Rabu, 11 Juni 2008

Pandangan Mereka Madzhab Salaf Lebih Selamat Dan Madzhab Kholaf Lebih Ilmiyah Dan Lebih Bijaksana ?

Kumpulan Artikel Islami

Pandangan Mereka Madzhab Salaf Lebih Selamat Dan Madzhab Kholaf Lebih Ilmiyah Dan Lebih Bijaksana ? Pandangan Mereka Madzhab Salaf Lebih Selamat Dan Madzhab Kholaf Lebih Ilmiyah Dan Lebih Bijaksana

Kategori Al-Manhaj As-Salafy

Kamis, 28 April 2005 19:56:40 WIBSAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MEMILIKI MANHAJ ILMIYAHOlehSyaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-HilaalyBagian Ketiga dari Empat Tulisan [3/4]Pertama.Pandangan mereka bahwa madzhab Salaf lebih selamat dan madzhab kholaf lebih ilmiyah dan lebih bijaksana.Dibawah ini bantahan pandangan yang benar-benar menyesatkan ini dimana akan dibantah dari beberapa aspek :[1]. Orang-orang khalaf telah memisahkan antara keselamatan ilmu dan hikmah, bukankah ilmu dan hikmah itu asas sendi keselamatan yang berjalan diatas kendaraan ilmu dan bermuara pada hikmah maka bagaimana akal mereka membenarkan perbedaan antara sebab dan akibatnya Sungguh ini satu yang mustahil.[2]. Bagaimana orang-orang khalaf lebih mengerti Allah dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sebaik-baik manusia, dan keutamaan tersebut hanya ada pada ilmu dan hikmah.[3]. Ilmu dan hikmah apa saja yang ada di madzhab yang para pemimpinnya berlepas diri darinya dan mengumumkan kesalahan dan penyimpangannya, mengakui bahwa diri mereka dalam keadaan bingung serta meyesal atas semua yang mereka miliki dan kedepankan dalam hak Allah dan RasulNya serta salaf umat ini.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memuat pernyataan mereka dalam Al-Aqidah Al-Hamawiyah 1/428 lalu berkata : Bagaimana mereka muta'akhirin lebih baik apalagi isyarat istilah kholaf menunjukkan [mereka berasal] dari ahlil kalam [Mutakalimin] yang banyak terjadi pada mereka kebimbangan dan hijab mereka dari mengenal Allah cukup tebal serta pakar mereka yang telah mengakhiri petualangan [dalam ilmu kalam] mengkhabarkan hasil yang dicapainya, dengan menyatakan :Demi Allah, saya telah mengarungi seluruh perguruanDan saya lemparkan pandanganku diantara ilmu-ilmu kalamTidaklah saya dapati kecuali meletakkan telapak kebingunganPada dagu atau menerima hari-hari penyesalanDan merekapun mengakui kesalahan apa yang mereka katakan dalam rangka melaksanakan atau memulainya pada buku-buku yang mereka karang, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian tokoh mereka :Akhir dari jejak-jejak akal hanyalah ikat kepalaDan kebanyakan usaha makhluk adalah kesesatanJiwa kita liar di dalam tubuh kitaDan hasil dunia kita adalah siksaan dan musibahKita tidak mendapat hasil dari penelitian seumur hidupKecuali mengumpulkan qila wa qaalu [omong kosong saja] [1]Yang lainnya berkata : Saya telah menyelami lautan yang dalam, meninggalkan kaum muslimin dan ilmu mereka dan telah menyelami apa yang mereka larang kepada saya dan sekarang, jika Rabb saya tidak memberikan rahmatNya kepada saya maka celakalah fulan dan inilah saya ingin mati diatas aqidah orang yang buta huruf.