Kamis, 03 Juli 2008

Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul 2/2

Kumpulan Artikel Islami

Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul 2/2 Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul 2/2

Kategori Mabhats

Rabu, 23 Juni 2004 09:23:57 WIBPENYEGERAAN KEHANCURAN BAGI PARA PENENTANG RASULOlehSyaikh Abdul Malik bin Muhammad Al-JazairiBagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]Ibnu Sa'ad, Baihaqi, Ahmad dan lainnya meriwayatkan dengan sanad-sanad dari sejumlah sahabat [sebagian hadits mereka tercantum dalam hadits yang lain]. Mereka berkata : "Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Abdullah bin Khudzaifah As-Sahmi, ia adalah salah satu dari enam utusan yang diutus Rasulullah kepada raja-raja, [ia diutus] kepada raja Persia untuk mengajaknya kepada Islam, dan ia membawa sebuah surat untuk raja Persia.Abdullah berkata : "Maka akupun memberikan surat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada raja Persia, kemudian mengambil surat tersebut lalu merobek-robeknya, maka tatkala kabar itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a."Artinya : Ya Allah, robohkanlah kerajaannya"[Hingga disini Riwayat Bukhari dalam Shahihnya, akan tetapi tambahan do'a dalam hadits ini adalah mursal mennurutnya]Kemudian raja Persia tersebut menulis surat kepada seorang Gubernurnya di Yaman yang bernama Badzan : "Hendaknya engkau mengutus dua orang yang kuat kepada lelaki ini [yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam] yang berada di Hijaz, lalu sampaikanlah berita tentangnya kepadaku".Maka iapun mengutus dua orang utusannya, dan membekali keduanya dengan sebuah surat [untuk disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam]. Tatkala keduanya tiba di Madinah, merekapun lantas menyerahkan surat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum, dan mengajak mereka untuk masuk Islam [sedang mereka gemetar ketakutan], dan dalam satu riwayat, tatkala Nabi melihat kumis mereka dipintal, sedang rambut di pipi dan jenggot mereka di potong, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berpaling dari mereka dan berkata : "Celaka kalian ! siapakah yang memerintahkan kalian berbuat seperti ini [yaitu memintal kumis dan mencukur rambut pipi dan jenggot]". Mereka berkata :"Yang memerintahkan kami adalah Tuhan kami" [yang mereka maksud adalah Raja Persia]", maka Nabi pun menjawab : "Akan tetapi Rabbku menyuruhku agar aku memelihara jenggotku dan supaya aku memotong kumisku". Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Kembalilah kalian ! dan datanglah besok supaya aku kabarkan kepada kalian apa yang aku ingin kabarkan". Kemudian mereka berduapun datang pada keesokan harinya, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Sampaikanlah pada saudara kalian [Badzan] bahwasanya Rabbku [Allah Subhanahu wa Ta'ala] telah membunuh Tuhannya [yaitu Raja Persia] tadi malam".Maka merekapun mendapati hal itu sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [As-Shahihah Al-Albani 1429]Di dalam kisah ini Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengetahui akan kebinasaan Raja Persia disaat berani [menyobek] surat beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak menghormati beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. [Beliau mengetahui hal ini] karena Allah telah menetapkan untuk membinasakan orang yang membenci RasulNya, dan menyegerakan baginya kehancuran. Allah berfirman."Artinya : Sesungguhnya orang yang membenci kamu dialah yang terputus" [Al-Kautsar : 3]Dan kebenaran dari [sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam] bahwa raja Persia telah dibunuh oleh anaknya sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Baari. [7/733-734]Dan peristiwa ini adalah termasuk dari kesempurnaan mukjizat [dalam terjadinya] permusuhan di antara komponen umat yang satu. Bagaimana tidak sedangkan pada peristiwa yang terjadi di atas adalah dalam satu rumah, hal ini adalah bukti firman Allah dalam surat Al-Maidah : 64"Artinya : Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat"Dan bandingkanlah kisah raja Persia dengan raja Romawi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan lainnya, di dalamnya terdapat perkataan raja Romawi pada Abu Sufyan tentang diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [ .... kalau apa yang engkau ucapkan itu benar, ia [Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam] akan menguasai tempat kedua kakiku ini [kedudukannya]. Dan aku telah mengetahui kalau dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka kalau dia berasal dari golongan kalian, seandainya aku tahu kalau aku akan sampai kepadanya tentulah aku akan menentukan pertemuan dengannya. Dan seandainya aku berada disampingnya tentu aku akan mencuci kedua kakinya ....].Imam Ibnu Taimiyah berkata : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menulis surat kepada raja Persia dan Romawi, dan keduanya tidak masuk Islam, akan tetapi raja Romawi memuliakan surat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga utusan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka negerinya tetap jaya, sehingga dikatakatan bahwa kerajaan itu tetap ada pada anak keturunannya hingga hari ini.Adapun raja Persia telah merobek surat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menghina beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Allah menghancurkan kerajaannya dengan sehancur-hancurnya sehingga tidak terdapat setelah itu kerajaan Persia. Ini adalah bukti firman Allah."Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah orang yang terputus" [Al-Kautsar : 3]Maka siapapun yang membenci dan memusuhi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, niscaya Allah akan menghancurkannya dan membinasakan diri dan jejaknya.Dikatakan pula bahwa ayat ini turun tentang Al-'Ash bin Wail atau Uqbah bin Abi Mu'id atau juga tentang Kaab bin Malik Al-Asraf [mereka adalah orang-orang kafir yang binasa lantaran memusuhi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam]. Sedangkan engkau telah mengetahui azab Allah kepada mereka, telah disebutkan dalam pepatah yang umum."Artinya : Daging para ulama adalah racun"Maka bagaimanakah dengan daging para Nabi [As-Sorim Al-Maslul hal. 164-165 Fathul Baai I/44]Aku [penulis] berkata : "Perhatikanlah perkataan sesungguhnya kerajaan itu tetap ada dengan akan keturunannya hingga ini, dengan perkataan Hiraclius sesudah membaca surat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam riwayat di atas :" Wahai sekalian rakyat Romawi apakah kalian ingin kejayaan dan kekokohan ditetapkan untuk kalian dan kalian memba'iat Nabi ini [ Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam] "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : "Yang mirip dengan hal ini adalah apa yang diceritakan oleh beberapa kaum muslimin yang dapat dipercaya, ahlu fiqih dan ilmu, tentang apa yang telah mereka alami berulang kali dalam pengepungan benteng-benteng dan kota-kota pesisir di Negeri Syam. Tatkala kaum muslimin mengepung Bani Asfar [bangsa Mongol] di zaman kita ini, mereka berkata : "Kami dahulu mengepung suatu benteng dan kota selama satu bulan atau lebih sehingga hampir putus asa, akan tetapi tiba-tiba nampak pada kami bahwa penduduknya mulai mencaci Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mencaci pribadi beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kami pun disegerakan dan dimudahkan untuk menkalukkan kota itu. Dan tidak sampai satu atau dua hari atau semisal itu, negeri itu ditaklukkan secara paksa dan terjadi peperangan besar".Mereka berkata pula : "Bahwasanya kami dulu bergembira [dan mengetahui tanda-tanda bahwa kemenangan akan disegerakan] di saat kami mendengar mereka melakukan hal itu [yaitu mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam] dan hati kami dipenuhi rasa marah atas apa yang mereka katakan [yaitu mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam].Sebagaimana diceritakan orang-orang yang terpercaya : "Bahwa kaum muslimin di barat keadaan mereka juga demikian. Dan sudah menjadi Sunatullah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala terkadang mengazab musuh-musuhNya dengan azab dari sisiNya, dan terkadang melalui para hamba-hambaNya yang beriman" [Masdar yang lalu hal : 117]Imam Ibnu Taimiyyah berkata : "Surat Al-Kautsar, alangkah agungnya surat ini ! dan alangkah banyak ilmu padanya meskipun surat ini pendek ! Hakekat maknanya bisa dimengerti dari akhir surat tersebut, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memutus segala kebaikan orang yang membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memutus penyebutannya, keluarga, dan hartanya. Maka rugilah ia di Akhirat kelak. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memutus kehidupannya sehingga tidak bermanfaat, [sehingga] ia tidak berbekal kebaikan untuk akhiratnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memutus hatinya, [hingga] ia tidak memperhatikan kebaikan, dan tidak mempersiapkan hatinya untuk mengetahui dan mencintai kebaikan serta beriman kepada RasulNya, dan terputus amalannya sehingga tidak ia tidak bisa menggunakannya dalam kataatan, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memutusnya dari penolong sehingga ia tak mendapatkan seorang penolong pun atau pembantu, dan memutusnya dari segala amal shalih yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga ia tidak dapat merasakan amal-amal shalih itu rasa manis dalam hatinya, meskipun dalam fisiknya ia melakukan amal-amal shalih itu namun hatinya kosong.Inilah balasan bagi orang yang membenci sebagian yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menolaknya karena hawa nafsunya, atau karena orang yang diikutinya, atau karena Shaikhnya, atau pemimpin, dan seniornya. Sebagaimana juga orang yang benci terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat, dan menakwilkannya tidak seperti yang dikehendaki Allah dan RasulNya, atau memahaminya sesuai dengan pemahaman madzhab dan kelompoknya, atau ia berangan-angan seandainya ayat-ayat sifat tidak diturunkan dan hadits tentang sifat-sifat [Allah] tidak disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tanda yang paling utama dari kebenciannya terhadap ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah tersebut, bahwa jika ia mendengar Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat dan hadits sifat itu untuk menunjukkan satu kebenaran, maka mereka kesal dan jengkel lantaran hal itu, lalu menentang dan lari dari [kebenaran itu], karena dalam hatinya ada kebencian dan penolakan terhadapnya, maka adakah kebencian terhadap Rasulllah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih besar dari pada hal ini !Dan demikian pula kutipan-kutipan ucapan manusia atau ilmu mereka yang berkata jelek terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, maka jika ia tidak membenci terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tentu ia tidak melakukannya, hingga diantara mereka ada yang melupakan Al-Qur'an setelah menghafalnya dan disibukkan dengan ucapan si Fulan dan si Fulan.Maka berhati-hatilah dan berhati-hati !! wahai manusia dari membenci sebagian apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau engkau menolaknya hanya karena hawa nafsumu, atau demi menolong madzhab atau Syaikhmu, atau karena kesibukanmu dengan syahwat dan dunia, karena Allah tidak mewajibkan seseorang taat kecuali pada RasulNya dan mengambil apa-apa yang datang darinya. Dimana sekiranya seseorang menyelisihi semua manusia, lalu hanya mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka Allah tidak akan menanyai [sikapnya yang] menyelisihi manusia tersebut.Karena barang siapa yang taat atau ditaati, dia ditaati tiada lain hanyalah karena mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seandainya tidak, maka jika ia memerintahkan suatu perintah yang menyelisihi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tidaklah boleh ditaati.Maka ketahuilah hal itu ! dengarlah serta taatilah ! ikutilah, dan jangan membuat bid'ah [perkara baru dalam agama] ! yang mengakibatkan kamu terputus dan tertolak amalanmu ! bahkan tidak ada suatu kebaikan dalam amal yang terputus dari itiba' [yang terdapat contoh dan dalilnya], dan tidak ada kebaikan bagi pelakunya, Wallahu 'alam. [Majmu 'Fatawa 16/526-529][Disalin dari Majalah : Al Ashalah, diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 04/ 2003 - 14124H,Terbitan Ma'had Ali Al-Irsyad Surabaya

