<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339</id><updated>2012-02-16T13:12:46.276-08:00</updated><title type='text'>Kumpulan Artikel Islami</title><subtitle type='html'>Kumpulan Artikel Islami</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1534</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5565832404044987174</id><published>2008-07-13T09:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T09:47:40.140-07:00</updated><title type='text'>Sunnah-Sunnah Pergi Menuju Masjid</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Sunnah-Sunnah Pergi Menuju Masjid Sunnah-Sunnah Pergi Menuju Masjid&lt;p&gt;Kategori Amalan Sunnah&lt;p&gt;Kamis, 5 Mei 2005 17:35:43 WIBSUNNAH-SUNNAH PERGI MENUJUA MASJIDOlehSyaikh Khalid al Husainan[a]. Bersegera Menuju MasjidRasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Seandainya manusia mengetahui keutamaan panggilan adzan dan shaf awal kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi, pastilah mereka berundi dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba dan seandainya mereka mengetahui keutamaan sepertiga malam yang awal dan shubuh niscaya mereka akan datang kepadaKu  walaupun dengan merangkak&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437]Imam An-Nawawy berkata: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;At-Tahjir adalah bersegera menuju shalat&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;[b]. Doa Pergi Menuju Masjid.&amp;quot;Artinya : Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya dari mukaku, cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku, Ya Allah berikanlah aku cahaya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat. Bukhary 11/116 no. 6316 dan Muslim no. 763 ][c]. Berjalan Menuju Masjid Dengan Tenang  Dan BerwibawaRasuulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Apabila kalian telah mendengar iqomah maka berjalanlah kalian menuju masjid untuk sholat dengan ketenangan dan kewibawaan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Bukhari no 636 dan 908 Sedangkan Muslim tidak meriwayatkan]&amp;quot;As-Sakinah &amp;quot; artinya perlahan dalam berjalan dan menjauhkan diri dari bersendau gurau&amp;quot;Al-Waqoru&amp;quot; artinya menundukkan pandangan, merendahkan suara dan tidak menoleh-noleh.[d]. Pergi Menuju Masjid Dengan Berjalan KakiPara ulama telah menjelaskan bahwa berjalan kaki ke masjid dengan tenang tanpa tergesa-gesa mengandung banyak sekali kebaikan bagi seorang pejalan kaki. Hal ini berdasarkan nash-nash syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at yang menunjukkan tentang keutamaan memperbanyak langkah menuju masjid.Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Maukah kalian aku tunjukkan apa-apa yang menyebabkan Allah menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Mereka berkata: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ya, wahai Rasul&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;, kemudian Rasul menyebutkan salah satunya adalah memperbanyak langkah menuju masjid. [Hadits Riwayat Muslim no. 251][e] Berdo&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;a Ketika Masuk MasjidDoa masuk masjid yaitu :&amp;quot;Artinya : Ya Allah, bukalah pintu rahmat-Mu untukkuBerdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam&amp;quot;Artinya : Apabila diantara kalian ada yang masuk masjid maka bersholawatlah kalian atas Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam kemudian mengucapkan doa: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ya Allah bukalah pintu rahmat-Mu untukku&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Muslim 1/494 no. 713, Abu Dawud no. 465, Nasaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;I no.728, Ibnu Majah no. 772.][f]. Mendahulukan Kaki Kanan Ketika Masuk MasjidBerdasarkan perkataan shahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu &amp;#39;anhu:&amp;quot;Artinya : Termasuk Sunnah, apabila engkau masuk masjid, untuk mendahulukan kakimu yang kanan dan apabila engkau keluar, dahulukan kaki kirimu. [Hadits Riwayat Hakim 1/475, ia berkata : Shahih berdasarkan syarat Muslim&amp;quot; Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi][g]. Memprioritaskan Menempati Shaff Yang Pertama.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Seandainya manusia mengetahui keutamaan panggilan adzan dan shaf awal kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi, pastilah mereka berundi dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166;&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437, Pent][h]. Berdoa Ketika Keluar MasjidJika keluar dari masjid, hendaklah mengucapkan&amp;quot;Artinya : Ya Allah, aku mohon kepadamu karuniamu. [Hadits Riwayat Muslim 713 dan Abu Dawud 465]Dan pada riwayat An-Nasa&amp;#39;i terdapat tambahan agar bershalawat kepada Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam[i]. Mendahulukan kaki kiri ketika keluar dari Masjid sebagaimana perkataan shahabat Anas bin Malik ketika menyebutkan tentang keutamaan mendahulukan kaki kanan ketika masuk masjid.[j]. Shalat Tahiyatul MasjidSabda Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam&amp;quot;Artinya : Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah shalat dua rakaat  sebelum ia duduk&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Bukhari no. 444 dan Muslim no. 714]Imam Syafi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Shalat Tahiyatul Masjid disyariatkan kecuali pada waktu yang dilarang.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [1]Al Hafidz Ibnu Hajar, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Shalat Tahiyatul Masjid adalah sunnah hukumnya menurut ijma dari ahli fatawa [ulama].&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Praktek  sunnah-sunnah tersebut terjadi berulangkali, dilakukan oleh seorang muslim ketika hendak bepergian menuju masjid untuk shalat lima waktu,    apabila dikumpulkan maka akan didapat sebanyak 50 sunnah.[Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]_________Foote Note[1]. Waktu yang terlarang untuk melakukan shalat sunnah tathawwu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; ada tiga. Berdasarkan hadits dari Uqbah bin Amir Al Juhani Radhiyallahu &amp;#39;anhu diriwayatkan bahwa ia  berkata: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ada tiga waktu yang kami dilarang Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam untuk shalat pada waktu tersebut dan juga untuk menguburkan mayyit; ketika matahari persis terbit, hingga meninggi; ketika matahari tepat di atas kepala, hingga condong; dan manakala matahari mulai tenggelam, hingga betul-betul tenggelam. [Hadits Riwayat. Muslim, dalam Kitab Shalatul Musafirin, bab waktu-waktu yang terlarang. No. 831].&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1423&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1423&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Sunnah-Sunnah Pergi Menuju Masjid diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Sunnah-Sunnah Pergi Menuju Masjid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5565832404044987174?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5565832404044987174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5565832404044987174' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5565832404044987174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5565832404044987174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/sunnah-sunnah-pergi-menuju-masjid.html' title='Sunnah-Sunnah Pergi Menuju Masjid'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-6154831625104101080</id><published>2008-07-13T08:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T08:47:34.071-07:00</updated><title type='text'>Peringatan Dari Bahaya Penculikan, Pembunuhan Serta Tindak Peledakan 2/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Peringatan Dari Bahaya Penculikan, Pembunuhan Serta Tindak Peledakan 2/2 Peringatan Dari Bahaya Penculikan, Pembunuhan Serta Tindak Peledakan 2/2&lt;p&gt;Kategori Al-Irhab = Terorisme&lt;p&gt;Jumat, 10 September 2004 23:24:51 WIBPERINGATAN DARI BAHAYA IGHTIYAALAT [PENCULIKAN DAN PEMBUNUHAN] SERTA TINDAK PELEDAKAN DENGAN DALIH KISAH PEMBUNUHAN KAAB BIN AL-ASYRAFOlehSyaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri[Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#39;iyah, Darul Hadits Ma&amp;#39;rib Yaman, 1418H]Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]Syubhat-Syubhat Dan BantahannyaApabila mereka berkata, &amp;quot;Kami sudah terbukti berhasil di berbagai tempat&amp;quot;.Bantahannya :Keberhasilan bukanlah sebuah ukuran [kebenaran, -pent]. Hal ini jika mereka memang benar-benar berhasil ! Namun mana bukti keberhasilan tersebut  Bagaimana mungkin mereka berhasil bila mereka selalu menyelisihi alim ulama.Ada yang berdalil dengan hadits Aisyah yang berbunyi :&amp;quot;Artinya : Bakal ada pasukan yang akan menyerang Ka&amp;#39;bah, tetapi ketika mereka sampai di suatu tempat tiba-tiba dibinasakan seluruhnya. Tidak ada yang tersisa !&amp;quot; Beliau ditanya, &amp;quot;Bagaimana mungkin dibinasakan seluruhmya padahal di situ ada orang-orang yang tidak terlihat yaitu orang-orang yang sedang di pasar&amp;quot; Beliau menjawab, &amp;quot;Dibinasakan seluruhnya, kemudian dibangkitkan menurut niat masing-masing&amp;quot; [Muttafaqun &amp;#39;Alaihi]Menurut akal mereka yang picik, makna implistnya adalah meledakkan kendaraan-kendaraan, terowongan-terowongan, atau bangunan-bangunan. adapun mengenai orang-orang yang tidak bersalah namun turut menjadi korban akan dibangkitkan menurut niat masing-masing.Cobalah perhatikan ! Betapa dangkalnya pemahaman mereka seandainya mereka mau menelaah kitab &amp;quot;Fathul Bari&amp;quot; [IV : 241] mereka pasti akan menemukan perkataan Ibnul Munayyir sebagai berikut :&amp;quot;Hukuman yang tertera di dalam hadits tersebut adalah hukuman Allah langsung dari-Nya, tidak boleh disamakan dengan hukuman Allah melalui prosedur syariat&amp;quot;. [1]Memang benar, cara seperti itu diperbolehkan apabila tidak ada pilihan lain untuk mencegah kejahatan musuh-musuh Allah selain dengan cara tersebut, dan memiliki kemampuan untuk melakukannya tanpa menimbulkan fitnah [bencana] yang lebih besar sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah.Akan tetapi, apakah benar tidak ada pilihan lain  Realita yang ada membantahnya ! Peluang dakwah masih terbuka lebar di hadapan mereka. Kemudian bandingkanlah keadaan mereka dengan ayat di bawah ini.