Sabtu, 12 Juli 2008

Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana

Kumpulan Artikel Islami

Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana

Kategori Tauhid

Senin, 19 Januari 2004 07:04:05 WIBMENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANAOlehSyaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan.Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata:”Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab: ”Allah itu ada dimana-mana.” Bagaimana pandangan hukum agama yterhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam iniJawaban.Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bid’ah dari aliran Jahmiyah dan Mu’tazilah serta aliran lain yang sejaan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang di-ikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama’ah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana [meliputi segala sesuatu].Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat Al Qur’an,hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ,ijma’ dari pendahulu umat ini.Sebgaimana contoh adalah firman Allah:"Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy [Surat Al A’raf:54]Didalam Al Qur’an ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan 'bersemayam" menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy sesuai dengan keagungan Allah.Tidak ada yang dapat mengetahui BAGAIMANA bersemayamnya itu,seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini.Beliau menjawab:"â€Å"Kata bersemayam itu telah kita pahami.Akan tetapi ,bagaimana caranya tidak kita ketahui.Mengimana hal ini adalah wajib,tetapi mempersoalkannya adalah bid’ah.”Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah bid’ah yakni mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy. Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya ,Syaikh Rabi’ah bin Abdurrahman yang bersumber dari riawayat Ummu Salamah radhiallahu anha .Hal ini merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya.Allah telah menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada diatas, seperti dalam firmanNya:"Artinya : Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya" [Surat Faathir:10]"Artinya : Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar" [Al Baqarah:255]"Artinya : Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana [akibat mendustakan] peringatan-Ku" [Surat Al Mulk:16-17]Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersamayam. Dengan demikian dapatlah diketahui perkataan ahlu bid’ah :”Allah itu berada dimana-mana,” merupakan hal yang sangat batil.Perkataan ini merupakan pernyataan firqoh yang beranggapan bahwa alam ini penjelmaan Allah,suatu aliran bid’ah lagi sesat,bahkan aliran kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam .Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :Alaa ta’manuniy wa anaa amiinu man fis samaa’â€Å"Artinya : Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit.” [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi ;Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits [tentang] Isra’ Mi’raj, dan lain-lain.[Majallatuud Dakwah no.1288]MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANAOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pandangan hukum terhadap jawaban sebagian orang:”Allah berada dimana-mana,” bila ditanya :”Dimana Allah” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benarJawaban.Jawaban seperti ini sepenuhnya batil. Apabila seseorang ditanya :”Allah dimana” hendaklah ia menjawab:”Di langit,” seperti dikemukakan oleh seorang [budak] perempuan yang ditanya oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :”Dimana Allah” jawabnya:”Di langit.”Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata:” Allah itu ada,” maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan.Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana ,adalah kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama,bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah.Allah berada diatas segala mahluk. Dia berada diatas semua langit,bersemayam diatas Arsy.[Majmu’ Fatawaa wa Rasaail ,juz 1 halaman 132-133][Disalin dari kitab Al Fatawaa Asy Syar’iyyah Fil Masaail Al ‘Ashriyyah min Fatawaa Ulamaa’ Al Balaadil Haraami, Edisi Indonesia: Fatwa Kontenporer Ulama Besar Tanah Suci, Penyusun Khalid al Juraisy, Penerbit :Media Hidayah, Cet.1 September 2003]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=58&bagian=0


Artikel Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana.

