Minggu, 06 Juli 2008

Kala Musibah Menimpa

Kumpulan Artikel Islami

Kala Musibah Menimpa Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikitketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Danberikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [yaitu]orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun . Mereka itulah yang mendapatkankeberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulahorang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. al-Baqarah:155-157]

Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi shallallahu 'alaihi wasallambersabda,Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, ya Allah berilah aku pahala dalammusibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik, kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akanmemberikan kepadanya ganti yang lebih baik. [HR. Ahmad 3/27]

Kita Milik Allah dan Kembali Kepada-Nya

Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah milikAllah subhanahu wata’ala dan akan kembali kepada-Nya maka diaakan terhibur tatkala tertimpa musibah. Kalimat istirja' ini merupakanpenyembuh dan obat paling mujarab bagi orang yang sedang tertimpamusibah. Dia memberikan manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktuyang akan datang. Kalimat tersebut memuat dua prinsip yang sangatagung. Jika seseorang mampu merealisasikan dan memahami keduanya makadia akan terhibur dalam setiap musibah yang menimpanya.

Dua prinsip pokok tersebut adalah:

Pertama; Bahwasanya manusia, keluarga dan harta pada hakikatnyaadalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dia bagi manusia tidaklebih hanya sebagai pinjaman atau titipan, sehingga jika Allah

subhanahu wata’ala mengambilnya dari seseorang maka ia ibaratseorang pemilik barang yang sedang mengambilnya dari si peminjam.Demikian juga manusia diliputi oleh ketidakpunyaan, sebelumnya [ketikalahir] dia tidak memiliki apa-apa dan setelahnya [ketika mati] ia puntidak memiliki apa-apa lagi.

Dan segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang hamba tidak lebih hanyaseperti barang pinjaman dan titipan yang bersifat sementara. Seoranghamba juga bukanlah yang telah menjadikan dirinya memiliki sesuatusetelah sebelumnya tidak punya. Dan diapun bukanlah menjadi penjagaterhadap segala miliknya dari kebinasaan dan kelenyapan, dia tak mampuuntuk menjadikan miliknya tetap terus abadi. Apapun usaha seoranghamba tidak akan mampu untuk menjadikan miliknya kekal abadi, tidakakan mampu menjadikan dirinya sebagai pemilik hakiki.

Dan juga seseorang itu harus membelanjakan miliknya berdasarkanperintah pemiliknya, memperhatikan apa yang diperintahkan dan apa yangdilarang. Dia membelanjakan bukan sebagai pemilik, karean Allah-lahSang Pemilik, maka tidak boleh baginya membelanjakan titipan itukecuali dalam hal-hal yang sesuai dengan kehendak Pemilik Yang Hakiki.

Ke dua; Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalahkepada Allah Pemilik yang Haq. Dan seseorang sudah pasti akanmeninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah subhanahu wata’alasendiri-sendiri sebagaimana ketika diciptakan pertama kali, tidakmemiliki harta, tidak membawa keluarga dan anak istri. Akan tetapimanusia menghadap Allah dengan membawa amal kebaikan dan keburukan.

Jika awal mula dan kesudahan seorang hamba adalah demikian makabagaimana dia akan berbangga-bangga dengan apa yang dia miliki atauberputus asa dari apa yang tidak dimilikinya. Maka memikirkanbagaimana awal dirinya dan bagaimana kesudahannya nanti adalahmerupakan obat paling manjur untuk mengobati sakit dan kesedihan.Demikian juga dengan mengetahui secara yakin bahwa apa yang akanmenimpanya pasti tidak akan meleset atau luput dan begitu jugasebaliknya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan [tidak pula]pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab [LauhulMahfuzh] sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian ituadalah mudah bagi Allah. [Kami jelaskan yang demikian itu] supaya kamujangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamujangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.DanAllah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

[QS. al-Hadid:22-23]

Lihat Nikmat yang Tersisa

Termasuk salah satu terapi dalam menghadapi musibah adalah dengan caramelihat seberapa musibah dan seberapa besar nikmat yang telah diterima.Maka akan didapati bahwa Allah subhanahu wata’ala masihmenyisakan baginya yang semisal dengannya, atau malah lebih baik lagi.Dan jika seseorang bersabar dan ridha maka Allah subhanahu wata’alaakan memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yanghilang dalam musibah, bahkan mungkin dengan berlipat-lipat ganda. Danjika Allah subhanahu wata’ala menghendaki maka akan menjadikanlebih dan lebih lagi dari yang ada.

Musibah Menimpa Semua Orang

Merupakan obat yang sangat bermanfaat di kala musibah sedang menimpaadalah dengan menyadari bahwa musibah itu pasti dialami oleh semuaorang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan didapati di sana orangyang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana adaorang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yangberakal kalau mau memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akanmendapati kecuali di sana pasti ada ujian hidup, entah denganhilanganya barang atau orang yang dicintai atau menemui sesuatu yangtidak mengenakkan dalam hidup.

Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur ataubayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orangtersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang.Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat dukasepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saatakan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhidengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Pada setiapkegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengankebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan. Berkata pulaIbnu Sirin, Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali setelahnyapasti akan ada tangisan.

