Selasa, 01 Juli 2008

Melaknat Isteri

Kumpulan Artikel Islami

Melaknat Isteri

>> Pertanyaan :

Apa hukum laknat suami terhadap istrinya dengan sengaja Apakahistrinya menjadi haram baginya karena laknat tersebut Atau bahkantermasuk katagori talak Lalu apa kaffarahnya [tebusannya]?

>> Jawaban :

Laknat seorang suami terhadap istrinya adalah perbuatan mungkar, tidakboleh dilakukan, bahkan termasuk dosa besar, sebagaimana sabda NabiShalallaahu alaihi wasalam,

Melaknat seorang Mukmin adalah seperti membunuhnya.

Dalam hadits lain disebutkan,

Mencela seorang Muslim adalah suatu kefasikan danmembunuh-nya adalah suatu kekufuran.

Dalam hadits lainnya lagi disebutkan,

Orang-orang yang suka melaknat itu tidak akanmenjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.

Maka yang wajib atasnya adalah bertaubat dari perbuatannya itu danmembebaskan istrinya dari celaan yang telah dilontarkan terhadap-nya.Barangsiapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allahmenerima taubatnya. Sementara istrinya, tetap dalam tanggung jawabnya,ia tidak menjadi haram baginya lantaran laknat tersebut. Lain dari itu,yang wajib atasnya adalah memperlakukannya dengan baik dan senantiasamenjaga lisannya dari setiap perkataan yang dapat menimbulkankemurkaan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Demikian juga sang istri,hendaknya memperlakukan suami dengan baik dan menjaga lisannya dariapa-apa yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah dan kemarahan suaminya,kecuali berdasarkan kebenaran. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. [An-Nisa: 19].

Dalam ayat lain disebutkan,

Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan da-ripadaistrinya. [Al-Baqarah: 228].

Hanya Allahlah pemberi petunjuk.

[ Fatawa Haiati Kibaril Ulama, juz 2 hal. 687-688, Syaikh Ibnu Baz.]

Artikel Melaknat Isteri diambil dari http://www.asofwah.or.id
Melaknat Isteri.

Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Dalam Bermasyarakat

Kumpulan Artikel Islami

Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Dalam Bermasyarakat Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Dalam Bermasyarakat

