Rabu, 18 Juni 2008

Bertahun Tahun Melaksanakan Shalat Tanpa Menutup Aurat

Kumpulan Artikel Islami

Bertahun Tahun Melaksanakan Shalat Tanpa Menutup Aurat Bertahun Tahun Melaksanakan Shalat Tanpa Menutup Aurat

Kategori Wanita - Fiqih Shalat

Jumat, 6 Februari 2004 10:34:50 WIBBERTAHUN-TAHUN MELAKSANAKAN SHALAT TANPA MENUTUP AURATOlehAl-Lajnah Ad-Da'imah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta ditanya : Sejak beberapa tahun yang lalu saya selalu melaksanakan shalat tanpa menutup aurat, karena saya tidak tahu tentang wajibnya menutup aurat dalam shalat, apakah saya harus mengulangi shalat itu sedangkan shalat dengan tidak menutup aurat telah saya lakukan dalam waktu yang cukup lama yaitu lebih dari enam tahun .JawabanJika kenyataannya seperti yang Anda sebutkan yaitu tentang ketidaktahuan Anda dalam hal menutup aurat dalam shalat, maka Anda tidak perlu mengulang shalat Anda tersebut yang telah Anda lakukan di masa lalu itu, dan hendaknya Anda bertaubat kepada Allah karena perbuatan Anda yang telah Anda lakukan itu, dan disyaratkan bagi Anda untuk memperbanyak amal-amal shalih berdasarkan firman Allah."Artinya : Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar". [Thaha : 82]Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat ini. Kemudian perlu diketahui bahwa membuka wajah dalam shalat adalah disyari'atkan jika disekelilingnya tidak ada pria asing yang bukan mahramnya.[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta' VI/175-176, Fatwa No. 8708][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 122 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=140&bagian=0


Artikel Bertahun Tahun Melaksanakan Shalat Tanpa Menutup Aurat diambil dari http://www.asofwah.or.id
Bertahun Tahun Melaksanakan Shalat Tanpa Menutup Aurat.

Siapa Yang Berhak Berpolitik ? Dan Kapan ?

Kumpulan Artikel Islami

Siapa Yang Berhak Berpolitik ? Dan Kapan ? Siapa Yang Berhak Berpolitik Dan Kapan

