Kamis, 19 Juni 2008

CIRI-CIRI IBADURRAHMAN (I)

Kumpulan Artikel Islami

CIRI-CIRI IBADURRAHMAN (I) Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkastapi padat -insya Allah- sifat-sifat 'Ibaadurrahman [para hambaar-Rahman], karakteristik, ciri-ciri mereka serta pahala besar yangAllah siapkan buat mereka di sisi-Nya agar orang yang ingin menjadisalah satu dari 'Ibaadurrahman dapat memilikinya, meraih kehormatanberibadah dan menisbatkan diri kepada-Nya serta menggapai persaksian.

Adapun ayat yang mengoleksi semua sifat 'Ibaadurrahman itu termuatdalam ayat 63 hingga 76, surat Al-Furqan. Dalam ayat-ayat tersebut,disebutkan sifat-sifat 'Ibaadurrahman sebagai berikut:

1. Tawadhu' [Rendah Hati]

Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “[ialah] orang-orang yangberjalan di atas bumi dengan rendah hati” [63]

Inilah sifat pertama ‘Ibaadurrahman, yaitu mereka berjalan di atasbumi dengan sangat enteng dan ringan, tidak dibuat-buat, tidak sombongatau pun melengos. Mereka tidak berjalan dengan sangat cepat yangmenunjuk-kan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalandengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal. Tetapimereka berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad,kelelakian dan jiwa muda. Mereka mengetahui betul wasiat Luqman kepadaanaknya sebagaimana diinformasikan Rabbnya, artinya, “Dansederhanalah kamu dalam berjalan.” [QS.Luqman:19]. Maksudnyaadalah sedang-sedang saja dalam semua urusan, tidak berlebihan atauketerlaluan sekali.

‘Ibaadurrahman berjalan di pelosok bumi untuk mencari rizki dantuntutan hidup dengan penuh kelembutan dalam batasan-batasan yangdiperkenankan Allah subhanahu wata’ala kepada mereka, tidakrakus, tamak, menyia-nyiakan kewajiban, melakukan hal-hal yangdiharamkan atau pun berbuat mubadzir. Tidak muncul dari mereka sikapkeras, melecehkan, sombong, berbangga-bangga dan berbesar diri. Merekatidak berbuat kerusakan di muka bumi, mencari ketinggian, lebihmendahulukan keuntungan duniawi yang fana, tidak berusaha semata hanyauntuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang dengan kenikmatankehidupan duniawi.

Mereka juga rendah hati terhadap Allah subhanahu wata’ala,lembut dan ringan, tidak angkuh dan sombong. Mereka mendengar firmanAllah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan janganlah kamuberjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamusekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akansampai setinggi gunung.”

2. Lemah Lembut

Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan apabila orang-orangjahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata [yang mengandung]keselamatan.” [63]

Ini merupakan sifat ke dua ‘Ibaadurrahman, yaitu bila orang-orangjahil mengucapkan ucapan yang buruk, mereka tidak membalas denganucapan yang sama tetapi mema'afkan, tidak berkata kecuali yang baik,mereka tidak terpancing oleh kejahilan orang tersebut, tetapi menahanlisan dan emosi mereka.

Mereka memangkas jalan fitnah dan keburukan yang ingin dilakukanorang-orang jahil itu, memadamkan 'kobaran' kejahatan pertama yangandaikata dibalas dengan tindakan yang sama, pastilah apinya akansemakin menyala sehingga bisa menimbulkan perang besar dan kejahatanbergentayangan. Menurut mereka, kepah-lawanan bukanlah ditampakkandengan postur badan yang kuat, berotot, dan mampu menang dalampertarungan, tetapi kepahlawanan yang hakiki adalah menahan diriketika marah.