&amp;quot;Artinya : Dan kalaulah tidak karena beberapa orang laki-laki dan wanita yang beriman yang tiada kamu ketahui sehingga kamu membunuhnya. maka kamu ditimpa kesulitan tanpa pengetahuan. [tentu Allah akan membiarkan kamu membinasakan mereka]&amp;quot; [Al-Fath : 25]Lalu anggaplah orang-orang yang mereka kafirkan itu benar-benar kafir, tetapi apakah setiap orang kafir boleh di culik dan dibunuh  Bukankah terdapat beberapa perincian dan syarat-syarat yang telah digariskan oleh alim ulama Cobalah perhatikan, seandainya Rasulullah merestui keinginan beberapa sahabat [di antaranya adalah Abdurrahman bin Auf. -pent] untuk berperang pada waktu masih berada di kota Mekkah, niscaya beliau telah melanggar perintah Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman.&amp;quot;Artinya : Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka Tahanlah tanganmu dari berperang !&amp;quot; [An-Nisaa : 77]Pada saat itu Rasulullah hanya berkata.&amp;quot;Artinya : Aku diperintahkan untuk memaafkan&amp;quot;[Silakan lihat sebab turun ayat ini dalam buku &amp;quot; Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul&amp;quot; karya Syaikh Muqbil bin Hadii hal. 81]Ada sebagian orang yang berdalil dengan fatwa Syaikhul Islam IbnuTaimiyah dalam &amp;quot;Majmu &amp;#39; Fatawa&amp;quot; [XXVIII : 546-547], yaitu ketika tentara orang-orang musyrik menawan beberapa kaum muslimin untuk menghadapi tentara orang-orang musyrik tersebut [walaupun berakibat terbunuhnya tawanan-tawanan muslim itu, -pent], kemudian semuanya nanti dibangkitkan menurut niat masing-masing, tetapi hal itu dibolehkan apabila kejahatan orang-orang musyrik tersebut sudah mengganas dan tidak dapat dicegah kecuali dengan menghadapinya. Dan hal itu termasuk di dalam kaidah : Memilih mudharat yang paling ringan. Adapun perbuatan pemuda-pemuda ingusan tadi, bahkan sebaliknya, yaitu memilih mudharat yang paling berat. Bagaikan seorang pemburu yang berburu dengan ketapelnya, ia tidak dapat melumpuhkan buruan dan tidak dapat menewaskan musuh, tapi hanya meretakkan gigi atau mencederai mata seperti yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Mughoffal. [2]Penjelasan lengkap masalah ini tidak dapat dimuat seluruhnya di dalam kumpulan fatwa yang sederhana ini. Keterangan lebih lanjut dapat pembaca temukan di tempat lain, inysa Allah. Nasehat kami kepada segenap kaum muslimin adalah agar mereka senantiasa berada di bawah bimbingan alim ulama. Rasulullah bersabda, &amp;quot;Keberkahan itu terdapat pada sesepuh-sesepuh kamu [yaitu ulama kamu] &amp;quot; [Hadits shahih riwayat Abu Ya&amp;#39;la di dalam musnadnya, dan Al-Albani mencantumkan di dalam &amp;quot;Silsilah Hadits Shahih&amp;quot; No. 1778]Dan agar mereka senantiasa menekuni dakwah Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#39;ah yang ditegakkan di atas kaidah dan proses belajar mengajar, ditegakkan dengan ketenangan dan penyebaran nasihat serta kesabaran. Dan agar mereka membuang jauh-jauh pemikiran-pemikiran kotor tersebut.Kemudian nasehat kami kepada pemuda-pemuda itu agar mereka bertakwa kepada Allah di dalam menghadapi umat ini dan di dalam berdakwah kepada agama Allah. Dan hendaklah mereka mengevaluasi diri sendiri. Di antara mereka ada yang benar-benar ikhlas, jujur, dan benar-benar tulus membela agama. Di antara mereka ada yang ahli ibadah, zuhud, dan orang-orang yang kita acungi jempol ibadah-ibadahnya. Semoga kami bukanlah berlebih-lebihan memuji mereka ! Hendaklah mereka selalu berkonsultasi kepada alim ulama dengan penuh kejujuran dan semata-mata untuk mencari kebenaran di dalam semua masalah yang ada. Sehingga mereka menjadi penuntut ilmu dengan sebenarnya dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Dan hendaklah mereka menghidupkan kembali majlis-majlis ilmu syar&amp;#39;i. Janganlah mereka tertipu dengan ucapan : &amp;quot;Kita sekarang berada pada era tekhnologi, bukan zaman kitab kuning seperti Fathul Barii&amp;quot;. Hendaklah selalu diingat bahwa : Seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti generasi awal [generasi Salafus Shalih] dan seluruh kejelekan adalah dengan mengikuti bid&amp;#39;ah generasi akhir.Telah sampai berita gembira kepada kami bahwa sekelompok besar dari mereka mulai menyadari besarnya bahaya dan kemudharatan akibat perbuatan mereka dan tergerak untuk rujuk dari kekeliruan mereka. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan. Demikianlah dugaan baik kami kepada orang-orang yang ikhlas yaitu segera bertobat kepada Allah dari kesalahan dan segera menjauhi tindakan-tindakan yang dinyatakan sesat oleh alim ulama. Semoga Allah memperkaya pengetahuan kita di dalam agama dan menganugrahkan keistiqomahan di atasnya.Kami memohon kepada Allah semoga memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan semoga menjadikan kita sebagai pembingbing kepada hidayah, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan. Dan semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan selamat, bukan sebagai juru fitnah [penyebar bencana] dan bukan pula sebagai orang yang terfitnah [ditimpa bencana]. Sesungguhnya Dia-lah satu-satinya penolong dan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, sahabat, serta keluarganya.[Disalin dari buku Silsilah Al-Fatwa Asy-Syar&amp;#39;iyah edisi Indonesia Bunga Rampai Fatwa-Fatwa Syar&amp;#39;iyah oleh Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaimani Al-Mishri, terbitan Pustaka At-Tibyan Cet Th 2000, hal 98 - 105, penerjemah Abu Ihsan]__________Foote Notes[1] Sebab hukuman Allah melalui syari&amp;#39;at dijatuhkan berdasarkan bukti-bukti, persaksian-persaksian, dan azas praduga tidak bersalah, berbeda dengan hukuman Allah langsung dari-Nya. -pent.[2] Maksud beliau adalah hadits Muttafaq &amp;#39;alaihi dari Abdullah bin Mughaffal bahwa pada suatu hari ia melihat seseorang berburu dengan cara melemparkan batu [dengan ketapel atau sejenisnya], beliau menegurnay seraya berkata, &amp;quot;Janganlah gunakan cara seperti itu, sebab Rasulullah telah melarangnya, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, &amp;quot;Cara seperti itu tidak dapat melumpuhkan buruan, dan tidak dapat menewasakan musuh, tetapi hanya meretakkan gigi atau mencederai mata&amp;quot;. Kemudian setelah itu beliau melihat orang tersebut masih melakukannya. Beliau berkata kepadanya. &amp;quot;Aku sudah sampaikan kepadamu bahwa Rasulullah telah melarangnya, namun kamu masih saja melakukannya ! Aku tidak mau berbicara denganmu selama-lamanya&amp;quot;. Cobalah lihat ! betapa mirip pemuda-pemuda ingusan tadi dengan orang tersebut, -pent.&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1013&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1013&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Peringatan Dari Bahaya Penculikan, Pembunuhan Serta Tindak Peledakan 2/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Peringatan Dari Bahaya Penculikan, Pembunuhan Serta Tindak Peledakan 2/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-6154831625104101080?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/6154831625104101080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=6154831625104101080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6154831625104101080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6154831625104101080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/peringatan-dari-bahaya-penculikan.html' title='Peringatan Dari Bahaya Penculikan, Pembunuhan Serta Tindak Peledakan 2/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-8920596776754056271</id><published>2008-07-13T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T07:47:29.559-07:00</updated><title type='text'>Tujuan Manusia Diciptakan</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Tujuan Manusia Diciptakan &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Apa tujuan penciptaan manusia?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin meng-ingatkan pada kaidahumum tentang apa yang diciptakan Allah Ta&amp;#39;ala dan apa yangdisyariatkan-Nya. Kaidah ini diambil dari firman Allah Ta&amp;#39;ala:&lt;p&gt;Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. [Yusuf:83], dan firman-Nya:&lt;p&gt;Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. [Al-Ahzab:1] serta ayat-ayat lainnya yang menunjukkan tentang pene-tapan hikmahAllah Ta&amp;#39;ala pada apa yang diciptakan-Nya dan apa yangdisyariatkan-Nya, yaitu ketentuan-ketentuan-Nya dalam penciptaan dansyariat. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang diciptakan AllahTa&amp;#39;ala kecuali ada hikmahnya, baik itu dalam hal mengadakannya ataupunmeniadakannya, dan tidak ada sesuatu pun yang disyariatkan AllahTa&amp;#39;ala kecuali untuk suatu hikmah, baik itu yang diwajibkan, atau yangdiha-ramkan ataupun yang dibolehkan.&lt;p&gt;Namun kadang-kadang hikmah-hikmah yang tercakup dalam hikmahpenciptaan dan pensyariatan itu kita ketahui, kadang pula tidak kitaketahui dan ada pula yang hanya diketahui oleh sebagian orang sajasesuai dengan ilmu dan pemahaman yang diberikan Allah Ta&amp;#39;ala kepadamereka. Demikianlah, maka kami katakan; bahwa sesungguh-nya AllahTa&amp;#39;ala menciptakan jin dan manusia untuk suatu hikmah yang agung dantujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah [menghamba] kepada-Nya,sebagaimana firman-Nya:&lt;p&gt;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya merekamenyembah-Ku. [Adz-Dzariyat: 56].&lt;p&gt;Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamusecara main-main [saja], dan bahwa kamu tidak akan dikembali-kankepada Kami[Al-Mukminun: 115].&lt;p&gt;Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja [tanpapertanggungjawaban][Al-Qiyamah: 36].&lt;p&gt;Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Ta&amp;#39;alamempunyai hikmah yang agung dalam penciptaan jin dan manusia, yaituuntuk beribadah kepada-Nya.&lt;p&gt;Ibadah adalah tunduk dan patuh kepada Allah Ta&amp;#39;ala dengan penuhkecintaan dan pengagungan dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya danmenjauhi larangan-larangan-Nya sesuai dengan tuntunan yang ditetapkandalam syariat-syariat-Nya. Allah Ta&amp;#39;ala berfirman,&lt;p&gt;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah denganmemurnikan ketaatan kepada-Nya dalam [menjalankan] agama yang lurus.[Al-Bayyinah: 5].&lt;p&gt;Jadi, itulah hikmah penciptaan jin dan manusia. Dan berdasarkan ini,maka barangsiapa yang membelakangi Rabbnya dan enggan beriba-dahkepada-Nya, berarti ia telah mencampakkan hikmah penciptaan para hamba,dan perbuatannya itu berarti persaksiannya bahwa Allah Ta&amp;#39;ala telahmenciptakan makhluk dengan sia-sia, kendati hal itu tidakdinyata-kannya, namun telah menunjukkan keangkuhan dan kesombongannyauntuk taat kepada Rabbnya.&lt;p&gt;Artikel Tujuan Manusia Diciptakan diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Tujuan Manusia Diciptakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-8920596776754056271?