Hindun binti an an-Nu'man berkata, Kami melihat bahwa kami adalahtermasuk orang yang paling mulia dan memiliki harta paling banyak,kemudian matahari belum sampai terbenam sehingga kami telah menjadiorang yang paling tidak punya apa-apa. Dan merupakan hak Allah

subhanahu wata’ala bahwa tidaklah Dia memenuhi suatu rumah dengankebahagiaan, kecuali akan mengisinya pula dengan kesedihan. Danketika seseorang bertanya tentang apa yang menimpanya maka diamengatakan, Kami pada suatu pagi, tidak mendapati seseorang pun diArab kecuali berharap kepada kami, kemudian kami di sore harinya tidakmendapati mereka kecuali menaruh belas kasihan kepada kami.

Keluh Kesah Melipatgandakan Penderitaan

Di antara obat untuk menghadapi musibah adalah dengan menyadari bahwakeluh kesah tidak akan dapat menghilangkan musibah. Bahkan hanya akanmenambah serta melipatgandakan sakit dan penderitaan.

Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran

Termasuk Obat ketika tertimpa musibah adalah dengan mengetahui bahwahilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar danlebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnyakesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan,rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tigahal itu dalam sikap sabar dan istirja' [mengembalikan urusan kepadaAllah].

Sumber: “Ilaj harril musibah wa huzniha,” Imam Ibnul Qayyim[KM]

Artikel Kala Musibah Menimpa diambil dari http://www.asofwah.or.id
Kala Musibah Menimpa.

Kurban Disyariatkan Bagi Setiap Keluarga, Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

Kumpulan Artikel Islami

Kurban Disyariatkan Bagi Setiap Keluarga, Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing Kurban Disyariatkan Bagi Setiap Keluarga, Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

Kategori Kurban Dan Aqiqah

Minggu, 9 Januari 2005 14:25:08 WIBTATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN KURBANOlehShidiq Hasan KhanBagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3][1]. DISYARIATKAN BAGI SETIAP KELUARGABerdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata :"Artinya : Di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya." [1] [Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah [2] dengan sanad shahih]Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa'i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Artinya : Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan [udhiyah]" [3]. [Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah 'Amir. Al-Khaththabi berkata : majhul [4].Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan [beliau] berkata : "Saya tidak menyukai seseorang yang kuat [sanggup] untuk membelinya [binatang kurban] lalu dia meninggalkannya" [5] Dan demikian pula Imam Syafi'i berpendapat.Adapun Rabi'ah dan Al-Auza'i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha'iy.[6].Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya [berkurban] berpegang pada hadits :"Artinya :Tiap-tiap ahli bait [keluarga] harus ada sembelihan [udhiyah] ".Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata :"Para perawinya tsiqah [terpercaya] namun diperselisihkan marfu' dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar [jika dikatakan] mauquf.Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya, [7] berkata : "Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan [untuk berkurban] lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami."Diantara dalil yang mewajibkan [berkurban] adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah". [8].Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung [9].Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain [10] dan lainnya, berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan [menyebut] nama Allah".Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. [11]Berdasarkan dengan hadits :"Artinya : Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkurban untuk orang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas" [12].Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi' dengan sanad yang hasan. Jumhur berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah [keterangan] yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.Tidak diragukan lagi bahwa [keduanya] mungkin untuk dijamak [gabung]. Yaitu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki [tidak mampu menyembelih] sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits :"Artinya : Orang yang tidak menyembelih dari umatnya".Dengan hadits."Artinya : Atas setiap keluarga ada kurban".Adapun hadits :"Artinya : Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian". [13]Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha'if sekali.[2]. KURBAN DILAKUKAN PALING SEDIKIT SEEKOR KAMBINGBerdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata :"onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka [dengan seekor kambing itu] mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah [sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban] bagi setiap keluarga, dan sunnah 'ain [setiap orang] bagi yang tidak memiliki rumah [keluarga].Menurut [ulama] Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa'atnya.[14]Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. [15]Dan tidak ada kurban untuk janin [belum lahir]. Ini adalah perkataan ulama. [16][Disalin dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M]_________Foote Note.[1]. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546.[2]. Di dalam kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis "syariihah" dengan hurup syin. Ini adalah salah, yang benar adalah "Sariihah" dengan hurup siin, seperti yang terdapat pada kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah II/2547 dengan lafadz : Keluargaku membawaku kepada sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dengan satu dan dua ekor kambing, dan sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.[3]. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi'iy : Terdapat 4 bahasa dalam penyebutan Udhiyah dan Idhiyah .... dst [Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.[4]. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal .... [Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-'Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul 'Ashimah, Al-Mamlakah Al-'Arabiyah As-Su'udiyah].[5]. Muwatha ' Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha' Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.[6]. Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.[7]. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. [Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta'liq Al-Mubarakfuri, cet. Jam'iyah Ihya At-Turats Al-Islami]. Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a'lam.[8]. Al-Qur'an Surat Al-Kautsar : 2[9]. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a'laam. [Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah][10]. Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a'aada, X/12 No. 5562, dan Muslim kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.[11]. Saya belum mendapatkan ada yang semakna dengan hadits tersebut. Diriwayatkan dari Al-Barra' bin 'Azib seperti dalam Shahihain dan kitab-kitab Sunan. Wallahu a'lam.[12]. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa'a anna asy-syah al-wahidah tujzi'u'an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah dan Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha 'An Jama'ah, No. 2810, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Abu-Dawud : II/2436, dan Irwa' al-ghalil, IV/1138.[13]. Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi'. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.[14]. Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.[15]. Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur'an. [Lihat Al-Mu'jam Al-Wasith : 978][16]. Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi'iyah dan Hanabilah. [Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1287&bagian=0