Yang menjadi panutan mereka dalam hal ini adalah Nabi mereka, Muhammad

shallallahu ‘alihi wasallam yang merupakan manusia paling lemahlembut. Salah satu contohnya, “Ketika ada seorang Arab Badui yangdatang kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallamdan berkatakasar, lalu kaum Muslimin marah dan ingin memberinya pelajaran, namunhal itu dicegah oleh beliau. Beliau membalas sikap kasar itu dengankasih sayang dan lemah lembut.” [Hadits Muttafaqun 'alaih]

3. Melakukan Qiyamullail

Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang yang melaluimalam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” [64]

Allah subhanahu wata’ala menyebut para hamba-Nya sebagai orangyang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun saatorang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah,sibuk menyong-song Rabb mereka, menggantungkan jiwa dan anggota badanmereka kepada-Nya. Saat orang-orang terlena dan merasa mantap dengankehidupan duniawi, mereka justeru menginginkan ‘Arsy ar-Rahmansebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapatmenjauhkan mereka dari sifat riya' dan minta dipuji. Ibadah di malamhari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwaserta penerangan bagi penglihatan mereka.

Saat berdiri di hadapan Allah subhanahu wata’ala danmengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dankebahagiaan yang tiada tara serta kenikmatan yang tak terkira. Tiadalagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah subhanahuwata’ala, bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. MelakukanQiyamullail merupakan sifat asli ‘Ibaadurrahman. Allah subhanahuwata’ala menyebut mereka dengan sifat itu dalam banyak ayat danmenganjurkan para Nabi-Nya untuk melakukan hal itu.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, “Hendak-lahkamu melakukan Qiyamullail sebab ia adalah tradisi orang-orang shalihsebelum kamu, bentuk pendekatan kepada Rabb kamu, penghenti dosa,penebus dosa-dosa kecil dan pengusir penyakit dari badan.” [HR.Ahmad dan at-Tirmidzi yang dinilai Hasan oleh Syaikh al-Albani]

4. Takut Api Neraka

Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang berkata, 'YaRabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya ituadalah kebinasan yang kekal.”[65] Sesungguhnya jahannam ituseburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” [66]

Sekalipun ‘Ibaadurrahman sangat ta'at dan hati mereka dipenuhi denganketakwaan namun mereka selalu merasa amalan dan ibadah mereka masihkurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasaaman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia danrahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karenaitu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzabJahannam.

Mereka selalu memohon kepada Allah agar Dia menghindarkan mereka dariadzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinyaatau pun penghuni semen-taranya. Inilah sifat setiap Mukmin yangbersungguh-sungguh dalam berbuat ta'at dan takut akan adzab Allah

subhanahu wata’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yanglain, “Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya. Karenasesungguhnya azab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman [darikedatangannya].” [QS. Al-Ma'arij: 27, 28]

5. Ekonomis Dalam Pengeluaran dan Tidak Boros

Sebagaimana firman-Nya, artinya, “Dan orang-orang yang apabilamembe-lanjakan [harta], mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak[pula] kikir, dan adalah [pembelanjaan itu] di tengah-tengah antarayang demikian.” [67]

‘Ibaadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir,membelanjakan harta melewati batas keperluan sebab mereka mengetahuibenar bahwa boros akan merusak jiwa dan harta. Orang-orang yangberbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruhberbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertang-gungjawab di hadapan Allah subhanahu wata’ala terhadap harta mereka;dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakkan.

Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluargamereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaquntuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata’ala, sebabmereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’ala telah mencelakekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhildan menghindari pelakunya.

Metode berinfaq ‘Ibaadurrahman adalah moderat dan menengah, antarabakhil dan boros. Mereka berada di puncak pertengahan antara boros danbakhil. Mereka meletakkan ayat Allah subhanahu wata’ala berikutdi hadapan mata mereka, artinya, “Dan janganlah kamu jadikantanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalumengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [QS.Al-Isra':29]

Yakni janganlah kamu bakhil, sehingga tidak mau memberi sesuatu kepadasiapa pun dan janganlah pula boros dalam mengeluarkan harta, sehinggamemberi di atas kemampuanmu dan mengeluarkannya melebihi pendapatanmu.[Bersambung]

Sumber: Buletin berjudul, Min Shifaat 'Ibaadirrahman FiAl-Qur'an, disusun oleh Bagian Ilmiah penerbit Darul Wathan. [HafidM. Chofie]

Artikel CIRI-CIRI IBADURRAHMAN (I) diambil dari http://www.asofwah.or.id
CIRI-CIRI IBADURRAHMAN (I).

