Jumat, 06 Juni 2008

Di Balik Ujian Kefakiran

Kumpulan Artikel Islami

Di Balik Ujian Kefakiran Al Imam an-Nawawi di dalam kitabnya RiyadhusShalihin telah menulis satu bab, yaitu Keutamaan Fakir . Adasebagian peneliti kitab ini yang menggarisbawahi bab tersebut, yakniberkaitan dengan ucapan imam an-Nawawi tentang keutamaan fakir. Diaberkata, Bagaimana seorang fakir memiliki keutamaan sedangkan Nabi

shallallahu ‘alaihi wasallam telah berlindung kepada Allah darikefakiran

Jika diteliti, ucapan Imam an-Nawawi tersebut ternyata lebih mendalammaknanya daripada ucapan si peneliti. Imam an-Nawawi juga mengetahuibahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung darikefakiran. Hanya saja apa yang beliau ucapkan adalah untuk menekankandan mengingatkan pembaca tentang sesuatu yang mungkin tidak diketahui,yaitu besarnya pahala ujian kefakiran ini, yang disyariatkan untukberlindung darinya. Beliau menyampaikan adab seorang fakir yangterdiri dari dua hal:

Pertama; Berlindung kepada Allah subhanahu wata’aladarinya. Dan memohon kepada Allah agar diberikan kecukupan danpenjagaan kehormatan, berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkandisyariatkannya berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala daribala'. Dan juga karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telahberlindung kepada Allah dari kefakiran serta memerintahkan hal itu.Beliau mengucapkan,Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dankefakiran, dan aku berlindung kepada-Mu ari adzab kubur, tidak adailah yang hak disembah selain Engkau.

Beliau juga bersabda,Berlindunglah kalian kepada Allah dari kefakiran, kekurangan,kehinaan dan dari berbuat zhalim atau dizhalimi. [Silsilahshahihah, no 1445]

Ke dua; Rela terhadap ketetapan Allah subhanahu wata’ala.Jika seorang muslim tertimpa kemiskinan atau kekurangan harta makahendaklah dia bersabar dan rela dengan takdir Allah, karena tidaklahAllah subhanahu wata’ala menciptakan kefakiran melainkan hanyauntuk memilah dan menguji hamba. Allah subhanahu wata’alamenjelaskan hal itu dengan sangat gamblang dalam firman-Nya, artinya,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikitketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Danberikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [yaitu]orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun . [QS. 2:155-156]

Coba kita perhatikan bagaimana Allah subhanahu wata’ala telahmenjadikan kekurangan harta sebagai bagian dari bala' yang dengannyaDia menguji manusia. Dan bagaimana pula Allah subhanahu wata’alamenisbatkan ujian tersebut dari diri-Nya dalam firman-Nya, SungguhKami akan menguji kalian. Kemudian perlu kita renungkan pulabagaimana Allah menyebut kekurangan harta sebagai musibah, bagaimanapula Dia memberi kan kabar gembira bagi orang-orang yang sabarmenerima ujian kefakiran dan kekurangan tersebut. Dia pun mengajarkankepada mereka adab kesabaran berupa istirja' [mengembali kan urusankepada Allah dengan mengucap inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un]dan menjanjikan bagi mereka rahmat dan kesejahteraan.

Saudaraku, para fakir! Anda diciptakan di muka bumi ini, namun kadangAnda terhalang untuk mendapat kan kelezatannya. Itu tidak lain untukmenguji kadar keimanan Anda dan agar diketahui bagaimana sikap anda,apakah Anda menggerutu dan ingkar ataukah Anda bersikap rela dan sabar.

Ingatlah, bahwa semua orang yang ada di muka bumi ini sedang diuji,orang fakir diuji dengan kefakirannya dan orang kaya diuji dengankekayaannya. Ketika Allah subhanahu wata’ala memuliakan NabiSulaiman dengan harta dan kerajaan maka beliau berkata, Ini adalahkeutamaan dari Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukahjustru kafir. Maka selayaknya seorang fakir juga berkata, Ini adalahketetapan Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersabar ataukah ingkar. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskanbahwa ujian kefakiran itu lebih ringan dibandingkan ujian kekayaan.

