdasarkan hal tersebut, orang yang mengetahui bahwa barang tersebut hasil curian atau hasil pemerasan maka hendaklah dia menasihati orang yang mencurinya dengan cara yang baik, lembut dan penuh hikmah agar dia tidak lagi melakukan pencurian. Jika dia tidak mau menghentikan kebiasaannya itu dan tetap mengulangi kejahatannya tersebut, maka dia wajib melaporkan tindakan tersebut kepada pihak yang berwenang agar pelakunya diberi hukuman yang setimpal dengan kejahatannya serta mengembalikan hak kepada pemiliknya. Dan itu termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan karena hal itu sebagai tindakan mencegah orang zhalim dan kezhalimannya sekaligus sebagai pertolongan baginya dan orang yang dizhalimi. Oleh karena itu, ditegaskan di dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dia berkata.â€Å"Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : â€Å"Tolonglah saudaramu baik dia berbuat zhalim maupun dizhalimi”. Para sahabat bertanya, â€Å"Wahai Rasulullah, membantu orang dizhalimi itu dapat kami mengerti, lalu bagaimana kami membantu orang yang berbuat zhalim ” Beliau menjawab, â€Å"Mencegah tangannya dari [berbuat zhalim]” [1]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Lihat kitab Fathul Baari Juz V halaman 98. Hal senada juga diriwayatkan Imam Ahmad di dalam kitab Al-Musnad. Dan dalam riwayat yang lain disebutkan : Maka ada seseorang yang bertanya, â€Å"Wahai Rasulullah, aku akan membantunya jika dia dalam keadaan dizhalimi, bagaimana menurutmu, jika dia yang berbuat zhalim, bagaimana aku harus menolongnya ” Beliau menjawab.â€Å"Artinya : Mencegahnya dari kezhaliman, karena demikian itulah bentuk pertolongan baginya”.Berdasarkan hal tersebut, maka menolong orang yang berbuat zhalim itu adalah dengan mencegahnya dari perbuatan zhalim dan pelanggaran yang dilakukannya. Sedangkan menolong yang dizhalimi adalah dengan berusaha mengembalikan haknya kepadanya serta menghalangi orang zhalim dari menyakitinya. Tindakan tersebut termasuk fardhu kifayah. Jika tidak ada orang yang melakukan tugas tersebut secara resmi atau pihak yang lebih kuat darinya dalam menghalangi kekuatan orang yang berbuat zhalim dan bermaksiat kepada Allah serta mencegahnya dari kezhaliman dan kejahatannya, maka tugas itu jatuh kepada dirinya untuk dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya, dengan penuh kelemah lembutan. Dan insya Allah Ta’ala, dia akan mendapatkan balasan dan pahala atas tindakannya tersebutWabillaahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.[Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta, Pertaanyaan ke 10 dan ke 11 dari Fatwa Nomor 19637, Disalin dari Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Jual Beli, Pengumpul dan Penyusun Ahmad bin Abdurrazzaq Ad-Duwaisy, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i]_________Foote Note[1] Hadit Riwayat Ahmad III/99 dan 201, Al-Bukhari III/98 dan VIII/59, At-Tirmidzi IV/523 nomor 2255, Ibnu HIbban XI/571 dan 572 nomor 5167 dan 5168, Abd bin Hamid III/186 nomor 1399, Abu Ya’ala VI/449 nomor 3838, Ath-Thabrani di dalam kitab Ash-Saghir I/208, Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Hilyah III/94 dan X/405. Dan juga di dalam kitab Akhbaar Ashbahaan II/14, Al-Qudha’i I/375 nomor 646, Al-Baihaqi VI/94 dan X/90, AL-Baghawi XIII/97 nomor 3516

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1561&bagian=0


Artikel Hukum Membeli Barang-Barang Hasil Curian Di Pasar Lelang diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hukum Membeli Barang-Barang Hasil Curian Di Pasar Lelang.