Artikel Kurban Disyariatkan Bagi Setiap Keluarga, Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing diambil dari http://www.asofwah.or.id
Kurban Disyariatkan Bagi Setiap Keluarga, Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing.

Setelah Sekian Tahun Berdialog, Wanita Ukraina ItuAkhirnya Memeluk Islam!

Kumpulan Artikel Islami

Setelah Sekian Tahun Berdialog, Wanita Ukraina ItuAkhirnya Memeluk Islam! Ketika itu awal tahun ajaran baru, universitastelah membukakan pintunya untuk menerima mahasiswa-mahasiswa baru,termasuk aku. Mata kuliah pertama dimulai dan aku memasuki ruangkuliahku. Aku duduk dan disampingku duduk pula seorang wanita mudayang dianugerahi Sang Pencipta kecantikan yang luar biasa, siapa punpasti akan terkesima memandangnya.

Di sela-sela mata kuliah, aku memperkenalkan diri kepadanya danmenanyakan namanya. Ia menjawab dengan tersenyum yang menunjukkanbetapa lembut dan halusnya pergaulannya. Kami pun kemudian larut dalampercakapan. Pembicaraan kami menyentuh masalah mata kuliah, kehidupan,hobi dan sebagainya. Dari logatnya, aku tahu ia wanita asing. Ia tidakbisa berbahasa Arab dan hanya menggunakan bahasa Perancis, itu puntidak lancar. Aku akhirnya tahu pula bahwa ia tidak tinggal di negeriArab di mana kami tinggal dan belajar. Ia datang dari negeri yang jauh,suhu udaranya sangat dingin, sering diselimuti salju di lereng-lerengdan perbukitannya. Barangkali juga menyelimuti pula hati sebagianpenduduknya. Ia berasal dari Ukraina.!!

Hari-hari pun berlalu sementara hubungan kami lambat laun semakinakrab hingga akhirnya menjadi teman dekat. Dari pertemanan itu, akumengetahui ia penganut agama Kristen Orthodoks. Diam-diam aku gunakankesempatan ini untuk menawarkan Islam kepadanya tetapi segenap upayakuuntuk meyakinkannya gagal. Penyebabnya amatlah aneh sekaligusmenyedihkan.!!

Apa yang aku informasikan kepadanya mengenai Islam tidak sinkron samasekali dengan kondisi kaum muslimin yang dilihatnya. Andaikata iaberada di negeri asing [non Islam] lainnya tentu kondisinya palingtidak akan lebih mudah sebab ia bisa membandingkan antara jurangkehidupan asing dan toleransi dan peradaban Islam. Hasilnya, dapatdipastikan akan berpihak pada kebenaran dan agama al-Haq.

Masalahnya, aku sangat sedih karena agama yang aku ceritakan kepadanyaadalah juga agama yang sering ia berinteraksi dengan para pemeluknyadi negerinya. Ia sering melihat mereka berpuasa Ramadhan, shalat,berhari raya, dan seterusnya.

Manakala aku berbicara kepadanya mengenai agama kejujuran, amanah dankasih sayang, realitanya ia melihat dan mendengar sendiri kebohongandan kecurangan di dalam praktik ujian, kebiasaan menggunjing danmengadu domba dari para pemeluknya sendiri!!

Manakala aku berbicara kepadanya mengenai agama yang memiliki akhlakyang mulia dan kesucian, realitanya ia melihat kaum wanita dan kaumlaki-laki dari para penganutnya melakukan gaya hidup ‘permisivisme’.Betapa banyak orang yang mengaku beragama Islam mengajaknya pergikeluyuran dan meminta kepadanya minuman keras padahal Islam melarangkhamer dan zina!!!

Manakala aku berbicara kepadanya mengenai agama yang menganjurkanuntuk bekerja, bersemangat dan bersungguh-sungguh, realitanya iamelihat kemalasan dan keterbelakangan mewarnai setiap pojok. Amatkontras dengan konsep agama ini sendiri.

Di sisi lain, sangat disayangkan ketika ia melihat laki-laki danwanita yang komit hidup malah mengisolir diri dari keramaian manusiadan lingkungannya. Mereka seakan menganggap Islam hanyalah sebataspakaian dan perkara ibadah, mengingkari orang lain dan menjauhi apayang mereka lihat salah dan menyimpang. Jadilah dalam interaksi merekadengan orang lain seakan sedang menjauhi penyakit menular danberbahaya yang ada pada orang lain tersebut. Penyakit yang harusdiberantasnya, diisolir dan diajuhi sejauh-jauhnya.!!! Padahal Islamadalah agama nasehat, petunjuk, kerja dan memberi. Rasulullah SAWsendiri bersabda, “Agama itu adalah Mu’amalah [interaksi].” Dandalam lafazh yang lain, “Agama itu adalah nasehat.”