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/8920596776754056271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=8920596776754056271' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8920596776754056271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8920596776754056271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/tujuan-manusia-diciptakan.html' title='Tujuan Manusia Diciptakan'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-7100746971872527410</id><published>2008-07-13T06:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T06:47:23.064-07:00</updated><title type='text'>Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya Yahya bin Ayyub berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Ada seorang pemuda diMadinah yang amat dikagumi oleh &amp;#226;&amp;tilde;Umar bin al-Khaththab RA. Suatu malam,seusai shalat &amp;#226;&amp;tilde;Isya, pemuda ini keluar lalu muncullah di hadapannyaseorang wanita yang menyodorkan dirinya sehingga tergoda jugalahhatinya, lalu wanita itu berlalu.&lt;p&gt;Dia mengikuti jalannya dari belakang hingga sampai ke depan pintunya,lalu melirik-lirik karena malu dengan hatinya dan ketika itulah diateringat ayat Allah [artinya],&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Sesungguhnya orang-rang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-wasdari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga merekamelihat kesalahan-kesalahannya.&amp;#226; &amp;#226;&amp;oelig; [al-A&amp;#226;&amp;trade;r&amp;#195;&amp;#162;f:201], setelahmembacakan ayat itu, dia jatuh pingsan. Lantas, si wanita itu membukapintu dan melihat kondisinya seperti sudah jadi mayat, lantas dibantuoleh pembantu perempuannya, mereka berdua mengangkatnya hingga sampaike pintu rumahnya sendiri.&lt;p&gt;Tak berapa lama, keluarlah ayahnya dan menyaksikan anaknya tergeletakdi depan pintu. Sang anak kemudian dibawa masuk, lantas tersadar.Kemudian dia menanyakan kepada sang anak,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Apa yang telah terjadi denganmu, wahai anakku.&amp;#226;&lt;p&gt;Sang anak tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya namun ayahnyanampak tetap ngotot hingga akhirnya dia menceritakan duduk perkaranya.Ketika sampai pada ayat yang dibacanya tadi, dia kembali jatuh pingsanyang sangat serius hingga menghembuskan nafas terakhir.&lt;p&gt;Kisah kematiannya ini sampai ke telinga &amp;#226;&amp;tilde;Umar RA., maka dia berkata,&amp;#226;&amp;oelig;Kenapa kalian tidak memberitahuku perihal kematiannya.&amp;#226; Kemudian diapergi menuju kuburannya, berdiri seraya memanggil,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Wahai fulan! &amp;#226;&amp;oelig; &amp;#226;&amp;tilde;Dan bagi orang yang takut saat menghadap Tuhannyaada dua surga.&amp;#226;&amp;trade; &amp;#226;&amp;oelig; [ar-Rahm&amp;#195;&amp;#162;n:46].&amp;#226;&lt;p&gt;Lalu dia mendengar suara yang berasal dari dalam kuburan itu, &amp;#226;&amp;oelig;Wahai&amp;#226;&amp;tilde;Umar, Rabbku telah memberinya padaku.&amp;#226;&lt;p&gt;Terdapat versi lain dari riwayat mengenai kisah ini, yaitu &amp;#226;&amp;oelig;Adaseorang pemuda pada masa &amp;#226;&amp;tilde;Umar bin al-Khaththab RA., yang selaludatang ke masjid dan beribadah di sana. Lantas suatu ketika, adaseorang pembantu perempuan yang jatuh cinta padanya dan hal itumembuat hatinya tergetar. Kemudian setelah itu, dia ingat kepada Allahdan melihat kesalahan-kesalahannya sehingga membuatnya jatuh pingsan.Lalu datanglah pamannya yang membawanya ke rumahnya. Tatkala siuman,dia berkata,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Wahai pamanda, pergilah ke hadapan &amp;#226;&amp;tilde;Umar lalu sampaikanlah salamkuuntuknya serta katakan kepadanya, &amp;#226;&amp;tilde;Apa balasan orang yang takut saatmenghadap Rabb-nya.&amp;#226;&amp;trade;&amp;#226;&lt;p&gt;Lalu sang pamanpun memberitahu &amp;#226;&amp;tilde;Umar yang lantas mengunjunginya namunternyata dia sudah meninggal dunia. Maka, berkatalah &amp;#226;&amp;tilde;Umar, &amp;#226;&amp;oelig;Diamendapatkan dua surga.&amp;#226;&lt;p&gt;[SUMBER: &amp;#226;&amp;oelig;al-Maw&amp;#226;&amp;trade;id Jann&amp;#195;&amp;#162;t an-Na&amp;#226;&amp;trade;&amp;#195;&amp;#174;m&amp;#226;&amp;oelig; karya Ibr&amp;#195;&amp;#162;h&amp;#195;&amp;#174;m bin&amp;#226;&amp;tilde;Abdullah al-H&amp;#195;&amp;#162;zimy, h.59-60 sebagai yang dinukil dari kitab &lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Rawdlah al-Muhibb&amp;#195;&amp;#174;n&amp;#226;&amp;oelig; karya Ibn al-Qayyim]&lt;p&gt;Artikel Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-7100746971872527410?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/7100746971872527410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=7100746971872527410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7100746971872527410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7100746971872527410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/balasan-orang-yang-takut-kepada-rabb.html' title='Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5983827104384070132</id><published>2008-07-13T05:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T05:47:18.565-07:00</updated><title type='text'>Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji KecualiMelempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji KecualiMelempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya:  Seorang wanita telahmenyelesaikan semua manasik haji kecuali melempar jumrah dan iamewakilkannya kepada orang lain, sebab ia bersama anaknya yang masihkecil, bagaimana hukum hajinya ?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Apabila tidak ada orang yang menjaga anaknya kecuali dia, maka bolehmewakilkan melempar jumrah kepada orang lain, tetapi bila ada orangyang bisa menjaganya, maka tidak boleh mewakilkannya baik haji wajibataupun sunnah.&lt;p&gt;Artikel Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji KecualiMelempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji KecualiMelempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5983827104384070132?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5983827104384070132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5983827104384070132' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5983827104384070132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5983827104384070132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/wanita-telah-menyelesaikan-semua.html' title='Wanita Telah Menyelesaikan Semua Manasik Haji KecualiMelempar Jumrah Karena Punya Anak Kecil'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-6580221891335923784</id><published>2008-07-13T04:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T04:47:12.917-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah&lt;p&gt;Kategori Qadha Dan Qadar&lt;p&gt;Jumat, 27 Februari 2004 21:36:01 WIBBAGAIMANA ALLAH MENYIKSA MANUSIA SEDANG ITU SUDAH DITENTUKAN ALLAHOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-&amp;#39;UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&amp;#39;Utsaimin ditanya :  &amp;quot;Ada polemik yang dirasakan sebagian manusia, yaitu bagaimana Allah akan menyiksa karena ma&amp;#39;siyat, padahal telah Dia takdirkan hal itu atas manusia &amp;quot;Jawaban.Sebenarnya hal ini bukanlah polemik. Langkah manusia untuk berbuat jahat kemudian dia disiksa karenanya bukanlah persoalan yang sulit. Karena langkah manusia pada berbuat jahat adalah langkah yang sesuai dengan pilihannya sendiri dan tidak ada seorangpun yang mengacungkan pedang di depannya dan mengatakan : &amp;quot;Lakukanlah perbuatan munkar itu&amp;quot;, akan tetapi dia melakukannya atas pilihannya sendiri. Allah telah berfirman.&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan [yang benar], maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur&amp;quot;  [Al-Insan : 3]Maka baik kepada mereka yang bersyukur maupun yang kufur, Allah telah menunjukkan dan menjelaskan tentang jalan [yang benar]. Akan tetapi sebagian manusia ada yang memilih jalan tersebut dan sebagian lagi ada yang tidak memilihnya. Penjelasan [Allah] tersebut pertama dengan Ilzam [keharusan/kepastia logis] dan kedua dengan Bayan [penjelasan].Dalam hal Ilzam, maka kita dapat mengatakan kepada seseorang : Amal duniawi dan amal ukhrawimu sebenarnya sama dan seharusnya Anda memperlakukan keduanya secara sama. Sebagai hal yang maklum adalah apabila ditawarkan kepadamu dua pekerjaan duaniawi yang telah direncanakan. Yang pertama kamu yakini mengandung kabaikan  untuk dirimu dan yang kedua merugikan dirimu. Maka pastilah Anda akan memilih pekerjaan pertama yang merupakan pekerjaan terbaik dari dua rencana di atas dan tidak mungkin Anda memilih pekerjaan kedua, yang merupakan pilihan terburuk lalu Anda mengatakan : &amp;quot;Qadar [Allah] telah menetapkan saya padanya [piliha kedua]. Dengan demikian, apa yang telah Anda tetapkan dalam menempuh jalan dunia semestinya Anda lakukan dalam menempuh jalan ukhrawi. Kita dapat mengatakan : Allah telah menawarkan di hadapanmu dua amal akhirat, yaitu amal buruk yang berupa amal-amal yang menyalahi syara&amp;#39; dan amal shalih yang berupa amal-amal yang sesuai dengan syara&amp;#39;. Maka apabila dalam berbagai pekerjaan duniawi Anda memilih perbuatan yang baik, mengapa Anda tidak memilih amal baik dalam amal akhirat. Karena itu, seharusnya Anda memilih amal baik di dalam mencari akhirat sebagaimana Anda harus memilih pekerjaan baik dalam mencari dunia. Inilah cara Ilzam.Adapun cara Bayan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita semua tidak tahu apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Allah berfirman.&amp;quot;Artinya : Setiap diri tidak mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok&amp;quot;  [Luqman : 34]Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama&amp;#39; mengatakan : &amp;quot;Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup&amp;quot;. Dan kita semua tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan tersebut telah terjadi. Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu perbuatan, maka bukan berarti kita melakukannya atas dasar bahwa perbuatan tersebut telah ditetapkan bagi kita. Akan tetapi kita melakukannya berdasarkan pilihan kita sendiri dan ketika telah terjadi maka kita baru tahu bahwa Allah telah mentakdirkannya untuk kita.Oleh karena itu, manusia tidak bisa beralasan dengan takdir kecuali setelah terjadinya perbuatan tersebut. Disebutkan dari Amirul Mu&amp;#39;minin, Umar bin Kahtthab, sebuah kisah [mungkin benar dari beliau mungkin tidak] bahwa seorang pencuri yang telah memenuhi syarat potong tangan dilaporkan  kepada beliau. Ketika Umar menyuruh untuk memotong tangannya, dia mengatakan : &amp;quot;Tunggu dulu hai Amirul Mu&amp;#39;minin, demi Allah aku tidak mencuri itu kecuali karena Qadar Allah&amp;quot;. Umar mengatakan : &amp;quot;Aku tidak akan memotong tanganmu kecuali karena Qadar Allah&amp;quot;. Maka Umar berargumentasi dengan argumentasi yang digunakan pencuri  tersebut tentang kasus pencurian terhadap harta orang-orang Islam. Padahal Umar bisa berargumentasi dengan Qadar dan Syari&amp;#39;at, karena beliau diperintahkan untuk memotong tangannya. Adapun dalam kasus tersebut, beliau berargumentasi dengan Qadar karena argumentasi tersebut lebih tepat mengenai sasaran.Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi dengan Qadar untuk berbuat ma&amp;#39;siyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman.&amp;quot;Artinya : [Aku telah mengutus] para rasul yang membawa berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah setelah adanya para rasul&amp;quot;  [An-Nisa : 165]Sementara semua amal manusia, setelah datangnya para rasul, tetap terjadi atas Qadar Allah. Walaupun Qadar bisa dijadikan argumentasi akan tetapi selalu bersama-sama dengan terutusnya para rasul selamanya. Dengan demikian jelas bahwa tidak layak berbuat ma&amp;#39;siyat dengan alasan Qadha&amp;#39; dan Qadar Allah, karena dia tidak dipaksa untuk melakukannya.Semoga Allah memberi Taufiq.[Disalin kitab Al-Qadha&amp;#39; wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&amp;#39;, terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=314&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=314&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-6580221891335923784?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/6580221891335923784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=6580221891335923784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6580221891335923784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6580221891335923784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/bagaimana-allah-menyiksa-manusia-sedang.html' title='Bagaimana Allah Menyiksa Manusia Sedang Itu Sudah Ditentukan Allah'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5025496757834244299</id><published>2008-07-13T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T03:47:07.321-07:00</updated><title type='text'>Dipaksa Menikah Pada Usia Dini</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Dipaksa Menikah Pada Usia Dini &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya: Seorang wanita pada masakecilnya telah dihibahkan oleh bapaknya kepada seorang laki-laki,tetapi setelah dewasa dan bapaknya telah wafat ia tidak suka terha-daplaki-laki itu, bagaimana status hal tersebut?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Jika masalahnya seperti yang telah disebutkan maka hibah yangdisebutkan itu tidak bisa disebut pernikahan yang sah dan perempuantersebut bukan istri yang sah bagi laki-laki tersebut hanya karenapenghibahan sebab tidak terpenuhi syarat sahnya pernikahan.[Fatawa waRasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 10/78]&lt;p&gt;Artikel Dipaksa Menikah Pada Usia Dini diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Dipaksa Menikah Pada Usia Dini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5025496757834244299?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5025496757834244299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5025496757834244299' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5025496757834244299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5025496757834244299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/dipaksa-menikah-pada-usia-dini.html' title='Dipaksa Menikah Pada Usia Dini'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-420320452777535731</id><published>2008-07-13T02:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T02:47:02.012-07:00</updated><title type='text'>Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Bolehkah mengucapkan niat misalnya jika saya ingin menyembelih hewanqurban untuk orang tua saya yang telah meninggal, lalu sayamengucapkan : Ya Allah, qurban ini untuk orang tua saya si fulan, atausaya melakukan hajat saya tanpa mengucapkan niat dan cukup. ?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Niat tempatnya di hati, dan cukup dengan apa yang diniatkan dalam hati,dan tidak mengucapkannya dan dia harus mengucapkan Bismillah danAllahu Akbar ketika akan menyembelih, berdasarkan riwayat Anas binMalik radhiyallahu &amp;#39;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &amp;#39;alaihi wasallamberqurban dengan dua domba, dia sembelih keduanya dengan tangan beliausendiri, membaca Bismillah dan Allahu Akbar. Hr. Ahmad, Muslim, AbuDaud, Tirmidzi, Nasa&amp;#39;I dan Ibnu Majah. Dan tidak ada larangan, jikadia [ yang berqurban ketika menyembelih] mengucapkan : Ya Allah,qurban ini untuk orangtuaku, dan ini adalah bukan termasuk mengucapkanniat.&lt;p&gt;Artikel Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-420320452777535731?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/420320452777535731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=420320452777535731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/420320452777535731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/420320452777535731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hewan-yang-tidak-sah-dijadikan-hewan.html' title='Hewan Yang Tidak Sah Dijadikan Hewan Qurban'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-7242889983693328232</id><published>2008-07-13T01:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T01:46:57.146-07:00</updated><title type='text'>Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa ? Dan Adakah Nilai Sosial Puasa</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa ? Dan Adakah Nilai Sosial Puasa Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa  Dan Adakah Nilai Sosial Puasa&lt;p&gt;Kategori Puasa - Fiqih Puasa&lt;p&gt;Kamis, 20 Oktober 2005 12:29:37 WIBAPA YANG LAZIM DAN YANG WAJIB DILAKUKAN ORANG YANG BERPUASAOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa yang lazim dan yang wajib dilakukan orang yang berpuasa JawabanYang lazim bagi orang yang berpuasa adalah memperbanyak ketaatan dan menghindari semua larangan. Sedangkan yang wajib atasnya adalah memelihara kewajiban-kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan, yaitu melaksanakan shalat yang lima waktu pada waktunya secara berjama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, meninggalkan dusta dan ghibah [menggunjing], meninggalkan kecurangan dan praktek-praktek riba serta semua perkataan atau perbuatan haram lainnya.Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam telah bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan palsu serta perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan dia agar meninggalkan makan dan minumnya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Al-Bukhari, Kitab Al-Adabul Mufrad [6057]]NILAI SOSIAL PUASAPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Adakah nilai sosial dalam ibadah puasa JawabanAda. Puasa memiliki nilai-nilai sosial, di antaranya melahirkan rasa persamaan di antara sesama kaum muslimin, bahwa mereka adalah umat yang sama, maka di waktu yang sama dan berpuasa di waktu yang sama pula. Yang kaya merasakan ni&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;mat Allah sehingga menyayangi yang fakir. Menghindari perangkap-perangkap setan yang ditujukan kepada manusia. Lain dari itu, puasa bisa melahirkan ketakwaan kepada Allah yang mana ketakwaan tersebut dapat memperkuat hubungan antar individu masyarakat.[Fatawa Ash-Shiyam, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal.26][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fi Al-Masa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-1, Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1619&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1619&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa ? Dan Adakah Nilai Sosial Puasa diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa ? Dan Adakah Nilai Sosial Puasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-7242889983693328232?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/7242889983693328232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=7242889983693328232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7242889983693328232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7242889983693328232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/apa-yang-lazim-dan-yang-wajib-dilakukan.html' title='Apa Yang Lazim Dan Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Berpuasa ? Dan Adakah Nilai Sosial Puasa'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5196904371699483471</id><published>2008-07-13T00:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T00:46:52.012-07:00</updated><title type='text'>Hukum Terhadap Orang Yang Mengingkari Adanya Kehidupan Akhirat</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hukum Terhadap Orang Yang Mengingkari Adanya Kehidupan Akhirat Hukum Terhadap Orang Yang Mengingkari Adanya Kehidupan Akhirat&lt;p&gt;Kategori Syubhat Dan Jawaban&lt;p&gt;Jumat, 4 Maret 2005 07:32:12 WIBHUKUM TERHADAP ORANG YANG MENGINGKARI ADANYA KEHIDUPAN AKHIRATOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum terhadap orang yang mengingkari kehidupan akhirat dan mengklaim bahwa hal itu hanyalah khurafat yang ada pada abad-abad pertengahan Dan bagaimana membungkam argumentasi merekaJawaban.Barangsiapa yang mengingkari kehidupan akhirat dan mengklaim bahwa hal itu merupakan khurafat yang ada pada abad-abad pertengahan, maka dia kafir. Hal ini berdasarkan firman-firman Allah berikut:[1]. FirmanNya.&amp;quot;Artinya : Dan   tentu mereka akan mengatakan [pula], &amp;#39;Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, da kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.&amp;#39; Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Rabbnya [tentulah kamu melihat peristiwa yang meng-harukan]. Berfirman Allah,&amp;#39; Bukankah [kebangkitan] itu benar,&amp;#39; Mereka menjawab,&amp;#39; Sungguh benar, demi Rabb kami.&amp;#39; Berfirman Allah, &amp;#39;Karena itu rasakanlah adzab ini, disebabkan kamu mengingkari[nya] &amp;#39; . &amp;quot; [Al-An&amp;#39;am:29-30][2]. FirmanNya.&amp;quot;Artinya : Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. [yaitu] orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampui batas lagi berdosa. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, &amp;quot;Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.&amp;quot; Sekali-kali tidak [demikian], sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari [melihat] Rabb mereka.&amp;quot; Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan [kepada mereka], &amp;#39; Inilah adzab yang dahulu selalu kamu dustakan&amp;#39;.&amp;quot; [Al-Muthaffifin:10-17][3]. FirmanNya.&amp;quot;Artinya : Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.