Kategori Nasehat

Kamis, 23 Juni 2005 14:10:36 WIBPENUNUTUT ILMU DAN MASYARAKATOlehSyaikh Abdul Aziz Bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz Bin Baz ditanya : Problem terbesar yang dihadapai seorang penuntut ilmu adalah problem berpalingnya masyarakat darinya dan dari ilmunya, sementara ia sendiri tidak mengetahui peran yang cocok baginya di masyarakat, karena masyarakat materialistis di zaman sekarang tidak menilai orang kecuali dengan standar materi yang dihasilkan dari kerja apa saja. Bagaimana mengatasinya menurut pandangan Syaikh yang muliaLalu, apa yang harus dilakukan penuntut ilmu, apa harus berada di masyarakat tertentu sehingga ia bisa belajar dan hidup di sana Atau, apa yang harus diperbuatnya Kami mohon Syaikh berkenan memberi kami wejangan/nasehat yang telah Syaikh dapatkan dari masyayikh Anda dan yang telah mereka peroleh dari masyayikh mereka.JawabanApa yang diungkapkan oleh penanya ini tidaklah benar. Karena yang benar, bahwa ilmu itu mendahului ahli ilmu dan mengangkat martabat para ahlinya disetiap masyarakat. Jika ia pergi ke Amerika, atau Inggris atau Perancis atau negara mana saja, maka ilmunya akan mengangkat martabatnya diantara minoritas kaum muslimin dan orang-orang yang diserunya berdasarkan ilmu dari kalangan kaum musyrikin, karena mereka akan tertarik kepada kebenaran jika mereka mengetahuinya dan dalil-dalilnya yang nyata dan akhlak para pemeluknya yang mulia, karena Islam adalah agama fithrah [sesuai naluri], agama keseimbangan dan akhlak, agama kekuatan, kesemangatan, persamaan dan semua kebaikan.Maka seorang penuntut ilmu yang berjalan di atas hujjah, ia mengetahui dalil-dalil syar'iyah, mengetahui hukum-hukum Islam dan mengamalkannya, tetap tegak kepalanya di mana saja dan tetap terhormat di mana saja, lebih-lebih di tengah-tengah jama'ahnya dan penduduk negerinya bila mereka mengetahui keilmuan dan wejangan [nasehat]nya serta kejujuran dan kehati-hatiannya. Sebab, itulah faktor-faktor yang menyebabkannya terhormat, bahkan menjadi dokter yang bijaksana yang menyeru ke jalan Allah dengan hujjah dan kelembutan.Orang yang demikian akan tegak kepalanya dan dihormati di mana saja, di desa atau kabilah atau lainnya jika ia berperilaku dengan ilmu, baik perkataan maupun perbuatan, jauh dari perilaku fasik dan karakter orang-orang jahat.Orang-orang semacam ini dicintai di sisi Allah dan para hambaNya yang shalih selama ia berilmu, mengamalkan, menasehati saudara-saudaranya, berlaku lembut terhadap mereka dan berambisi untuk memberi manfaat bagi mereka dengan ilmu, akhlak, harta dan wibawanya, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang shalih.Pernyataan yang menyebutkan bahwa penuntut ilmu tidak mendapat tempat di masyarakat, adalah pernyataan yang tidak perlu dianggap, karena ini merupakan ungkapan batil yang tidak sesuai dengan realita sebagaimana kami paparkan tadi.Seorang penuntut ilmu yang mengerti agamanya serta loyal terhadap Allah dan para hambaNya, kepalanya akan tegak dan terhormat di mana saja, di pesawat terbang, di kereta api, di darat, di laut, dan di mana saja, jika ia ikhlas karena Allah serta menampakkan ilmu dan dakwah, berlaku baik terhadap manusia dengan kelembutan dan perkataan yang baik, maka baginya kabar gembira dan akibat yang terpuji serta pujian yang baik dari masyarakat di samping pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana firmanNya,"Artinya : Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." [Yusuf: 90].Dan firmanNya"Artinya : Dan orang-orang yang berjihad untuk [mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." [Al-Ankabu t: 69]Allah pun berfirman ketika berbicara kepada nabiNya Subhanahu wa Ta'ala."Artinya : Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." [Hud: 49]Dan masih banyak lagi ayat-ayat semakna lainnya.Kemudian dari itu, jika ditakdirkan ada dai yang belum mencapai tujuannya, bahkan disakiti dan diuji, bukankah ia punya suri teladan pada diri para rasul Mereka juga disakiti, diuji, dihinakan manusia bahkan ada yang dibunuh. Maka seorang penuntut ilmu bisa meneladani mereka dalam kesabaran dan ketabahan.Taruhlah umpamanya, seorang penuntut ilmu tidak dihormati di masyarakat, sebenarnya hal ini tidak membahayakannya, karena ia tidak menuntut ilmu agar dihormati, tapi untuk menyelamatkan dirinya dari kebodohan dan mengeluarkan manusia dari kegelapan ke alam yang terang benderang. Jika mereka menerima, mereka akan menghormatinya, alhamdulillah. Jika tidak, itupun tetap baik, bahkan sekalipun mereka membunuhnya atau menghinakannya, ia bisa meneladani para rasul, bahkan rasul terakhir, Muhammad Saw, pernah dianiaya dan dikeluarkan dari negerinya Makkah ke Madinah.Dari itu, seorang dai yang jujur dan ikhlas, memiliki berita gembira tentang adanya kebaikan, kehormatan, kemuliaan dan akibat yang baik, jika ia tetap menempuh jalan yang lurus, berakhlak mulia dan sesuai petunjuk, serta memiliki kesan terpuji tanpa melakukan kekerasan maupun kekasaran dan tidak melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak diperlukannya. Jika demikian, ia akan baik sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi dan rasul termasuk penutup mereka yang paling utama, pemimpin para dai dan para mujahid, nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, dan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Wallahu waliyut taufiq.[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi 47, Syaikh Ibnu Baz, hal. 163-166][Disalin dari bukuAl-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1465&bagian=0


Artikel Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Dalam Bermasyarakat diambil dari http://www.asofwah.or.id
Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Dalam Bermasyarakat.