Jadi antara Islam dan umat Islam seakan ada dua sisi ‘ekstrem’;ekstrem lentur [tidak berpendirian] dan jauh dari ajaran-ajaran Allah.Satu lagi, ekstrem orang yang mengira bahwa mereka berada di ataskebenaran dengan membatasi agama hanya pada perkara-perkara ibadahsaja atau dapat disebut dengan ‘egois’.

Inilah kerumitan tema besar ini. Menurut dia, selama seseorangberpegang pada suatu prinsip tertentu dalam kehidupannya, maka sudahseharusnya pengaruh-pengaruh dari prinsip dan aqidahnya itu tampakpada dirinya. Bila suatu prinsip itu benar, maka hasilnya pun akanmenjadi positif sedangkan bila hasilnya negatif, maka metode yangdiikuti itu adalah salah besar.

Dalam hal ini, aku harus membuktikan hal yang sebaliknya danmenampakkan kepadanya kesalahan judgment-nya terhadap agamayang paling utama bagi seluruh umat manusia ini; ISLAM.

Seiring dengan bergeraknya lika-liku kehidupan, mata kuliah yangbertumpuk dan ujian demi ujian kuliah, kami akhirnya sedikit menjauhdari tema tersebut. Dan selang tak berapa lama kemudian, kamiditakdirkan untuk berpisah…

Kira-kira dua atau tiga tahun pun berlalu dengan cepat. Rupanya, dalammasa itu, Allah menghendaki kami bertemu kembali. Cuma kali inisedikit berbeda, kalau dulu aku belum banyak memahami masalah agamadan belum mengenakan hijab, kali ini aku sudah mengenakannya aliassecara mental aku merasa sangat siap. Ketika bertemu, ia begitu kagetmelihat perubahan pada diriku dan lantas bertanya-tanya tentang sebabkeputusanku tersebut. Saat itulah, aku menggunakan kesempatan baru inidengan penuh rasa percaya diri akan lebih mampu membuatnya puas danyakin sebab aku merasa pengetahuan agamaku pun sudah lebih luas darisebelumnya, di samping nikmat yang Allah anugerahkan kepadaku hinggadapat berkomitmen dengan ajaran agama-Nya.

Benar saja, kali ini amat banyak berbeda dengan di masa-masa lalu. Ialebih memperhatikan dan lebih khusyu’ mendengarkan. Aku terusberbicara dan berbicara. Lalu….tiba-tiba ia menangis terisak-isak!Rupanya selama perpisahan itu ia telah melalui hidup yang amat sulitdan ditimpa berbagai masalah. Pada dasarnya, apa yang aku bicarakanhanya seputar Allah, dien, iman dan kedamaian yang diberikan Islam.Sepertinya ia tergerak untuk melakukan sesuatu tapi kemudianmengurungkannya. Seakan aku telah berbicara kepadanya mengenai‘pelabuhan aman’ yang ia dapatkan dirinya amat membutuhkannya namun iatidak tahu bagaimana bisa sampai ke sana. Bahkan takut untuk mengambillangkah. Kebingungannya semakin bertambah, khususnya bahwa penyebabpermasalahan yang dialaminya adalah orang-orang yang selama inimengatakan bahwa mereka adalah orang-orang Islam.!!!

Kami pun kembali berpisah. Dan, tahun ini -setelah dua tahun berlalu-,kami bertemu kembali saat kami akan menyelesaikan studi. Tetapi bagiku,pertemuan kali ini adalah pertemuan yang amat menentukan, sebab iaakan mendiskusikan skripsi yang dibuatnya dan akan menikah denganseorang Muslim lalu bersama suaminya itu nanti akan pergi ke negaraselatan. Pertemuanku dengannya ini barangkali yang terakhir kali danlamanya tidak akan lebih dari 3 minggu.

Aku berdoa kepada Allah SWT dengan segenap hati semoga Dia membukakanpintu hidayah untuknya. Ia seorang wanita yang pintar, lembut danmemiliki sifat-sifat terpuji yang demikian banyak. Aku bertawakkalkepada Allah, Yang Maha Hidup lagi Maha Berkuasa, meminta taufiqdari-Nya. Tatkala aku sudah berancang-ancang untuk mendakwahinyakembali, terbersit di hatiku untuk meminta bantuan salah seorangtemanku di situs ‘islamway’. Ia seorang pemuda yang menyumbangkankehidupannya untuk mendakwahi orang-orang Rusia ke dalam Islam. Akuberitahukan kepadanya perihal kerumitan yang aku hadapi via internetdan meminta nasehatnya karena menganggapnya lebih mengetahui kondisiorang-orang di kawasan tersebut. Aku jelaskan kepadanya bahwa waktukusangat sempit sekali dan aku sudah bertekad harus berhasil dalammisiku kali ini.