[2]Sebagian yang lainnya berkata : Orang yang paling banyak keraguannya ketika mati adalah ahlil kalam.Kemudian jika telah terjadi pada mereka perkara tidak ada pada mereka khabar dari hakikat mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak mendapatkan darinya sesuatu dan tidak pula atsar, bagaimana mereka orang-orang rendah yang terhalang lagi bingung dan nekat lebih mengenal Allah dan ayat-ayatNya dari Assabiqunal Awalun [orang-orang yang pertama kali masuk Islam] dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para pewaris para Nabi, pengganti para Rasul, Ulama petunjuk dan lentera penerang kegelapan yang Al-Qur'an mengangkat mereka dan mereka mengangkat Al-Qur'an dan Al-Kitab telah berbicara tentang mereka dan mereka berbicara dengan Al-Qur'an, merekalah orang-orang yang dianugrahi Allah ilmu dan hikmah yang membuat mereka menonjol dari para pengikut para Nabi yang lainnya dan mereka telah mengatahui hakikat ilmu pengetahuan dan rahasianya, seandainya dikumpulkan hikmah selain mereka dan dibandingkan dengan hikmah mereka niscaya malu orang yang ingin membandingkan tersebut, kemudian bagaimana sebaik-baik generasi umat ini lebih sedikit ilmu dan hikmahnya -apalagi tentang mengenal Allah, hukum nama-nama dan ayat-ayatNya- dari mereka orang-orang kecil dibandingkan para sahabat atau pengekor ahli filsafat dan pengikut [filsafat] India dan Yunani lebih mengenal Allah dari pewaris para Nabi dan ahlil Qur'an dan Iman.Imam Rabbaniy Muhammad Ali Asy-Sayukaniy dalam At-Tuhaf Fi Madzaahibis Salaf hal.41-44 berkata : Akan tetapi mereka menyatakan bahwa jalan kholaf lebih ilmiyah sedangkan hasil akhir yang didapatkan dari selogan untuk jalan kholaf ini adalah keinginan para akhli tahqiq dan cendikiawan mereka di akhir penelitiannya adalah berada diatas agama orang-orang awam dan mereka berkata : Selamat bagi orang-orang awam.Renungkanlah slogan ini yang hasil akhirnya hanya mengucapkan selamat atas apa yang didapati orang-orang bodoh sedikit [jahil basiith] dan berangan-angan termasuk dari kalangan mereka dan beragama dengan agama mereka serta berjalan di atas jalan mereka, karena hal ini merupakan suara panggilan yang jelas dan penunjukkan yang sangat gamblang bahwa kebodohan itu jauh lebih baik dari slogan yang mereka tuntut ini, maka apa kamu kira tentang satu ilmu yang pemiliknya mengakui sendiri bahwa kebodohan lebih baik darinya dan mendambakan ketika sampai pada puncak ketinggiannya agar dia termasuk orang yang tidak mengetahui dan tidak mengenalnya sama sekali.Disini ada pelajaran bagi orang yang dapat mengambil pelajaran dan ayat yang jelas bagi orang yang meneliti, maka alangkah baiknya jika mereka beramal dalam keadaan tidak mengenal ilmu pengetahuan [ilmu kalam] yang mereka geluti sejak awal dan mereka selamat dari mengikutinya lalu melepaskan diri mereka dari kelelahannya serta berkata seperti perkataan penyair.Saya menyelami satu permasalahan sampai akhirnyaYang terkahir kemabali lagi ke permulaannyaDan mereka beruntung lolos dari dambaan [pakar kalam] dan selamat dari pengucapan selamat kepada orang-orang awam tersebut, karena seorang yang berakal tidak akan mendambakan martabat yang sama dengan martabatnya atau lebih rendah dan tidak pula mengucapkan selamat kepada orang yang lebih rendah atau semisalnya dan hal itu tidak dilakukannya kecuali kepada orang yang martabatnya [tingkatannya] dan kedudukannya lebih tinggi darinya.Sungguh aneh ada ilmu yang kebodohan kecil [jahlul basiith] itu lebih tinggi martabat dan kedudukannya daripada dia. Dan apakah