Sumpah Dalam Jual Beli 1/2

Kumpulan Artikel Islami

Sumpah Dalam Jual Beli 1/2 Sumpah Dalam Jual Beli 1/2

Kategori Fatawa Jual Beli

Sabtu, 17 April 2004 08:50:37 WIBSUMPAH DALAM JUAL BELIOlehAl-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal IftaBagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]Pertanyaan.Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Apakah boleh bersumpah dalam jual beli jika pelakunya seorang yang jujur Jawaban.Sumpah dalam jual beli itu secara mutlak makruh, baik pelakunya seorang pendusta maupun orang yang jujur. Jika pelakunya seorang yang suka berdusta dalam sumpahnya, maka sumpahnya menjadi makruh yang mengarah kepada haram, dosanya lebih besar dan adzabnya sangat pedih, dan itulah yang disebut dengan sumpah dusta. Sumpah itu, jika menjadi satu sarana melariskan dagangan, maka ia akan menghilangkan berkah jual beli dan juga keuntungan. Hal tersebut ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata : â€Å"Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.â€Å"Artinya : Sumpah itu dapat melariskan dagangan tetapi juga menjadi penghilang berkah” [1]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahih milik keduanya. Dan lafazh di atas milik Al-Bukhari. Silakan lihat kitab Fathul Baari, jilid IV, halaman 315. Dan juga didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.â€Å"Artinya : Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat kelak, serta tidak juga Dia melihat mereka, dan Dia juga tidak akan menyucikan mereka, serta bagi mereka adzab yang pedih”.Dia mengatakan : â€Å"Hal itu dibacakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tiga kali”. Abu Dzar mengatakan : â€Å"Mereka benar-benar gagal dan merugi. Siapakah orang-orang itu, wahai Rasulullah ” Beliau pun menjawab :â€Å"Artinya : Pria yang memanjangkan pakaian di bawah mata kaki, dan orang yang menyebut-nyebut pemberian, serta orang yang melariskan dagangannya dengan menggunakan sumpah dusta”Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya jilid I halaman 102. Hal senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya.Tetapi jika sumpah dalam jual beli itu dilakukan dengan penuh kejujuran, maka sumphanya tetap makruh, tetapi makruh dengan pengertian tanzih [sebaiknya dihindari –ed] karena yang demikian itu sebagai upaya melariskan dagangan sekaligus sebagai upaya mencari daya tarik pembeli dengan banyak mengumbar sumpah. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman.â€Å"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan] Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian [pahala] di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak [pula] akan melihat mereka pada hari Kiamat kelak, serta tidak [pula] akan menyucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih” [Ali-Imran : 77]Juga didasarkan pada keumuman firman Allah Ta’ala.â€Å"Artinya : Dan jagalah sumpah kalian” [Al-Maidah : 89]Demikian juga firmanNya yang lain.â€Å"Artinya : Janganlah kalian menjadikan [nama] Allah dalam sumpah kalian sebagai penghalang” [Al-Baqarah : 224]Juga didasarkan pada keumuman hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari As-Sulami, dimana dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.â€Å"Artinya : Hindarilah banyak bersumpah dalam berjual beli, karena sesungguhnya sumpah itu memang bisa membuat laris, tetapi kemudian melenyapkan” [2]Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya, Ahmad di dalam kitabnya Al-Musnad, An-Nasa’I, Ibnu Majah, dan Abu Dawud.Wabillaahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.[Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta, Pertanyaan ke-1 dari Fatwa Nomor 19637, Disalin dari Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Jual Beli, Pengumpul dan Penyusun Ahmad bin Abdurrazzaq Ad-Duwaisy, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i]_________Foote Note.[1] Hadits Riwayat Ahmad II/235, 242, 413, Al-Bukhari III/12, Muslim di dalam kitab Al-Musaaqaat, bab An-Nahyu ‘Anil Half Fil Ba’I [XI/44] [Muslim bi-Syarah An-Nawawi], Abu Dawud III/630 nomor 3335, An-Nasa’I VII/346 nomor 4461, Abu Ya’la XI/347, 366 nomor 6460 dan 6480, Ibnu Hibban XI/271 nomor 4906, Al-Baihaqi V/265, Al-Baghawi di dalam kitab Syarhus Sunnah VIII/37 nomor 2046[2] Hadits Riwayat Ahmad V/297,298,301, Muslim di dalam kitab Al-Musaaqaat, bab An-Nahyu ‘Anil Half Fil Ba’I [XI/45], [Muslim bi Syarh An-Nawawi], An-Nasa’i VII/246 nomor 4460, Ibnu Majah II/745 nomor 2209, Ibnu Abi Syaibah VII/20, Al-Baihaqi V/265, Al Khathib di dalam kitab Taariikh Baghdad VIII/476.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=640&bagian=0


Artikel Sumpah Dalam Jual Beli 1/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Sumpah Dalam Jual Beli 1/2.