Istighatsah 1/2

Kumpulan Artikel Islami

Istighatsah 1/2 Istighatsah 1/2

Kategori Tauhid

Selasa, 22 Februari 2005 07:03:15 WIBISTIGHATSAHOlehLajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal IftaBagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2Pertanyaan.Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Ada sebagian orang ketika dalam keadaan tertimpa musibah dan bencana, menyeru dalam do’anya, â€Å"Ya Rasulullah !” Atau selain beliau dari para wali. Ketika dalam keadaan sakit mereka mendatangi kuburan orang-orang shalih dan beristighatsah [memohon bantuan/pertolongan] dengan perantaraan mereka. Mereka mengatakan, sesungguhnya Allah akan menghilangkan bala’ [musibah] dengan perantaraan orang-orang shalih. Memang kami memohon pertolongan kepada mereka tetapi niat kami adalah kepada Allah karena Allah-lah yang memberi pengaruh”.Apakah [perkataan dan perbuatan] seperti ini syirik atau tidak, dan apakah mereka dikategorikan sebagai orang-orang musyrik, padahal mereka [juga] mengerjakan shalat, membaca Al-Qur’an dan amal shalih yang lainnya JawabanApa yang mereka lakukan itu merupakan perbuatan syirik yang dahulu telah dikerjakan oleh orang-orang jahiliah. Mereka dahulu menyeru [berdo’a] dan beristhatsah [memohon bantuan] kepada Lata, Uzza, Manat, dan yang lainnya sebagai pengagungan [pemujaan] mereka terhadap para berhala tersebut, dengan harapan dapat mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Mereka mengatakan.â€Å"Artinya : Kami tidak menyembah mereka [para berhala] melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. [Az-Zumar : 3]Mereka juga mengatakan.â€Å"Artinya : Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah” [Yunus : 18]Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah. Doa tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah melarang berdoa kepada selainNya. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman.â€Å"Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak [pula] memberi mudharat kepadamu selain Allah ; sebab jika kamu berbuat [yang demikian itu] maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim. Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karuaniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Yunus : 106-107]Kaum muslimin diwajibkan membaca dalam setiap rakaat shalatnya, ayat.â€Å"Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” [Al-Fatihah : 5]Hal itu sebagai petunjuk bagi mereka bahwa ibadah tidaklah boleh ditujukan kecuali hanya untukNya, dan bahwa memohon pertolongan tidaklah boleh kecuali hanya kepadaNya, bukan kepada orang-orang mati baik dari para nabi dan orang-orang shalih.Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya shalat, puasa, dan bacaan al-Qur’an mereka karena sesungguhnya mereka [orang-orang yang beristighatsah kepada mahluk] termasuk orang-orang yang tersesat jalannya di kehidupan dunia ini, sementara mereka menyangka bahwa mereka mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Yang demikian ini karena [ibadah mereka] tidak dibangun di atas pondasi tauhid yang bersih, sehingga ibadah mereka itu hanya [sia-sia belaka] bagaikan debu yang berterbangan. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan kesyirikan serta terhapusnya amal mereka banyak sekali. Tengoklah ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunah yang shahih serta kitab-kitab buah tangan ulama Ahlus Sunnah ! Kami memohon kepada Allah hidayahNya untuk kami dan Anda.[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah 1/498-500, Pertanyaan ke-2 & ke-5 dari Fatwa no. 9027 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 6/I/Dzulqa’dah 1423H]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1355&bagian=0


Artikel Istighatsah 1/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Istighatsah 1/2.