ada orang mendengar keanehan seperti ini atau menukil hal yang semisal atau serupa dengannya .!Jika keadaan kelompok yang telah kami jelaskan kepadamu adalah kelompok yang paling sedikit takalluf dan taklidnya maka apa yang kira dengan yang lainnya dari kelompok-kelompok yang telah tampak rusak inti ajarannya dan jelas kebatilan sumber dan referensinya seperti kelompok-kelompok yang ingin dengan syiar-syiar yang mereka tampakkan kerusakan Islam dan kaum muslimin dan berusaha membuat keraguan pada mereka dengan melontarkan syubhat-syubhat dan mengembangkan perkara-perkara yang mengantar kepada pelecehan agama dan tafsir umat Islam dari agamanya. Dan dari sini tahulah kamu bahwa :Sebaik-baik perkara adalah perkara yang telah lalu diatas petunjuk. Dan sejelek-jelek perkara adalah kebid'ahan yang diada-adakan.[4]. Slogan ini adalah kebodohan berlifat [jahlul murakab] dimana orang kholaf tidak mengetahui madzhab salaf dan mereka tidak mengetahui kalau mereka itu bodoh lalu mereka menyangka berada diatas kebenaran padahal mereka tidak demikian.Al-Alaamah As-Safaariniy berkata dalam Lawami'il Anwaar Al-Bahiyah 1/25 : Termasuk hal yang mustahil orang-orang belakangan [khalaf] lebih berilmu dari para salaf sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang yang tidak memiliki penelitian dari -orang yang tidak menghargai salaf dan tidak pula mengenal Allah dan Rasulullah dan tidak juga kaum mukminin dengan sebenarnya yang wajib mereka ketahui darinya bahwa jalan prinsip/manhaj salaf lebih selamat dan jalan khalaf lebih berilmu [ilmiyah] dan lebih bijaksana. Mereka hanyalah mendasarkan pernyataan itu diatas prasangka bahwa manhaj salaf [thariqatus salaf] hanya sekedar iman kepada lafadz-lafadz Al-Qur'an dan Hadits tanpa pemahaman, dan itu sama dengan kedudukan orang-orang buta huruf [umiyin] sedangkan manhaj khalaf [thariqatul khalaf] adalah menampakkan makna-makna nash yang dipalingkan dari hakikatnya dengan beraneka ragam majaz dan bahasa-bahasa yang sulit dipahami, prasangka rusak inilah yang mengakibatkan munculnya slogan tersebut yang kandungannya meninggalkan Islam.Mereka telah berdusta dan berbohong terhadap manhaj Salaf dan tersesat dengan membenarkan jalan khalaf sehingga mereka menggabung dua kebatilan kebodohan terhadap jalan Salaf dan kedustaan kepadanya dan kebodohan dan kesesatannya dengan membenarkan jalan selain mereka.Hal ini dijelaskan oleh :[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf [Studi Kritis Solusi Problematika Umat] oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]_________Foote Note.[1]. Bait-bait syiir ini karya Ibnul Khotib yang dikenal dengan Fakhrurroziy yang telah diriwayatkan oleh Asy-Sathibiy dalam Al-Ifaadaat wal Insyaadat hal.84-85 dengan sanadnya, dan ini juga ada dalam Nafhuth Thayib karya Al-Maqriziy 5/232 dan Al-Ihaathoh Fi Akhbaari Ghornathohg karya Lisanuddin bin Al-khothib 2/222 dengan sanad yang lainnya.[2]. Kata-kata ini disampaikan Ibnul Juwainiy sebagaimana dalam Al-Muntadzom 9/19 Siyar A'lam nubalaa 18/471, Thobaqaatusy Syafiiyah 3/260 dan Syadzaraatudz Dzhahab 3/361 *[Mungkin maksudnya adalah orang awam yang masih berada dalam fithroh atau Rasulullah yang tidak dapat membaca dan menulis, wallahu a'lam [penterjemah]]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1416&bagian=0


