Rabu, 25 Juni 2008

Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah

Kumpulan Artikel Islami

Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah

>> Pertanyaan :

Apa hukum bergantung kepada kelambu Kabah atau menempelkan dirikepadanya?

>> Jawaban :

Bergantung kepada kelambu Kabah atau menempelkan diri kepadanya tidakada dasarnya di dalan ajaran Islam. Maka dari itu ketika Ibnu AbbasRadhiallaahu anhu melihat Muawiyah melakukan thawaf di Kabah danberistilam kepada semua sudut Kabah, Ibnu Abbas menjelaskan kepadanyabahwa istilam itu khusus untuk Hajar Aswad dan rukun yamani saja. LaluMuawiyah berkata kepadanya: Tidak ada sesuatu dari bagian Kabah iniyang diabaikan. Maka Ibnu Abbas menjawabnya dengan mengatakan:Sungguh telah ada pada Rasulullah suri tauladan yang baik. RasulullahShalallaahu alaihi wasalam tidak pernah istilam kecuali kepada duasudut, yaitu rukun yamani dan hajar aswad. Muawiyah pun kemudianmematuhi apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Semoga Allah meridhaimereka berdua.

[ Ibnu Utsaimin: Fatawa Makkiyah, hal. 8.]

Artikel Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Keteladanan Itu Ada Pada Rasulullah.

Propaganda Yang Dilancarkan Pada Separuh Awal Abad Empat Belas Hijriyah

Kumpulan Artikel Islami

Propaganda Yang Dilancarkan Pada Separuh Awal Abad Empat Belas Hijriyah Propaganda Yang Dilancarkan Pada Separuh Awal Abad Empat Belas Hijriyah

Kategori Propaganda Sesat

Rabu, 12 Mei 2004 12:59:09 WIBTINJAUAN HISTORIS TEORI PENYATUAN AGAMA DAN BEBERAPA KASUS YANG BERKAITAN DENGANNYAOlehSyaikh Bakr bin Abdullah Abu ZaidBagian Ketiga dari Enam Tulisan [3/6][3] PROPAGANDA YANG DILANCARKAN PADA SEPARUH AWAL ABAD EMPAT BELAS HIJRIYAHKemudian propaganda tersebut tenggelam beberapa waktu. Terkungkung di dalam dada para penganutnya. Mereka menampakkan Islam namun menyembunyikan kekufuran. Hingga akhirnya muncullah gerakan : Son Moon At-Tauhidiyah atau disebut juga gerakan Al-Mooniyah.[1]Sebelumnya muncul pula gerakan Al-Masuuniyah[2], yaitu sebuah organisasi Yahudiyah untuk menguasai dunia, menyebarkan kesesatan dan kehidupan bebas. Mereka bersembunyi di balik seruan kepada penyatuan tiga agama, membuang fanatisme agama di bawah satu ikatan, yaitu iman kepada Allah, semuanya orang-orang beriman. Diantara orang yang terjerat propaganda mereka adalah Jamaluddin bin Shafdar Al-Afghani [meninggal pada tahun 1314 di Turki][3] dan muridnya, yaitu Syaikh Muhammad Abduh bin Hasan At-Turkimani [meninggal pada tahu 1323 di Iskandiriyah].[4]Diantara upaya yang dilakukan oleh Muhammad Abduh adalah mendirikan sebuah organisasi bernama â€Å"Jam’iyah Ta’lif Wat Taqrib [Organisasi Penyatuan dan Pendekatan]” bersama tokoh gerakan yaitu Mirza Muhammad Baqir Al-Irani yang pernah memeluk agama Nasrani lalu kembali memeluk Islam dan Jamaluddin Al-Afghani serta beberapa pemikir lainnya di Beirut. Misi organisasi tersebut adalah melakukan pendekatan antara tiga agama. Beberapa warga Iran, Inggris dan Yahudi ikut bergabung bersama organisasi ini. Anda dapat baca hal itu secara rinci dalam buku : â€Å"Tarikh Al-Utsadz Al-Imam” [I/817-829] karangan Muhammad Rasyid Ridha [wafat tahun 1354]Diantara usaha Muhammad Abduh dalam hal ini adalah mengadakan kontak surat menyurat dengan beberapa pastor. Sebagaimana disebutkan dalam buku Al-A’mal Al-Kamilah karangan Muhammad Abduh [II/363-367] disusun oleh Muhammad UmarahMuncullah kontroversi seputar teori ini. Ada yang mendukung dan ada pula yang membantahnya, para pendukungnya antara lain Muhammad Abduh, Muhammad Husein Haikal, Dr. Husein Al-Harawi, Abdul Jawwad Asy-Syarqaawi dalam Majalah Mingguan Politik Mesir mulai edisi 2821 bulan Shafar tahun 1351 dan seterusnya.Dan dalam surat kabar Al-Hilal edisi 484 dan 485 tahun 1357 dan 1358, dalam makalah yang berjudul : â€Å"Mungkinkah menyatukan agama Islam dengan Nasrani ” Dialog interaktif antara Muhammad Farid Wajdi, Muhammad ‘Arafah, Abdullah Al-Faisyawi Al-Ghazzi dengan beberapa pastor. Dialog dan surat menyurat terus berlangsung seputar persoalan tersebut dan dalam mencari jawaban pertanyaan di atas, yaitu mungkinkah menyatukan agama Islam dengan agama Nasrani dalam aspek spiritual ataukah hanya dalam aspek material saja Seorang Nasrani bernama Ibrahim Luqa menganggap mustahil usaha penyatuan agama Islam dengan Nasrani dalam kedua aspek tersebut. Akan tetapi sangat mungkin menyatukan Islam dan Nasrani demi kepentingan nasional, demikian katanya. Kemudian ia berkata : â€Å"Tidak ada jalan untuk menyatukan keduanya secara totalitas, kecuali salah satu dari keduanya bersedia meyakini keyakinan yang lain. Yaitu beriman kepada ketuhanan Isa, penitisannya, kematiannya dan kebangkitannya, hingga seluruhnya menjadi Nasrani tulen atau beriman bahwa Isa hanyalah salah satu dari rasul dan nabi yang diutus, hingga seluruhnya menjadi muslim tulen”.[Disalin dari kitab Al-Ibthalu Linazhariyyatil Khalthi Baina Diinil Islaami Wa Ghairihii Minal Adyan, edisi Indonesisa Propaganda Sesat Penyatuan Agama, Oleh Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Terbitan Darul Haq]_________Foote Note[1] Lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah II/669-673, cetakan ketiga[2] Lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal.449-454 cetakan pertama[3] Lihat kitab Shahwatur Rajulil Maridh karangan Muwaffiq bani Al-Murajjih hal.345 dan kitab Jamalauddin Al-Afghani fil Mizan[4] Ibid

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=715&bagian=0


Artikel Propaganda Yang Dilancarkan Pada Separuh Awal Abad Empat Belas Hijriyah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Propaganda Yang Dilancarkan Pada Separuh Awal Abad Empat Belas Hijriyah.

Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela

Kumpulan Artikel Islami

Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela

Kategori Hadits

Senin, 29 Maret 2004 10:11:11 WIBILMU DIHILANGKAN DAN KEBODOHAN MERAJALELAOlehYusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-WabilMUKADIMAHArtikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan tanda-tanda kiamat shugro [kecil] ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang nampak.________________________________Di antara tanda akan datangnya kiamat lagi ialah akan dihapuskannya ilmu [tentang Ad-Din] dan merajalelanya kejahilan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Di antara tanda-tanda akan datangnya kiamat ialah dihilangkannya ilmu [tentang Ad-Din] dan tetapnya kejahilan". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilmi wa Zhuhuri Al-Jahli 1:178, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-Jahli wa Al-Fitan fi Akhir Az-Zaman 16:222].Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, katanya : Saya pernah bersama-sama dengan Abdullah dan Abu Musa, mereka berkata : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan ada hari-hari diturunkannya kejahilan dan dihilangkannya ilmu [Ad-Din]". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuri Al-Fitan 13:13].Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Jangka waktu akan semakin dekat, ilmu [tentang Ad-Din] akan dihilangkan, fitnah akan merajalela, penyakit kikir akan dicampakkan [dalam hati], dan peperangan akan banyak terjadi". [Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm 16 : 222-223].Ibnu Baththal berkata : "Tanda-tanda akan datangnya kiamat yang dikandung dalam hadits ini telah kita lihat dengan jelas, yaitu ilmu tentang Ad-Din telah berkurang, kebodohan merajalela, penyakit kikir telah dicampakkan dalam hati banyak orang, fitnah merajalela, dan peperangan banyak terjadi". [Fathul Bari 13:16].Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya demikian : "Yang nampak, bahwa di antara tanda-tanda tersebut yang disaksikannya itu memang banyak terjadi di samping adanya keadaan yang merupakan kebalikan dari itu. Dan yang dimaksud oleh hadits tersebut ialah dominannya hal-hal itu sehingga tidak ada yang tidak demikian melainkan sangat jarang. Inilah yang ditunjuki oleh hadits dengan ungkapannya 'dihilangkan ilmu [Ad-Din]', maka yang tinggal hanyalah kebodohan. Namun hal ini tidak mencegah kemungkinan adanya segolongan ahli ilmu, karena pada waktu itu golongan tertutup di tengah-tengah masyarakat yang jahil tentang ilmu Ad-Din". [Fathul-Bari 13:16].Dan penghapusan ilmu Ad-Din ini ialah dengan kematian para ulamanya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu [tentang Ad-Din] dengan serta merta dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi orang yang alim [mengerti tentang Ad-Din], maka orang-orangpun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil, lantas mereka ditanya, kemudian memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sendiri sesat menyesatkan [orang lain]". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Kaifa Yuqbadhu Al-Ilm 1:94, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-jahl wa Al-Fitan 16: 223-224].Imam Nawawi berkata : "Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu [sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits di muka secara mutlak] bukanlah menghapuskannya dari dada [hati] para penghafalnya. Tetapi, yang dimaksud ialah dengan matinya para pemilik ilmu tersebut. Lantas manusia mengangkat orang-orang yang jahil untuk menghukum [menetapkan dan memutuskan hukum] dengan kejahilannya sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain". [Syarah Muslim 16:223].Yang dimaksud dengan ilmu di sini ialah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah, yaitu ilmu yang diwarisi dari para Nabi, karena para ulama adalah pewaris [yang mewarisi] para Nabi. Dengan lenyapnya para ulama maka lenyap pulalah ilmu [tantang Al-Qur'an dan As-Sunnah]. Sunnah mati, bid'ah-bid'ah bermunculan, dan kejahilan merajalela. Adapun ilmu tentang keduniaan, maka ia semakin bertambah dan ia bukan yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut. Persepsi ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam :"Artinya : Lalu mereka ditanya, lantas mereka memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain".Sedang kesesatan itu hanya terjadi karena kejahilannya terhadap Ad-Din [agama]. Dan ulama yang sebenarnya ialah ulama yang mengamalkan [menerapkan] ilmu dan mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan yang lurus dan petunjuk. Karena ilmu tanpa amal itu tidak ada faedahnya, bahkan menjadi bencana bagi pemiliknya. Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari dengan lafal:"Artinya : Dan amal pun berkurang " [Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Husnil Khuluq was-Sakha' wa Maa Yukraha min Al-Bukhl 10:10; 456].Sejarawan Islam, Imam Adz-Dzahabi, setelah menyebut segolongan ulama, beliau berkata, "Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit. Dan sekarang tidak ada yang tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit itu melainkan sedikit sekali yang ada pada orang yang jumlahnya sedikit. Alangakah sedikitnya orang yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Semoga Allah mencukupi kita, dan Dia-lah sebaik-baik Pengurus". [Tadzkiratul-Huffazh 3: 1031].Kalau keadaan pada zaman Imam Adz-Dzahabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan zaman kita sekarang ini Sesungguhnya semakin jauh zaman itu dari zaman kenabian maka semakin sedikitlah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah dan semakin banyak kebodohan. Karena, para sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang paling mengerti di kalangan umat ini, kemudian para tabi'ut tabi'in, dan mereka inilah sebaik-baik generasi sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Sebaik-baik manusia ialah generasiku, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka lagi". [Shahih Muslim, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab Fadlish Shahabah Radhiyallahu anhum Tsumma Al-Ladzina Yaluunahum 16: 86].Ilmu tentang Ad-Din itu akan senantiasa berkurang dan kebodohan akan senantiasa bertambah, sehingga orang tidak tahu lagi apa-apa yang difardhukan oleh Islam. Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, katanya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Akan hancur Islam ini seperti hancurnya kain yang telah usang, sehingga tidak diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat. Dan diterbangkanlah Kitab Allah pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di bumi satu ayat pun, dan tinggallah beberapa golongan manusia laki-laki dan wanita yang telah berusia lanjut dan lemah, yang berkata. 'Kami dapati bapak-bapak kami dahulu mengucapkan kaimat ini : Laa Ilaaha Ilallah, maka kami mengucapkan kalimat ini".Maka Shilat [salah seorang perawi hadits ini] bertanya kepada Hudzaifah, "Apa gunanya Laa ilaaha illallah kalau mereka tidak tahu lagi apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu haji, dan apa itu zakat Lalu Hudzaifah berpaling tidak menjawabnya. Kemudian Shilat menanyakan lagi sampai tiga kali, dan Hudzaifah pun selalu berpaling, dan pada kali yang ketiga itulah Hudzaifah menjawab : "Wahai Shilat, kalimat Laa ilaaha illallah ini akan dapat menyelamatkannya dari api neraka". Demikian diucapkan oleh Hudzaifah sebanyak tiga kali. [Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Fitan, Bab Dzahabi Al-Qur'an wa Al-Ilm 2 : 1344-1345, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4:473, dan dia berkata, "Ini adalah hadist shahih menurut syarat Muslim, hanya saja beliau berdua [Bukhari dan Muslim] tidak meriwayatkannya". Dan Adz-Dzahabi menyetujui pendapat Al-Hakim. Ibnu Hajar berkata. "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang kuat". Fathul-Bari 13:16. Dan Al-Bani berkata : "Shahih". Shahih Al-Jami' ASh-Shaghir 6:339, hadits nomor 7933].Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata. "Sungguh Al-Qur'an akan dicabut dari kalian, yaitu ia akan diterbangkan pada suatu malam, hingga ia lenyap dari hati manusia dan tidak ada lagi yang tinggal di muka bumi". [Riwayat Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih, kecuali Syaddad bin Ma'qil, dan dia adalah orang kepercayaan.Majmu'uz Zawaid 7: 329-330. Ibnu Hajar berkata. "Riwayat ini sanadnya shahih, tetapi mauquf. Fathul-Bari 13:16". Saya [Yusuf bin Abdullah] berkata. "Isi riwayat seperti ini tidak mungkin diucapkan berdasarkan pikiran semata-mata, karena itu dihukum marfu".]Ibnu Taimiyah berkata. "Al-Qur'an akan diterbangkan pada malam hari dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati pada akhir zaman, maka tidak ada satu pun kalimat yang tertinggal dalam dada, dan tidak ada satu huruf pun yang tertinggal dalam mushaf-mushaf". [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 3: 198-199].Dan yang lebih besar lagi dari ini ialah akan tidak disebut-sebut lagi lafal Allah di muka bumi. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga di muka bumi tidak diucapkan lagi lafal Allah". [Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Dzahaabil Iman Akhiruzzaman 2:178].Ibnu Katsir berkata : "Terdapat dua pendapat mengenai makna hadits ini, yaitu :[1] Maknanya, bahwa tak ada lagi orang yang mengingkari kemungkaran dan melarang orang lain melakukannya. Pengertian ini diambil dari sabda beliau : ".... sehingga tidak ada lagi diucapkan Allah, Allah". sebagaimana pula yang tertera dalam hadits Abdullah bin Amr : "Maka pada waktu itu hanya tinggal orang-orang bodoh yang tidak mengerti kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran". [Musnad Ahmad 11:181-182 dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata. "Isnadnya shahih". Mustadrak Al-Hakim 4: 435, dan beliau berkata. "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhani [Bukhari dan Muslim] apabila Al-Hasan mendengarnya dari Abdullah bin Amr". Perkataan Al-Hakim ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi].[2] Sehingga lafal Allah tidak disebut lagi di muka bumi dan tidak lagi dikenal nama itu. Hal ini terjadi ketika zaman sudah rusak, nilai kemanusiaan telah hancur, kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan telah merajalela. [An-Nihayah fil fitan wal Malahin 1: 186 dengan tahqiq Dr Thaha Zain].[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-tanda Kiamat Kecil oleh Ysuaf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-tanda Hari Kiamat, Terbitan Pustaka Mantiq. hal. 101-105 Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=554&bagian=0


Artikel Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela diambil dari http://www.asofwah.or.id
Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela.

Makna Idul Fihtri/Adlha

Kumpulan Artikel Islami

Makna Idul Fihtri/Adlha Makna Idul Fihtri/Adlha

Kategori Hari Raya = Ied

Rabu, 27 Oktober 2004 22:00:15 WIBMAKNA IDUL FITHRI/ADHAOlehAl-Ustadz Abdul Hakim bin Amir AbdatPada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini [Ramadhan 1412H] atau tepat pada hari rayanya, seringkali kita mendengar dari para Khatib [penceramah/muballigh] di mimbar menerangkan, bahwa Idul Fithri itu maknanya -menurut persangkaan mereka- ialah "Kembali kepada Fitrah", Yakni : Kita kembali kepada fitrah kita semula [suci] disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.Penjelasan mereka di atas, adalah batil baik ditinjau dari jurusan lughoh/bahasa ataupun Syara'/Agama. Kesalahan mana dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu- karena memang para khatib tersebut [tidak semuanya] tidak punya bagian sama sekali dalam bahasan-bahasan ilmiyah. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta'ala.Kami berkata :Pertama :"Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa, ialah bahwa lafadz Fithru/ Ifthaar" artinya menurut bahasa : Berbuka [yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa]. Jadi Idul Fithri artinya "Hari Raya berbuka Puasa". Yakni kita kembali berbuka [tidak puasa lagi] setelah selama sebulan kita berpuasa. Sedangkan "Fitrah" tulisannya sebagai berikut [Fa-Tha-Ra-] dan [Ta marbuthoh] bukan [Fa-Tha-Ra]".Kedua :"Adapun kesalahan mereka menurut Syara' telah datang hadits yang menerangkan bahwa "Idul Fithri" itu ialah "Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa"."Artinya :Dari Abi Hurairah [ia berkata] : Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda. "Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan [Idul] Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan [Idul] Adlha [yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban] itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan".[Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy 4/252 dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan semua sanadnya di kitab saya "Riyadlul Jannah" No. 721. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi]Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni :"Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu [semuanya] berpuasa, dan [Idul] Fithri kamu ialah pada hari kamu [semuanya] berbuka".Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah :"Artinya : [Idul] Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan [Idul] Adlha pada hari kamu menyembelih hewan".Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud:"Artinya : Dan [Idul] Fithri kamu itu ialah pada hari kamu [semuanya] berbuka, sedangkan [Idul] Adlha ialah pada hari kamu [semuanya] menyembelih hewan".Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa [tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa]. Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I'ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri artinya ! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka.Bukan artinya bukan "kembali kepada fithrah", karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : "Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci". Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil Sunnah dan lughoh/bahasa.Adapun makna sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Adlha, maksudnya : Waktu puasa kamu, Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin [berjama'ah], tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini [1412H/1992M].Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas- sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya :"Artinya : Bahwa shaum/puasa dan [Idul] Fithri itu bersama jama'ah dan bersama-sama orang banyak".Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat berjalan di atas manhaj dan aqidah Salafush Shalih. Amin![1][Disalin dari kitab Al-Masaa-il [Masalah-Masalah Agama]- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M]_________Foote Note[1]. Ditulis akhir Ramadlan 1412H/awal April 1992

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1149&bagian=0


Artikel Makna Idul Fihtri/Adlha diambil dari http://www.asofwah.or.id
Makna Idul Fihtri/Adlha.