Kategori Demokrasi Dan Politik

Minggu, 14 Agustus 2005 14:50:02 WIBSIAPA YANG BERHAK BERPOLITIK DAN KAPAN OlehSyaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlbaniMenyibukkan diri dengan politik pada saat ini adalah membuang-buang waktu ! Meskipun kami tidak mengingkari adanya politik dalam Islam, hanya saja dalam waktu yang sama kami meyakini adanya tahapan-tahapan syar'i yang logis yang harus dilalui satu per satu.Kami memulai dengan aqidah, yang kedua ibadah, kemudian akhlak, dengan mengadakan pemurnian dan pendidikan, kemudian akan datang suatu hari dimana kita pasti masuk dalam fase politik secara syar'i, karena berpolitik berarti mengatur urusan-urusan umat. Dan yang mengatur urusan-urusan umat Bukanlah Zaid, Bakar, ataupun Umar, yang mendirikan kelompok atau memimpin gerakan atau suatu jama'ah !! Bahkan urusan ini khusus bagi ulil amri yang dibaiat di hadapan kaum muslimin. Dia [ulil amri] lah yang diwajibkan mengetahui politik dan mengaturnya. Apabila kaum muslimin tidak bersatu -seperti keadaan kita saat ini- maka setiap ulil amri hanya berkuasa dan memikirkan sebatas wilayah kekuasaannya saja.Adapun menyibukkan diri dalam urusan-urusan [politik] maka seandainya pun kita benar-benar mengetahui urusan-urusan tersebut, pengetahuan kita itu tidak memberi manfaat kepada kita, karena kita tidak memiliki keputusan dan wewenang untuk mengatur umat. Satu hal ini pun sudah cukup menjadikan usaha kita sia-sia.Kami akan memberikan suatu contoh : Peperangan yang terjadi melawan kaum muslimin pada kebanyakan negeri-negeri Islam. Apakah bermanfaat jika kita menyulut semangat kaum muslimin untuk menghadapi orang kafir padahal kita tidak memiliki "jihad wajib" yang diatur oleh imam yang bertanggung jawab yang telah dibaiat ! Tidak ada gunanya perbuatan tersebut. Kami tidak berkata bahwa menolong orang-orang yang tertindas itu tidak wajib, akan tetapi kami mengatakan bahwa menyibukkan diri dengan politik bukan sekarang waktunya. Oleh karena itu, wajib atas kita untuk mengajak kaum muslimin kepada dakwah, untuk memahamkan mereka kepada Islam yang benar dan mendidik mereka dengan tarbiyah yang benar.Adapun menyibukkan mereka dengan urusan-urusan emosional yang menyentil semangat, maka hal itu termasuk dalam hal-hal yang dapat memalingkan mereka dari kemantapan dalam memahami da'wah yang wajib ditegakkan oleh setiap muslim mukallaf, seperti memperbaiki aqidah, ibadah, dan akhlak. Dan hal itu termasuk fardhu 'ain yang tidak bisa dimaklumi orang yang melalaikannya. Sedangkan urusan-urusan lain yang dinamakan pada saat ini dengan "fiqhul waqi" dan sibuk dengan urusan politik yang merupakan tanggung jawab ahlul halli wal aqdi, yang dengan kekuasaan mereka, mereka bisa mengambil manfaat dari hal yang demikian secara praktek. Adapun sebagian orang yang tidak memiliki kekuasaan, maka mengetahui politik dan menyibukkan mayoritas manusia dengan sesuatu yang penting daripada sesuatu yang lebih penting adalah termasuk sebagai hal-hal yang memalingkan mereka dari pengetahuan yang benar!.Dan inilah yang kami rasakan sesungguhnya pada kebanyakan dari manhaj kelompok-kelompok dan jama'ah-jama'ah Islam pada saat ini. Dimana kami mengetahui bahwa sebagian mereka berpaling dari mengajari pemuda-pemuda muslim yang berkumpul disekitar da'i itu untuk belajar memahami aqidah, ibadah dan akhlak yang benar. Karena sebagian para da'i itu sibuk dengan urusan politik dan masuk ke parlemen-parlemen yang berhukum dengan selain apa-apa yang Allah turunkan!! Sehingga hal itu memalingkan mereka dari hal yang lebih penting dan mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak penting dalam kondisi seperti sekarang ini.Adapun tentang apa-apa yang termuat dalam pertanyaan yaitu tentang bagaimana seorang muslim berlepas diri dari dosa [tanggung jawab] atau bagaimana seorang muslim berperan serta dalam mengubah kenyataan yang pahit ini, maka kami katakan : Setiap muslim berkewajiban berbuat sesuai dengan kemampuannya masing-masing, seorang ulama mempunyai kewajiban yang berbeda dengan yang bukan ulama. Dan sebagaimana yang saya sebutkan dalam kesempatan seperti ini bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan nikmat-Nya dengan kitab-Nya, dan dia menjadikan Al-Qur'an sebagai undang-undang bagi kaum mukminin. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya : Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahuinya". [Al-Anbiya : 7].Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan masyarakat Islam menjadi dua bagian yaitu orang yang berilmu dan yang bukan berilmu [awam]. Dan Allah mewajibkan kepada masing-masing di antara keduanya apa-apa yang tidak Allah wajibkan kepada yang lainnya. Maka kewajiban atas orang-orang yang bukan ulama adalah hendaknya mereka bertanya kepada ahli ilmu. Dan kewajiban atas para ulama adalah hendaknya menjawab apa-apa yang ditanyakan kepada mereka. Maka kewajiban-kewajiban berdasarkan pijakan ini adalah berbeda-beda sesuai dengan perbedaan individu itu sendiri. Seorang yang berilmu pada saat ini kewajibannya adalah berda'wah mengajak kepada da'wah yang hak sesuai dengan batas kemampuannya. Dan orang yang bukan berilmu kewajibannya adalah bertanya tentang apa-apa yang penting bagi dirinya atau bagi orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya seperti istri, anak atau semisalnya. Sehingga apabila seorang muslim dari masing-masing bagian ini menegakkan kewajibannya sesuai dengan kemampuannya, maka dia telah selamat, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". [Al-Baqarah : 286]Kami -dengan sangat prihatin- hidup ditengah-tengah penderitaan dan kejadian-kejadian tragis yang menimpa kaum muslimin yang tidak ada bandingannya dalam sejarah, yaitu berkumpul dan bersatunya orang-orang kafir memusuhi kaum muslimin, sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti dalam hadits beliau yang dikenal dan shahih."Artinya : 'Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya'. Mereka berkata : Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah Beliau menjawab : 'Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn'. Mereka berkata : Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah. Beliau menjawab :'Cinta dunia dan takut akan mati". [Haadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud [4297], Ahmad [5/287], dari hadits Tsaubah Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan oelh Al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah [958]]Kalau begitu, maka wajib atas para ulama untuk berjihad dengan melakukan tashfiyah dan tarbiyah dengan cara mengajari kaum muslimin tauhid yang benar dan keyakinan-keyakinan yang benar serta ibadah-ibadah dan akhlak. Semuanya itu sesuai dengan kemampuannya masing-masaing di negeri-negeri yang dia diami, karena mereka tidak mampu menegakkan jihad menghadapi Yahudi dalam satu shaf [barisan] selama mereka keadaannya seperti keadaan kita pada saat ini, saling berpecah-belah, tidak berkumpul/bersatu dalam satu negeri maupun satu shaf [barisan], sehingga mereka tidak mampu menegakkan jihad dalam arti perang fisik untuk menghadapi musuh-musuh yang berkumpul/bersatu memusuhi mereka. Akan tetapi kewajiban mereka adalah hendaknya mereka memanfaatkan semua sarana syar'i yang memungkinkan untuk dilakukan, karena kita tidak memiliki kemampuan materi, dan seandainya kita mampu pun, kita tidak mampu bergerak, karena terdapat pemerintahan, pemimpin dan penguasa-penguasa dalam kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin menjalankan politik yang tidak sesuai dengan politik syar'i, sangat disesalkan sekali. Akan tetapi kita mampu merealisasikan -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala- dua perkara agung yang saya sebutkan tadi, yaitu tasfiyah [pemurnian] dan tarbiyah [pendidikan]. Dan ketika para da'i muslim menegakkan kewajiban yang sangat penting ini di negeri yang menjalankan politiknya tidak sesuai dengan politik syar'i, dan mereka bersatu di atas asas ini [tasfiyah dan tarbiyah], maka saya yakin pada suatu hari akan terjadi apa yang Allah katakan :"Artinya : Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah". [Ar-Ruum : 4-5][Disalin dari buku At-Tauhid Awwalan Ya Du'atal Islam, edisi Indonesia TAUHID, Prioritas dan Utama, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal 44-51, terbitan Darul Haq, Penerjemah Fariq Gasim Anuz]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1532&bagian=0