Saudaraku, janganlah engkau bersedih hati dengan kefakiranmu, hadapikefakiran dengan dua hal; Berlindung kepada Allah subhanahuwata’ala darinya, dan bersabar atasnya.

SEBAB-SEBAB KEFAKIRAN

1.Lemah dan Malas

Penyakit lemah dan malas terkadang menjadi salah satu sebab darikefakiran bagi seorang muslim. Karena Allah subhanahu wata’alamenciptakan manusia dalam keadan memiliki potensi untuk berusaha danbekerja di muka bumi, serta diberi kemampuan untuk berjuang mencaririzki. Oleh karenanya Dia berfirman, artinya,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susahpayah.” [QS. 90:4]

Susah payah mengharuskan seseorang untuk berusaha, bekerja keras danberjuang untuk memperoleh rezeki dan keberkahan. Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wasallam banyak-banyak berlindung dari sikapmalas dan lemah, beliau bersabda,Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan,dari sifat lemah dan malas, dari sikap pengecut dan kikir, daribelitan hutang dan tekanan orang. [HR. al-Bukhari]

2.Dosa dan Maksiat

Kefakiran dan kemelaratan merupakan bagian dari musibah, yangterkadang disebabkan karena kemaksiatan sebagaimana musibah yang lainpada umumnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan olehperbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [darikesalahan-kesalahanmu].” [QS. 42:30]

Ibu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Sesungguh nya kebaikanitu sinar di wajah, cahaya di dalam hati, kekuatan di badan, keluasandalam rezeki, kecintaan di dalam hati setiap orang. Sedangkankeburukan adalah kemuraman di wajah, kegelapan di hati, kelemahan dibadan, mengurangi rezeki, dan penyebab kebencian di hati orang.

Maka cukuplah kemaksiatan itu akan menghilangkan keberkahan,sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Sesungguhnyaseorang hamba terhalang dari rizki dengan sebab dosa yang dia kerjakan.

[HR. Ahmad Ibnu Majah]

Terhalangnya seseorang dari rezeki mungkin dengan lenyapnya rezekitersebut, atau berkurang jumlahnya, atau tidak memberinya manfaatsehingga meskipun harta yang dimiliki sangat banyak, namun justrumenjadi bencana baginya.

Oleh karena itu selayaknya masing-masing kita melihat seberapa banyaktelah melakukan dosa, menyia-nyiakan shalat, kurang takut kepada Allah

subhanahu wata’ala, tidak mau bersilaturrahim dengan kerabat,buruk pergaulan dengan sesama muslim dan lain-lain. Kalau kitamenyadari, maka sungguh tidak ada seorang pun di antara kita yanglepas dari berbuat dosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, Seluruh bani Adam banyak berbuat salah, dansebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat. [HR. at-Tirmidzi]

3. Penjagaan Allah subhanahu wata’ala kepada Hamba

Allah subhanahu wata’ala itu Maha Tahu, boleh jadi jika seoranghamba diberi kekayaan, justru akan menjadikannya celaka di dunia dandi akhirat, atau akan menjadi kan dia sombong dan besar kepala yangberakibat pada turunnya siksa dan bencana. Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda,Sesungguhnya Allah Ta'ala menjaga hamba-Nya yang beriman daridunia ini, padahal Dia mencintainya. Sebagaimana kalian semuaberhati-hati [menjaga] orang sakit dalam memberi makan dan minum,karena khawatir terhadapnya. [HR. Ahmad, terdapat di Shahih al-Jamino. 181]