Lalu kami sepakat untuk melakukan beberapa langkah, terutama sekali,meyakinkan teman wanitaku tersebut agar tidak membanding-bandingkanIslam dengan kondisi sebagian umat Islam yang dilihatnya. Selanjutnyamenegaskan kepadanya agar mengenal Islam yang hakiki yang tidaktercemari oleh apa pun. Dalam hal ini, aku disarankan agar mengenalkankepada teman wanita itu beberapa situs dakwah berbahasa Rusia. Karenaitu, aku harus mengirimkannya ke emailnya. Untung saja, aku bertemudengannya sebelum itu. Pertemuan itu adalah pertemuan yang hangatsebab sebentar lagi kami akan berpisah untuk waktu yang lama.Persahabatan kami selama beberapa tahun berlalu dihiasi dengan rasakasih sayang dan kecintaan. Kami akhirnya bertukar cerita dan pikiran.Kemudian aku bertanya kepadanya secara terus terang, “Bagaimanakondisimu dengan Islam.” Ia tertawa seraya berkata, “Kamu masihmenyinggung masalah itu.” “Aku tidak akan menyerah, mari kitaselesaikan masalah yang masih mengganjal di antara kita, “ pintaku.

Kami mengambil tempat untuk duduk-duduk. Aku katakan kepadanya,“Biarkan kita pecahkan kerumitan itu kali ini.!” Akhirnya, kamiberbicara tentang wujud Allah [Di saat-saat merasa dirinya tak berdaya,ia sering mengingkari wujud-Nya dengan alasan setiap ia berhajatkepada-Nya, tidak pernah doanya dikabulkan]. Kami kemudian sepakatatas masalah ‘wujud’ Allah ini. Aku berbicara lagi mengenai keberadaandunia dan akhirat serta tujuan keberadaan manusia, bahwa ia nantinyaakan dihisab dan juga tentang surga. Namun betapa terkejutnya akuketika ia menyeletuk, “Kalau begitu, aku lebih memilih pergi ke nerakabersama bangsaku, orang-orang Rusia daripada harus pergi ke surgabersama mereka [maksudnya, kaum muslimin Rusia].!!”

Jelas sekali, kerumitan itu masih tetap mengganjal. Aku mencoba untukmencontohkan kepadanya, “Dunia ini penuh dengan orang-orang yangmenamakan diri mereka orang-orang masehi dan secara logika,orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang menganut agama al-Masih,‘Isa dan al-‘Azra’, Maryam!!”

Aku melanjutkan, “Akan tetapi apakah masuk akal, sebuah bangsa yangmenganut agama paling suci dan wanita paling suci yang dikenal umatmanusia, yang dipilih Allah karena kesuciannya tetapi tidak berakhlakdan berbudi pekerti, di tengah masyarakatnya marak semua kebobrokan,penyakit sosial dan dekadensi moral Apakah pantas kita memvonis suatuagama dan manhaj langit sebagai ajaran batil hanya karena kesesatansebagian para pengikutnya Maka demikian pulalah halnya dengan Islam,agama yang telah Allah SWT pilih dari sekian agama. Kita tidak berhakmemvonisnya berdasarkan kesalahan yang dilakukan sebagian parapengikutnya dan mereka-mereka yang tidak memahami makna danprinsip-prinsipnya yang toleran hanya lantaran satu dan lain sebab.!“

Kemudian kami beralih ke pembicaraan mengenai hubungan antara hambadan Rabbnya sembari menekankan bahwa hal paling ringan yang perludilakukan seorang hamba adalah mensyukuri nikmat-nikmat yangdianugerahkan Allah atasnya sebab Dia adalah Pencipta manusia yangmengaruniakan kepada mereka segala sesuatu.

Dalam pembicaraanku dengannya, aku memfokuskan pada hubungan cintatimbal balik yang harus terjadi antara seorang hamba dan Rabbnya danbagaimana seorang manusia wajib percaya penuh kepada Sang Pencipta,Yang memuliakannya.

Kami juga berbicara tentang faedah shalat yang menekankan hubunganantara hamba dan Rabbnya. Aku berusaha untuk mendekatkan pemahamanseputar hubungan tersebut dengan menyebutkan bagaimana seorang Muslimmenghayati shalatnya, ketundukan, doa dan dzikirnya serta bagaimanaAllah SWT akan mengingat orang yang mengingat-Nya, mengampuni danmenganugerahinya nikmat di dunia dan akhirat.

Temanku yang cantik itu mendengarkan dengan serius semua itu. Kemudianaku tanyakan kepadanya apakah ia paham isi dari apa yang aku paparkan.Ia menjawab, ‘Ya’ dan mengaku lebih puas dari sebelum-sebelumnya. Saatitu aku mempergunakan kesempatan itu untuk bertanya kepadanya, apakahia beriman kepada wujud dan keesaan Allah SWT. Rupanya ia menjawab, ‘Ya.’Dan ketika aku tanyakan lagi, apakah ia juga beriman kepada keberadaanmalaikat dan silih bergantinya utusan Allah yang datang di manaMuhammad SAW adalah nabi terakhir-Nya. Ia kembali menjawab, ‘Ya.’ Akutanyakan lagi, apakah ia juga beriman kepada hari akhir dan hariperhitungan, maka ia pun menjawab, ‘Ya.’ Tak berapa lama, ia pun takdapat menahan lagi untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan memelukIslam.