Artikel Siapa Yang Berhak Berpolitik ? Dan Kapan ? diambil dari http://www.asofwah.or.id
Siapa Yang Berhak Berpolitik ? Dan Kapan ?.

Sesungguhnya Agama Itu Mudah

Kumpulan Artikel Islami

Sesungguhnya Agama Itu Mudah Sesungguhnya Agama Itu Mudah

Kategori Mabhats

Jumat, 11 Juni 2004 09:04:49 WIBSESUNGGUHNYA AGAMA ITU MUDAHOlehUmmu MalikKerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini [yaitu ucapan "Sesungguhnya agama itu mudah"], akan tetapi [sebenarnya] mereka [tidak menginginkan] dengan ucapan itu, untuk tujuan memuji Islam, atau melunakkan hati [orang yang belum mengerti Islam] dan semisalnya. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari'at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.Ketika salah seorang diantara kita ingin memperbaiki perbuatan yang menyalahi syari'at, orang-orang yang menyalahi [syari'at itu] berhujjah dengan perkataan mereka : "Islam adalah agama yang mudah". Mereka berusaha mengambil keringanan yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan sangkaan bahwa mereka telah menegakkan hujjah bagi orang yang menasehati mereka agar mengikuti syariat yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.Orang-orang yang menyelisihi syariat itu hendaknya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mudah. [Akan tetapi maknanya adalah] dengan mengikuti keringanan-keringanan yang diberikan Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya kepada kita.Allah Jalla Jalaluhu dan RasulNya telah memberi keringanan bagi kita, ketika kita membutuhkan keringanan itu dan ketika adanya kesulitan dalam mengikuti [melaksanakan perintah] yang sebenarnya.Asal dari ungkapan " Sesungguhnya agama itu mudah" adalah penggalan kalimat dari hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan [dalam beramal] hendaklah pertengahan [yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi], bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan [didalam ketaatan kepada Allah] dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat".Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan "Sesungguhnya agama itu mudah" dalam kitabnya yang tiada banding [yang bernama] : Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata : "Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih [mudah] dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Allah Jalla Jalaluhu mengangkat dari umat ini beban [syariat] yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah [dalam masalah taubat], taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan [perbuatan dosa] dan berazam [berkemauan kuat] untuk tidak mengulangi.Kalau kita melihat hadits ini secara teliti, dan melihat kalimat sesudah ungkapan "agama itu mudah", kita dapati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada kita bahwa seorang muslim berkewajiban untuk tidak berlebih-lebihan dalam perkara ibadahnya, sehingga [karena berlebih-lebihan] ia akan melampui batas dalam agama, dengan membuat perkara bid'ah yang tidak ada asalnya dalam agama.Sebagaimana keadaan tiga orang yang ingin membuat perkara baru [dalam agama]. Salah seorang di antara mereka berkata : "Saya tidak akan menikahi perempuan", yang lain berkata : "Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka", yang ketiga berkata : "Saya akan shalat malam semalam suntuk". Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mereka dari hal itu semua, dan memberi pengarahan kepada mereka agar membaguskan amal mereka semampunya, dan hendaknya dalam mendekatkan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu, [beribadah] dengan ibadah yang telah diwajibkan Allah Jalla Jalaluhu kepada mereka.Dan hendaknya mereka tidak membuat-buat perkara yang tidak ada asalnya dalam agama ini, karena mereka sekali-kali tidak akan mampu [mengamalkannya], [sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam] " Maka sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan".Maka ungkapan "Agama itu mudah" maknanya adalah : "Bahwa agama yang Allah Jalla Jalaluhu turunkan ini semuanya mudah dalam hukum-hukum, syariat-syariatnya". Dan kalaulah perkara [agama] diserahkan kepada manusia untuk membuatnya, niscaya seorangpun tidak akan mampu beribadah kepada Allah Jalla Jalaluhu.Maka jika orang-orang yang menyelisihi syariat tidak mendapatkan "kekhususan" [tidak mendapat celah sebagai pembenaran atas perbuatan mereka] dengan hadits diatas, mereka akan lari kepada hadits-hadits lain, yang dengannya mereka berhujjah bagi perbuatan mereka yang menggampang-gampangkan dalam perkara agama.Diantara hadits-hadits yang mereka jadikan alasan dalam masalah ini, adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan"Dalam riwayat lain."Artinya : Sebagaimana Allah menyukai kewajiban-kewajibannya didatangi"Hadits lain adalah sabda nabi :"Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari [dari kebenaran] dan saling membantulah [dalam melaksanakan tugas] dan jangan berselisih" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]Hadits yang ketiga."Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari [dari kebenaran]".Adapun hadits yang pertama, wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa keringanan-keringanan dalam agama Islam banyak sekali, diantaranya : berbukanya musafir ketika bepergian, orang yang tertinggal dalam shalat boleh mengqadha [mengganti], orang yang tertidur atau lupa boleh mengqadha shalat, orang yang tidak mendapatkan binatang sembelihan dalam haji tamattu boleh berpuasa, tayamum sebagai ganti wudhu ketika tidak ada air atau ketika tidak mampu untuk berwudhu ... dan lainnya diantara keringanan yang banyak tidak diamalkan kecuali jika terdapat kesulitan dalam melaksanakan perintah yang sebenarnya.Dan perlu kita perhatikan, bahwa keringanan-keringanan ini adalah syari'at Allah Jalla Jalaluhu dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [dengan izin Allah Jalla Jalaluhu]. Dan tidak diperbolehkan seorang muslim manapun, untuk mendatangkan [mengada-ada] keringanan [dalam masalah agama] tanpa dalil, karena hal ini adalah termasuk mengadakan perkara baru dalam agama yang tidak berdasar.Dan perhatikanlah wahai saudaraku sesama muslim [surat Al-Baqarah ayat 185], yang menceritakan tentang puasa dan keringanan berbuka bagi orang yang sakit atau bepergian, lalu firman Allah Jalla Jalaluhu sesudah ayat itu."Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" [Al-Baqarah : 185]Makna ini menerangkan makna mudah [menurut Allah Jalla Jalaluhu], yang maknanya adalah keringanan itu datangnya dari sisi Allah saja, tiada sekutu bagiNya. Atau [keringanan itu] dari syariat Rasulullah Shallallahju 'alaihi wa sallam dengan wahyu dari Allah Jalla Jalaluhu. Ayat ini juga menerangkan bahwa makna mudah itu dengan mengikuti hukum Allah Jalla Jalaluhu [yang tiada sekutu bagiNya] dan mengikuti syariatNya. Inilah yang bekenaan dengan hadits yang pertama tadi.Adapun hadits yang kedua dan tiga, maka pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu serta menyelisihi syariat [dengan kedua hadits itu] adalah batil, dan termasuk merubah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari makna yang sebenarnya, dan keluar dari makna yang dimaksud.Tafsir kedua hadits yang lalu berhubungan dengan para da'i yang menyeru kepada agama Islam. Dalam kedua hadits itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memantapkan kaidah penting dari kaidah-kaidah dasar dakwah kepada Allah Jalla Jalaluhu, yaitu berdakwah dengan lemah lembut dan tidak kasar. Maka dakwah para dai yang sepatutnya disampaikan pertama kali kepada orang-orang kafir adalah Syahadat, lalu Shalat, Puasa , Zakat. Kemudian [hendaknya] mereka menjelaskan kepada manusia tentang sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu menerangkan amal perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang makruh. Jika melihat suatu kesalahan yang disebabkan karena kebodohan atau lupa, maka hendaklah bersabar dan mendakwahi manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta tidak kasar. Allah Jalla Jalaluhu berfirman."Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu" [Ali Imran : 159]Sesudah memahami hadits-hadits itu, dan penjelasan makna keringanan dan kemudahan. Maka saya berkata kepada orang-orang yang merubah dan mengganti makna-makna hadits-hadits tersebut [karena ingin mengenyangkan hawa nafsu mereka dengan perbuatan itu] :"Bertaqwalah kepada Allah Jalla Jalaluhu dan ikutilah apa yang diperintahkan kepada kalian, dan jauhilah laranganNya, dan tahanlah [diri kalian] dari merubah sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan takutilah suatu hari yang kalian dikembalikan kepada Allah Jalla Jalaluhu lalu setiap jiwa akan disempurnakan dengan apa yang ia usahakan. Dan takutlah kalian jangan sampai diharamkan dari mendatangi telaga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lantaran kalian mengganti agama Allah Jalla Jalaluhu dan merubah sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam".Saya mengharapkan dari Allah Jalla Jalaluhu yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri agar memberi petunjuk kepada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah NabiNya, dan agar Allah Jalla Jalaluhu mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan memberi manfaat dari apa yang Dia ajarkan, serta memelihara kita dari kejahatan perbuatan bid'ah dan penyelewengan, serta kejahatan mengubah dan mengganti [syariat Allah].[Disalin dari Majalah : Al Ashalah edisi 15-16 hal 33-35, diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003, hal 5 -6.Terbitan Ma'had Ali Al-Irsyad Surabaya]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=804&bagian=0


