Rabu, 28 Mei 2008

Tidak Suka Kepada Anak Perempuan Termasuk PerkaraJahiliyah

Kumpulan Artikel Islami

Tidak Suka Kepada Anak Perempuan Termasuk PerkaraJahiliyah

>> Pertanyaan :

Pada zaman kita sekarang ini kami masih mendengar dari sebagian oranghal-hal yang mengundang debat dan keanehan. Di antaranya adalah adanyasebagian orang yang mengatakan: Kami tidak senang kalau istri kamimelahirkan anak perempuan. Sebagian lagi berkata kepada istrinya:Demi Allah, kalau kamu melahirkan anak perempuan, maka aku akanmenceraikanmu. Sehingga ada sebagian istri yang sangat merasa takutdan gelisah karena khawatir kalau anaknya perempuan. Bagaimana dan apayang akan Syaikh lakukan terhadap apa yang dikatakan oleh suami yangseperti itu. Apakah Syaikh mempunyai bimbingan seputar masalah ini?

>> Jawaban :

Saya yakin apa yang dikatakan oleh saudara tadi sangat jarang sekali,dan saya tidak yakin kalau kedunguan dan kebodohan seseorang sampaisebatas itu, mengancam istri akan menceraikannya apabila mela-hirkananak perempuan. Lain halnya kalau suami telah bosan terhadap istri daningin menceraikannya, kemudian hal itu ia jadikan sebagai alasan untukmenceraikannya. Jika memang demikian adanya dan ia telah kehilangankesabaran untuk tetap tinggal bersama istrinya, bahkan ia telahberusaha untuk bisa tetap dengan istri, namun tidak bisa, makasilahkan saja ia menceraikannya dengan baik, bukan dengan caramengancam. Sebab talak itu boleh di saat sudah dibutuhkan. Sekalipundemikian, kami tetap menasehatkan kepada setiap suami yang mendapatsesuatu yang tidak disukai pada istrinya agar bersabarlah, sebagaimanafirman Allah Subhannahu wa Ta'ala,Kemudian jika kamu tidak menyukaimereka, [maka bersabarlah] karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,padahal Allah men-jadikan padanya kebaikan yang banyak. [An-Nisa:19].

Adapun masalah tidak suka kepada anak perempuan, maka tidak syak lagimerupakan perkara jahiliyah dan pertanda ada rasa benci terhadapketetapan dan taqdir dari Allah. Manusia itu tidak tahu, barang kalianak perempuan itu lebih baik baginya daripada anak laki-laki yangbanyak. Berapa banyak anak perempuan itu menjadi berkah bagi ayahnyadi waktu ia hidup dan sepeninggalnya. Dan Berapa banyak sudah anaklaki-laki yang menjadi bencana dan malapetaka terhadap ayahnya diwaktu ia masih hidup dan tidak berguna sepeninggalaya.

[ Kitab al-Dawah [5] oleh Ibnu Utsaimin: jilid 2 hal. 152-153. ]

Artikel Tidak Suka Kepada Anak Perempuan Termasuk PerkaraJahiliyah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Tidak Suka Kepada Anak Perempuan Termasuk PerkaraJahiliyah.

Hukum Memakai Parfum Yang Mengandung Alkohol

Kumpulan Artikel Islami

Hukum Memakai Parfum Yang Mengandung Alkohol Hukum Memakai Parfum Yang Mengandung Alkohol

Kategori Al-Masaa'il

Jumat, 5 Maret 2004 10:42:53 WIBHUKUM MEMAKAI PARFUM-PARFUM YANG MENGANDUNG ALKOHOLOlehSyaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan.Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apakah hokum menggunakan sebagian parfum yang mengandung sesuatu dari alkohol JawabanHukum asal penggunaan parfum dan wewangian yang biasanya dipakai oleh orang-orang adalah halal kecuali parfum yang memang sudah diketahui bahwa ia mengandung sesuatu yang mencegah penggunaannya dikarenakan kondisinya memabukkan, memabukkan bilamana sudah banyak, terdapat Janis atau semisalnya.Sebab bila tidak demikian, pada dasarnya parfum-parfum yang banyak dipakai oleh orang-orang seperti kayu cendana, ‘anbar, kasturi dan lain-lain adalah halal.Bila seseorang mengetahui bahwa ada parfum yang mengandung bahan yang memabukkan atau bernajis sehingga mencegah penggunaannya, maka hendaknya dia meninggalkan hal itu, di antaranya adalah jenis Eau De Cologne sebab berdasarkan kesaksian para dokter telah terbukti ia tidak luput dari komposisi bahan yang memabukkan. Di dalam komposisinya terdapat banyak sekali bahan dari spritus yang memabukkan.Maka, adalah wajib meninggalkannya kecuali seseorang mendapatkan ada jenis lain yang terhindar dari itu.Sebenarnya, parfum-parfum yang telah dihalalkan oleh Allah sudah lebih dari cukup, alhamdulillah. Demikian pula bahwa minuman atau makanan yang dapat meyebabkan mabuk, wajib ditinggalkan.Dalam hal ini, kaedah yang berlaku adalah ‘Sesuatu yang menyebabkan mabuk adalah haram, baik ia banyak ataupun sedikit” Juga sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.â€Å"Artinya : Sesuatu yang [dalam jumlah] banyak dapat memabukkan, maka [dalam jumlah] sedikitnya pun haram hukumnya” [ Sunan An-Nasa’i, kitab Al-Asyribah 5607, Sunan Ibnu Majah, kitab Al-Asribah 3394]Wallahu Waliyut Taufiq[Majalah Al-Buhut, vol.33, hal.116 dari Syaikh bin Baz][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 168 Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=389&bagian=0