Betapa bahagianya aku ketika mendengarkan ia mengucapkan syahadat,

‘Asyhadu Anlaa Ilaaha Illallaah, Wa Anna Muhammadan Rasuulullah’ [Akubersaksi bahwa tiada tuhan-Yang berhak disembah- selain Allah danMuhammad adalah Rasulullah]. Inilah akhir yang kunanti-nanti dan kinibenar-benar telah teralisasi…..

Akan tetapi kemudian aku lebih khawatir lagi apa yang nantinya akanterjadi setelah itu, yaitu bahwa ia menyatakan hal itu semata sebatasbasa-basi kepadaku sehingga tema yang selama ini kami perbincangkanberhenti hingga di sini saja. Aku khawatir, bahwa saat menyadarinyaternya mendapati dirinya masih berpegang dengan agama lamanya.

Setelah pertemuan itu, aku pergi untuk membeli beberapa buku sakuIslam berbahasa Perancis guna kuhadiahkan kepadanya. Kemudian, akupergi ke WARNET untuk mengirim sms kepadanya via situs-situs Islamberbahasa Rusia sebagaimana yang dipesankan teman seperjuangan dalamdakwah beberapa waktu lalu. Aku juga memberitahukan kepada temankuyang aktifis dakwah itu bahwa wanita ukraina, temanku itu telah masukIslam.

Selanjutnya, aku menunggu balasan dari temanku yang sudah masuk Islamitu dengan sabar dan ketika ia sudah membalasnya, aku seakan dibawaterbang sebab semangatnya untuk mengenal lebih banyak lagi tentangIslam dan betapa senangnya ia dengan situs-situs yang aku sebutkan itusungguh luar biasa. Ketika itu, tahulah aku bahwa ia memangbenar-benar serius masuk Islam. Karena itu, aku sangat bersyukursekali kepada Allah… Akhirnya, wanita Ukraina itu masuk Islam…!!

[Sumber: Dari sebuah situs Islam berbahasa Arab]

Artikel Setelah Sekian Tahun Berdialog, Wanita Ukraina ItuAkhirnya Memeluk Islam! diambil dari http://www.asofwah.or.id
Setelah Sekian Tahun Berdialog, Wanita Ukraina ItuAkhirnya Memeluk Islam!.