4.Telah Ditetapkan Memperoleh Kedudukan di Sisi Allah subhanahuwata’ala

Termasuk besarnya kemuliaan dan kemurahan Allah subhanahu wata’alaadalah Dia memuliakan hamba-Nya sebelum hamba itu melakukan suatuprestasi, dan Dia telah menulis untuk seorang hamba satu kedudukanyang tidak mungkin hamba tersebut mencapainya hanya dengan amalperbuatannya. Sehingga dia memberikan kebaikan dengan cara mengujinya,baik itu dalam harta, anak, atau badannya. Nabi shallallahu ‘alaihiwasallambersabda,Sesungguhnya jika seorang hamba telah ditulis baginya satukedudukan yang tidak mampu dia capai dengan amalnya, maka Allahmengujinya di dalam harta atau badan atau anaknya. [HR. Abu Dawud]

Dan kedudukan yang tinggi hanya dicapai oleh seorang mukmin. Makaketika ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam lalu berkata, Sungguh aku mencintaimu. Maka Nabimenjawab, Siapkan dirimu menjadi orang fakir. Wallahu a’lam.

Sumber: Buku saku “Risalah ila Faqir” Dept. Ilmiyah DarulWathan [Kholif Mutaqin]

Artikel Di Balik Ujian Kefakiran diambil dari http://www.asofwah.or.id
Di Balik Ujian Kefakiran.

Beberapa Tahun Yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haid Dan Belum Mengqadhanya

Kumpulan Artikel Islami

Beberapa Tahun Yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haid Dan Belum Mengqadhanya Beberapa Tahun Yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haid Dan Belum Mengqadhanya