Hakikat Sururiyah

Kumpulan Artikel Islami

Hakikat Sururiyah Hakikat Sururiyah

Kategori Bahaya Hizbiyyah

Kamis, 21 Juli 2005 08:04:01 WIBHAKIKAT SURURIYAHOlehSyaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily HafidzohullahPertanyaanSyaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah ditanya : Semoga Allah menjaga Anda. Sering sekali kita mendengar tentang Sururiyah, harap Anda jelaskan hakikatnya ..! jazakumullahu khairan..Jawaban.Sururiyah termasuk istilah yang muncul akhir-akhir ini. Sebagian ulama telah berbicara tentang mereka, dan tentunya ini dikembalikan pada orang yang telah banyak meneliti pemikiran-pemikiran mereka secara rinci. Adapun globalnya, Sururiyah adalah : Mereka yang menisbatkan dirinya pada Muhammad bin Surur Zainal Abidin, yang di dalam manhajnya ada penyelewengan dari manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah da'wah dan muamalah terhadap pemerintah, yang diambil dari manhaj-manhaj lain seperti manhaj Ikhwanul Muslimin juga lainnya.Dan orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya sebagian mereka -terkadang berpemikiran sesuai dengan pemikirannya pada sebagian dasar-dasar manhaj mereka dengan sengaja atau tidak. Akan tetapi tidak benar untuk menisbatkan setiap orang yang menyeleweng dalam masalah ini kepada Sururiyah, karena barangkali seseorang itu aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka, tapi dia telah menyimpang dan penyimpangan itu telah terbetik dalam pikiran mereka sebagaimana penyimpangan itu terbetik dalam pikiran Sururiyyin, maka tidak boleh kita memecah belah manusia.Adapun orang yang menisbatkan dirinya pada Muhammad bin Surrur serta ridhodengan pemikirannya dan berguru padanya, maka ini lain lagi urusannya, karena ada sebagian orang yang terkadang sesuai dengan sebagian pendapat mereka. Maka kita tidak boleh memecah belah, sebab jika kita golong-golongkan manusia dan menisbatkan mereka, sangat susah mereka itu untuk kembali kepada al-haq setelah itu, lain halnya jika kita katakan : Anda mempunyai kesalahan dalam hal ini, kembalilah pada al-haq..! maka mudah baginya untuk kembali.Kemudian, pengetahuan tantang jamaah-jamaah yang ada pada zaman sekarang dan pendalaman pemikiran-pemikiran mereka, mungkin sulit bagi seorang penuntut ilmu dan tidak wajib bagi dia, tapi wajib untuk mengetahui keburukan itu secara global, sebagaimana kata Hudzaifah radhiallaahuanhu : Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan dan saya bertanya kepadanya tentang keburukan karena takut terjerumus ke dalamnya, dalam hal ini dengan mengetahui penyimpangan mereka secara global. Adapun menyibukkan diri dengan perkataan-perkataan mereka, apa yang dikatakan Fulan, apa yang ditulis Fulan tentang mereka dan apa bantahannya serta menghabiskan umur dengan hal ini akan memalingkan kita dari menuntut ilmu, padahal umur itu pendekMaka kewajiban kita adalah untuk mengetahui pokok-pooko aqidah Ahlus Sunnah, dasar-dasar ilmu dan mengetahui masalah-masalah syari yang dengannya kita dapat membedakan ahlul haq dan ahlul batil. Jika kita telah menguasainya maka tak akan terpengaruh dengan perkataan Fulan, apakah kita mengetahui perkataaannya atau tidak, karena kita mempunyai landasan yang kuat. Misalnya, kita telah tahu aqidah ahlus sunnah dalam masalah takfir [pengkafiran], terkadang kita tidak butuh untuk mengetahui hukum seseorang karena kita mempunyai kaidah benar yang dengannya kita dapat menghukumi setelah itu, jika kita telah tahu manhaj ahlus sunnah dalam masalah hajr [pengucilan], kita tidak butuh lagi untuk bertanya apakah si Fulan pantas untuk dihajr [dikucilkan] atau tidak, karena jika telah mengetahui kaidahnya, kita dapat menerapkannya pada orang lain.Oleh karena itu, manusia butuh pada ilmu syari dan dasar-dasar ilmu. Adapun memperdalam tentang keadaan manusia, menukil perselisihan dan perkataan mereka, mungkin sulit dan melalaikan kita dari menuntut ilmu. Pendapat manusia dan apa yang ada mereka ada-adakan berupa bidah dan perselisihan tak akan ada habisnya, maka kita sibukkan diri dengan ilmu dan tashil, kemudian setelah itu kita punya kaidah yang benar dalam bermuamalah dengan yang menyimpang.[Diterjemahkan dari Nasehat Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzohullah, dan risalah ini disusun oleh Abu Abdirrahman Abdullah Zaen dan Abu Bakr Anas Burhanuddin dkk Mahasiswa Universitas Islam Madinah]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1492&bagian=0