Pelajaran Tentang Manhaj Salaf 2/2

Kumpulan Artikel Islami

Pelajaran Tentang Manhaj Salaf 2/2 Pelajaran Tentang Manhaj Salaf 2/2

Kategori Manhaj

Jumat, 15 Oktober 2004 09:53:17 WIBPELAJARAN TENTANG MANHAJ SALAFOlehAsy Syaikh Abdullah bin Shalih Al-UbailanBagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2POKOK-POKOK MANHAJ SALAFDalam Masalah Aqidah/Keyakinan[1]. Dalam masalah pengambilan I'tiqad [keyakinan] mereka membatasi pengambilan hanya dari Kitabullah [Al Qur'an] dan Sunnah hadits] Rasulullah.[2]. Mereka berhujjah dalam maslah aqidah dengan hadits-hadits shahih, dan mereka tidak membedakan antara hadits Mutawatir [periwayat haditsnya banyak], dengan hadits ahad [periwayat haditsnya hanya satu]. Dan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, dimana hadits-hadits tersebut terdapat pembicaraan tentang kesahihannya, tidaklah mereka cantumkan [dalam kitab-kitab mereka] untuk menetapkan pokok-pokok atau dasar-dasar, akan tetapi hanyalah untuk memperlihatkannya sebagaimana mereka tulis hadits-hadits itu dengan sanad-sanadnya.[3]. Mereka [yang berpegang pada metode salaf] memahami nash-nash [teks-teks ayat dan hadits] berdasar dengan perkataan Salafush Shalih, tafsir-tafsir [keterangan-keterangan] Salafush shlaih, dan nukilan-nukilan mereka.[4]. Menyerah dan tunduk terhadap wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala [Al Qur'an] dan memberikan pada akal pikiran fungsinya yang hakiki, dan tidak mendalami perkara yang ghaib, yang mana akal tidak sampai padanya.[5]. Tidak memperndalam dalam ilmu kalam dan falsafah serta menolak penakwilan secara ilmu kalam.[6]. Mengumpulkan di antara nash-nash pada satu masalah.BEBERAPA KEISTIMEWAAN AQIDAH SALAF YANG DENGANNYA IA TAMPIL BEDA DARI FIRQAH [KELOMPOK] LAINNYA.[1]. Aqidah Salaf diambil dari â€Å"mata air yang jernih” yaitu Al Qur'an dan Al Hadits jauh dari kotoran hawa nafsu dan subhat-subhat [kesamaran-kesamaran] dan tidak ada ta'wil-ta'wil yang dikutip dari luar.[2]. Aqidah Salaf akan meninggalkan dalam jiwa rasa tenang dan tentram, dan menjauhkan seorang muslim dari keragu-raguan serta dugaan-dugaan.[3]. Aqidah Salaf menjadikan kedudukan seorang muslim, sebagaimana kedudukan seorang yang mengagungkan Al Qur'an dan sunnah. Karena ia mengetahui bahwa segala apa yang terdapat dalam Al Qur'an dan hadits [yang shahih] adalah haq yang benar dan pada yang demikian itu terdapat keselamatan yang besar, dan keistimewaan yang besar.[4]. Aqidah Salaf akan membentuk suatu sifat yang telah diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu sifat yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" [An-Nisa : 65][5]. Aqidah Salaf akan menghubungkan dan mengikat seorang muslim dengan Salafush Shalih.[6]. Aqidah Salaf akan menyatukan barisan-barisan kaum muslimin dan menyatukan kalimat mereka, karena aqidah Salaf melaksankan firman Allah."Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" [Ali Imran : 103][7]. Dalam aqidah Salaf terdapat keselamatan bagi orang yang berpegang padanya, serta memasukkannya dalam golongan orang yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kemenangan di dunia, serta keselamatan di akhirat.[8]. Bahwa berpegang teguh dengan aqidah Salaf adalah salah satu sebab yang terbesar untuk kokoh dalam agama.[9]. Aqidah Salaf sangat memberi pengaruh yang besar pada perangai dan akhlaq orang yang berpegang teguh padanya. Kemudian aqidah Salaf juga merupakan sebab yang terbesar untuk istiqomah pada agama Allah Subahanhu wa Ta'ala.[10]. Aqidah Salaf adalah sebab yang terbesar dalam mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan mendapatkan keriadhaanNya kemudian apa telah kita bicarakan ini menggiring kita kepada pembicaraan yang mempunyai hubungan erat dengan pembahasan diatas ; yaitu :KEKHUSUSAN MANHAJ SALAF[1]. Kekokohan Salafush Shalih di atas kebenaran dan tidak adanya sikap berpindah-pindah [berbalik] sebagaimana sikap ini adalah adat kebiasaan Ahlul hawa [para pengikut hawa nafsu]. Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu berkata kepada Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:â€Å"Sesungguhnya kesesatan yang benar-benar sesat adalah engkau mengetahui [menganggap baik]apa yang tadinya engkau ingkari, dan engkau mengingakri apa yang tadinya engkau ketahui, hati-hatilah engkau dari sikap yang berganti dalam agama, karena sesungguhnya agama Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu”.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : â€Å"Secara global [dapat dikatakan] kekokohan dan kemantapan pada ahli hadits dan sunnah. Berlipat ganda dari apa yang terdapat pada ahli kalam dan falasifah".Yang demikian itu sebagai bukti bahwa apa yang menjadi pijakan mereka adalah kebenaran dan petunjuk.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Sesungguhnya apa yang terdapat pada kaum awam muslimin dan kalangan Ahlus Sunnah Waljama'ah berupa pengetahuan, keyakinan dan ketenangan, tetapnya dalam kebenaran, perkataan yang kokoh dan pasti, adalah perkara yang tidak dapat di ingkari kecuali oleh orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala lenyapkan akal dan agamanya".