&amp;quot; [Al-Furqan : 11].[4]. FirmanNya.&amp;quot;Artinya : Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmatKu, dan mereka itu mendapat adzab yang pedih. &amp;quot; [Al-Ankabut : 23]Sedangkan untuk membungkam argumentasi mereka yang mengingkari tersebut adalah sebagai berikut:Pertama.Sesungguhnya riwayat tentang perkara kebangkitan sudah dinukil secara mutawatir oleh para Nabi dan Rasul di dalam kitab-kitab Ilahi dan syari&amp;#39;at-syari&amp;#39;at langit serta telah diterima secara meluas oleh umat-umat mereka. Bagaimana mungkin kalian mengingkarinya sementara kalian malah membenarkan riwayat yang dinukil para filosof atau pemilik suatu aliran atau prinsip tertentu kepada kalian sekalipun informasi tentang hal itu tidak mencapai tingkatan informasi mengenai perkara kebangkitan, baik dari aspek sarana periwayatannya ataupun persaksian realitas.Kedua.Sesungguhnya perkara kebangkitan dapat diterima oleh akal. Hal itu ditinjau dari beberapa aspek,[1]. Setiap orang tidak ada yang mengingkari bahwa makhluk diciptakan dari tidak ada dan bahwa ia baru terjadi dari tidak terjadi. Maka tentunya, bahwa Yang menciptakan dan menjadikannya ada setelah tidak ada juga mampu mengembalikannya [menghidupkannya] kelak adalah lebih berhak lagi. Hal ini sebagaimana firmanNya,&amp;quot;Artinya : Dan Dialah yang menciptakan [manusia] dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghidupkan]nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya.&amp;quot; [Ar-Rum : 27]Dan firmanNya.&amp;quot;Artinya :  Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.&amp;quot; [Al-Anbiya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;: 104][2]. Setiap orang tidak ada yang mengingkari keagungan penciptaan langit dan bumi karena bentuk keduanya yang besar dan pembuatannya yang demikian indah. Maka tentunya, bahwa Yang menciptakan keduanya juga mampu mengembalikannya [seperti semula] adalah lebih berhak lagi. Sebagaimana firman-firmanNya.&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.&amp;quot; [Ghafir : 57]&amp;quot;Artinya :  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati Ya [bahkan] sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. &amp;quot; [Al-Ahqaf : 33]&amp;quot;Artinya : Dan Tidaklah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu Benar Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencita lagi Maha Mengetahui, Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya,&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;Jadilah! &amp;#39; maka terjadilah ia.&amp;quot; [Yasin : 81-82].[3]. Setiap orang yang memiliki pengetahuan menyaksikan bumi yang kering dan tumbuh-tumbuhannya mati, lalu turun hujan menyiraminya sehingga menjadi subur dan tumbuh-tumbuhan hidup kembali setelah mati. Yang Mahakuasa untuk menghidup-kannya setelah ia mati adalah juga Yang Mahakuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan membangkitkannya. Allah Subanahu wa Ta&amp;#39;ala berfirman.&amp;quot;Artinya : Dan sebagian dari tanda-tanda [kekuasaan]Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya [Rabb] Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.&amp;quot; [Fushshilat : 39]Ketiga.Sesungguhnya perkara kebangkitan dapat dirasakan oleh fisik dan realitas terhadap kejadian-kejadian hidup kembalinya orang-orang yang sudah mati. Di dalam surat Al-Baqarah, Allah menyinggung lima kejadian, yaitu firmanNya,&amp;quot;Artinya : Atau apakah [kamu tidak memperhatikan] orang-orang yang melalui suatu negeri yang [temboknya] telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, &amp;#39;Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh&amp;#39; Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, &amp;#39;Berapakah lamanya kamu tinggal disini&amp;#39; la menjawab, &amp;#39;Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari. &amp;#39; Allah berfirman, &amp;#39; Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu [yang telah menjadi tulang belulang]; Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menutupnya kembali dengan daging. &amp;#39; Maka tatkala telah nyata kepadanya [bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati] diapun berkata, &amp;#39;Saya yakin bakwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.&amp;quot; [Al-Baqarah : 259]Keempat.Sesungguhnya hikmah menuntut adanya kebangkitan setelah kematian agar setiap jiwa mendapatkan balasan perbuatannya sebab bila tidak demikian, maka tentunya penciptaan manusia akan menjadi sia-sia, tidak ada nilainya, tidak ada hikmahnya serta tidak akan ada perbedaan antara manusia dan binatang-binatang di dalam kehidupan duniawi ini. Hal ini sebagaimana firman-firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala berikut.&amp;quot;Artinya : Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main [saja], dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya;tidak ada ilah [yang berhak disembah] selain Dia, Rabb [Yang mempunyai] &amp;#39;Arsy yang mulia. [Al-Mu&amp;#39;minun : 115-116]&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan [waktunya] agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.&amp;quot; [Thaha : 15]&amp;quot;Artinya : Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh, &amp;#39;Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.&amp;#39; [Tidak demikian], bahkan [pasti Allah akan membangkitkan-nya], sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, &amp;#39;Kun [jadilah] Maka jadilah ia.&amp;quot; [An-Nahl : 38-40]&amp;quot;Artinya : Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, &amp;#39;Tidak demikian, demi Rabb-ku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.&amp;#39; Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.&amp;quot; [At-Taghabun : 7]Maka, bila Anda telah menjelaskan argumentasi-argumentasi ini kepada para pengingkar adanya hari kebangkitan namun mereka terus ngotot dengan hal itu, berarti mereka itu adalah orang-orang sombong lagi pembangkang. Dan, orang-orang yang berbuat kezhaliman akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.[Majmu&amp;#39; Fatawa Wa Rasa&amp;#39;il Syaikh ibn Utsaimin, Juz.11, hal. 22-25][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fi Al-Masa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 131-133 Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1365&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1365&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Hukum Terhadap Orang Yang Mengingkari Adanya Kehidupan Akhirat diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hukum Terhadap Orang Yang Mengingkari Adanya Kehidupan Akhirat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5196904371699483471?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5196904371699483471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5196904371699483471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5196904371699483471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5196904371699483471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hukum-terhadap-orang-yang-mengingkari.html' title='Hukum Terhadap Orang Yang Mengingkari Adanya Kehidupan Akhirat'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-6245887464748720193</id><published>2008-07-12T23:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T23:46:45.835-07:00</updated><title type='text'>Macam-Macam Ikhtilaf 2/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Macam-Macam Ikhtilaf 2/2 Macam-Macam Ikhtilaf 2/2&lt;p&gt;Kategori Akhlak&lt;p&gt;Senin, 12 Juli 2004 23:20:29 WIBMACAM-MACAM IKHTILAFOlehSalim bin Shalih Al-MarfadiBagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]Sekalipun demikian, persoalannya tidaklah mutlak begitu yaitu dapat berijtihad untuk membid&amp;#39;ahkan siapa saja yang dikehendaki dengan hujjah ijtihad yang diperbolehkan. Oleh karena itu ada beberapa ketentuan untuk ijitihad ini, yaitu :[1] Hendaknya dalam masalah yang di ijtihad-kan, tidak ada dalil yang qath&amp;#39;iyuts tsubut [qath&amp;#39;i adanya sebagai dalil] dan qath&amp;#39;iyud-dalalah [qath&amp;#39;i penunjukannya/dalalahnya], sebab tidak boleh berijtihad dalam menentang nash. Saya buatkan satu contoh mengenainya dengan firman Allah.&amp;quot;Artinya : Tetapi jika ia tidak menemukan [binanatang korban atau tidak mampu], maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari [lagi] apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh [hari] yang sempurna&amp;quot; [Al-Baqarah : 196].Ayat ini adalah dalil yang qath&amp;#39;iyus-tsubut [qath&amp;#39;i adanya/tetapnya sebagai dalil] karena ia termasuk Al-Qur&amp;#39;an al-Karim. Dan juga qath&amp;#39;iyud dalalah [qath&amp;#39;i penunjukkannya/dalalahnya] tentang wajibnya puasa sepuluh hari bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban [denda] padahal ia ber-tamattu&amp;#39; [mendahulukan umrah daripada haji].[2] Hendaknya dalil tentang permasalahan itu mengandung beberapa kemungkinan. Contoh yang bekaitan dengan dalil zhanniyuts-tsubut [dalil yang masih bersifat zhann.dipertanyakan keadaannya sebagai dalil], ialah pendapat sebagian ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa mustahab [sunnah] hukumnya mengerak-gerakkan jari ketika tasyahhud. Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tambahan &amp;quot;menggerak-gerakkan [jari]&amp;quot; dalam hadits itu adalah syadz [bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat]. Contoh yang berkaitan dengan dalil zhanniyud-dalalah [penunjukkannya sebagai dalil masih bersifat dugaan/dalalahnya tidak qath&amp;#39;i] ialah firman Allah. :&amp;quot;Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri [menunggu] tiga kali quru&amp;quot; [Al-Baqarah : 228].Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al-Qar&amp;#39;u adalah suci, sementara yang lain berpendapat bahwa Al-Qar&amp;#39;u adalah haid. Kedua pendapat tersebut mempunyai kemungkinan benar-benar secara bahasa.[3] Hendaknya ijtihad yang dilakukan tidak dalam masalah yang telah ijma&amp;#39; [disepakati] atau tidak dalam masalah yang telah baku sebagai manhaj ilmiyah Ahlu Sunnah.[4] Hendaknya hukum atas permasalahan itu bersumber dari seorang mujtahid yang telah memenuhi persyaratan ijtihad, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka tentang ushul fiqh.