Salafiyah Dan Politik

Kumpulan Artikel Islami

Salafiyah Dan Politik Salafiyah Dan Politik

Kategori Demokrasi Dan Politik

Rabu, 7 September 2005 13:06:28 WIBSALAFIYAH DAN POLITIKOlehSyaikh Salim bin Ied Al-HilalySesungguhnya salafiyah meniadakan untuk uluran apa saja kepada Hizbiyah Siasiyyah [gerakan politik] yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan bukan sebagai wasilah [perantara], mereka yang berusaha mencapai kekuasaan dengan segala makar, kelicikan dan tipu daya, serta menjadikan Islam sebagai syiar [simbol]. Jika mereka telah mencapai apa saja yang diinginkan, merekapun berpaling dari jalan Islam !Yang demikian itu karena makna politik didalam benak mereka adalah :â€Å"Kemampuan memperdaya dan menipu, dan seni membentuk jawaban-jawaban yang bermuatan [politis], serta perbuatan-perbuatan yang mempunyai halusinasi, yang diibaratkan dalam bentuk bejana yang diletakkan didalamnya baik itu warna, rasa dan baunya.”Politik seperti ini dalam pandangan salafiyyin [mereka yang mengikuti pemahaman salafus shalih] serupa dengan kemunafikan ; karena dalam politik seperti ini ada sikap tidak konsisten pada aqidah, mereka mengotori jiwa Islam, merusak keimanan, melepaskan ikatan Al-Wala' [loyalitas] dan Al-Bara' [kebencian], serta menipu kaum muslimin, para dai yang fajir [jahat] tersebut menjadikan politik sebagai tangga saja, mereka menggembor-gemborkan dakwaan untuk menolak kedzaliman, menolong kaum muslimin, meringankan bahaya atau menghilangkan kemungkaran. Dan kami telah melihat kebanyakan mereka itu berubah dan tidak merubah. Dan orang yang berbuat seperti cara mereka, tidak akan keluar dengan selamat dari permainan politik, dan tidak akan kembali dengan kemenangan.Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa salafiyah [dakwah yang menyeru kepada Al Qur’an dan sunnah dengan pemahaman sahabat nabi] tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, tidak memahami keadaan/kondisi mereka, tidak berusaha dengan sunguh-sungguh memulai kehidupan Islam yang berlandaskan kepada Manhaj Nubuwah [ajaran nabi], kemudian setelah itu mewujudkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dimuka bumi, agar agama itu seluruhnya menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala tiada sekutu bagi-Nya, agar tersebar keadilan dimana-mana. Oleh karena itu salafiyah menjadikan hal diatas sebagai salah satu dari tujuan-tujuannya, berusaha merealisasikan, beramal untuk mencapainya, serta mengajak kaum muslimin, khususnya para da’i â€Å"salafi” untuk bersatu diatasnya, agar kalimat mereka satu.Meskipun demikian, kami melihat sebagian orang yang masih ingusan, menyangka/menuduh bahwasan dakwah salafiyah pada saat ini tidak ada politik didalam manhajnya ! dia beralasan bahwa memulai kehidupan Islam bukan dari tujuan mereka, yang tercantum pada sampul belakang kitab-kitab mereka.Sesungguhnya tuduhan ini hanyalah untuk merobohkan dakwah Salafiyyah, sekalipun ia berusaha mengatakan akan mendirikannya, semua itu ia lakukan untuk mengelabui teman-temannya. Dibawah ini ada keterangan yang sepatutnya untuk diketahui:[1]. Sesungguhnya memulai kehidupan Islam diatas Manhaj Nubuwah [ajaran nabi] dan menumbuhkan masyarakat Rabbani, dan merealisasikan hukum Allah Azza wa Jalla dimuka bumi adalah hal yang ditegaskan oleh dakwah salafiyah dengan [tiada rasa harap dan takut], karena dakwah salafiyah akarnya kembali kepada generasi sahabat, dan metodenya adalah dasar-dasar yang telah ditetapkan oleh ulama Rabbani. Manhaj salafiyah dalam merubah adalah seperti para sahabat nabi dan ulama, yaitu dengan mengikuti sunnah bukan berbuat bid’ah. Dan manhaj seperti ini bertolak belakang dengan dakwah-dakwah masa kini yang mendakwahkan telah mendahului dalam segalanya dan dakwah-dakwah ini bagaikan tunas yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tegak sedikitpun.[2]. Sesungguhnya tujuan umum yang ditegaskan dakwah salafiyyah semuanya untuk merubah [kepada yang baik] :[a]. Mengembalikan umat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi , ini adalah merubah kondisi umat.[b]. Membersihkan kotoran yang masih melekat pada kehidupan kaum muslimin berupa kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya. Memperingatkan mereka dari perbuatan bid'ah yang munkar dan pemikiran-pemikiran batil yang masuk, mensucikan sunnah dari riwayat-riwayat yang dha’if dan palsu yang mengotori kebersihan Islam dan menghalangi kemajuan kaum muslimin, ini dalam rangka merubah kondisi umat.[c]. Menyeru kaum muslimin untuk mengamalkan hukum-hukum Islam, berhias dengan keutamaan-keutamaan dan adab-adab agama yang membuahkan ridha Allah didunia dan akhirat, serta mewujudkan kebahagiaan dan kemuliaan bagi mereka : ini juga dala rangka merubah kondisi umat.[d]. Dan sesungguhnya menghidupkan ijtihad yang benar sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah serta pemahaman sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan sikap fanatik madzhab, serta melenyapkan fanatik golongan agar kaum muslimin kembali bersaudara, dan bersatu diatas ajaran Allah Azza wa Jalla sebagai saudara, ini juga merubah kondisi umat.[3]. Ini yang pertama, adapun hal lainnya, sesungguhnya tujuan-tujuan itu semuanya untuk memulai kehidupan Islam akan tetapi diatas manhaj Nubuwah [metode nabi], dan penyebutan masalah ini pada pembahasan setelahnya adalah termasuk dalam bab penyebutan hal yang khusus sesudah hal yang umum.[4]. Adapun sesudah itu sesungguhnya salafiyin menempuh manhaj [metode] perubahan berdasarkan Al-Qur'an yang tidak terdapat kebatilan didalamnya yaitu firman Allah Azza wa Jalla :"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah diri-diri mereka." [Ar-Ra'du : 11]Maka medan perubahan ini adalah jiwa-jiwa manusia agar jiwa-jiwa itu tegak, istiqomah diatas manhaj Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan siap untuk menjadi pemimpin.Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk mengokohkan [Islam dan kaum muslimin] tapi dengan syarat mereka mau merubah diri-diri mereka sendiri :"Artinya : Jika kalian menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian." [Muhammad : 7]Oleh karena itu kami melihat guru kami Syaikh Al-Albani memuji kata-kata yang masyhur dibawah ini :"Tegakkanlah daulah Islam dalam jiwa-jiwa kalian niscaya daulah Islam itu akan tegak dibumi kalian."Beliau memuji kalimat tersebut karena sesuai dengan Al Qur’an dalam metode memperbaiki masyarakat bukan lantaran beliau terpengaruh dengan pencetusnya.Barangkali ada orang yang akan berkata : Sesungguhnya metode â€Å"Tasfiyah dan Tarbiyah” [mensucikan dan mendidik] itu tidak jelas, untuk orang-orang seperti ini telah dikatakan : "Sesungguhnya manhaj ini lebih terang dari matahari akan tetapi terkadang mata mengingkari cahaya matahari karena tertutup dengan debu."Sesungguhnya manhaj ini adalah metode Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan melahirkan umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan serta melarang kemungkaran dan beriman kepada Allah Azza wa jalla."Artinya : Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya pada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah [As-Sunnah]." [Al-Jumu'ah : 2]Sesungguhnya ini adalah ilmu dan tazkiyah [pensucian] dan kita tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan tasfiyah [pemurnian], dan sekali-kali tidak akan bisa mewujudkan pensucian melainkan dengan tarbiyah [mendidik].Ini adalah pemahaman para pewaris Nabi, umat yang adil, yang mana Allah menyingkapkan kekaburan dengan mereka dan menghilangkan serta menghancurkan kezaliman, sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits yang hasan."Artinya : Ilmu ini akan dibawah oleh orang-orang yang adil, mereka meniadakan penyimpangan orang-orang yangmelampaui batas, melenyapkan orang-orang yang batil dan orang-orang yang bodoh."Manhaj salaf menyelamatkan para pemuda/generasi umat dari jaring-jaring hizbiyyah, sebagaimana dalam hadits Bukhari dan Muslim :"Artinya : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mencabut ilmu sesudah Allah memberikan kepada kalian akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan kematian para ulama hingga jika tidak tersisa seorang ulama manusia menjadikan pemuka-pemuka mereka orang-orang yang bodoh lalu mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu hingga mereka menyesatkan dan mereka sendiri tersesat."Dakwah salafiyah tidak mengarahkan untuk bentrok [secara frontal] dengan para penguasa dan undang-undang karena dakwah ini menginginkan perbaikan dan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki. Karena hukum dan penguasa bukanlah tujuan menurut dakwah salafiyah tetapi hal itu adalah wasilah / sarana untuk beribadah kepada Allah semata dan agar agama ini menjadi milik Allah seluruhnya.Bentrok dengan penguasa / kudeta dapat mengakibatkan urusan yang lebih besar, jika tidak percaya maka lihatlah fakta!Demikian juga sesungguhnya peraturan Islam harus mempunyai penopang dan pembela dari rencana busuk musuh-musuh Islam dan para dai yang menghalangi jalannya :â€Å"Artinya : Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman.” [Al-Anfal : 62]Dan tidaklah kaum muslimin menjadi penopang para rasul sesudah Allah, melainkan jika mereka terdidik diatas manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau [semoga Allah meridhai mereka]..[contoh] jihad Afghanistan, jihad ini mempunyai pembela dan penopangnya dari rakyat Afghanistan...akan tetapi kaidah tasfiyah dan tarbiyah ini terlalaikan dengan perlawanan [terhadap musuh] sebelum tarbiyah, sehingga tatkala mencapai singgasana kekuasaan bercerai-berailah sesudah sebelumnya kuat, bermusuhan diantara mereka dan mereka menjadi lemah, dan hilang kekuatan mereka, runtuh dan hancur, dan para musuh pengintai mereka menunggu kesempatan.Jika demikian [kenyataannya] haruslah dilakukan tashfiyah [pembersihan] dan tarbiyah [pendidikan] diatas manhaj Nabawi yang bersih yang terlahirkan darinya generasi yang menjadikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebagai panutan.Disamping itu sesungguhnya salafyin tidak mengingkari orang-orang yang melakukan perubahan, akan tetapi mereka mengingkari metode perubahan, yang tidak bisa â€Å"mengenyangkan dan tidak bisa menghilangkan rasa lapar”, bahkan orang-orang yang tergesa-gesa dan orang-orang yang mengambil manfaat [dunia] menaiki metode itu untuk mengorbankan para pemuda muslim, mereka membuat kerusakan yang pada akhirnya mereka berguguran di sarang musuh dengan sebab ketergesa-gesaan mereka, dan sunnah Allah Azza wa jalla menimpa mereka sebagaimana yang dikatakan para ulama."Artinya : Barangsiapa tergesa-gesa sebelum waktunya maka diharamkan mendapatkannya."Salafiyyun menolak metode-metode yang mendukung ahli batil serta menghina kaum muslimin menjadikan kaum muslimin berpecah-pecah, berkelompok-kelompok [berpartai-partai], permusuhan diantara mereka sangat sengit. Kemudian dilecehkannya aqidah serta syariat Islam.Inilah yang diingkari salafyyin, dan mereka selalu memperingatkan darinya, pendorong mereka dalam hal ini seluruhnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala."Artinya : Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada petunjuk bagiku melainkan denga pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali." [Hud : 88]Dan Allahlah yang menjanjikan ..[Diterjemahkan dari majalah al-Asholah edisi 18 hal 29][Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah, Edisi 10/Th II/2004/1425H]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1567&bagian=0