Hukum Orang Yang Mengklaim Bahwa Sebab Terbelakang Kaum Muslimin Karena Komitmen Terhadap Agama

Kumpulan Artikel Islami

Hukum Orang Yang Mengklaim Bahwa Sebab Terbelakang Kaum Muslimin Karena Komitmen Terhadap Agama Hukum Orang Yang Mengklaim Bahwa Sebab Terbelakang Kaum Muslimin Karena Komitmen Terhadap Agama

Kategori Syubhat Dan Jawaban

Selasa, 11 Januari 2005 13:33:43 WIBHUKUM ORANG YANG MENGKLAIM BAHWA SEBAB KETERBELAKANGAN KAUM MUSLIMIN KARENA KOMITMEN MEREKA TERHADAP AGAMAOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

>> Pertanyaan :Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang yang lemah imannya mengklaim bahwa sebab keterbelakangan aum muslimin adalah karena komitmen mereka terhadap agama. Syubhat yang mereka lemparkan menurut klaim tersebut bahwa tatkala orang-orang Barat tidak meninggalkan seluruh agama dan terbebas dari kungkungannya, sampailah mereka kepada kondisi sekarang ini, yaitu kemajuan peradaban sementara kita karena komitmen terhadap agama masih saja mengekor terhadap mereka, bukannya sebagai orang yang dipanuti. Bagaimana mementahkan tuduhan-tuduhan semacam ini Barangkali mereka menambahkan lagi satu syubhat lainnya, yaitu ada hujan yang lebat turun di sana, hasil-hasil pertanian dan bumi yang subur menghijau. Mereka mengatakan, ini merupakan bukti kebenaran ajaran mereka.JawabanKita katakan, bahwa sesungguhnya pertanyaan semacam ini hanyalah bersumber dari penanya yang lemah imannya atau tidak memiliki iman sama sekali; jahil terhadap realitas sejarah dan tidak mengetahui faktor-faktor kemenangan. Justru, ketika umat Islam komitmen terhadap agama pada periode permulaan Islam, mereka memiliki 'Izzah [kemuliaan diri], Tamkin [mendapatkan posisi yang mantap], kekuatan dan kekuasaan di seluruh lini kehidupan.Bahkan sebagian orang berkata, "Sesungguhnya orang-orang Barat belum mampu menimba ilmu apapun kecuali dari ilmu-ilmu yang mereka timba dari kaum muslimin pada periode permulaan Islam."Akan tetapi umat Islam malah banyak terbelakang dari ajaran diennya sendiri dan mengada-adakan sesuatu di dalam Dienullah yang sebenarnya tidak berasal darinya baik dari sisi aqidah, ucapan dan perbuatan. Karena hal itulah, mereka benar-benar mengalami kemunduran dan keterbelakangan.Kita mengetahui dengan seyakin-yakinnya dan bersaksi kepada Allah Subhanhu wa Ta'ala bahwa andaikata kita kembali kepada manhaj yang dulu pernah diterapkan oleh para pendahulu kita dalam dien ini, niscaya kita akan mendapatkan 'Izzah, kehormatan dan kemenangan atas seluruh umat manusia. Oleh karena itulah, tatkala Abu Sufyan menceritakan kepada Heraklius, kaisar Romawi yang ketika itu Kekaisaran Romawi dianggap sebagai negara adidaya- perihal ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dia mengomentari,"Jika apa yang kamu katakan mengenai dirinya ini benar, maka berarti dia adalah seorang Nabi dan sungguh, kekuasaannya akan mencapai tempat di bawah kedua kakiku ini. "Dan tatkala Abu Sufyan dan para rekannya berpaling dari sisi Heraklius, dia berkata,"Urusan si Ibn Kabsyah [1] ini sudah menjadi besar, sesungguhnya Raja Bani al-Ashfar [sebutan Quraisy terhadap orang Romawi] gentar terhadapnya.” [2]Sedangkan mengenai kemajuan di bidang industri, teknologi dan sebagainya yang dicapai di negara-negara Barat yang kafir dan atheis itu, tidaklah agama kita melarang andaikata kita meliriknya akan tetapi sangat disayangkan kita sudah menyia-nyiakan ini dan itu; menyia-nyiakan agama kita dan juga menyia-nyiakan kehidupan dunia kita. Sebab bila tidak, sesungguhnya Dien Islam tidak menentang adanya kemajuan seperti itu bahkan dalam banyak ayat Allah berfirman,"Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang [yang dengan persiapan itu] kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu." [Al-Anfal : 60]"Artinya : Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkiNya." [Al-Mulk :15]."Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu." [Al-Baqarah:29]]"Artinya : Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan. " [Ar-Ra'd : 4]Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang mengajak secara terang-terangan kepada manusia agar berusaha dan bekerja serta mengambil manfaat akan tetapi bukan dengan mempertaruhkan agama. Kaum kafir tersebut pada dasarnya adalah kafir, agama yang di-klaim juga adalah agama yang batil. Jadi kekufuran dan atheistik padanya sama saja, tidak ada perbedaannya. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman,"Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya. " [Ali Imran: 85]Jika Ahli Kitab yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan Nashrani memiliki sebagian keunggulan yang tidak sama dengan orang-orang selain mereka akan tetapi mereka sama saja bila dikaitkan dengan masalah akhirat kelak, oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersumpah bahwa tidaklah umat Yahudi atau Nashrani tersebut yang mendengar [dakwah] beliau kemudian tidak mengikuti ajaran yang beliau bawa melainkan ia termasuk penghuni neraka. Jadi, sejak awal mereka itu adalah kafir, baik bernisbah kepada Yahudi ataupun Nashrani bahkan sekalipun tidak bernisbah kepada keduanya.Sementara adanya banyak curahan hujan dan selainnya yang mereka dapatkan, hal ini hanya sebagai cobaan dan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah memang menyegerakan bagi mereka anugerah kenikmatan-kenikmatan di dalam kehidupan duniawi sebagaimana yang disabdakan Nabi Saw kepada Umar bin Al-Khaththab tatkala dia melihat beliau lebih mengutamakan tidur beralaskan tikar sehingga membuat Umar menangis. Dia berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, orang Persi dan Romawi hidup bergelimang kenikmatan sementara engkau dalam kondisi seperti ini" Beliau menjawab,"Artinya : Masih ragukah engkau wahai Ibn al-Khaththab Mereka itu kaum yang memang disegerakan untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan di dalam kehidupan duniawi." [3]Kemudian mereka juga ditimpa musibah kelaparan, malapetaka-malapetaka, gempa dan angin-angin topan yang meluluhlantakkan sebagaimana yang diketahui bersama dan selalu disiarkan di radio-radio, koran-koran dan sebagainya.Akan tetapi orang yang mempertanyakan seperti ini buta. Allah telah membutakan penglihatannya sehingga tidak mengetahui realitas dan hakikat yang sebenarnya. Nasehat say a kepadanya agar dia bertaubat kepada Allah Swt dari pandangan-pandangan seperti itu sebelum ajal dengan tiba-tiba menjemputnya. Hen-daknya dia kembali kepada Rabb-nya dan mengetahui bahwa kita tidak akan mendapatkan 'Izzah, kehormatan, kemenangan dan kepemimpinan kecuali bila kita telah kembali kepada Dien al-Islam; kembali dengan sebenar-benarnya yang diimplementasikan melalui ucapan dan perbuatan. Dia juga hendaknya mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang Kafir itu adalah batil, bukan Haq dan tempat mereka adalah neraka sebagaimana yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan melalui lisan RasulNya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pertolongan berupa nikmat banyak yang dianugerahkan Allah kepada mereka tersebut hanyalah cobaan, ujian dan penyegeraan kenikmatan, hingga bilamana mereka telah binasa dan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan ini menuju Neraka Jahim, barulah penyesalan, derita dan kesedihan akan semakin berlipat bagi mereka. Ini semua merupakah Hikmah Allah dengan memberikan kenikmatan kepada mereka padahal mereka sebagaimana telah saya katakan tadi, tidak akan selamat dari bencana-bencana, gempa, kelaparan, angin topan, banjir dan sebagainya yang menimpa mereka.Saya memohon kepada Allah agar orang yang mempertanyakan ini mendapatkan hidayah dan taufiq, mengembalikannya ke jalan yang haq dan memberikan pemahaman kepada kita semua terhadap dien ini, sesungguhnya Dia Mahakaya lagi Mahamulia. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, washallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad Wa 'Ala Alihi Wa Ala Ashhabihi Ajma 'in.[Alfazh Wa Mafahim Fi Mizan asy-Syari’ah, h.4-9, dari fatwa Syaikh Ibn Utsaimin][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 136-137 Darul Haq]_________Foote Note[1]. Ibn Kabsyah adalah salah seorang dari suku Khuza'ah yang menyembah sesuatu yang bertentangan dengan ibadah bangsa Arab karenanya Abu Sufyan menjuluki Rasulullah demikian, karena beliau juga mengingkari dari apa yang mereka anut, pent.[2]. HR. Al-Bukhari, Bad'ul Wahyi [7] al-Jihad [2941]; Muslim, al-Jihad [1773].[3]. HR. Al-Bukhari, Al-Mazhalim [2467], An-Nikah [5191].