Artikel Pandangan Mereka Madzhab Salaf Lebih Selamat Dan Madzhab Kholaf Lebih Ilmiyah Dan Lebih Bijaksana ? diambil dari http://www.asofwah.or.id
Pandangan Mereka Madzhab Salaf Lebih Selamat Dan Madzhab Kholaf Lebih Ilmiyah Dan Lebih Bijaksana ?.

Keutamaan Puasa 1/2

Kumpulan Artikel Islami

Keutamaan Puasa 1/2 Keutamaan Puasa 1/2

Kategori Puasa

Senin, 4 Oktober 2004 14:26:19 WIBKEUTAMAAN PUASAOlehSyaikh Salim bin 'Ied Al-HilaalySyaikh Ali Hasan Ali Abdul HamidBagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam [qath'i] dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah 'Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah."Artinya : Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar [imannya] dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar [ketaatannya], dan kaum pria serta wanita yang khusyu', dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya [syahwat birahinya], dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" [A-Ahzab : 35]Dan firman Allah."Artinya : Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya" [Al-Baqarah : 184]Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.[1]. Puasa Adalah Perisai [1]Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa'[2] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan [yang jelek] ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba'ah[3] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa' [pemutus syahwat] baginya" [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.Bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia [karena puasanya] dari neraka sejauh tujuh puluh musim" [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48]Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka" [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shahih]Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi" [4]Sebagian ahlul ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta'ala, sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalm termasuk puasa di jalan Allah [seperti yang disebutkan dalam hadits ini].[2]. Puasa Bisa Memasukkan Hamba Ke SurgaEngkau telah tahu wahai hamba yang taat -mudah-mudahan Allah memberimu taufik untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya- bahwa puasa menjauhkan orang yang mengamalkannya ke bagian pertengahan surga.Dari Abu Umamah Radhiyallahu 'anhu katanya, "Aku berkata [kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam] :"Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga. ; beliau menjawab : "Atasmu puasa, tidak ada [amalan] yang semisal dengan itu" [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih][3]. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas *[4]. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan*[5]. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk*Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, [bahwasanya] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [5] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : 'Aku sedang berpuasa'[6]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk[7] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya" [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari]Di dalam riwayat Bukhari [disebutkan]."Artinya : Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya"Di dalam riwayat Muslim."Artinya : Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman : "Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia [bani Adam] meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku" Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau Misk"[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]_________Foote Note[1] Pelindung[2] Maksudnya memutuskan syahwat jiwa[3] Yang mampu menikah dengan berbagai persiapannya[4] Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. Al-Walid bin Jamil, dia jujur tetapi sering salah, akan tetapi di dapat diterima. Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273 di dalamnya terdapat kelemahan. Sehingga hadits ini SHAHIH[5] Yakni : Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas.[6] Dengan ucapan yang terdengar oleh si pencerca atau orang yang mengganggu tersebut, ada yang mengatakan : diucapkan di dalam hatinya agar tidak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lebih kuat dan lebih jelas, karena ucapan secara mutlak adalah dengan lisan, adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah : "Sesunguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terbetik dalam hatinya selama belum diucapkan atau diamalkannya" [Muttafaqun 'alaih]. Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tidak terjadi kecuali oleh ucapan yang dapat dididengar dengan suara yang terucap dan huruf. Walallahu a'lam.[7] Lihat apa yang telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-38

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1062&bagian=0


Artikel Keutamaan Puasa 1/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Keutamaan Puasa 1/2.

Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis Mengapa Dia Disiksa

Kumpulan Artikel Islami

Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis Mengapa Dia Disiksa Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis Mengapa Dia Disiksa