Artikel Hakikat Sururiyah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hakikat Sururiyah.

Berzakat Kepada Saudaranya Tanpa Sepengetahuan Suaminya

Kumpulan Artikel Islami

Berzakat Kepada Saudaranya Tanpa Sepengetahuan Suaminya Berzakat Kepada Saudaranya Tanpa Sepengetahuan Suaminya

Kategori Zakat

Jumat, 5 Maret 2004 10:34:44 WIBBERZAKAT KEPADA SAUDARA PEREMPUAN YANG FAKIR YANG TELAH MENIKAHOlehAl-Lajnah Ad-Daimah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Jika seorang memiliki saudara perempuan yang telah menikah dan semuanya dalam keadan fakir, bolehkah saudari orang itu boleh menerima zakat dari saudara-saudaranya JawabanNafkah seorang wanita adalah kewajiban bagi suaminya, dan jika suami itu seorang yang fakir maka bagi saudara-saudara istrinya hendaklah memberi zakat kepada saudara perempuan mereka itu agar ia mendapat nafkah untuk dirinya sendiri dan untuk suaminya serta untuk anak-anaknya. Bahkan jika sang istri ini memiliki harta yang wajib dizakati, maka hendaknya mengeluarkan zakat hartanya itu kepada suaminya agar suaminya itu dapat memberi nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya.[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 8/157]BERZAKAT KEPADA SAUDARANYA TANPA SEPENGETAHUAN SUAMINYAOleAl-Lajnah Ad-Daimah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apakah boleh bagi seorang wanita untuk mengeluarkan shadaqah dari hartanya sendiri atas nama salah seorang saudaranya yang telah meninggal tanpa sepengetahuan suaminya, dan apakah hukumnya jika yang disedekahkan itu adalah harta suaminya .JawabanBoleh bagi seorang wanita untuk mensedekahkan hartanya sendiri untuk salah seorang saudaranya yang telah meninggal demi mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan maksud agar pahala dan faedahnya kembali kepada mereka, karena ia berkuasa terhadap hartanya sendiri dan ia bebas untuk mengeluarkan hartanya itu selama masih dalam batasan-batasan yang telah disyari'atkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bersedekah adalah perbuatan baik yang mana pahalanya akan sampai kepada orang yang bersedekah atas namanya jika Allah menerimannya. Adapun jika wanita itu bersedekah dari harta suaminya dan suaminya tidak mencegah perbuatan itu, maka boleh bagi wanita itu untuk bersedekah tanpa sepengetahuan sang suami. Akan tetapi jika suaminya melarang hal tersebut maka tidak boleh bagi si istri untuk bersedekah tanpa sepengetahuan suami.[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 8/157][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal 220-221, penejemah Amir Hamzah Fakhruddin]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=388&bagian=0


Artikel Berzakat Kepada Saudaranya Tanpa Sepengetahuan Suaminya diambil dari http://www.asofwah.or.id
Berzakat Kepada Saudaranya Tanpa Sepengetahuan Suaminya.