Senin, 30 Juni 2008

Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil Dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka 1/3

Kumpulan Artikel Islami

Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil Dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka 1/3 Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil Dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka 1/3

Kategori Ahkam

Minggu, 28 Nopember 2004 10:11:21 WIBSEMUA SAHABAT RASULULLAH ADALAH ADIL DAN HARAM HUKUMNYA MENCACI MAKI MEREKAOlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasBagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3][A].TAQDIMPara shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang yang telah mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka telah berjuang bersama Rasulullah untuk menegakkan Islam dan mendakwahkannya keberbagai pelosok negeri, sehingga kita dapat merasakan ni'matnya iman dan Islam.Perjuangan mereka dalam li'ila-i kalimatillah telah banyak menelan harta dan jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, benar-benar membela kepentingan umat Islam, setia kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa kompromi, mereka tunduk kepada hukum-hukum agama Allah, tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Sorga-Nya.Model dan corak kehidupan masyarakat Islam terwujud dalam kehidupan mereka sehari-hari, model masyarakat Islam seperti yang tercermin dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah benar-benar dipraktekkan oleh mereka dan hal yang seperti ini belum pernah kita jumpai dalam sejarah umat sejak dulu sampai hari ini. Hidup mereka dilandasi Iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka selalu berjalan dalam prinsip-prinsip yang telah digariskan Allah.Persoalan 'Adalatus Shahabah [Keadilan Shahabat] sudah diyakini oleh umat Islam dari masa Shahabat sampai hari ini, bahwa merekalah orang-orang yang adil dan benar. Tetapi dalam rangkaian sejarah yang panjang ada saja kelompok yang selalu merongrong eksitensi perjuangan mereka bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Kelompok/golongan ini mengaku diri mereka "Islam" Mereka lebih terkenal dengan nama "kelompok Syi'ah atau agama Syi'ah" karena aqidah mereka berbeda dengan aqidah kaum muslimin. Agama Syi'ah yang dianut sekarang ini adalah Agama Syi'ah Immamiyah Itsna 'Asy'ariyah. Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asy'ariyah sejak dulu sampai hari ini telah sepakat mengkafirkan ketiga Khulafa'ur Rasyidin [mengecualikan Ali bin Abi Thalib] dan semua shahabat sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali 3 atau 4 shahabat.Semua buku-buku mereka dipenuhi dengan caci makian, penghinaan, dan laknat kepada Khulafa'ur Rasyidin dan shahabat-shahabat yang lainnya. Di dalam kitab Al-Furu'ul Kaafi jilid 3 fatsal Kitabur Raudhah hal.115 karangan Al-Kulaini disebutkan : Bahwa ada seorang murid Muhammad Al-Baqir bertanya tentang Abu Bakar dan Umar. Lalu ia jawab : "Tidak ada seorangpun yang mati dari kalangan kami [Syi'ah] melainkan benci dan murka kepada Abu Bakar dan Umar". Bahkan Khumaini dalam kitabnya Kasyful Asrar hal. 113-114 [cet. Persia] menuduh para shahabat kafir. Wal-'Iyaadzu billah. [1]Pengikut agama Syi'ah di Indonesia yang terdiri dari cendikiawan, mahasiswa dan orang-orang awam berusaha mencari-cari kesalahan individu dan meragukan 'adalah [keadilan] mereka para shahabat, untuk menguatkan aqidah mereka yang rusak tentang shahabat dan tujuannya untuk merusak Agama