Kategori Puasa - Fiqih Puasa

Kamis, 21 Oktober 2004 13:21:09 WIBSEKARANG BERUSIA LIMA PULUH TAHUN, DUA PULUH TUJUH TAHUN YANG LALU TIDAK MENJALANKAN PUASA RAMADHAN SELAMA LIMA BELAS HARIOlehSyaikh Abdul Aziz bin BaazPertanyaanSyaikh Ibnu Baaz ditanya : Sekarang saya berumur lima puluh tahun, dua puluh tujuh tahun yang lalu saya tidak berpuasa selama lima belas hari karena melahirkan salah seorang anak saya, dan saya belum sempat mengqadhanya di tahun tersebut, bolehkah saya mengqadha puasa itu saat ini, dan apakah saya berdosa.JawabanHendaknya Anda bertobat kepada Allah karena penundaan ini dan Anda harus mengqadha puasa yang lima belas hari itu dengan disertai memberi makan kepada seorang miskin sejumlah hari yang Anda tinggalkan sebanyak setengah sha' yang berupa makanan pokok.[Kitab Fatawa Ad-Da'wah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/159]BEBERAPA TAHUN YANG LALU TIDAK BERPUASA RAMADHAN KARENA HAIDH DAN BELUM MENGQADHANYAOlehSyaikh Abdul Aziz bin BaazPertanyaanSyaikh Ibnu Baaz ditanya : Pada salah satu bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, saya mendapat haidh oleh karenanya saya tidak berpuasa dan sampai saya belum mengqadha utang puasa itu, tapi saya tidak mengetahui berapa jumlah hari yang harus saya qadha itu, apa yang harus saya lakukan JawabanAnda harus melaksanakan tiga hal.Pertama : Bertobat kepada Allah karena keterlambatan itu dan menyesali apa yang telah Anda mengabaikan suatu ketetapan Allah, di samping itu Anda harus bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" [An-nur : 31]Menunda-nunda qadha puasa adalah suatu maksiat, maka bertaubatlah kepada Allah dari itu adalah suatu kewajiban.Kedua : Segera mengqadha puasa berdasarkan perkiraan Anda dalam menentukan jumlah harinya, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membebani seseorang kecuali apa yang disanggupinya. Berapa jumlah hari yang telah Anda tinggalkan menurut dugaan Anda, maka sejumlah hari itulah yang harus Anda qadha. Jika Anda perkirakan bahwa puasa yang harus Anda qadha itu sepuluh hari, maka hendaklah Anda berpuasa sepuluh hari, dan jika Anda menduga bahwa jumlah lebih banyak atau kurang dari itu, maka berpuasalah Anda berdasarkan dari sepuluh hari makan berpuasalah Anda dengan berpatokan pada dugaan Anda itu, berdasarkan firman Allah."Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuatu dengan kesanggupannya" [Al-Baqarah : 286]Dan firman Allah."Artinya : Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu" [At-Taghabun : 16]Ketiga : Memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang Anda qadha itu, dan itu bisa diberikan seluruhnya kepada satu orang miskin. Jika Anda sendiri seorang yang miskin sehingga tidak dapat memberi makan, maka tidak mengapa Anda tidak melakukan yang ini tetapi tetap bertaubat dan mengqadha puasa. Jika Anda mampu memberi makan, maka jumlah yang harus diberikan adalah setengah sha' makanan pokok, yaitu sekitar satu setengah kilogram.[Majmu'ah Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, Syaikh Ibnu Baaz, 6/19]MEMPUNYAI UTANG PUASA SELAMA DUA RATUS HARI KARENA KETIDAK TAHUANNYA DAN SEKARANG SEDANG SAKITOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaanSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seorang wanita berusia lima puluh tahun tengah menderita diabetes [penyakit gula], sementara puasa baginya adalah suatu hal yang sangat memberatkan karena kondisinya yang seperti itu. Kendati demikian ia tetap berpuasa pada bulan Ramadhan, hanya saja ia tidak tahu bahwa hari-hari haidhnya di bulan Ramadhan harus diqadha, dan jika dihitung masa haidhnya selama beberapa tahun lalu itu, maka ia harus mengqadha puasa selama dua ratus hari, bagaimanakah hukumnya yang dua ratus hari ini, sebab kini ia sedang sakit Apakah Allah mengampuni apa yang telah lalu itu, ataukah ia tetap harus berpuasa dan memberi makan orang yang berpuasa Apakah mesti memberi makan kepada orang yang berpuasa, atau memberi makan kepada sembarang orang miskin JawabanJika keadaannya seperti yang digambarkan oleh penanya, yaitu puasa akan membahayakan dirinya kerena usianya yang telah lanjut atau karena penyakit yang dideritanya, maka ia harus memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya sebanyak hari tersebut. Begitu juga dengan puasa-puasa yang akan datang jika berpuasa itu menyulitkan baginya dan tidak ada harapan untuk keluar dari kesulitannya itu, yaitu harus memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditiinggalkannya. [Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Ibnu Utsaimin, 3/54][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1127&bagian=0


Artikel Beberapa Tahun Yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haid Dan Belum Mengqadhanya diambil dari http://www.asofwah.or.id
Beberapa Tahun Yang Lalu Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Haid Dan Belum Mengqadhanya.