[2]. Sepakatnya Salafush Shalih dalam masalah aqidah dan tidak adanyaperselisihan di antara mereka [dalam masalah aqidah] meskipun zaman dan tempat mereka berbeda. Imam Al Asbahani menggambakan sifat ini dengan perkataannya :"Dan sebagian dalil yang menunjukkan bahwasanya ahli hadits berada di atas al-haq adalah, jika engkau menelaah seluruh kitab-kitab mereka yang ditulis sejak generasi awal hingga generasi akhir, dengan perbedaan negara dan zaman mereka, serta jauhnya jarak tempat tinggal antar mereka, masing-masing mereka tinggal pada benya yang berlainan, kamu akan dapati mereka dalam menjelaskan masalah I'tiqad [keyakinan] mereka berada dalam satu cara dan satu jalan. Mereka berjalan diatas satu jalan dengan tidak menyimpang dan berbelok, perkataan mereka tentang I'tiqad adalah satu, dan keluar dari lisan yang satu. Serta nukilan mereka satu, kalian tidak akan jumpai perbedaan diantara mereka meskipun sedikit. Bahkan jika engkau kumpulkan semua yang pernah terlintas di atas lisan-lisan mereka [yang mereka nukil dari salaf] engkau akan jumpai seakan-akan datang dari hati yang satu dan dari lisan yang satu pula. Maka adakah dalial yang lebih jelas dari yang menunjukkan akan kebenaran [mereka] "[3]. Keyakinan ahli hadits bahwa jalan Salafush Shalih adalah lebih selamat, lebih mengetahui, lebih bijaksana, tidak sebagaimana perkataan yang dida’wahkan ahli kalam, bahwa jalan jalan Salafush Shalih lebih selamat sedangkan jalan khalaf [mereka yang hidup setelah salafus shalih] lebih mengetahui dan lebih bijaksana.Syaikhul Islam berkata dalam bantahannya terhadap perkara yang dibuat-buat ini : â€Å"Sungguh mereka telah berdusta atas jalan Salafush Shalih, dan mereka sesat dalam membenarkan jalan khalaf [mereka yang hidup setelah Salafus Shalih], maka mereka mengumpulkan antara kebodohan terhadap jalan Salafush Shalih dalam berdusta atas mereka dengan kebodohan serta kesesatan dalam membenarkan jalan khalaf”.[4]. Bahwa Salafush Shalih adalah manusia yang paling tahu pada keadaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, perbuatan dan perkataan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, oleh karena itu mereka adalah manusia yang paling cinta terhadap sunnah Nabi dan manusia yang paling bersemangat untuk mengikuti sunnah Nabi, dan manusia yang paling banyak loyalitasnya [pertolongan dan mengikuti] terhadapAhlus Sunnah.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Jika Rasulullah adalah makhluq yang paling sempurna dengan yang paling mengetahui hakikat-hakikat, dan yang paling lurus perkataannya dan keadaannya, maka sudah pasti manusia yang lebih mengetahui terhadap Rasulullah adalah makhluq yang lebih mengetahui tentang itu semua, dan adalah manusia yang paling banyak kesusaian dengan Rasulullah dan paling banyak menyontoh beliau adalah makhluq yang paling utama”.Yang demikian itu akan jelas, bahwa para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling berhak dan yang paling pantas untuk menjadi Tha’ifah Al Mansyurah [kelompok yang mendapat pertolongan] dan Firqatun Najiyah [kelompok yang mendapat keselamatan].Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : â€Å"Dengan ini akan jelas, bahwa manusia yang paling pantas menjadi Firqah Najiyah [golongan yang selamat] adalah ahli Hadits dan Sunnah, yang mana tidak ada pada mereka manusia yang mereka ta’ashub [fanatik] padanya kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan ahli hadits adalah manusia yang paling mengetahui terhadap perkataan dan keadaan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dan manusia yang paling mampu membedakan antara hadits yang shahih dan hadits yang tidak shahih”.Dan Imam-Imam ahli hadits adalah orang-orang yang faqih [mengerti] tentang hadits dan ahli dalam mengetahui makna-makna hadits [mereka] membenarkan, mengamalkan dan cinta [terhadap hadits-hadits itu] dan bersikap loyal [memberikan pertolongan dan mengikuti] terhadap orang yang loyal kepada hadits, dan mereka memusuhi terhadap orang-orang yang memusuhi hadits-hadits.[5]. Dan yang paling istimewa dari keistimewaan Tha’ifah Al Mansyurah [kelompok yang selamat] adalah semangat mereka dalam menyebarkan aqidah shahihah dan agama yang lurus ini, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus para Rasul-Nya membawa agama Islam ini, dan keistimewaan yang lain adalah mengajar dan menunjuki manusia, serta menasihati mereka, disamping itu juga membantah orang-orang yang menyelisihi, serta membantah yang ahli bid’ah.[6]. Para Salafush Shalih berada pada sikap ditengah-tengah diantara firaq [kelompok-kelompok, Syaikhul Islam Ibnu Tiamiyyah berkata : â€Å"Posisi ahli sunnah dalam agama Islam seperti keadaan ahli Islam di antara agama-agama lain”.Kemudian beliau menjelaskan di tempat lainnya tentang sikap [posisi] ahli sunnah yang berada di tengah-tengah, beliau berkata :[a]. Mereka berada di tengah-tengah dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu antara Ta’til [mereka yang menolak adanya sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala] dan ahli Tamsil [mereka yang menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala], dengan sifat makhlukNya.[b]. Dalam masalah keyakinan terhadap ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka berada di tengah antara kelompok Murji’ah dan kelokpok Qadariyyah dan selain mereka.[c]. Dalam masalah yang membahas iman dan agama berada di tengah antara kelompok Khawarij serta Murji’ah dan Jahmiyyah.[d]. Dalam masalah Shahabat-Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di tengah antara kelompok Syi’ah Rafidhah dan kelompok Khawarij.[7]. Keistimewaan dari manhaj Salaf [yang lain] adalah sikap para Salafush Shalih yang berpegang teguh pada nama-nama dan istilah-istilah yang berdasarkan syari'at.[8]. Keistimewaan yang lain, para Salafush Shalih sangat bersemangat untuk berjama’ah serta bersatu, dan mereka menda’wahkan untuk itu, serta menganjurkan manusia padanya, dan membuang sikap perselisihan dan perpecahan, lalu memperingatkan manusia darinya, hal ini bisa dilihat dari nama mereka yang masyhur adalah "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah" [orang yang mngikuti Sunnah dan berjama'ah/bersatu] dan hal ini sebagaimana terdapat dalam pokok-pokok ilmu [ajaran mereka], demikian juga hal terwujud dalam kehidupan mereka dengan bukti nyata, diwujudkan dalam kehidupan mereka dengan bukti nyata, diwujudkan dan dan diamalkan.Selesai dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan shalawat serta salam [kita sampaikan] kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirrah Al-Islamiyah, edisi Th I/No : 05/1424/2003, Terjemahan dari Majalah Al-Ashalah edisi 23 hal 33]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1100&bagian=0


Artikel Pelajaran Tentang Manhaj Salaf 2/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Pelajaran Tentang Manhaj Salaf 2/2.