Artikel Salafiyah Dan Politik diambil dari http://www.asofwah.or.id
Salafiyah Dan Politik.

SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH)

Kumpulan Artikel Islami

SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH) Nama Dan Nasabnya

Beliau rahimahullah adalah Syaikh al-‘Allamah Abu AhmadMuhammad Aman bin Ali Jami Ali.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa Thagha Thab daerah Harar,Habasyah [Ethiopia], Afrika.

Pertumbuhan Ilmiah Dan Guru-Gurunya

Beliau rahimahullah tumbuh di desanya, Thagha Thab. Di situ,beliau belajar al-Qur’an hingga khatam kemudian belajar fiqh MadzhabSyafi’i. Beliau juga belajar bahasa Arab kepada Syaikh Muhammad Aminal-Harari.

Kemudian beliau meninggalkan desanya guna menuntut ilmu. Hinggabertemu sahabatnya dalam menuntut ilmu, Syaikh Abdul Karim. Keduanyapergi belajar Nazhm Zubad karya Ibnu Ruslan kepada Syaikh Musadan belajar matan Minhaj kepada Syaikh Abadir. Demikian pula, keduanyamempelajari beberapa bidang ilmu lainnya.

Keduanya lantas sepakat pergi ke Saudi Arabia dalam rangka ibadah hajidan menuntut ilmu. Mereka berdua melakukan perjalanan darat dariHabasyah menuju Somalia. Dari somalia melakukan perjalanan lewat lauthingga ke Aden, Yaman. Kemudian berjalan kaki hingga Mekkah.

Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau

rahimahullah memulai belajarnya dengan menghadiri halaqah-halaqahdi masjidil haram. Beliau belajar kepada Syaikh Abdur Razaq Hamzah,Syaikh Abdul Haq al-Hasyimi, Syaikh Abdullah ash-Shomali dan ulamalainnya.

Beliau berkenalan dengan Syaikh Abdul Aziz bin bin Baz rahimahullah[mantan mufti ‘am kerajaan Arab Saudi-red] dan menemaninya dalamperjalanan ke Riyadh ketika beliau masuk ke Ma’had Ilmi di Riyadh. Diantara rekan beliau ketika belajar di Ma’had Ilmi adalah Syaikh AbdulMuhsin bin Hamd al-Abbad dan Syaikh Ali bin Muhanna.