Nasehat Syaikh Salim Bin Ied Al-Hilali

Kumpulan Artikel Islami

Nasehat Syaikh Salim Bin Ied Al-Hilali Nasehat Syaikh Salim Bin Ied Al-Hilali

Kategori Nasehat

Jumat, 18 Juni 2004 08:05:14 WIBNASEHAT SYAIKH SALIM BIN 'IED AL-HILALIKata Pengantar.Artikel ini, diambil dari kata sambutan Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, murid kepercayaan Syaikh Muhaddits Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam acara Ad-Daurah asy-Syariyah fi al-Masa'il al-'Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan di Ma'had Ali al-Irsyad Surabaya tanggal 15-18 Dzul Qa'dah 1421H, yang diprakarsai oleh Ustadz Abdur Rahman at-Tamimi dan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dibantu oleh beberapa da'i salafi lainnya. Alhamdulillah daurah tersebut dihadiri dan diikuti tidak kurang dari empat ratusan da'i salafi dan penuntut ilmu di Indonesia.Kemudian, kata sambutan Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali sengaja kami salin ulang dalam website almanhaj dengan judul Nasehat, besar harapan kami bisa diambil manfaat dan faedahnya oleh kita semua.___________________________Saudara-saudara, saudara-saudara yang tercinta ! Sesungguhnya ini betul-betul merupakan pertemuan mulia. Yaitu pada hari yang diberkahi ini, hari sayidul Ayyam, hari Jum'at, kami bertemu dengan saudara-saudara kami. Kami dikumpulkan dengan mereka oleh manhaj sunni salafi, manhaj yang mempersatukan dan tidak memecah belah, manhaj yang memperpadukan hati dan tidak menjadikannya berselisih.Oleh karena itu manhaj ini adalah manhaj Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Ahlu Sunnah, tidak mempunyai nama lain yang menjadikan mereka menonjol kecuali sunnah, tidak mempunyai bentuk lain yang menyebabkan mereka dikenal kecuali sunnah, dan .... [ada kata-kata yang terhapus..] kecuali dengan sunnah.Hati-hati mereka bersatu di atas sunnah, hati-hati mereka mencintai sunnah. Mereka berjanji untuk membela Sunnah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.Ya, wahai saudara-sauadaraku, sesungguhnya kita berada di zaman asing. Ya, wahai saudara-saudara yang kucintai, sesungguhnya kita berada di zaman yang dekat, akan tetapi perkara itu tidak akan [dapat] berkata ....Sesungguhnya Islam pasti datang ... datang... dan datang. Islam pasti tersebar .... tersebar ... dan tersebar, seperti telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan telah dijanjikan di dalam Kitab-Nya, dan juga telah dijanjikan di dalam Sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mutawatir.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai" [At-Taubah : 33]Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan dalam Kitab-Nya, bahwa Allah pasti memenangkan agama-Nya, pasti membenarkan nabi-Nya, pasti memenangkan golongan-Nya dan pasti akan menjadikan orang yang berjalan pada manhaj Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Khalifah/penguasa.Sesungguhnya Islam dimasa mendatang adalah Islam Sunni. Sesungguhnya Islam yang akan datang adalah Islam Salafi. Sesungguhnya tegaknya kekhalifahan dan kemenangan yang kita tunggu-tunggu dan terus kita dengungkan, adalah kemenangan yang terjadi melalui tangan-tangan orang-orang itu, generasi-generasi orang-orang itu, generasi yang beriman kepada Kitab Allah, dan beriman kepada Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah, sesuai dengan pemahaman Abu Bakar, sesuai dengan pemahaman Umar, sesuai dengan pemahaman Utsman, sesuai dengan pemahaman Ali dan sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang berderajat hasan, yaitu hadits Hudzaifah, dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memeberitakan .... maka Nabi bersabda."Artinya : Adalah di tengah-tengah kamu [masa] kenabian sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada [masa] khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj [jalan] kenabian sampai pada [masa] yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Setelah itu akan ada kerajaan yang menggigit dengan kuat [berpegang pada sunnah] hingga pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Sesudah itu akan ada kerajaan yang sewenang-wenang sampai pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj [jalan] kenabian. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diam" [Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Lihat Silsilah Shahihah No. 5]Ya, demikianlah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan tahapan-tahapan yang dilalui umat ini. Tahap kenabian, dan ini sudah berlalu dengan kematian nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian [tahap] khilafah yang berjalan berdasarkan sunnah Nabi, berjalan berdasarkan manhaj Nabi dan melangkah mengikuti langkah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Itulah dia Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan minhaj kenabian. Itulah dia Khilafah Abu Bakar, Khilafah Umar, Khilafah Utsman dan Khilafah Ali. Kemudian berputarlah roda Islam, lalu Allah memberikan kerajaan [kekuasaan]-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan saat itu adalah kerajaan yang menggigit [berpegang] kuat [pada sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam]. Setelah itu berputar lagi roda Islam, maka berganti dengan kerajaan-kerajaan yang sewenang-wenang. Sementara roda Islam akan terus berputar, dan kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan minhaj kenabian.Renungkanlah, Khilafah Rasyidah yang akan ada di akhir zaman, persis seperti dengan Khilafah yang ada di awal zaman. Itulah dia Khilafah yang ditegakkan oleh orang-orang yang berada pada manhaj para Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.Bergembiralah Anda sekalian, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya saya melihat terbitnya fajar baru bagi dakwah ini, dakwah Salafiyah yang penuh berkah. Betapapun berbagai golongan melakukan tipudaya terhadapnya. Sekalipun berbagai firqah berupaya menerkamnya, mereka ingin menggulungnya. Tetapi Allah [niscaya] akan melaksanakan apa yang menjadi keputusan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui. Sesunguhnya dakwah Salafiyah adalah dakwah yang dijaga oleh Allah dan Allah berjanji akan menolongnya. Akan tetapi kita seharusnya menjadi tentara dakwah salafiyah ini, tentara yang memenuhi seruan dakwah salafiyah. Kita [harus] memahami dakwah ini sebagaimana para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memahaminya. Kita melaksanakan dakwah ini sebagaimana para Salafus Shalih melaksanakannya. Kita [sepenuhnya] percaya, seperti kepercayaan kita terhadap agama [Islam] bahwa masa depan [yang gemilang -pent] akan diraih oleh dakwah Salafiyah, sebab dakwah salafiyah adalah agama [Islam] itu sendiri.Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku tercinta, yang diharapkan dari Anda sekalian adalah hendaknya Anda sekalian menjadi singa-singa sunnah di negeri ini. Hendaknya Anda sekalian menjadi macan-macan faham Salafus Shalih di negeri ini. Anda angkat kepala Anda tinggi-tinggi, angkat suara Anda keras-keras untuk [menyuarakan] dakwah menuju Kitab, Sunnah dan pemahaman Salaful Ummah. Jangan terperdaya oleh banyaknya orang-orang binasa. Dan jangan pula menjadi sedih karena sedikitnya orang-orang yang menempuh [jalan kebenaran]. Sebagaimana dikatakan oleh al-Fudhail bin Iyadh :"Kamu harus berpegang pada jalan-jalan petunjuk sekalipun sedikit jumlah penempuhnya. Dan jangan sekali-kali kamu menempuh jalan-jalan kesesatan sekalipun banyak jumlah orang-orang yang binasa menempuhnya".Sesungguhnya, apabila jumlah yang banyak, berpegang pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah serta pemahaman Salafus Shalih, sesungguhnya jumlah itu adalah kelompok yang selamat, firqah yang pasti akan diberi kemenangan dan golongan yang melalui tangan-tangan mereka akan terwujud kejayaan Islam.Saya berharap agar Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada Anda semua untuk berjalan menempuh manhaj yang benar ini. [Saya juga berharap kepada Allah] apabila saya lupa -tetapi saya tidak lupa- untuk mengarahkan rasa terima kasih saya, dan saya tambahkan suara saya pada suara saudara saya yang tercinta Ali [bin Hasan] -hafidzahullah- bahwa saya berterima kasih kepada para pengampu Ma'had Diniyah al-Irsyad di Surabaya, terutama al-akh Syaikh yang mulia Abdur Rahman at-Tamimi[1].Saya memohon kepada Allah agar Dia memberikan kesempurnaan kepada kami, kepadanya [Abdur Rahman at-Tamimi] dan kepada Anda sekalian [dalam berpegang pada] al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah. Juga agar Allah memantapkan kita dijalan kebenaran ini hingga kita menemui-Nya.[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M hal. 39-40]_________Foot Noote[1]. Ustadz Abdur Rahman at-Tamimi adalah termasuk salah satu Panitia dan juga bertindak sebagai tuan rumah Daurah asy-Syar'iyah fi al-Masa'il al-'Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan tanggal 15-18 Dzul Qa'dah 1421H di Ma'had Diniyah al-Irsyad Surabaya.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=832&bagian=0