[5] Hendaknya kesimpulan hukum dibangun berdasarkan metode Ahlus Sunnah dalam cara pandang maupun cara mengambil dalil. Di antara metode itu adalah bahwa dalam pendapat yang di ijtihadkannya, memiliki pendahulu dari kalangan ulama umat ini yang telah dipersaksikan keilmuannya dalam masalah dien. Al-Hafidzh Ibnu Rajab dalam kitabnya &amp;quot;Fadhul Ilmi as-Salaf &amp;#39;ala al-Khalaf&amp;quot; berkata :&amp;quot;Adapun para imam dan Fuqaha&amp;#39; Ahul Hadits, maka mereka akan mengikuti hadits shahih sebagaimana adanya apabila hadits itu diamalkan oleh para sahabat, orang-orang yang sesudah mereka atau sekelompok dari mereka, Adapun apa yang telah disepakati oleh mereka untuk ditinggalkan, maka ia tidak boleh diamalkan Umar bin Abdul Aziz berkata : Ambillah pendapat yang sesuai dengan [pendapat] orang-orang sebelum kalian [Salafus Shalih], sesungguhnya mereka lebih tahu dari pada kalian&amp;quot; [Lihat Tsalatsu Rasa&amp;#39;il, karya Al-Hafizh Ibnu Rajab, hal. 140, Tahqiq Muhammad Al-Ajami]Dari keterangan di atas, menjadi jelaslah macam ikhtilaf yang pertama dari ikhtilaf yang diperbolehkan.[b]. Ikhtilaf Tanawwu&amp;#39;Contohnya adalah ikhtilaf sahabat dalam masalah bacaan [Al-Qur&amp;#39;an] pada masa Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam.Dari Abdullah bin Mas&amp;#39;ud Radhiyallahu &amp;#39;anhu, ia berkata :&amp;quot;Saya mendengar seseorang membaca ayat yang saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam membacanya berbeda dengan orang itu, maka saya pegang tangannya lalu saya bahwa kehadapan Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam. Saya laporkan hal itu kepada beliau, namun saya melihat tanda tidak suka pada wajah beliau, dan beliau bersabda.&amp;quot;Artinya : Kalian berdua bagus [bacaannya], jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa&amp;quot;.Ulama yang paling baik menulis masalah ikhtilaf tanawwu ini dan menjelaskannya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu ketika beliau berkata : &amp;quot;Ikhtilaf tanawwu&amp;#39; ada beberapa macam, diantaranya adalah ikhtilaf yang masing-masing dari kedua perkataan [pendapat] atau perbuatan itu benar sesuai syari&amp;#39;at, seperti bacaan [Al-Qur&amp;#39;an] yang diperselisihkan itu dicegah oleh Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam. Rasulullah Shallalahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;quot;Artinya : Kalian berdua bagus/benar [bacaannya]&amp;quot;Misalnya lagi adalah ikhtilaf dalam macam-macam sifat adzan, iqamah, do&amp;#39;a iftitah, tasyahhud, shalat khauf, takbir ied, takbir jenazah dan lain-lain yang semuanya disyari&amp;#39;atkan, meskipun dikatakan bahwa sebagiannya lebih afdhal. Kemudian kita dapatkan banyak umat Islam yang terjerumus dalam ikhtilaf hingga menyebabkan terjadinya peperangan [pertengkaran] antar golongan diantara mereka. hanya karena masalah menggenapkan lafazh iqamah atau mengganjilkannya, atau masalah-masalah semisal lainnya. Ini adalah substansi keharaman itu sendiri. Sementara orang yang tidak sampai ketingkat ini [yaitu tingkat peperangan/pertengkaran], banyak diantaranya yang kedapatan fanatik terhadap salah satu cara [adzan, iqamahm dst] tersebut karena mengikuti hawa nafsu, dan berpaling dari cara lain, atau melarang cara lain yang sebenarnya masuk dalam salah satu cara. Hal yang tentu dilarang oleh Nabi.Diantara ikhtilaf tanawwu&amp;#39; juga adalah ikhtilaf yang masing-masing dari dua pendapat mempunyai kesamaan makna namun redaksinya berbeda, sebagaiman banyak orang [Ulama] yang kadang berselisih dalam membahasakan ketentuan hukum-hukum had, shighah-shighah [bentuk-bentuk ] dalil, istilah tentang nama-nama sesuatu, pembagian-pembagian hukum dan lain-lain. Selanjutnya kebodohan atau kezhalimanlah yang akhirnya membawa pada sikap memuji terhadap sakah satu dari dua pendapat tadi dan mencela yang lain.Diantaranya lagi adalah tentang sesuatu yang memiliki dua makna yang berbeda namun tidak saling berlawanan. Yang ini adalah perkataan benar, dan yang itu juga merupakan perkataan benar, sekalipun maknanya saling berbeda. Ini banyak sekali terjadi dalam perselisihan pendapat.Di antaranya lagi adalah ikhtilaf mengenai dua cara yang sama-sama disyari&amp;#39;atkan. Seseorang atau satu kelompok menempuh jalan ini, sedangkan yang lain menempuh jalan lain. Kedua-duanya baik dalam agama. Tetapi kebodohan atau kezalimanlah yang kemudian menggiring pada sikap mencela terhadap salah satu dari kedua jalan tersebut atau lebih mengutamakannya, tanpa dasar niat yang benar, atau tanpa dasar ilmu, atau tanpa dasar niat yang ikhlas dan tanpa dasar ilmu sekaligus&amp;quot; [Iqtidha&amp;#39; Ash-Shiratth Al-Mustaqim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah I/132-134]Jika pertengkaran di antara sebagian kaum muslimin terjadi dalam ikhtilaf macam ini maka jadilah ikhtilaf itu tercela, sebagaimana yang telah jelas pada penjelasan yang telah lewat dan pada hadits Abdullah bin Mas&amp;#39;ud seputar ikhtilaf dalam qira&amp;#39;ah [bacaan Al-Qur&amp;#39;an]. Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;quot;Artinya : Kalian berdua benar, jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa&amp;quot;Syaikhul Islam berkata : &amp;quot;Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam melarang ikhtilaf [perselisihan pendapat] yang masing-masing dari kedua belah pihak mengingkari/menolak kebenaran yang ada pada pihak lain, karena kedua orang sahabat yang berbeda bacaannya itu sama-sama benar dalam bacaannya. Lalu Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam menjelaskan sebab [larangan] tersebut yaitu bahwa lantaran umat sebelum kita berselisih, maka kemudian mereka menjadi binasa karenanya.Oleh sebab itu ketika Hudzaifah melihat penduduk Syam dan Iraq berselisih mengenai bacaan huruf Al-Qur&amp;#39;an dengan perselisihan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam, beliau berkata kepada Utsman [bin Affan, Amirul Mukminin -ed] : &amp;quot;Perbaikilah umat ini, janganlah mereka berselisih dalam bacaan Al-Qur&amp;#39;an, sebagaimana umat sebelum mereka berselisih&amp;quot;.Jadi keterangan ini memberikan dua faedah :[1] Haramnya berselisih dalam masalah seperti ini.[2] Mengambil pelajaran dari umat sebelumnya dan berhat-hati jangan sampai menyerupai mereka.[Disalin dari Majalah Al-Ashalah tgl. 15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th.III hal 78-89, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M hal. 25-29 penerjemah Ahmad Nusadi. Tulisan ini merupakan Bagian Kedua dari Tiga Tulisan.]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=905&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=905&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Macam-Macam Ikhtilaf 2/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Macam-Macam Ikhtilaf 2/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-6245887464748720193?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/6245887464748720193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=6245887464748720193' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6245887464748720193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6245887464748720193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/macam-macam-ikhtilaf-22.html' title='Macam-Macam Ikhtilaf 2/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-8279874376858375035</id><published>2008-07-12T22:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T22:46:45.481-07:00</updated><title type='text'>Saat Iman Kosong, Setan Terus Rasuki Dirinya AgarBunuh Diri</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Saat Iman Kosong, Setan Terus Rasuki Dirinya AgarBunuh Diri Kisah ini terjadi pada diri seorang muslim yangberusia lebih dari lima puluh tahun. Ia telah meraih gelar Dokterspesialis di laboratorium. Ia tumbuh se-bagai seorang peneliti medisswasta.&lt;p&gt;Ia mempunyai seorang istri dan anak-anak yang sebagian belajar diUniversitas.&lt;p&gt;Antara ia dan istrinya terdapat beberapa problem sebagaimana banyakterjadi di mayoritas rumah tangga. Problem ini semakin ruwet hingga siistri meminta untuk kembali ke negara asalnya. Ini menunjukkan sidokter bukanlah penduduk asli negara yang sedang ia tempati. Lantasistri dan beberapa anaknya berangkat menuju negara asal dan tinggallahhanya ia dan anak sulungnya yang selalu mengunjunginya. Beberapafamili menasehatinya agar menikah dengan wanita lain, namun ia menolakdengan harapan istri dan anak-anaknya masih mau kembali kepadanya.&lt;p&gt;Beberapa waktu setelah ditinggalkan keluarga, ia merasa kehidupandunia semakin sempit, sehingga setan berupaya menggoda agar iamengakhiri kegelisahan hidupnya dengan bunuh diri. Ia telah mencobanyaberkali-kali dengan cara menelan obat berdosis tinggi, namun tidak adayang berhasil. Karena setiap kali ia menelan obat tersebut,orang-orang yang ada di sekitarnya berusaha menyelamatkannya denganmelarikannya ke rumah sakit dan dilakukan pencucian lambung kemudiania keluar dengan kehidupan baru.&lt;p&gt;Demikianlah terjadi beberapa kali. Lelaki ini telah mengalami gangguanmental yang memaksanya untuk tinggal di rumah sakit jiwa selamasebulan.&lt;p&gt;Ia keluar dari rumak sakit dengan membawa makna hidup dan cita-citayang tinggi serta semangat kerja yang baru. Keinginan untuk bunuh diritelah pupus dari pikirannya. Ia kembali melaksanakan tugas rutinnya dilaboratorium dan kembali hidup secara normal.&lt;p&gt;Delapan bulan kemudian, lelaki ini menelepon abang kandungnya yangbertempat tinggal lebih kurang 400 km dari rumahnya. Abangnya mengirabahwa adik-nya tersebut meneleponnya sebagaimana biasa, yaitu hanyauntuk mengetahui kabarnya agar ia tenang. Tetapi ternyata menyampaikantekadnya bahwa dalam waktu dekat akan pergi ke tempat istri dananak-anaknya. Dalam pembicaraan tersebut ia menyampaikan beberapamaklumat pribadi seperti tabungannya di bank, nomor pin kartu ATM,tempat tinggal pribadi dan lain-lain. Hal ini membuat abangnya herandan merasa bahwa ini merupakan ucapan perpisahan terakhir, seakan-akania akan pergi yang takkan kembali.&lt;p&gt;Pada hari berikutnya, yaitu pada hari kamis tanggal 21 Dzulqa&amp;#39;dah 1214H, ia keluar untuk melaksanakan tugas pada jam lima sore. Iamemberitahukan anak sulungnya yang berusia 20 tahun agar ikut kelaboratorium setengah jam lagi. Lokasi laboratorim dekat dari rumahnya.Si anak pergi ke laboratorium sebagaimana yang diminta oleh ayahnyadan ia dapati ayahnya sedang duduk di ruangan kantor khusus yang adadi laboratorium tersebut. beberapa menit kemudian si ayah berkatakepada si anak,  Kamu tunggu dulu di sini, ayah mau pergi ke toilet. Toilet tersebut terletak sekitar 10 m dari kantornya.&lt;p&gt;Si anak duduk menunggu ayahnya kembali. Setelah beberapa menitmenunggu, ia melihat asap yang berasal dari jalan menuju toilet lantasia bangkit dan segera menuju sumber asap tersebut. Ternyata asapberasal dari toilet. Karena asap semakin tebal, ia tidak dapatmencapai toilet, lalu ia menghubungi regu pemadam kebakaran dan tempattidak jauh dari laboratorium.&lt;p&gt;Beberapa menit kemudian mereka sampai ke laboratorium dan regu pemadamkebakaran langsung melaksanakan tugasnya. Mereka mendobrak pintutoilet dan menemui lelaki tersebut yang telah hangus terbakar api.