Di samping belajar di Ma’had Ilmi, beliau juga menghadirihalaqah-halaqah ilmu di Riyadh. Beliau menghadiri mejelis SyaikhMuhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdur Rahman al-Afriqi, SyaikhAbdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, SyaikhHammad al-Anshari.

Beliau rahimahullah juga belajar kepada Syaikh Abdur RazzaqAfifi, Syaikh Muhammad Khalil Harras dan Syaikh Abdullah al-Qar’awi.

Pengabdiannya Kepada Kaum Muslimin

Beliau diusulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Syaikh Muhammadbin Ibrahim, Mufti Saudi Arabia waktu itu, agar ditugaskan mengajar diMa’had Ilmi di Shamithah, daerah Jazan. Usulan ini disetujui SyaikhMuhammad bin Ibrahim.

Ketika Universitas Islam Madinah dibuka pada tahun 1381 H, beliaudipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai salah seorangpengajarnya dalam mata kuliah aqidah.

Beliau juga ditugaskan sebagai pengajar di masjid Nabawi dalam bidangaqidah.

Beliau kerahkan upaya beliau dalam dakwah ilallah di dalam dan di luarnegeri Saudi selama kurang lebih 40 tahun, menjelaskan aqidahsalafiyah dan membantah ahli bid’ah serta orang-orang yang menyelewengdari jalan yang lurus. Beliau memiliki andil besar dalam menjelaskanperbedaan-perbedaan yang mendasar antara manhaj salafi danmanhaj-manhaj bid’ah yang hendak memalingkan umat dari manhaj Nabishallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kerena kegigihandakwah inilah, beliau banyak mendapat rintangan dan gangguan. Tidakhenti-hentinya para pemilik kesesatan melontarkan tuduhan-tuduhan danperkataan-perkataan yang tidak pantas kepada beliau. Sampai-sampai adayang berusaha memberikan gangguang fisik kepada beliau. Akan tetapi,tidak henti-hentinya pula beliau membela dakwah salafiyah dengan penuhkesabaran dan mengharap keridhaan Alloh, hingga beliau wafat.

Akhlaknya

Beliau dikenal gigih dalam melakukan nasihat terhadap Alloh, Rasul-Nya,para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam. Beliau jarangbergaul dengan manusia kecuali dalam kebaikan. Beliau selalu menjagawaktu-waktunya. Kebiasaan beliau dikenal banyak orang; keluar darirumahnya mengajar di Jami’ah, kemudian pulang ke rumah, lalu ke masjidNabawi menyampaikan ta’limnya sesudah Ashar, sesudah Maghrib, sesudahIsya’ dan sesudah Fajar. Begitulah jadwal beliau, sampai beliaumengalami sakit keras hingga meninggal dunia. Beliau dikenal menjagalisannya, tidak mengejek, tidak mencela dan tidak mengghibah. Bahkanbeliau tidak mengizinkan seorangpun melakukan ghibah dan menyebut aibmanusia di hadapannya. Ketika terjadi suatu kesalahan pada sebagianpanuntut ilmu pada suatu kaset atau kitab, beliau mendengarkan ataumembacanya. Jika nampak bagi beliau kesalahan tersebut, beliau lakukannasihat terhadapnya. Beliau dikenal lembut dan pemaaf. Dengankelembutan dan sikap memaafkan, beliau hadapi ujian, makar dangangguan. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar kepadamurid-muridnya. Beliau hadiri undangan-undangan mereka. Menanyakankeadaan mereka dan mengatasi sebagian permasalahan keluarga mereka.Ringkasnya, beliau membantu mereka dengan harta, waktu dankedudukannya.

Pujian Para Ulama Kepadanya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Beliau dikenaldengan keilmuannya, keutamaannya, kelurusan aqidahnya dan kegigihandakwahnya kepada Alloh serta memperingatkan dari bid’ah dan khurafat.Semoga Alloh mengampuninya, menempatkannya dalam keluasan surga-Nya,memperbagus keturunannya dan semoga Alloh mengumpulkan kita semua danbeliau di negeri kemuliaan-Nya.”