Artikel Sesungguhnya Agama Itu Mudah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Sesungguhnya Agama Itu Mudah.

Kasih Sayang Allah Kepada Wanita Shalihah, PenderitaKanker Di Paha

Kumpulan Artikel Islami

Kasih Sayang Allah Kepada Wanita Shalihah, PenderitaKanker Di Paha Ini adalah kisah seorang wanita shalihah yangsangat takwa kepada Allah. Ia amat gemar berbuat kebajikan, tidakputus-putus mengingat Allah, tidak sudi keluar dari mulutnya kata-katayang tak pantas. Bila disebut api neraka, ia lantas ketakutan luarbiasa dan sangat cemas hatinya, ia angkat tangannya seraya memohondengan penuh ketundukan agar terhindar darinya. Dan bila disebut surga,ia demikian bernafsu karena sangat menginginkannya, ia ulurkan keduatangannya seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah agar menjadikandirinya termasuk penghuninya. Ia mencintai manusia dan mereka punmencintainya. Ia begitu senang berada di tengah mereka, demikian puladengan mereka terhadapnya.

Suatu ketika, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di pahanya,lalu ia cepat-cepat mengambil minyak, mengolesi dan mengurutnya. Iajuga mengompresnya dengan air hangat namun rasa sakit itu malahsemakin bertambah.