Islam, karena bila shahabat sudah dicela maka otomatis Al-Qur'an dan Sunnah dicela, karena merekalah [shahabat] yang pertama kali menerima risalah Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengikut agama Syi'ah berusaha agar Islam ini hancur.Membicarakan sikap dan kedudukan shahabat dan mengkritiknya berarti mengkritik Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian Allah dan pujian Allah serta pujian Rasulnya terhadap mereka.Orang-orang Syi'ah mengkritik para shahabat dengan menggunakan portongan-potongan ayat Qur'an dan hadits Nabi untuk kepentingan hawa nafsu mereka, dan meninggalkan puluhan ayat dan ratusan hadits Nabi yang shahih yang memuji keadilan shahabat.Standar nilai dan tolok ukur prilaku mereka yang tepat adalah Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sebagai penguat adalah pendapat Jumhur Ulama kaum Muslimin.Oleh karena itu penulis akan paparkan nash-nash tentang 'adalah shahabat.[B]. DIFINISI SHAHABAT[1]. Menurut Lughah [Bahasa].Shahabi diambil dari kata-kata Shahabat = Persahabatan, dan bukan diambil dari ukuran tertentu yakni harus lama bersahabat, hal ini tidak demikian, bahkan persahabatan ini berlaku untuk setiap orang yang menemani orang lain sebentar atau lama. Maka dapat dikatakan seseorang menemani si fulan dalam satu masa, setahun, sebulan, sehari atau sejam. Jadi persahabatan bisa saja sebentar atau lama. Abu Bakar Al-Baqilani [338-403H] berkata : "Berdasarkan defenisi bahasa ini, maka wajib berlaku difinisi ini terhadap orang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kendatipun hanya sejam di siang hari. Inilah asal kata dari kalimat Shahabat ini". [2][2]. Menurut Istilah Ulama Ahli Hadits.Kata Ibnu Katsir : "Shahabat adalah orang Islam yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun waktu bertemu dengan beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau".Kata Ibnu Katsir :" Ini pendapat Jumhur Ulama Salaf dan Khalaf [=Ulama terdahulu dan belakangan]". [3]Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani melengkapi definisi Ibnu Katsir, ia Berkata :"Definisi yang paling shahih tentang Shahabat yang telah aku teliti ialah : "Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam". Masuk dalam difinisi ini ialah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baik lama atau sebentar, baik meriwayatkan hadits dari beliau atau tidak, baik ikut berperang bersama beliau atau tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau sekalipun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta. Masuk dalam definisi ini orang yang beriman lalu murtad kemudian kembali lagi kedalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam seperti Asy'ats bin Qais.Kemudian yang tidak termasuk dari definisi shahabat ialah :[a]. Orang yang bertemu beliau dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam sesudah itu [yakni sesudah wafat beliau].[b]. Orang yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab sebelum diutus Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan setelah diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dia tidak beriman kepada beliau.[c]. Orang yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad. Wal'iyaadzu billah. [4]Keluar pula dari definisi shahabat ialah orang-orang munafik meskipun mereka bergaul dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah dan Rasul-Nya mencela orang-orang munafik, dan nifaq lawan dari iman, dan Allah memasukkan orang munafik tergolong orang-orang yang sesat kafir dan ahli neraka [Lihat : Al-Qur'an surat An-Nisaa : 137,138,141,142,143,145. Juga surat Ali Imran : 8 - 20].Sistim mu'amalah yang diterapkan oleh Rasulullah dan para shahabat dalam bergaul dengan orang-orang munafiqin jelas menunjukan bahwa shahabat bukanlah munafiqin dan munafiqin bukanlah shahabat. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa diantara shahabat ada yang munafik !!! Ayat-ayat Al-Qur'an dengan jelas membedakan mereka :Allah menyuruh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi orang-orang kafir dan munafiq [At-Taubah:73, At-Tahriim:9], sedangkan kepada orang-orang yang beriman , Allah menyuruh beliau menyayangi mereka [Asy-Syu'araa' :215, Al-Fath:29].Orang-orang munafiq tidak mendapat ampunan dari Allah [At-Taubah:80, Al-Munafiquun:6], sedangkan orang-orang beriman mendapatkan ampunan dari Allah [Muhammad:19].Nabi, para shahabat dan orang-orang yang beriman dilarang menyalatkan mayat munafiqin [At-Taubah:84] sedangkan mayat orang yang beriman wajib di shalatkan sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Dan ayat-ayat lain serta hadits yang membedakan mereka.[3]. Pendapat Ulama Tentang Definisi Shahabat.Definisi yang diberikan oleh Ibnu Hajar merupakan definisi Jumhur Ulama di antara mereka ialah Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Madini, Al'iraqi, Al-Khatib, Al-Baghdadi, Suyuti dll. Ibnu Hajar berkata : Inilah pendapat yang paling kuat. Di antara ahli Ushul Fiqih yang berpendapat demikian Ibnul Hajib, Al-Amidi dan lain-lain. [5][D]. BAGAIMANA BISA DIKETAHUI SESEORANG ITU DIKATAKAN SHAHABAT Kita dapat mengetahui seseorang itu dikatakan shahabat dengan :[a]. Kabar Mutawatir seperti Khulafaur Rasyidin dan 10 orang ahli surga.[b]. Kabar yang masyhur yang hampir mencapai derajat mutawatir seperti Dhamam bin Tsa'labah dan 'Ukkaasyah bin Mihsan.[c]. Dikabarkan oleh seorang shahabat lain atau oleh Tabi'i Tsiqat [terpercaya] bahwa si fulan itu seorang shahabat, seperti Hamamah bin Abi Hamamah Ad-Dausiy wafat di Ashfahan. Abu Musa Al-Asy'ari menyaksikan bahwa ia [Hamamah] mendengar hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.[d].Seseorang memberitakan tentang dirinya bahwa ia adalah seorang shahabat Rasulullah dan dimungkinkan bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menurut pemeriksaan ahli hadits bahwa ia memang seorang yang adil dan wafatnya tidak melebihi tahun 110H. [6].[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/ThI/1415-1995]_________Foote Note.[1]. Lihat Shurtani Mutadhodataani oleh Abul Hasan All Al-Hasani An-Nadwi : Aqaidus Syi'ah fii Miizan hal. 85-87 oleh DR Muhammad Kamil Al-Hasyim cet. I th, 1409H/1988M[2]. Lihat Lisanul "Arab II:7; Al-Kilayat fi 'Ilmir Riwayah hal.51 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi ; As-Sunnah Qablat-Tadwin hal. 387.[3]. Al-Baa'itsul Hatsits Syarah Ikhtisar 'Uluumil-Hadits Lil-Hafizh Ibnu Katsir oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir hal. 151 cet. Darut turats Th. 1399H/1979M.[4]. Al-Ishabah fil Tanyizis-Shahabah I hal. 7-8 cet. Daarul-fikr 1398H.[5]. Lihat Fathul Mughits 3/93-95, 'Ulumul-Hadits oleh Ibnu Shaleh hal. 146 ; At-Taqyid wal-idah Al-'Iraqi hal. 292 Alfiyah Suyuti hal. 57; Fathul Bari 7/3;Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam Lil-Amidi:83; Tanbih Dzawi Najabah ila 'Adalatis Shahabah hal. 11.[6]. Lihat Tadribur-Rawi 2:213 oleh Imam Suyuthi cet. Daarul Maktabah ilmiyah 1399H/1979M ; Fathul-Mughits 3:140 Ushulul-Hadits 405-406.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1195&bagian=0


Artikel Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil Dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka 1/3 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Semua Sahabat Rasulullah Adalah Adil Dan Haram Hukumnya Mencaci Maki Mereka 1/3.

Beberapa Hal Yang Dapat Membantu Sikap Toleransi

Kumpulan Artikel Islami

Beberapa Hal Yang Dapat Membantu Sikap Toleransi Beberapa Hal Yang Dapat Membantu Sikap Toleransi

Kategori Toleransi

Selasa, 1 Juni 2004 09:07:46 WIBBEBERAPA HAL YANG DAPAT MEMBANTU SIKAP TOLERANSIOlehSyaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali1. Menahan Angkara MurkaKetahuilah wahai saudaraku muslim, bahwasanya toleransi itu adalah kerelaan hati dan kelapangan dada bukan karena menahan, kesempitan dan terpaksa sabar melainkan toleransi adalah bukti kebaikan hati, lahir dan bathin.Hanya saja, toleransi tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan menahan angkara murka dan berupaya sabar, bila seorang hamba dapat dengan mantap melewatinya, maka dia akan memasuki -pintu-pintu toleransi- dengan pertolongan dan taufik dari Allah.Allah Ta'ala berfirman memuji kaum mukminin."Artinya : [Yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya] baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan mema'afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang berbuat kebajikan" [Ali-Imran : 134]Dan firman-Nya yang lain."Artinya : ... Dan apabila mereka marah, mereka memberi ma'af" [Asy-Syura : 37]Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Barangsiapa yang dapat menahan angkara murkanya padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya dihadapan khalayak guna disuruh memilih bidadari mana yang dia kehendaki untuk Allah nikahkan dia dengannya" [Shahih Al-Jami 6394 dan 6398]2. Mema'afkan dan Berlapang DadaKapan saja engkau menyaksikan wahai hamba yang toleran ! Keutamaan dari sikap toleransi ini dan engkau telah merasakan kelezatan dan kemuliaannya, maka engkau tidak akan berpaling darinya.Ketahuilah ! Semoga Allah membantumu dengan pertolongan-Nya, bahwasanya tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang yang telah Allah porak-porandakan hatinya dan Allah tutupi pandangan dan mata hatinya.Bagaimana mungkin engkau berpaling dari derajat kemuliaan menuju tangga kehinaan Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari keadaan yang demikian itu.Para cendekiawan telah mengetahui dengan ekseperimennya dan realita yang ada, bahwa seorang hamba bila dia melampiaskan kemarahan dirinya, maka dia akan hina dan tergelincir, sementara pada sikap mema'afkan dan berlapang dada terdapat kelezatan, ketenangan, kemuliaan jiwa dan keagungan serta ketinggiannya yang tidak terdapat sedikitpun pada sikap pembalasan dan pelampiasan angkara murka.Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta benda, tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan sikap pema'afnya kecuali kemuliaan dan tidaklah seorang bertawadlu karena Allah melainkan Allah mengangkat [derajat]nya" [Hadits Riwayat Muslim 2588 dan lainnya]3. Mengharapkan Apa yang Ada di Sisi Allah dan Berbaik Sangka kepada AllahPengharapan adalah masalah yang urgen bagi muslim yang menempuh perjalanan [menuju Allah] karena dia berkisar antara dosa yang diharapkan pengampunannya, aib yang diharapkan perbaikannya, amal shalih yang diharapkan diterima, istiqamah yang diharapkan eksitensinya dan taqarrub kepada Allah serta kedudukan disisi-Nya yang diharapkan tercapai. Barangsiapa yang mengharapkan apa yang ada disisi-Nya maka dia akan mema'afkan orang lain, sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebajikan.Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Ada seorang lelaki yang tidak beramal kebajikan sama sekali, dulunya ia biasa menghutangi orang lain, dia menyuruh utusannya : "Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang kesulitan, ma'afkan semoga Allah mema'afkan kita !" Tatkala dia meninggal, Allah bertanya : "Apakah engkau pernah beramal kebaikan sedikitpun !" Jawabnya : "Tidak ! Hanya saja saya memiliki seorang budak dan saya biasa menghutangi orang, bila saya mengutusnya untuk menagih hutang saya perintah ia : "Ambillah apa yang lapang biarkan yang kesulitan dan ma'afkan semoga Allah mema'afkan kita!" Allah berfirman : "Sungguh Aku telah mema'afkanmu" [Shahih Al-Jami' 2074]Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim tatkala beliau bersyair.Kalaulah tiada bergantung dengan pengharapanNiscaya jiwa sang penciptaakan nelangsa dan terbelahBegitu pula, kalaulah diatidak mendinginkan panasnyaHati, niscaya akan lebur terbakar tiraiApakah teman yang mengerumunitak berlihat sama sekaliPengharapan yang terkait dengan kekasihnyaAtaukah, setiap kali kecintaan kepada-Nya menguatMenguat pula rasa pengharapanhingga menambah kerinduanKalaulah tiada pengharapan, kendaraanberdendang berjalanMembawa beban menuju negerinyamengharap perjuampaan"[Madarijus Salikin 2/42]Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka dia akan melupakan kebaikan terhadap orang yang pernah dia berbuat baik kepadanya, hingga seolah-olah dia tidak pernah berbuat kebaikan. Dalam hal ini dikatakan."Dia melupakan segala perbuatannya dan Allah yang menampakkannya. Sesunguhnya perbuatan baik bila dilupakan akan nampak dengan sendirinya"[Disalin dari kitabToleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, terbitan Maktabah Salafy Press, hal. 43-48, penerjemah Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=767&bagian=0


Artikel Beberapa Hal Yang Dapat Membantu Sikap Toleransi diambil dari http://www.asofwah.or.id
Beberapa Hal Yang Dapat Membantu Sikap Toleransi.