Artikel Nasehat Syaikh Salim Bin Ied Al-Hilali diambil dari http://www.asofwah.or.id
Nasehat Syaikh Salim Bin Ied Al-Hilali.

Yahudi Akan Terbasmi, Insya Allah

Kumpulan Artikel Islami

Yahudi Akan Terbasmi, Insya Allah Yahudi Akan Terbasmi, Insya Allah

Kategori Fokus Utama

Selasa, 30 Agustus 2005 20:54:53 WIBYAHUDI AKAN TERBASMI, INSYA ALLAH [HADITS TENTANG PERANG MELAWAN YAHUDI]OlehSyaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-AtsariDiantara hal yang membuat hati kaum Mukminin tenteram dan karenanya mereka semakin yakin ialah ; bahwa negeri yang menjadi tempat berkumpulnya bebagai macam suku Yahudi Dunia, yang kemudian secara zalim dan bathil dinamakan negara Israel, adalah negara yang akan musnah dan terhapus dari muka bumi. Saya tidak katakan tanggal sekian dan tanggal sekian seperti yang dilakukan secara tidak benar oleh sebagian orang yang memiliki semangat menggebu.Bisa jadi waktunya akan datang sebelum ramalan mereka jatuh tempo, dan itu tidak sulit bagi Allah. Ya, bisa jadi [waktunya akan datang] jauh sebelum itu."Artinya : Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabb-mu kecuali Dia" [Al-Muddatstsir : 31]Tidak ada yang mengetahui kecuali Dia Yang Maha Tahu dan Maha Waspada.Karena itulah ada tokoh politik [Muslim] kontemporer yang mengatakan :"Sesungguhnya perdamaian kita bersama Yahudi hanya semata-mata perdamaian politis, bukan keyakinan".Sesunguhnya ada beberapa riwayat hadits Nabi yang shahih dan tegas, bahwa petempuran besar [melawan bangsa Yahudi-pen] akan terjadi, pasti. Dan bahwa kalimat Tauhid pasti akan mengalahkan orang-orang Yahudi tersebut, baik majikan-majikan maupun budak-budaknya [para pemimpinnya maupun pengikut-pengikutnya -pen].Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Kalian akan memerangi bangsa Yahudi sampai seseorang di antara mereka bersembunyi di belakang batu. Maka batu itu berkata : Wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, bunuhlah !".Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Tidak akan terjadi hari kiamat sebelum kaum Muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kemudian kaum Muslimin membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu atau pohon. Maka batu -atau- pohon itu berkata : Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah. Kecuali pohon Gharqad [sebuah pohon berduri yang dikenal dikalangan bangsa Yahudi], sesungguhnya Gharqad itu adalah salah satu pohon bangsa Yahudi".Dua riwayat di atas adalah riwayat paling kuat dan paling shahih yang di satu sisi menjelaskan pasti dan benar-benarnya kejadian perang melawan Yahudi, sedangkan di sisi lain menjelaskan tentang yakin [pasti]nya kemenangan di tangan kaum Muslimin.Riwayat tersebut -segala puji bagi Allah, dan dengan taufiq-Nya amat sangat jelas, jelas dan jelas. Tidak perlu komentar dan tidak membutuhkan keterangan.Dalam dua nash di atas terdapat berbagai pentunjuk manhaji [bersifat manhaj/bersifat ajaran], yang paling menonjol di antaranya adalah dua hal :Pertama.Berkaitan dengan awalnya, yaitu perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat :"Kalian pasti akan memerangi [orang Yahudi]. Sabda ini memberi petunjuk yang tegas bahwa masa depan hanya untuk Islam saja -bi idznillah-, akan tetapi tentu Islam yang sesuai dengan manhaj Salaf. [Lihat : Basha'ir Dzawisy Syaraf Bisyarhi Marwiyyaati Manhajis Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 