Setelah pergi ke sana kemari untuk berobat di banyak rumah sakit danberdasarkan petunjuk beberapa orang dokter, ia bersama suaminyaakhirnya pergi ke London. Di sana, di sebuah rumah sakit megah,setelah dilakukan diagonosa secara detil, tim dokter menyimpulkanbahwa di dalam darah wanita shalihah ini terdapat pembusukan. Merekalalu mencari sumbernya dan ternyata sumber rasa sakit itu ada dibagian paha. Para dokter pun memutuskan, wanita ini positif menderitakanker di pahanya. Itulah yang menjadi sumber rasa sakit danpembusukan. Akhirnya, tim dokter itu memutuskan perlunya segeramemotong [mengamputasi] salah satu kaki wanita ini dari bagian ataspaha agar virusnya tidak menyebar.

Di dalam sebuah kamar operasi, wanita ini pasrah dan menyerahkan semuaurusan kepada qadla dan takdir Allah semata sementara lisannya tiadaputus-putusnya berdzikir kepada-Nya, dengan penuh ketulusan memintaperlindunganNya dan berserah diri.

Akhirnya, tim dokter berkumpul dan siap melakukan operasi amputasiyang tergolong berat. Pisau sudah ditancapkan di alat pemotongnya dansi wanita itu pun didekatkan. Daerah yang akan diamputasi pun sudahdiukur sedemikian teliti. Dan di tengah rasa takut yang menghantui dankengerian yang mencekam, aliran listerik pun dihidupkan. Lalu… barusaja alat pemotong bergerak, tiba-tiba terdengar suara patahnya pisau.Semua tercengang melihat kejadian yang baru pertama kali ini. Operasipun terpaksa diulang lagi dengan meletakkan pisau baru namun kejadianserupa kembali terjadi, hingga terulang tiga kali. Kejadian yang anehdalam sejarah ‘amputasi’ ini meninggalkan tanda tanya dan kebingungandari wajah-wajah para dokter tersebut yang saling pandang satu samalain. Kepala tim dokter pun mengajak rekan-rekannya berbincangsebentar di sisi pasien untuk berurun rembug. Kemudian merekamemutuskan untuk melakukan operasi bedah terhadap paha yang semulaakan diamputasi. Tetapi belum lagi menyentuh sasaran, mereka kembalidibuat tercengang. Dengan mata kepada sendiri, mereka melihattiba-tiba mendapati sebuah kapas yang membusuk dalam bentuk yang tidakindah dan kurang sedap baunya. Setelah melakukan pekerjaan ringan, timdokter pun membersihkan daerah pembusukan itu dan mem-vakum-nya. Takberapa lama, wanita itu berteriak keras. Dan, setelah itu rasa sakityang ia alami hilang sama sekali dan tidak ia rasakan lagi keluhanapa-apa.

Setelah tersadar, wanita ahli ibadah itu menengok ke arah kakinya yangternyata tidak diapa-apakan dan mendapati suaminya tengah berbincangdengan tim dokter yang masih saja tampak ketercengangan menghiasiwajah-wajah mereka. Mereka terus bertanya kepada sang suami apakahisterinya sebelum ini pernah melakukan operasi bedah pada pahanya.Para dokter itu akhirnya tahu bahwa kedua pasangan suami isteri inipernah mengalami kecelakaan jalan raya beberapa waktu lalu yangmenyebabkan sang isteri mengalami luka parah di daerah di mana terjadipembusukan itu. Maka, secara spontan, para dokter itu berkata serentak,“Sungguh ini merupakan inayah ilahi semata.”

Mengetahui kondisinya yang sudah pulih dan kabut bahaya tidak lagimengancam dirinya, betapa gembiranya wanita yang shalihah itu. Iasemula membayangkan bakal berjalan dengan hanya sebuah kaki tetapirupanya hal itu tidak terjadi. Ia pun tidak henti-hentinya mengucapkanpuja dan puji syukur ke hadirat Allah di mana ia merasakan betapadekatnya Dia dengan dirinya dan betapa besar belas kasih danrahmat-Nya.

[SUMBER: asy-Syifa’ Ba’da al-Maradl karya Ibrahim bin ‘Abdullahal-Hazimy, hal.27-29]

Artikel Kasih Sayang Allah Kepada Wanita Shalihah, PenderitaKanker Di Paha diambil dari http://www.asofwah.or.id
Kasih Sayang Allah Kepada Wanita Shalihah, PenderitaKanker Di Paha.