Kategori Qadha Dan Qadar

Senin, 1 Maret 2004 08:50:27 WIBJIKA PERBUATAN ORANG KAFIR TELAH DITULIS MENGAPA DIA DISIKSAOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-'UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Apakah perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di Lauh Mahfudz Apabila benar, maka bagaimana Allah menyiksa mereka .."Jawaban.Benar, perbuatan orang-orang kafir telah tertulis sejak zaman azali, bahkan perbuatan semua manusia telah tertulis sejak dia berada di perut ibunya, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu ia berkata ; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [yang benar lagi dibenarkan] bercerita kepada kami."Artinya : Sesungguhnya salah seorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi 'alaqah selama empat puluh hari pula, kemudian menjadi mudhghah selama empat puluh hari pula. Lalu diutuslah kepadanya seorang malaikat, dan diperintahkan dengan empat kalimat untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka atau bahagia".Maka perbuatan orang-orang kafir telah tertulis di sisi Allah Azza wa Jalla, telah diketahui oleh Allah 'Azza wa Jalla sejak zaman azali dan orang yang berbahagia telah diketahui pula oleh Allah sejak zaman azali. Akan tetapi barangkali ada yang bertanya-tanya bagaimana mereka akan diadzab padahal Allah telah menetapkan atas mereka akan hal itu sejak zaman azali.Jawaban kami.Mereka disiksa karena hujjah telah sampai kepada mereka, jalan kebenaran telah dijelaskan, lalu para rasul telah diutus kepada mereka, kitab-kitabnyapun telah diuturunkan. Juga telah dijelaskan petunjuk dan kesesatan dan mereka diberi motivasi untuk menempuh jalan petunjuk, sekaligus menjauhi jalan yang sesat. Mereka memiliki akal dan kehendak ; mereka memiliki kemampuan untuk berikhtiar. Oleh karena itu kita mendapati orang-orang kafir ini dan juga selain mereka, berusaha meraih kemaslahatan dunia dengan kehendak dan ikhtiarnya. Kita tidak mendapati seorangpun dari mereka berupaya meraih sesuatu yang membahayakan di dunia atau meremehkan dan bermalas-malasan dalam perkara yang bermanfaat baginya, lalu ia mengatakan : ini telah tertulis sebagai jatahku. Maka selalunya setiap orang akan berusaha meraih manfaat bagi dirinya. Dengan demikian, seharusnya mereka berusaha meraih manfaat dalam urusan-urusan agama mereka sebagaimana mereka berusaha keras meraih manfaat dari urusan dunianya. Tidak ada perbedaan di antara keduanya, bahkan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan dalam urusan agama di dalam kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul lebih banyak dan lebih besar daripada penjelasan tentang urusan-urusan dunia. Maka kewajiban mereka adalah menempuh jalan yang menghatarkannya kepada keselamatan dan kebahagiaan, bukan menempuh jalan yang menyerempet mereka pada kebinasaan dan kesengsaraan.Kemudian kami katakan, ketika si kafir memilih kekafiran sama sekali tidak merasa ada orang yang memaksanya. Bahkan perasaannya mengatakan bahwa bahwa ia melakukan hal itu dengan kehendak dan ikhtiarnya. Maka apakah ketika memilih kekufuran ia tahu apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya . Jawabannya, tentu tidak. Karena kita