Artikel Hukum Memakai Parfum Yang Mengandung Alkohol diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hukum Memakai Parfum Yang Mengandung Alkohol.

Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram

Kumpulan Artikel Islami

Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram

>> Pertanyaan :

Lajnah Daimah ditanya: Bapak saya melaksanakan haji tahun lalu,karena sakit parah, maka ia tidak mampu melakukan ihram, kewajiban apayang harus ia lakukan ?

>> Jawaban :

Apabila ia berihram dengan pakaian biasa disebabkan kondisi yang tidakmemungkinkan seperti cuaca dingin atau sakit atau hal lainnya, makademikian tersebut dibolehkan. Dan bagi yang mengenakan pakaianberjahit, maka harus berpuasa tiga hari atau memberi makam enam orangmiskin dan setiap satu orang miskin setengah sha' dari makanan pokoknegeri setempat atau menyembelih kambing. Demikian juga bagi orangyang menutup kepala. Dibolehkan berpuasa dimana saja. Adapun memberimakan atau menyembelih kambing harus dilakukan di tanah Haram [Makkah].

Artikel Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram diambil dari http://www.asofwah.or.id
Melaksanakan Ibadah Haji Tanpa Ihram.

Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4

Kumpulan Artikel Islami

Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4 Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4

Kategori Akhlak

Senin, 29 Nopember 2004 14:14:09 WIBBERAKHLAK BAIK DAN PENTINGNYA BAGI PENUNTUT ILMUOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahBagian Pertama dari Empat Tulisan 1/4Wahai saudara-saudara sekalian, [pada] kesempatan baik ini saya akan menyampaikan pembicaraan tentang berakhlak baik. Dan akhlak, sebagaimana dikatakan ulama adalah gambaran batin manusia, karena [pada dasarnya] manusia mempunyai dua bentuk, bentuk luar [yaitu fisik] yang Allah ciptakan badan padanya. Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bentuk luar ini ada yang diciptakan dalam bentuk yang indah, dan ada yang diciptakan dalam bentuk yang buruk, dan ada yang diciptakan dalam bentuk diantara keduanya. Dan bentuk batin [demikian juga] ada yang baik dan ada yang buruk, serta ada yang diantara keduanya, dan bentuk batin inilah yang dikatakan sebagai akhlak.Jika demikian halnya, maka yang dinamakan akhlak adalah : â€Å"Gambaran batin, dimana manusia berwatak seperti gambaran batin itu”. Dan sebagaimana akhlak itu merupakan suatu tabiat [pemberian Allah], sesungguhnya akhlak baik juga dapat diperoleh dengan berusaha untuk berakhlak baik, artinya bahwa [ada] manusia yang diciptakan Allah dalam keadaan berperangai baik, dan terkadang ada yang memperoleh akhlak baik itu dengan cara berusaha dan memaksa [serta mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik] - oleh karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada [sahabat yang bernama] Al Asaj bin Qais :"Artinya : Sesunggunhya dalam dirimu terdapat dua perangai yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tenang, [lalu] Al Asaj bin Qais berkata : Wahai Rasulullah, apakah dua perangai itu aku yang membikin [mengusahakan untuk berakhlak sabar dan tenang] ataukah Allah telah ciptakan keduanya untukku Beliau bersabda : â€Å"Allah menciptakanmu dalam keadaan berakhlak sabar dan tenang ”.Maka ini adalah dalil bahwa akhlak mulia itu terjadi melalui tabiat [pembawaan asli], dan bisa juga terjadi dari usaha untuk berakhlak mulia. Akan tetapi, akhlak mulia yang lahir dari tabiat, tentu lebih baik dari akhlak mulia yang terjadi dari hasil usaha untuk berakhlak mulia. Karena jika akhlak itu terlahir dari tabiat, ia akan menjadi karakter dan pembawaan bagi manusia yang tidak membutuhkan usaha membiasakan dan melatihnya. Akan tetapi, ini adalah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang tidak diciptakan dalam keadaan berakhlak baik, sesungguhnya ia dapat memperolehnya dari jalan berusaha untuk berakhlak baik itu, dengan cara membiasakan dan memaksa [serta mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik] sebagaimana kami akan menyebutkannya insya Allah.Dan banyak manusia berprasangka bahwa berakhlak baik hanyalah dilakukan dalam bermuamalah dengan makhluk, tanpa bermuamalah dengan Allah. Akan tetapi ini adalah pemahaman yang sempit [dalam memahami makna berakhlak baik], karena sesungguhnya berakhlak baik itu sebagaimana dilakukan dalam bermuamalah dengan mahluk, juga dilakukan dalam bermuamalah dengan Al Khaliq [Sang Pencipta]. Maka pembahasan tentang berakhlak baik adalah bermuamalah dengan Allah dan bermuamalah dengan mahluk.Maka apakah yan dimaksud dengan berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah Berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah terkumpul dalam tiga perkara :1. Menerima berita-berita dari Allah [Al Qur'an] dengan membenarkannya.2. Menerima hukum-hukum Allah dengan cara mengamalkannya.3. Menerima takdir Allah dengan sabar dan ridha.Maka dalam tiga hal inilah berkisar sesuatu yang berkenaan dengan berakhlaq baik dengan Allah.PERTAMA : MENERIMAN BERITA-BERITA DARI ALLAH [AL-QUR'AN] DENGAN MEMBENARKANNYA.Di mana [artinya adalah] tidak terdapat keraguan dalam diri manusia atau kebimbangan dalam membenarkan berita dari Allah [Al Qur’an] , karena berita dari Allah bersumber dari ilmu yaitu Allah Dzat yang paling benar perkataannya. Sebagaimana firman Allah :â€Å"Artinya : Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan [nya] daripada Allah” [An Nisa : 87]Dan wajib membenarkan berita dari Allah dengan sikap mempercayainya, membelanya, berjihad dengannya, dimana keraguan dan kebimbangan terhadap Al Qur’an dan hadits tidak memasukinya. Dan jika seseorang menampakkan akhlak seperti ini, maka mungkin baginya untuk menolak setiap subhat [kerancuan] yang dibawa oleh orang-orang yang menentang terhadap Al Hadits, baik itu mereka yang menentang dari kalangan orang muslim yang mengadakan perbuatan bid’ah [perkara yang tidak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya] atau orang-orang non muslim yang melemparkan subhat dalam hati kaum muslimin. Dan kami beri contoh tentang hal itu :Tersebut dalam shahih Bukhari sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :â€Å"Jika lalat terjatuh dalam minuman salah seoran dari kalian, maka hendaklah ia benamkan lalat itu kedalam minuman, lalu setelah itu hendaknya ia membuang lalat itu, karena sesunguhnya di dalam salah satu sayapnya terdapat penyakit, dan disayap lainnya terdapat obat” [Bukhari 5782]Ini adalah berita dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perkara-perkara yang ghaib, Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan dari hawa nafsunya, tetapi yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam ucapkan adalah wahyu Allah. [Hal ini] karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia, sedangkan manusia tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan Allah berfirman kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:"Artinya : Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak [pula] aku mengetahui yang ghaib dan tidak [pula] aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." [Al An’am : 50]Berita ini [hadits tentang lalat], wajib bagi kita menerimanya dengan akhak yang baik. Dan berakhlak baik terhadap hadits ini adalah dengan menerimanya serta menetapkan bahwa hadits yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah haq dan benar, walaupun ditentang orang yang menentangnya. Dan kita mengetahui dengan seyakin-yakinnya, bahwa pendapat yang menyelisihi hadits yang benar keshahihannya dari Rasulullah r adalah [pendapat] batil, hal ini karena Allah berfirman :â€Å"Artinya : Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” [Yunus : 32]Contoh lainnya :Dari peristiwa hari kiamat, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa matahari berada dekat dengan manusia pada hari kiamat seukuran saru mil. Baik itu mil "al-makhalah" [ukuran jaraj] atau mil perjalanan. Jarak ini [antara matahari dan manusia] dekat sekali, tetapi manusia tidak terbakar oleh panasnya, padahal kalau matahari saat ini [didunia] dekat sekali pasti dunia terbakar. Maka terkadang seseorang berkata : â€Å"Bagaimana matahari berada dekat kepala-kepala manusia pada hari kiamat sejarak ukuran ini lalu manusia tidak terbakar maka dimanakah akhlak yang baik terhadap hadits ini Berakhlak baik terhadap hadits ini adalah dengan menerima dan membenarkannya, dan hendaknya tidak terdapat dalam hati kita kesempitan, kegalauan dan kebimbangan. Dan hendaknya kita mengetahui bahwa hadits yang diberitakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal ini adalah haq dan tidak mungkin kita mengqiyaskan [menyerupakan] keadaan-keadaan di akhirat berdasarkan keadaan-keadaan didunia, [hal ini] karena adanya perbedaan besar. Maka jika keadaannya demikian, maka seorang yang beriman akan menerima hadits semisal ini dengan lapang dada dan ketenangan, dan pemahaman tentangnya akan bertambah luas, inilah [berakhlak baik] terhadap berita-berita [dalam Al Qur’an dan hadits].[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhirah Al-Islamiyah Th I/No.06/1424/2003]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1198&bagian=0


Artikel Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4.