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=845&bagian=0


Artikel Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul 2/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Penyegeraan Kehancuran Bagi Para Penentang Rasul 2/2.

Tidak Boleh Membuka Tempat Praktek Pembacaan Ruqyah

Kumpulan Artikel Islami

Tidak Boleh Membuka Tempat Praktek Pembacaan Ruqyah Apa pendapat Syaikh tentang orang yang membukapraktek pengobatan dengan bacaan ruqyah?

>> Jawaban :

Ini tidak boleh dilakukan; karena ia membuka pintu fitnah, membukapintu usaha bagi yang berusaha melakukan tipu mus-lihat. Ini bukanlahperbuatan as-salafush shalih bahwa mereka membuka rumah atau membukatempat-tempat untuk tempat praktek. Melebarkan sayap dalam hal iniakan menimbulkan keja-hatan, kerusakan masuk di dalamnya dan ikutserta di dalamnya orang yang tidak baik. Karena manusia berlari dibelakang sifat tamak, ingin menarik hati manusia kepada mereka,kendati de-ngan melakukan berbagai hal yang diharamkan. Dan tidakboleh dikatakan, Ini adalah orang shalih, karena manusia mendapatfitnah, semoga Allah memberi perlindungan. Walaupun dia seorang yangshalih maka membuka pintu ini tetap tidak boleh.

Al-Muntaqa min Fatawa Alu Fauzan, Jilid II hal. 148

Artikel Tidak Boleh Membuka Tempat Praktek Pembacaan Ruqyah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Tidak Boleh Membuka Tempat Praktek Pembacaan Ruqyah.

Apakah Puasa Enam Hari Syawal Diharuskan Terus Menerus ? Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawal ?