tidak mengetahui bahwa sesuatu telah ditetapkan terjadi pada kita kecuali sesudah terjadi. Adapun sebelum terjadi, kita tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita karena hal ini termasuk perkara ghaib.Selanjutnya, sekarang kami katakan kepada orang itu : sebelum terjerumus kepada kekafiran, di depan Anda ada dua perkara ; hidayah dan kesesatan. Lalu mengapa Anda tidak menempuh jalan hidayah dengan anggapan bahwa Allah telah menetapkannya untukmu Mengapa Anda menempuh jalan sesat lalu setelah menempuhnya Anda beralasan bahwa Allah telah menetapkannya Kami tegaskan kepada Anda sebelum memasuki jalan ini ; apakah Anda mempunyai pengetahuan bahwa hal ini telah ditetapkan kepadamu ia pasti menjawab : "Tidak". Dan mustahil jawabannya : "Ya". Jadi apabila ia mengatakan : "Tidak". Kami tegaskan lagi ; kalau begitu mengapa Anda tidak menempuh jalan hidayah seraya menganggap bahwa Allah telah menetapkan hal itu kepadamu. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman."Artinya : Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka" [Ash-Shaf : 5]Allah Azza wa Jalla juga berfirman."Artinya : Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik [jannah]. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar" [Al-Lail :5-10]Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahu para sahabat bahwa tidak ada seorangpun kecuali telah dicatat tempat duduknya di jannah dan tempat duduknya di neraka, para sahabat bertanya ; wahai Rasulullah, apakah kami boleh meninggalkan amalan dan bersandar pada apa yang telah ditetapkan Beliau bersabda."Artinya : Tidak, beramallah kelian, karena tiap-tiap orang dimudahkan kepada sesuatu yang diciptakan baginya"Sesudah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah."Artinya : Adapun orang yang memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar".Inilah jawaban kami atas pertanyaan yang disampaikan oleh penanya tadi, dan betapa banyaknya orang yang beralasan seperti tadi dari kalangan orang-orang yang sesat. Alangkah anehnya mereka karena mereka sama sekali tidak pernah beralasan dengan yang semisal ini dalam masalah-masalah dunia. Bahkan Anda mendapati mereka menempuh sesuatu yang lebih bermanfaat bagi mereka dalam persoalan-persoalan duniawi. Manakala dikatakan kepada seseorang ; jalan yang ada dihadapanmu ini adalah jalan yang sulit lagi rumit, di sana ada para pencuri dan banyak binatang buas, sedangkan ini jalan kedua, jalan yang mudah, ringan dan aman, tidak mungkin seseorang menempuh jalan yang pertama dan meninggalkan jalan yang kedua. Demikian pula dengan dua jalan ; jalan neraka dan jalan jannah. Para rasul menjelaskan jalan ke jannah lalu mereka mengatakan : inilah jalan ke jannah. Mereka juga mejelaskan jalan ke neraka lalu menegaskan : inilah jalan menuju neraka. Mereka memperingatkan dari jalan yang kedua dan menganjurkan untuk menempuh jalan pertama. Sementara para pendurhaka beralasan dengan qadha Allah dan Qadar-Nya -padahal mereka tidak mengetahuinya- atas kemaksiatan dan kejahatan yang mereka lakukan dengan ikhtiarnya dan dalam hal ini mereka tidak memiliki hujjah di sisi Allah Ta'ala.[Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=336&bagian=0