&lt;p&gt;Adapun kondisi toilet, beberapa keramiknya [terbuat dari porselin]jatuh disebabkan hawa yang sangat panas, namun tidak ada yang terbakarkecuali sebagian pintu saja. Di sudut toilet mereka menemui jerigenyang sebagiannya telah terbakar dan di dalamnya ada sedikit bensin.Dari sini mereka semua tahu bahwa lelaki tersebut telah membakardirinya sendiri dengan bensin untuk melepaskan diri dari kegelisahanhidup dan terhindar dari berbagai kesusahan dan kesengsaraan.&lt;p&gt;Demikianlah, ternyata kegelisahan hidupnya itu terus membayang-bayangidirinya untuk berupaya bunuh diri. Kali ini ia berhasil melakukanbunuh diri dengan cara yang paling buruk. Apakah dengan meninggalkandunia seperti itu ia akan menemui kese-nangan dan ketenangan Apakahia dapat mengakhiri kesusahan dan kegelisahannya&lt;p&gt;Tidak dan seribu kali tidak! Bahkan ia telah menjerumuskan dirinya kedalam kegelisahan dan kesengsaraan yang abadi. Api neraka tidak akanpernah padam. Semoga Allah SWT memberi kita keselamatan dan kesehatan.&lt;p&gt;[SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qahthaniseperti yang dinukilnya dari situs Mausu&amp;#39;atul Qishash al-Waqi&amp;#39;iyah,Penerbit DARUL HAQ, telp.021-4701616]&lt;p&gt;Artikel Saat Iman Kosong, Setan Terus Rasuki Dirinya AgarBunuh Diri diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Saat Iman Kosong, Setan Terus Rasuki Dirinya AgarBunuh Diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-8279874376858375035?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/8279874376858375035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=8279874376858375035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8279874376858375035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8279874376858375035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/saat-iman-kosong-setan-terus-rasuki.html' title='Saat Iman Kosong, Setan Terus Rasuki Dirinya AgarBunuh Diri'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4185015844516971428</id><published>2008-07-12T21:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T21:46:36.834-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas&lt;p&gt;Kategori Zakat&lt;p&gt;Rabu, 3 Maret 2004 23:01:53 WIBAPAKAH LEBIH BAIK MENGELUARKAN ZAKAT PERHIASANOlehSyaikh Shalih bin Fauzan Al-FauzanPertanyaanSyaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apa hukum Islam tentang perhiasan yang digunakan wanita, apakah wajib dizakati  Ataukah untuk kehati-hatian lebih baik menzakatinya .JawabanMengenai masalah ini, sebagaimana yang telah Anda ketahui, adalah masalah khilafiyah, yakni ada perbedaan di antara ulama. Sebagian ulama mengatakan tidak ada kewajiban zakat pada perhiasan wanita yang diproyeksikan untuk digunakan, karena perhiasan itu termasuk dalam kategori pakaian yang dibutuhkan dan termasuk kebutuhan untuk dipakai, maka tidak ada zakat pada perhiasan wanita. Para ulama yang berpendapat seperti ini adalah : Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi&amp;#39;i, Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Qayyim serta banyak ulama lainnya.Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa diwajibkan zakat pada perhiasan wanita berdasarkan dalil-dalil yang mereka sebutkan dalam masalah ini, diantaranya adalah Madzhab Abu Hanifah serta beberapa ulama lainnya.Yang jelas, barangsiapa yang ingin berhati-hati dan ingin berzakat dari perhiasannya maka hal itu adalah sesuatu yang baik. Dan mereka yang mengatakan, bahwa tidak ada zakat pada perhiasan wanita, mereka berdalih dengan hadits-hadits yang diperdebatkan.BARU TAHU DIWAJIBKAN ZAKAT PADA PERHIASAN SEKARANG, BAGAIMANA DENGAN WAKTU YANG TELAH LALUOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang wanita yang telah bersuami, umur saya telah mendekati empat puluh satu tahun. Sejak sekitar dua puluh empat tahun yang lalu saya mempunyai beberapa  emas yang tidak diproyeksikan untuk perdagangan. melainkan untuk berhias dan terkadang saya menjualnya lalu hasilnya ditambah dengan dana lain untuk membeli barang yang lebih bagus dari itu. Sekarang saya masih memiliki sebagian dari perhiasan itu, dan saya telah mendengar diwajibkannya zakat pada emas yang diproyeksikan untuk perhiasan, saya mohon kiranya Anda berkenan menerangkan tentang hal ini pada saya. Jika zakat itu diwajibkan pada diri saya, maka bagaimana hukumnya dengan tahun-tahun lalu yang tidak saya keluarkan zakatnya, dan perlu diketahui bahwa saya tidak bisa memperkirakan emas yang saya miliki dalam beberapa thun itu JawabanWajib bagi Anda untuk mengeluarkan zakat sejak ketika Anda telah mengetahui bahwa zakat diwajibkan pada perhiasan. Adapun tahun-tahun yang telah berlalu yaitu tahun-tahun sebelum Anda mengetahui adanya kewajiban zakat, maka tidak ada kewajiban zakat untuk itu, karena keterangan hukum-hukum syari&amp;#39;at diberlakukan setelah adanya pengetahuan tentang ketetapan hukum tersebut. Harta yang wajib dizakatkan itu adalah dua setengah persennya jika perhiasan itu telah mencapai nishab, yaitu sembilan puluh dua gram pada perhiasan emas, maka jika perhiasan emas itu telah mencapai jumlah tersebut atau lebih maka mengeluarkan harta sebagai zakatnya sebesar dua setengah persennya setiap tahunnya, sedangkan nishab perak adalah enam ratus empat puluh empat gram atau senilai uang yang  seharga perak sejumlah itu, zakat yang dikeluarkan adalah dua setengah persennya.Adapun intan berlian dan batu-batuan lainnya yang dijadikan perhiasan, maka semua itu tidak ada kewajiban zakat, tapi jika digunakan untuk berniaga maka dikenakan kewajiban zakat sesuai dengan harga emas dan perak jika telah mencapai nishab. [Kitab Fatawa Ad-Da&amp;#39;wah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/114]BAGAIMANA MENGELUARKAN ZAKAT PERHIASAN EMAS YANG MENGANDUNG CAMPURAN SELAIN EMASOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana cara mengeluarkan zakat perhiasan yang tidak terbuat dari emas murni, melainkan mengandung berbagai macam campuran permata dan batu-batu bernilai tinggi lainnya  Apakah perhiasan ini dihitung secara keseluruhan, sebab untuk memisahkan kandungan emas dari batu-batuan lainnya adalah hal yang menyulitkan tentunya.JawabanYang wajib dizakati adalah emasnya jika untuk digunakan, sedangkan batu-batu mulia, seperti permata, berlian dan lain-lainnya, semua ini tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Jika perhiasan itu terdiri dari berbagai macam unsur seperti yang ditanyakan, maka si pemilik hendaknya mencari tahu akan nilai emas yang bercampur dengan unsur-unsur lainnya, dengan bantuan suaminya, walinya atau dengan memperlihatkan kepada orang yang ahli dalam hal itu, jika sulit untuk diketahui secara pasti maka cukup dengan memperkirakannya,  jika emas yang terkandung dalam perhiasan tersebt telah mencapai nishab, maka wajib bagi pemiliknya untuk berzakat dari emas itu. Nishab emas adalah sembilan puluh dua gram, emas yang harus dizakatkan adalah dua setengah persennya yang harus dikeluarkan setiap tahunnya. Demikian pendapat yang benar di antara beberapa pendapat para ulama. Dan jika perhiasan itu diperdagangkan, maka perhiasan itu dihitung secara keseluruhan, termasuk emas, intan, permata, dan lain-lainnya sebagaimana barang-barang dagangan lainnya yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya menurut pendapat mayoritas ulama. [Fatwa Al-Mar&amp;#39;ah, 2/42]MENGELUARKAN ZAKAT PERHIASAN DALAM MATA REAL SAUDIOlehSyaikh Abdullah bin JibrinPertanyaanSyaikh Abdullah bin Jibrin ditanya : Seorang wanita memiliki perhiasan emas yang telah mencapai nishabnya, bagaimana wanita ini menzakati emas perhiasannya itu dalam bentuk real Saudi dan berapa banyaknya .JawabanHendaknya setiap tahun wanita itu bertanya kepada penjual emas atau lainnya [yang mengerti emas] untuk menanyakan kadarnya dan sebagainya. Jika Anda telah mengetahui harga emas per-gramnya pada saat ini, maka hendaknya Anda berxakat dengan real Saudi senilai harga emas saat itu, dan tidak perlu mengetahui modal dari harga emas itu saat membelinya, zakat emas dikeluarkan seharga saat tiba kewajiban untuk mengeluarkan zakat tersebut. [Ibid, 1/40][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami&amp;#39;ah Lil Mar&amp;#39;atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 212- 215, penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=367&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=367&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4185015844516971428?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4185015844516971428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4185015844516971428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4185015844516971428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4185015844516971428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/bagaimana-mengeluarkan-zakat-perhiasan.html' title='Bagaimana Mengeluarkan Zakat Perhiasan Emas'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5374073782962344715</id><published>2008-07-12T20:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T20:46:31.327-07:00</updated><title type='text'>Orang Musyrik Tidak Diwarisi Oleh Anak-Anaknya Yang Muwahhid</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Orang Musyrik Tidak Diwarisi Oleh Anak-Anaknya Yang Muwahhid Orang Musyrik Tidak Diwarisi Oleh Anak-Anaknya Yang Muwahhid&lt;p&gt;Kategori Waris Dan Wasiat&lt;p&gt;Selasa, 25 Mei 2004 07:33:03 WIBORANG MUSYRIK TIDAK DIWARISI OLEH ANAK-ANAKNYA YANG MUWAHHID [YANG AQIDAHNYA LURUS]OlehLajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal IftaPertanyaan.Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Seorang laki-laki biasa mengerjakan shalat, puasa dan rukun-rukun Islam lainnya, namun disamping itu ia juga memohon kepada selain Allah, seperti ; bertawasul dengan para wali dan meminta pertolongan kepada mereka serta berkeyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat dan mencegah mudharat. Tolong beri  tahu kami, semoga Allah memberi Anda kebaikan, apakah anak-anaknya yang mengesakan Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun mewarisi ayah mereka, dan bagaimana hukum mereka Jawaban.Orang yang mengerjakan shalat, puasa dan rukun-rukun Islam lainnya, namun disamping itu ia pun meminta pertolongan kepada orang-orang yang telah meninggal, orang-orang yang tidak ada atau kepada malaikat dan sebagainya, maka ia seorang musyrik. Jika telah dinasehati namun tidak menerima dan tetap seperti itu sampai meninggal, maka ia telah melakukan syirik akbar yang mengeluarkannya dari agama Islam, sehingga tidak boleh dimandikan, tidak boleh dishalatkan jenazahnya, tidak boleh dikubur di pekuburan kaum Muslimin dan tidak boleh dimintakan ampunan untuknya serta warisannya tidak diwarisi oleh anak-anaknya, orang tuanya atau saudara-saudaranya atau lainnya yang muwahhid [yang tidak mempersekutukan Allah]. Hal ini karena perbedaan agama mereka dengan si mayat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Tidaklah seorang muslim mewarisi seorang kafir dan tidaklah seorang kafir mewarisi seorang muslim&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.