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1296&bagian=0


Artikel Hukum Orang Yang Mengklaim Bahwa Sebab Terbelakang Kaum Muslimin Karena Komitmen Terhadap Agama diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hukum Orang Yang Mengklaim Bahwa Sebab Terbelakang Kaum Muslimin Karena Komitmen Terhadap Agama.

Wanita Punya Saudara Dan Paman Dari Pihak Ibu (SaudaraIbu)

Kumpulan Artikel Islami

Wanita Punya Saudara Dan Paman Dari Pihak Ibu (SaudaraIbu)

>> Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya: Telah sampai surat kepada sayatentang seorang gadis atau anak yatim yang wali dekatnya adalahsaudara laki-laki yang berumur 12 tahun, lalu ia rela dinikahkan olehpaman dari arah ibu sementara ada beberapa kerabat dekat yang tidakjelas mana yang paling dekat. Bagaimana hukum pernikahan tersebut?

>> Jawaban :

Paman dari arah ibu bukanlah wali dan saudaranya yang belum balighbelum bisa menjadi wali, maka harus dicari wali yang paling dekat diantara wali yang ada. Seperti yang telah disebutkan, apabila pamandari arah ibu tersebut dari kerabat yang paling dekat maka nikahnyasah. Namun apabila di antara wali yang ada tidak jelas mana yangpaling dekat kemudian didapatkan bahwa ternyata ada kerabat yang lebihdekat dibanding paman dari ibunya tersebut, maka pernikahannya taditidak sah dan harus dipisah antara si wanita dan laki-laki itu. Danboleh bagi kerabat yang paling dekat untuk mengulangi akad nikah lagiFatawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, juz 10/112

Artikel Wanita Punya Saudara Dan Paman Dari Pihak Ibu (SaudaraIbu) diambil dari http://www.asofwah.or.id
Wanita Punya Saudara Dan Paman Dari Pihak Ibu (SaudaraIbu).

Agama Islam Merupakan Aqidah Dan Sariat. Islam Adalah Agama Yang Sempurna

Kumpulan Artikel Islami

Agama Islam Merupakan Aqidah Dan Sariat. Islam Adalah Agama Yang Sempurna Agama Islam Merupakan Aqidah Dan Sariat. Islam Adalah Agama Yang Sempurna

Kategori Syarhu Ushulil Iman

Sabtu, 8 Mei 2004 07:55:37 WIBAGAMA ISLAMOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminAgama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hamba-Nya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatan-Nya dan meridhoi Islam sebagai diennya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima, selain Islam.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi …."[Al-Ahzab:40]" Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu …." [Al Maidah : 3]"Artinya : Sesungguhnya agama [yang diridhai] di sisi Allah hanyalah Islam…." [Ali Imran : 19]" Artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" [Ali Imran : 85]Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sebagaimana telah difirmankan-Nya kepada rasul-Nya.â€Å"Artinya : Katakanlah ; "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya [kitab-kitab-Nya] dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk." [Al A'raaf : 158]Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:"Artinya : Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini, Yahudi maupun Nashrani, yang mendengar tentangaku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka." [Hadits Riwayat Muslim]Mengimani Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib [paman Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam] dikatakan bukan orang yang mengimani Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama yang terbaik.Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada rasul-Nya."Artinya : Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab [yang diturunkan sebelumnya] dan batu ujian terhadap kitab-kitab itu …." [Al Maidah :48]Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umum di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan-Nya dalam firman-Nya."Artinya : Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [Al-Qur'an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." [At Taubah : 33]"Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." [An Nuur : 55]Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syariat, karena:[1]. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik.[2]. Memerintahkan bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.[3]. Memerintahkan berbuat adil[1] dan melarang perbuatan lalim.[4]. Memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.[5]. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.[6]. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta melarangmenyakitinya.[7]. Memerintahkan bersilaturahmi/menyambung hubungan dengan kerabatdekat,sertamelarang memutuskannya.[8]. Memerintahkan berbuat baik dengan tetangga dan melarang berbuatjahat kepada mereka.Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang buruk.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:"Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." [An Nahl : 90][Disalin dari kitab : Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman : 9-13]_________Foote Note[1] Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=703&bagian=0


Artikel Agama Islam Merupakan Aqidah Dan Sariat. Islam Adalah Agama Yang Sempurna diambil dari http://www.asofwah.or.id
Agama Islam Merupakan Aqidah Dan Sariat. Islam Adalah Agama Yang Sempurna.