Artikel Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis Mengapa Dia Disiksa diambil dari http://www.asofwah.or.id
Jika Perbuatan Orang Kafir Telah Ditulis Mengapa Dia Disiksa.

Seputar Issu Terorisme 1/2

Kumpulan Artikel Islami

Seputar Issu Terorisme 1/2 Seputar Issu Terorisme 1/2

Kategori Al-Irhab = Terorisme

Senin, 14 Nopember 2005 08:33:22 WIBSEPUTAR ISSU TERORISMEOlehSyaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-AtsaryBagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2Tema seputar irhab [terorisme] menjadi pembicaraan hangat di setiap lapisan masyarakat dan ittijahat [berbagai pihak dengan berbagai kepentingannya]. Setiap Negara memperbincangkannya, baik negara Islam atau bukan. Semua orang juga berbicara tentang irhab. [Begitu pula] orang-orang Islam dan non-muslim, anak-anak, dewasa dan wanita. Mereka semua membicarakannya. Sehingga, perlu disampaikan sebuah pernyataan yang menyejukkan dan menentramkan yang dapat menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.Kata irhab menurut tinjauan syari’at pada asalnya bukanlah kata yang dibenci. Bahkan ini merupakan kata yang mendapat porsi makna tersendiri di dalam syari’at dan di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman.â€Å"Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang [yang dengan persiapan itu] kamu menggetarkan [membikin irhab pada] musuh Allah” [Al-Anfal : 61]Rasa gentar dan takut yang menyelinap di hati para musuh Islam, adalah ketakutan luar biasa, yang difirmankan Allah.â€Å"Artinya : Kelak Aku jatuhkan rasa takut ke hati orang-orang kafir” [Al-Anfal : 12]Dan juga disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.â€Å"Artinya : Aku ditolong dengan rasa takut [yang ditanamkan kepada musuh] sejak sebulan perjalan” [Hadits Riwayat Bukhari]Jadi, kata irhab menurut istilah Islam yang Qur’ani bukan irhab dalam kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini, dan bukan pula irhab dalam kejadian mencekam yang problematis sekarang ini.Sebab irhab menurut konteks kekinian dan menurut peristiwa problematis sekarang ini , identik dengan kerusakan, perusakan, pembunuhan membabi buta dan peledakan yang dilakukan secara ngawur, tanpa dasar petunjuk, bayyinah [bukti nyata] serta bashirah [ilmu] sama sekali. Akan tetapi hanya berdasarkan dorongan semangat dan emosi semata. Dengan dalih, sebagai pembelaan dan kecintaan terhadap agama. Namun tidak semua orang yang mencintai agama, dapat melaksanakan agama dengan baik dan benar. Ibnu Mas’ud mengatakan :”Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak dapat meraihnya”.Demikianlah,sesungguhnya prinsip dan asas Islam dalam jihad bertumpu pada perbaikan dan penyebaran hidayah, bukan penghancuran, pembunuhan atau peperangan, namun bermisi menebarkan hidayah kepada manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dari kezhaliman serta keputusasaan menuju kebahagian dan curahan kebaikan. Acuannya terdapat pada firman Allah.â€Å"Artinya : Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu [tetapi] janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas” [Al-Baqarah : 190]Allah menghubungkan terjadinya peperangan, disebabkan oleh peperangan, tanpa boleh bertindak melampui batas. Dan Allah menjelaskan pada akhir ayat, tindakan yang bengis dan kejam tidak disukai Allah Ta’ala. Allah berfirman.â€Å"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menykai orang-orang yang melampaui batas”.Bahkan Al-Qur’an melukiskannya dalam gambaran yang indah dalam ayat.â€Å"Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak [pula] mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” [Al-Mumtahanah : 8]Dalam ayat pertama Allah mengatakan : â€Å"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas”. Sedangkan pada ayat yang kedua Allah berfirman : â€Å"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. Inilah hakikat Islam dengan risalahnya yang luhur, prinsip-prinsipnya yang universal, bersifat baik dan berorientasi mempebaiki kondisi, tidak dibatasi oleh dimensi waktu maupun ruang, supaya menjadi agama Allah yang terakhir sebagai perwujudan firman Allah.â€Å"Artinya : Sesungguhnya agama yang [diridhai] di sisi Allah adalah Islam”Dan firmanNya.â€Å"Artinya : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] darinya”.Begitulah agama Islam, keagungan tercermin pada pribadi Nabi Muhammad yang bersabda.â€Å"Artinya : Ketahuilah, aku diberi Al-Qur’an dan [wahyu] serupa datang bersamanya”Nabi menganggap bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian dengan orang kafir yang sedang dalam ikatan perjanjian bersama dengan kaum muslimin, baik atas permintaan orang kafir atau atas ajakan kaum muslimin. Nabi menganggap penghianatan itu sebagai dosa besar. Beliau bersabda.â€Å"Artinya : Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad [dalam perjanjian dengan kaum muslimin], niscaya ia tidak akan mencium aroma Syurga. [Padahal] aroma syurga dapat tercium sejak empat puluh tahun perjalanan” [Hadits Riwayat Bukhari No. 3.166]Cermatilah wahai kaum muslimin dengan cara pandang Islam yang luhur, yang tercermin dalam syari’at yang bijak, dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Bandingkanlah dengan fenomena menyedihkan yang terjadi di negera ini [Indonesia, -red]. Perhatikanlah apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin, dengan dalih jihad dan menegakkan semangat amar ma’ruf nahi mungkar, yang akhirnya mengguncang stabilitas keamanan dan mengacaukan masyarakat. Efeknya terjadi pembunuhan terhadap jiwa orang Islam. Padahal, darah mereka lebih terhormat di sisi Allah dibandingkan Ka’bah yang mulia.[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal Jakarta]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1663&bagian=0


Artikel Seputar Issu Terorisme 1/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Seputar Issu Terorisme 1/2.