Kumpulan Artikel Islami

Apakah Puasa Enam Hari Syawal Diharuskan Terus Menerus ? Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawal ? Apakah Puasa Enam Hari Syawal Diharuskan Terus Menerus Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawal

Kategori Puasa - Fiqih Puasa

Jumat, 28 Oktober 2005 21:42:16 WIBHUKUM MENGQADHA ENAM HARI PUASA SYAWALOlehSyaikh Abdul Aziz bin BaazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Seorang wanita sudah terbiasa menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal setiap tahun, pada suatu tahun ia mengalami nifas karena melahirkan pada permulaan Ramadhan dan belum mendapat kesucian dari nifasnya itu kecuali setelah habisnya bulan Ramadhan, setelah mendapat kesucian ia mengqadha puasa Ramadhan. Apakah diharuskan baginya untuk mengqadha puasa Syawal yang enam hari itu setelah mengqadha puasa Ramadhan walau puasa Syawal itu dikerjakan bukan pada bulan Syawal Ataukah puasa Syawal itu tidak harus diqadha kecuali mengqadha puasa Ramadhan saja dan apakah puasa enam hari Syawal diharuskan terus menerus atau tidak JawabanPuasa enam hari di bulan Syawal, sunat hukumnya dan bukan wajib berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun" [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]Hadits ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat mutlak, akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah lebih utama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Artinya : ..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha [kepadaku]" [Thaha : 84]Juga berdasarakan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan kutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam."Artinya : Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan walaupun sedikit"Tidak disyari'atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal, karena puasa tersebut adalah puasa sunnat, baik puasa itu terlewat dengan atau tanpa udzur.MENGQADHA ENAM HARI PUASA RAMADHAN DI BULAN SYAWAL, APAKAH MENDAPAT PAHALA PUASA SYAWAL ENAM HARIOlehSyaikh Abduillah bin JibrinPertanyaanSyaikh Abduillah bin Jibrin ditanya : Jika seorang wanita berpuasa enam hari di bulan Syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala puasa enam hari Syawal JawabanDisebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda."Artinya : Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun"Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadits lain disebutkan."Artinya : Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan"Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari Syawal atau puasa sunat lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian puasa qadha yang ia lakukan itu tidak bersetatus sebagai puasa sunnat Syawal.[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1639&bagian=0


Artikel Apakah Puasa Enam Hari Syawal Diharuskan Terus Menerus ? Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawal ? diambil dari http://www.asofwah.or.id
Apakah Puasa Enam Hari Syawal Diharuskan Terus Menerus ? Hukum Mengqadha Enam Hari Puasa Syawal ?.

Mengusap Kepala Yang Menggunakan Minyak Rambut

Kumpulan Artikel Islami

Mengusap Kepala Yang Menggunakan Minyak Rambut Mengusap Kepala Yang Menggunakan Minyak Rambut

Kategori Wanita - Thaharah

Senin, 26 Januari 2004 10:02:35 WIBMENGUSAP KEPALA YANG MENGGUNAKAN MINYAK RAMBUTOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Jika seorang wanita memakai minyak rambut di kepalanya lalu ia mengusap rambutnya dalam wudhu, apakah wudhunya itu sah atau tidak .Jawaban.Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya."Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan [basuhlah] kakikmu sampai dengan kedua mata kaki" [Al-Maidah : 6]Di sini terkandung perintah untuk membasuh anggota wudhu dan mengusap bagian yang harus disapu serta mengharuskan untuk menghilangkan sesuatu yang menghalangi mengalirnya air pada anggota wudhu, karena jika terdapat sesuatu yang dapat menghalangi mengalirnya air pada anggota wudhu, berarti orang itu belum mebasuh atau mengusap bagian itu. Berdasarkan hal ini kami katakan : Jika seseorang menggunakan minyak pada anggota wudhunya, misalnnya minyak itu akan menjadi beku hingga menjadi suatu benda padat, maka pada saat itu wajib baginya untuk menghilangkan benda padat itu sebelum ia membersihkan anggota wudhunya, sebab jika minyak itu telah berubah menjadi benda padat maka hal itu akan menghalangi air untuk sampai pada kulit anggota wudhu, dan pada saat itulah wudhunya dianggap tidak sah.Sedangkan jika minyak itu tidak berubah menjadi benda padat, sementara bekasnya masih tetap ada pada anggota wudhu, maka hal ini tidak membatalkan wudhu, akan tetapi dalam keadaan seperti ini hendaknya seseorang mengencangkan tekanan telapak tangannya saat membasuh atau mengusap anggota wudhu tersebut, karena umumnya minyak itu bisa mengalihkan aliran air, bahkan bisa jadi bagian anggota wudhu tidak terkena air jika tidak ditekankan saat membasuh atau mengusapnya.[Fatawa wa Rasa'il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/147][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 12-13 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=77&bagian=0


Artikel Mengusap Kepala Yang Menggunakan Minyak Rambut diambil dari http://www.asofwah.or.id
Mengusap Kepala Yang Menggunakan Minyak Rambut.