Dalam kesempatan lain, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahberkata. “Syaikh Muhammad Aman al-Jami dan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali,keduanya termasuk Ahli Sunnah. Keduanya dikenal dengan keilmuan,keutamaan dan kelurusan aqidahnya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami telahwafat pada malam kamis 27 Sya’ban tahun ini. Aku berwasiat agardipelajari kitab-kitab keduanya. Aku memohon agar Alloh memberikantaufiq kepada kita semua pada apa yang dia cintai dan dia ridhai.”

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad berkata, “Aku mengenal SyaikhMuhammad Aman al-Jami ketika belajar di ma’had ilmi Riyadh dan sebagaidosen di Universitas Islam Madinah. Aku mengenal beliau dengankelurusan aqidah dan keselamatan arah. Beliau memiliki perhatian yangbesar dalam menjelaskan aqidah salaf dan memperingatkan darikebid’ahan di dalam ta’lim-ta’limnya, ceramah-ceramahnya dantulisan-tulisannya. Semoga Alloh mengampuninya, merahmatinya danmemberikan pahala yang berlimpah kepadanya.”

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Orang-orang yang berilmu danmemiliki ijazah ilmiah banyak sekali. Tetapi sedikit dari mereka yangbisa memanfaatkan dan memberikan faedah dari ilmunya. Syaikh MuhammadAman al-Jami termasuk kelompok sedikit dari para ulama yangmengarahkan ilmu dan upaya mereka memberikan faedah dan mengarahkankaum muslimin dengan dakwah kepada Alloh melalui ta’lim-ta’limnya diJami’ah Islamiyah dan masjid Nabawi serta dalam perjalanan dakwahnyadi dalam dan luar Saudi, menyeru kepada tauhid, menyebarkan aqidahyang shahih, mengarahkan para pemuda umat ini kepada manhaj salafushshalih dan memperingatkan mereka dari pemikiran-pemikiran yang merusakdan seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa saja yang belum mengenalnyasecara langsung, bisa mengenal melalui kitab-kitabnya dankaset-kasetnya yang bermanfaat, yang menampakan keluasan ilmunya.Beliau terus melanjutkan kebaikan amalnya hingga beliau wafat. Beliautinggalkan ilmu yang bermanfaat, yang terwujud pada murid-muridnya dankitab-kitabnya. Semoga Alloh merahmatinya dan membalasnya dengankebaikan.”

Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata, “ Adapun Syaikh MuahammadAman, aku tidak mengetahui beliau kecuali seorang yang beriman,bertauhid, salafi, faqih dalam agamanya, dan mempuni dalam ilmu aqidah.Tidak pernah kulihat yang lebih bagus darinya dalam memaparkan aqidah.Beliau telah mengajarkan kepada kami al-Wasithiyah dan al-Hamawiyahsaat di marhalah Tsanawiyah. Tidak pernah kami melihat yang lebihbagus dari beliau dalam memahamkan para murid. Kami mengenal beliaudengan akhlak yang mulia, tawadhu dan kewibawaan. Kami memohon kepadaAlloh agar mengangkat derajat beliau di surga dengan sebabcelaan-celaan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas dari ahlulahwa’ [pengikut hawa nafsu] kepadanya. Terakhir, beliau meninggaldengan berwasiat agar selalu berpegang teguh dengan aqidah yang shahih,berwasiat kepada para ulama agar memperhatikan masalah aqidah. Inimenunjukan kejujurannya â€"insya Alloh- dalam keimanannya dan dalil ataskhusnul khatimahnya. Semoga Alloh selalu mencurahkan kepada kita danbeliau rahmat dan keridhaanNya.”

Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Tsani berkata, “Beliau adalahseorang ulama salafi. Merupakan teladan utama dalam dakwah islamiyah.Beliau memiliki ceramah-ceramah di masjid-masjid danpertemuan-pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Beliau memilikitulisan-tulisan dalam masalah aqidah dan yang lainnya. Semoga Allohmemberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau dan mencurahkan pahalayang banyak di akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Banna berkata, “Beliau adalahsebaik-baik yang kami cintai dalam keluhuran akhlaknya, kelurusanaqidahnya, dan kebagusan pergaulannya.”

Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili berkata, “Aku mulai mengenal SyaikhMuhammad Aman al-Jami pada tahun 1381 H ketika daulah Saudi Arabiamendirikan Universitas Islam Madinah. Beliau termasuk para pengajaryang pertama ditugaskan di Universitas tersebut, sedangkan aku salahseorang mahasiswanya. Beliau termasuk diantara para masyayikh yangmemberikan perhatian yang khusus kepada para murid sehingga merekatidak berhenti dalam hubungan pengajaran. Pada kebanyakan ta’limnya,beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan aqidah salafushshalih dalam pelajaran aqidah maupun yang lainnya.

Ketika menjelaskan aqidah salafush shalih dan berusaha menanamkannyadalam jiwa para muridnya yang berasal dari seluruh penjuru negeri,beliau sampaikan dengan gaya bahasa yang mereka mengerti. Karenabeliau telah merasakan keindahan aqidah salaf dan menelaahkedalamannya, sampai-sampai seorang yang mendengar dan menyaksikanbeliau ketika berbicara tentang aqidah salaf merasakan hatinya merasacinta dan terikat dengan aqidah salaf. Beliau memiliki banyak rihlahdakwah dan ta’lim di luar negeri Saudi. Tidak pernah datang suatukesempatan melainkan beliau gunakan untuk menjelaskan keagungan dankejernihan aqidah salaf dengan penjelasan yang memuaskan. Orang yangmembaca tulisan-tulisan dan risalah beliau akan meraba kebenarandakwahnya. Saya hadir ketika beliau mempertahankan disertasi doktornyadi Darul Ulum cabang Universitas Kairo Mesir. Beliau berupaya di dalamdisertasinya tersebut menjelaskan kejernihan aqidah salaf dankeselamatan manhaj salaf. Beliau singkapkan keborokan setiap manhajyang menyeleweng dari aqidah salaf serta kebatilan setiap tuduhan yangdiarahkan kepada para penyeru aqidah salaf yang menghabiskan umurnyamenyeru dan mengabdi kepada aqidah salaf. Beliau juga mematahkansetiap perkataan dan syubhat para pemilik kebatilan yang berusahamenjatuhkan manhaj salaf.

Ringkasnya, beliau begitu mendalam kecintaannya terhadap aqidahsalafush shalih, ikhlas dalam mendakwahkannya, begitu gigih dalammembelanya, serta pemberani di dalam menyampaikan kebenaran. SemogaAlloh mengampuni beliau dan kita semua.”

Murid-Muridnya

Di antara murid-muridnya: Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, SyaikhZaid bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, SyaikhMuhammad bin Hamud al-Waili, Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah as-Sindi,Syaikh Shalih bin Sa’d as-Suhaimi, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid,Syaikh Falih bin bin Nafi’ al-Harbi, Syaikh Shalih ar-Rifa’i, SyaikhFalah Isma’il, Syaikh Falah bin Tsani, Syaikh Ibrahim bin Amirar-Ruhaili, dan masih banyak lagi selain mereka.

Tulisan-Tulisannya

Di antara tulisan-tulisan beliau: Sifat Ilahiyyah fil Kitab wasSunnah Nabawiyyah fi Dhau’il Itsbat wa Tanzih, Manzilatus Sunnah fiTasyri’ Islami, Majmu’ Rasa’il Jami’ Fil aqidah was Sunnah, AqidahIslamiyyah wa Tarikhuha Haqiqatu Demokratiah wa Annaha Laisat minalIslam, Haqiqatusy Syura fil Islam, Adhwa’ ‘ala Thariqi Da’wah filIslam, Tahhih Mafahim fi Jawaniba minal aqidah, Muhadharah Difa’iyyahanis Sunnah Muhammadiyyah, aql wa Naql ‘inda Ibnu Rusyd, ThariqatulIslam fi Tarbiyyah, Masyakilu Da’wah wa Du’at fi Ashril Hadits Islamfi Afriqia Abra Tarikh, dan yang lainnya.

Wafatnya

Syaikh Muhammad Aman al-Jami wafat di Madinah pada waktu pagi hariRabu 26 Sya’ban 1416 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi’ Madinah.Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannah-Nya.

Rujukan

1. Tarjamah Syaikh Muhammad Aman al-Jami oleh Syaikh Musthafa binabdul Qadir al-Fullani

2. Website: sahab as-Salafiyyah

[SUMBER: Al-Furqon Edisi 4 Tahun V / Dzulqo’dah 1426 H dengan sedikitperubahan]

Artikel SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH) diambil dari http://www.asofwah.or.id
SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH).