Rabu, 28 Mei 2008

Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4

Kumpulan Artikel Islami

Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4 Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4

Kategori Akhlak

Senin, 29 Nopember 2004 14:14:09 WIBBERAKHLAK BAIK DAN PENTINGNYA BAGI PENUNTUT ILMUOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahBagian Pertama dari Empat Tulisan 1/4Wahai saudara-saudara sekalian, [pada] kesempatan baik ini saya akan menyampaikan pembicaraan tentang berakhlak baik. Dan akhlak, sebagaimana dikatakan ulama adalah gambaran batin manusia, karena [pada dasarnya] manusia mempunyai dua bentuk, bentuk luar [yaitu fisik] yang Allah ciptakan badan padanya. Dan sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bentuk luar ini ada yang diciptakan dalam bentuk yang indah, dan ada yang diciptakan dalam bentuk yang buruk, dan ada yang diciptakan dalam bentuk diantara keduanya. Dan bentuk batin [demikian juga] ada yang baik dan ada yang buruk, serta ada yang diantara keduanya, dan bentuk batin inilah yang dikatakan sebagai akhlak.Jika demikian halnya, maka yang dinamakan akhlak adalah : â€Å"Gambaran batin, dimana manusia berwatak seperti gambaran batin itu”. Dan sebagaimana akhlak itu merupakan suatu tabiat [pemberian Allah], sesungguhnya akhlak baik juga dapat diperoleh dengan berusaha untuk berakhlak baik, artinya bahwa [ada] manusia yang diciptakan Allah dalam keadaan berperangai baik, dan terkadang ada yang memperoleh akhlak baik itu dengan cara berusaha dan memaksa [serta mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik] - oleh karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada [sahabat yang bernama] Al Asaj bin Qais :"Artinya : Sesunggunhya dalam dirimu terdapat dua perangai yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tenang, [lalu] Al Asaj bin Qais berkata : Wahai Rasulullah, apakah dua perangai itu aku yang membikin [mengusahakan untuk berakhlak sabar dan tenang] ataukah Allah telah ciptakan keduanya untukku Beliau bersabda : â€Å"Allah menciptakanmu dalam keadaan berakhlak sabar dan tenang ”.Maka ini adalah dalil bahwa akhlak mulia itu terjadi melalui tabiat [pembawaan asli], dan bisa juga terjadi dari usaha untuk berakhlak mulia. Akan tetapi, akhlak mulia yang lahir dari tabiat, tentu lebih baik dari akhlak mulia yang terjadi dari hasil usaha untuk berakhlak mulia. Karena jika akhlak itu terlahir dari tabiat, ia akan menjadi karakter dan pembawaan bagi manusia yang tidak membutuhkan usaha membiasakan dan melatihnya. Akan tetapi, ini adalah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang tidak diciptakan dalam keadaan berakhlak baik, sesungguhnya ia dapat memperolehnya dari jalan berusaha untuk berakhlak baik itu, dengan cara membiasakan dan memaksa [serta mengalahkan jiwa untuk berakhlak baik] sebagaimana kami akan menyebutkannya insya Allah.Dan banyak manusia berprasangka bahwa berakhlak baik hanyalah dilakukan dalam bermuamalah dengan makhluk, tanpa bermuamalah dengan Allah. Akan tetapi ini adalah pemahaman yang sempit [dalam memahami makna berakhlak baik], karena sesungguhnya berakhlak baik itu sebagaimana dilakukan dalam bermuamalah dengan mahluk, juga dilakukan dalam bermuamalah dengan Al Khaliq [Sang Pencipta]. Maka pembahasan tentang berakhlak baik adalah bermuamalah dengan Allah dan bermuamalah dengan mahluk.Maka apakah yan dimaksud dengan berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah Berakhlak baik dalam bermuamalah dengan Allah terkumpul dalam tiga perkara :1. Menerima berita-berita dari Allah [Al Qur'an] dengan membenarkannya.2. Menerima hukum-hukum Allah dengan cara mengamalkannya.3. Menerima takdir Allah dengan sabar dan ridha.Maka dalam tiga hal inilah berkisar sesuatu yang berkenaan dengan berakhlaq baik dengan Allah.PERTAMA : MENERIMAN BERITA-BERITA DARI ALLAH [AL-QUR'AN] DENGAN MEMBENARKANNYA.Di mana [artinya adalah] tidak terdapat keraguan dalam diri manusia atau kebimbangan dalam membenarkan berita dari Allah [Al Qur’an] , karena berita dari Allah bersumber dari ilmu yaitu Allah Dzat yang paling benar perkataannya. Sebagaimana firman Allah :â€Å"Artinya : Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan [nya] daripada Allah” [An Nisa : 87]Dan wajib membenarkan berita dari Allah dengan sikap mempercayainya, membelanya, berjihad dengannya, dimana keraguan dan kebimbangan terhadap Al Qur’an dan hadits tidak memasukinya. Dan jika seseorang menampakkan akhlak seperti ini, maka mungkin baginya untuk menolak setiap subhat [kerancuan] yang dibawa oleh orang-orang yang menentang terhadap Al Hadits, baik itu mereka yang menentang dari kalangan orang muslim yang mengadakan perbuatan bid’ah [perkara yang tidak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya] atau orang-orang non muslim yang melemparkan subhat dalam hati kaum muslimin. Dan kami beri contoh tentang hal itu :Tersebut dalam shahih Bukhari sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :â€Å"Jika lalat terjatuh dalam minuman salah seoran dari kalian, maka hendaklah ia benamkan lalat itu kedalam minuman, lalu setelah itu hendaknya ia membuang lalat itu, karena sesunguhnya di dalam salah satu sayapnya terdapat penyakit, dan disayap lainnya terdapat obat” [Bukhari 5782]Ini adalah berita dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam perkara-perkara yang ghaib, Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan dari hawa nafsunya, tetapi yang beliau Shallallahu alaihi wa sallam ucapkan adalah wahyu Allah. [Hal ini] karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia, sedangkan manusia tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan Allah berfirman kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:"Artinya : Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak [pula] aku mengetahui yang ghaib dan tidak [pula] aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." [Al An’am : 50]Berita ini [hadits tentang lalat], wajib bagi kita menerimanya dengan akhak yang baik. Dan berakhlak baik terhadap hadits ini adalah dengan menerimanya serta menetapkan bahwa hadits yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah haq dan benar, walaupun ditentang orang yang menentangnya. Dan kita mengetahui dengan seyakin-yakinnya, bahwa pendapat yang menyelisihi hadits yang benar keshahihannya dari Rasulullah r adalah [pendapat] batil, hal ini karena Allah berfirman :â€Å"Artinya : Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan” [Yunus : 32]Contoh lainnya :Dari peristiwa hari kiamat, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa matahari berada dekat dengan manusia pada hari kiamat seukuran saru mil. Baik itu mil "al-makhalah" [ukuran jaraj] atau mil perjalanan. Jarak ini [antara matahari dan manusia] dekat sekali, tetapi manusia tidak terbakar oleh panasnya, padahal kalau matahari saat ini [didunia] dekat sekali pasti dunia terbakar. Maka terkadang seseorang berkata : â€Å"Bagaimana matahari berada dekat kepala-kepala manusia pada hari kiamat sejarak ukuran ini lalu manusia tidak terbakar maka dimanakah akhlak yang baik terhadap hadits ini Berakhlak baik terhadap hadits ini adalah dengan menerima dan membenarkannya, dan hendaknya tidak terdapat dalam hati kita kesempitan, kegalauan dan kebimbangan. Dan hendaknya kita mengetahui bahwa hadits yang diberitakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal ini adalah haq dan tidak mungkin kita mengqiyaskan [menyerupakan] keadaan-keadaan di akhirat berdasarkan keadaan-keadaan didunia, [hal ini] karena adanya perbedaan besar. Maka jika keadaannya demikian, maka seorang yang beriman akan menerima hadits semisal ini dengan lapang dada dan ketenangan, dan pemahaman tentangnya akan bertambah luas, inilah [berakhlak baik] terhadap berita-berita [dalam Al Qur’an dan hadits].[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhirah Al-Islamiyah Th I/No.06/1424/2003]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1198&bagian=0


Artikel Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 1/4.

Tauhid Uluhiyyah

Kumpulan Artikel Islami

Tauhid Uluhiyyah Tauhid Uluhiyyah

Kategori Aqidah Ahlus Sunnah

Sabtu, 24 September 2005 09:06:33 WIBTAUHID ULUHIYYAHOlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasArtinya, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf [takut], raja’ [harap], mahabbah [cinta], dzabh [penyembelihan], bernadzar, isti’anah [minta pertolongan], isthighotsah [minta pertolongan di saat sulit], isti’adzah [meminta perlindungan] dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah.Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar [syirik yang besar] dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa: 48, 116] [1]Al-Ilah artinya al-Ma’luh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.Allah Azza wa Jalla berfirman:â€Å"Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesem-bahan yang haq melainkan Dia. Yang Mahapemurah lagi Maha-penyayang” [Al-Baqarah: 163]Berkata Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah [wafat th. 1376 H]: â€Å"Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak boleh Dia disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya[2]Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.â€Å"Artinya : Allah menyatakan bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu [juga menyatakan demikian]. Tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain-Nya, Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana” [Ali ‘Imran: 18]Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah:â€Å"Artinya : Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk [menyembah]nya...”[An-Najm: 23]Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.â€Å"Artinya : [Kuasa Allah] yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar” [Al-Hajj: 62]Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf â€Å"alaihis Sallam yang berkata kepada kedua temannya di penjara:â€Å"Artinya : Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya [menyembah] nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu…”[Yusuf: 39-40]Oleh karena itu para Rasul ‘Alaihimus Salam berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja[3]â€Å"Artinya : Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesem-bahan yang haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa [kepada-Nya]” [ Al-Mukminuun: 32]Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala .Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti.Pertama.Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:â€Å"Artinya :Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya [untuk disembah], yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk [menolak] sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak [pula untuk mengam-bil] sesuatu kemanfaatan pun dan [juga] tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak [pula] membangkitkan.” [Al-Fur-qaan: 3]Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:â€Å"Artinya : Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap [sebagai tuhan] selain Allah. Mereka tidak memiliki [kekuasaan] seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam [penciptaan] langit. Dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat..” [Saba’: 22-23]Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:â€Å"Artinya : Apakah mereka mempersekutukan [Allah dengan] berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun Sedangkan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf: 191-192]Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah dan tempat meminta pertolongan.Kedua:Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melin-dungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah [penghambaan], seperti mereka mengesakan Rububiyah [ketuhanan] Allah. Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk me-laksanakan Tauhid Uluhiyah [beribadah hanya kepada Allah saja].â€Å"Artinya : Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air [hujan] dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui”[Al-Baqarah: 21-22][Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]_________Foote Note[1]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Ikrimah, asy-Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fat-hul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid [hal. 39-40] tahqiq Dr. Walid bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.[2]. Lihat Min Ushuuli ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah dan Aqidatut Tauhiid [hal. 36] oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fat-hul Majiid Syarah Kitabut Tauhiid dan al-Ushuul ats-Tsalaatsah [Tiga Landasan Utama].[3]. Lihat Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan [hal. 63, cet. Mak-tabah al-Ma’arif , 1420 H].

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=1587&bagian=0


Artikel Tauhid Uluhiyyah diambil dari http://www.asofwah.or.id
Tauhid Uluhiyyah.

Hukum Meremehkan Shalat 2/2

Kumpulan Artikel Islami

Hukum Meremehkan Shalat 2/2 Hukum Meremehkan Shalat 2/2

Kategori Shalat

Rabu, 28 April 2004 08:18:00 WIBHUKUM MEREMEHKAN SHALATOlehSyaikh Abdul Aziz bin BazBagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]Pertanyaan.Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Banyak di antara orang-orang sekarang yang meremehkan shalat, bahkan sebagian mereka ada yang meninggalkan semuanya, bagaimana hukum mereka Dan apa yang diwajiban kepada setiap Muslim berkaitan dengan mereka, terutama kerabatnya, seperti ; orang tua, anak, isteri dan sebagainya Jawaban.Adapun meninggalkan shalat seluruhnya –ataupun hanya sebagian waktunya- maka ini adalah kekufuran yang besar walaupun tidak mengingkari kewajibannya, demikian menurut pendapat yang paling kuat diantara dia pendapat ulama, baik yang meninggalkan shalat itu laki-laki maupun perempuan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.â€Å"Artinya : Sesungguhnya [pembatas] antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman 82]Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.â€Å"Artinya : Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir” [Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/346 dan para penyusun kitab sunan dengan isnad shahih : At-Turmudzi 2621, An-Nasa’i 1/232, Ibnu Majah 1079]Jadi berdasarkan hadits-hadits lainnya yang berkenaan dengan masalah ini.Sedangkan orang yang mengingkari kewajibannya –baik laki-laki maupun perempuan- maka pengingkarannya itu telah menjadikannya kafir dengan kekufuran yang besar berdasarkan kesepakatan ahlul ilmi, bahkan sekalipun ia melaksanakan shalat. Kita memohon kepada Allah untuk kita dan semua kaum Muslimin agar senantiasa dibebaskan dari yang demikian, sesungguhnya Dia sebaik-baik tempat meminta.Wajib bagi semua kaum Muslimin untuk saling menasehati dan saling berwasiat dengan kebenaran serta saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, di antaranya adalah dengan menasehati orang yang meninggalkan shalat jama’ah atau meremehkannya sehingga terkadang meninggalkannya, juga memperingatkannya akan kemurkaan dan siksaan Allah.Lain dari itu, hendaknya sang ayah, ibu dan saudara-saudaranya yang se-rumah, agar senantiasa menasehatinya, dan terus menerus mengingatkannya, mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk sehingga ia menjadi lurus. Demikian juga perempuan yang meninggalkannya, mereka harus dinasehati dan diperingatkan akan murka dan siksa Allah, serta terus menerus diperingatkan.Selanjutnya, perlu mengambil tindakan dengan mengasingkan orang yang enggan dan memperlakukannya dengan cara yang sesuai dengan kemampuan dalam masalah ini, karena hal ini semua termasuk dalam katagori tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta amar ma’ruf dan nahyi mungkar yang telah diwajibkan Allah kepada para hamba-Nya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, berdasarkan firmanNya.â€Å"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka [adalah] menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh [mengerjakan] yang ma’ruf mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [At-Taubah : 71]Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.â€Å"Artinya : Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka [jika tidak melaksanakannya] saat mereka telah berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka” [Hadits Riwayat Abu Dawud, kitab Ash-Shalah 495-496]Dari hadits ini dapat disimpulkan, bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, diperintahkan untuk shalat sejak berusia tujuh tahun, kemudian jika telah mencapai usia sepuluh tahun dan belum juga mau melaksanakannya maka mereka harus dipukul. Maka orang yang sudah baligh tentu lebih wajib lagi untuk diperintah shalat dan dipukul jika tidak melaksanakannya yang disertai dengan nasehat yang terus menerus serta wasiat dengan kebaikan dan kesabaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.â€Å"Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” [Al-Ash : 1-3]Barangsiapa yang meninggalkan shalat setelah usia baligh dan enggan menerima nasehat, maka perkaranya bisa diadukan kepada mahkamah syari’ah sehingga ia diminta untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat maka dibunuh. Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi kaum Muslimin dan menganugerahi mereka kefahaman tentang agama serta menunjukkan mereka untuk senantiasa saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, amar ma’ruf dan nahyi mungkar, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, sesungguhnya Dia Maha Baik lagi Maha Mulia.[Fatawa Muhimmah Tata’allaqu Bish Shalah, hal.21-27, Syaikh Ibnu Baz][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 196-199 Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&article_id=664&bagian=0


Artikel Hukum Meremehkan Shalat 2/2 diambil dari http://www.asofwah.or.id
Hukum Meremehkan Shalat 2/2.

Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid AtauNifas

Kumpulan Artikel Islami

Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid AtauNifas

>> Pertanyaan :

Syaikh yang mulia! Apabila seorang perempuan telah berniat [haji/umrah] padahal ia sedang haid atau nifas, apa yang harus ia lakukanDan bagaimana pula hukumnya kalau ia haid sesudah berniat ihram atausesudah melakukan thawaf?

>> Jawaban :

Apabila ada seseorang mampir di miqat dan ia bermaksud melakukan umrahatau haji sementara ia sedang haid atau nifas, maka ia mengerjakan apayang biasa dilakukan oleh perempuan-perempuan suci, yaitu mandi. Akantetapi ia harus memakai kain pembalut lalu berihram dan apabila telahsuci maka ia thawaf, bersai dan memotong sedikit rambutnya [bertahallul].Dengan demikian selesailah umrahnya.

Jika haid atau nifas itu datang setelah ia berihram [berniat ihram],maka hendaknya ia tetap dalam keadaan ihram hingga suci, lalu [setelahbersuci] mengerjakan thawaf sai dan mencukur sedikit rambutnya [tahallul].

Jika haid itu datang sesudah mengerjakan thawaf, maka hendaknya iamelanjutkan umrahnya [sai dan tahallul]. Hal yang demikian itu tidakmengapa, karena pekerjaan yang dilakukan seusai thawaf itu tidak harusdisyaratkan suci dari hadats maupun dari haid.

Fatawa Makkiyah Ibnu Utsaimin, hal. 19 - Ibnu Utsaimin: Fatawa Jamiahlil Marah al-Muslimah, hal. 45.

Artikel Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid AtauNifas diambil dari http://www.asofwah.or.id
Perempuan Telah Berniat Padahal Ia Sedang Haid AtauNifas.