151-165].Kedua.Berkaitan dengan akhirnya, yaitu sabda Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menceritakan perkataan pohon atau batu : "Wahai Muslim, wahai hamba Allah!". Kisah ini menunjukkan bahwa manhaj Tarbawi Ishlahi [pola pendidikan yang bertujuan perbaikan] yang tegak berdasarkan realisasi tauhid dan peribadatan adalah betul-betul memiliki kesiapan untuk menegakkan syari'at Allah di muka bumi dan untuk memulai kehidupan baru dengan kehidupan Islami yang sesuai dengan pola kenabian. [Lihat pula : Madaarij al-Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah karya Syaikh Salim al-Hilali hal. 145-153].Di sana ada riwayat lemah -dari berbagai periwayatan- yang tersebar di tengah-tengah masyarakat dan bergulir di kalangan orang-orang khusus dan orang-orang awam, yang wajib diungkap dan dijelaskan [yaitu] :Riwayat Ibnu Sa'd dalam "Tahabaqat"nya VII/422, Al-Bazzar dalam "Musnad"nya IV/138, Az-Zawaid, Ibnu Abi Ashim dalam "Al-Ahad wa Al-Matsani" 2458, dan lain-lain, dari Nahik bin Shuraim As-Sakuni, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Musyrikin sampai akhirnya sisa-sisa [pasukan] kalian akan memerangi Dajjal di sekitar sungai di Urdun [Yordan], kalian di sebelah timurnya dan mereka di sebelah baratnya".Perawinya berkata : Saya tidak tahu di bumi sebelah manakah Urdun [Yordan] pada waktu itu.Hadits ini sanadnya dha'if, di dalamnya terdapat Muhammad bin Aban Al-Qurasyi. Abu Dawud, Ibnu Ma'in, Al-Bukhari dan imam-imam lain mendha'ifkan [melemahkan]nya.Guru kami, 'Allamah, Imam, lautan ilmu, Syaikh Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya- telah mengeluarkan hadits tersebut secara rinci dalam kitab karyanya yang mengagumkan : Silsilah Al-Hadits Adh-Dha'ifah III/460-461. Beliau menjelaskan kelemahan hadits itu, kemudian beliau Rahimahulah berkata :"Saya tulis hadits ini setelah banyak pertanyaan mengenainya, bertepatan dengan pendudukan bangsa Yahudi di tepi barat Yordania pada awal bulan Haziran [Juni] tahun 1967M. Semoga Allah menghinakan dan merendahkan mereka serta membersihkan negeri ini dari mereka dan dari pendukung-pendukungnya".Saya [Syaikh Ali Hasan] berkata : Saya aminkan do'a beliau Rahimahullah di atas, sambil saya jelaskan bahwa sebab penulisan makalah ini adalah karena pembantaian, pengusiran serta perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi semenjak kurang labih tiga bulan yang lalu [dihitung sejak majalah Al-Ashalah edisi ini terbit yaitu Syawal 1421H] terhadap saudara-saudara kita kaum Muslimin di Palestina yang terjajah. Hanya Allah-lah yang dapat memberikan pertolongan.Penutup dari PenerjemahDemikianlah, insya Allah jika kaum Muslimin telah kembali kepada agamanya secara sungguh-sungguh, maka saat itulah negara Yahudi akan lenyap dari permukaan bumi. Sebelumnya akan di awali dengan pertempuran habis-habisan seperti diterangkan dalam dua hadits shahih di atas. Kita senantiasa memohon taufiq dan pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla.[Makalah ini diterjemahkan secara bebas oleh Ahmas Faiz Asifuddin dari majalah al-Ashalah edisi 30/Th.V/15 Syawal 1421H. Majalah As-Sunnah edisi 08/Tahun V/1422H/2001M hal. 21-22.]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1557&bagian=0


Artikel Yahudi Akan Terbasmi, Insya Allah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Yahudi Akan Terbasmi, Insya Allah.