[Al-Lajnah Ad-Da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;imah  [dari kitab Fatawa Islamiyah], Juz 3, hal.51][Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fi Al-Masa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 532-533 Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=750&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=750&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Orang Musyrik Tidak Diwarisi Oleh Anak-Anaknya Yang Muwahhid diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Orang Musyrik Tidak Diwarisi Oleh Anak-Anaknya Yang Muwahhid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5374073782962344715?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5374073782962344715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5374073782962344715' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5374073782962344715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5374073782962344715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/orang-musyrik-tidak-diwarisi-oleh-anak.html' title='Orang Musyrik Tidak Diwarisi Oleh Anak-Anaknya Yang Muwahhid'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-8226836561063031914</id><published>2008-07-12T19:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T19:46:30.973-07:00</updated><title type='text'>Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana&lt;p&gt;Kategori Tauhid&lt;p&gt;Senin, 19 Januari 2004 07:04:05 WIBMENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANAOlehSyaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan.Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Allah itu ada dimana-mana.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Bagaimana pandangan hukum agama yterhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam iniJawaban.Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dari aliran Jahmiyah dan Mu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;tazilah serta aliran lain yang sejaan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang di-ikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana [meliputi segala sesuatu].Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat Al Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an,hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ,ijma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; dari pendahulu umat ini.Sebgaimana contoh adalah firman Allah:&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy [Surat Al A&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;raf:54]Didalam Al Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan &amp;#39;bersemayam&amp;quot; menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy sesuai dengan keagungan Allah.Tidak ada yang dapat mengetahui BAGAIMANA bersemayamnya itu,seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini.Beliau menjawab:&amp;quot;&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Kata bersemayam itu telah kita pahami.Akan tetapi ,bagaimana caranya tidak kita ketahui.Mengimana hal ini adalah wajib,tetapi mempersoalkannya adalah bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yakni mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy. Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya ,Syaikh Rabi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah bin Abdurrahman yang bersumber dari riawayat Ummu Salamah radhiallahu anha .Hal ini merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya.Allah telah menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada diatas, seperti dalam firmanNya:&amp;quot;Artinya : Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya&amp;quot; [Surat Faathir:10]&amp;quot;Artinya : Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar&amp;quot; [Al Baqarah:255]&amp;quot;Artinya : Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana [akibat mendustakan] peringatan-Ku&amp;quot; [Surat Al Mulk:16-17]Banyak ayat-ayat Al Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersamayam. Dengan demikian dapatlah diketahui perkataan ahlu bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Allah itu berada dimana-mana,&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; merupakan hal yang sangat batil.Perkataan ini merupakan pernyataan firqoh yang beranggapan bahwa alam ini penjelmaan Allah,suatu aliran bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah lagi sesat,bahkan aliran kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam .Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :Alaa ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;manuniy wa anaa amiinu man fis samaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;  [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi ;Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits [tentang] Isra&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Mi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;raj, dan lain-lain.[Majallatuud Dakwah no.1288]MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANAOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pandangan hukum terhadap jawaban sebagian orang:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Allah berada dimana-mana,&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; bila ditanya :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dimana Allah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benarJawaban.Jawaban seperti ini sepenuhnya batil. Apabila seseorang ditanya :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Allah dimana&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; hendaklah ia menjawab:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Di langit,&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; seperti dikemukakan oleh seorang [budak] perempuan yang ditanya oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dimana Allah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; jawabnya:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Di langit.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Allah itu ada,&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan.Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana ,adalah kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama,bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah.Allah berada diatas segala mahluk. Dia berada diatas semua langit,bersemayam diatas Arsy.[Majmu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Fatawaa wa Rasaail ,juz 1 halaman 132-133][Disalin dari kitab Al Fatawaa Asy Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fil Masaail Al &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ashriyyah min Fatawaa Ulamaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Al Balaadil Haraami, Edisi Indonesia: Fatwa Kontenporer Ulama Besar Tanah Suci, Penyusun Khalid al Juraisy, Penerbit :Media Hidayah, Cet.1 September 2003]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=58&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=58&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-8226836561063031914?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/8226836561063031914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=8226836561063031914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8226836561063031914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8226836561063031914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hukum-mengatakan-allah-ada-dimana-mana.html' title='Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4434074902921199527</id><published>2008-07-12T18:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T18:46:20.586-07:00</updated><title type='text'>Istighatsah 1/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Istighatsah 1/2 Istighatsah 1/2&lt;p&gt;Kategori Tauhid&lt;p&gt;Selasa, 22 Februari 2005 07:03:15 WIBISTIGHATSAHOlehLajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal IftaBagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2Pertanyaan.Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya  : Ada sebagian orang ketika dalam keadaan tertimpa musibah dan bencana, menyeru dalam do&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;anya, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ya Rasulullah !&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Atau selain beliau dari para wali. Ketika dalam keadaan sakit mereka mendatangi kuburan orang-orang shalih dan beristighatsah [memohon bantuan/pertolongan] dengan perantaraan mereka. Mereka mengatakan, sesungguhnya Allah akan menghilangkan bala&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; [musibah] dengan perantaraan orang-orang shalih. Memang kami memohon pertolongan kepada mereka tetapi niat kami adalah kepada Allah karena Allah-lah yang memberi pengaruh&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.Apakah [perkataan dan perbuatan] seperti ini syirik atau tidak, dan apakah mereka dikategorikan sebagai orang-orang musyrik, padahal mereka [juga] mengerjakan shalat, membaca Al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan amal shalih yang lainnya JawabanApa yang mereka lakukan itu merupakan perbuatan syirik yang dahulu telah dikerjakan oleh orang-orang jahiliah. Mereka dahulu menyeru [berdo&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;a] dan beristhatsah [memohon bantuan] kepada Lata, Uzza, Manat, dan yang lainnya sebagai pengagungan [pemujaan] mereka  terhadap para berhala tersebut, dengan harapan dapat mendekatkan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala.Mereka mengatakan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Kami tidak menyembah mereka [para berhala] melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. [Az-Zumar : 3]Mereka juga mengatakan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Yunus : 18]Padahal Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa doa adalah ibadah. Doa tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah, dan Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala sendiri telah melarang berdoa kepada selainNya. Dia Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak [pula] memberi mudharat kepadamu selain Allah ; sebab jika kamu berbuat [yang demikian itu] maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim. Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karuaniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Yunus : 106-107]Kaum muslimin diwajibkan membaca dalam setiap rakaat shalatnya, ayat.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Fatihah : 5]Hal itu sebagai petunjuk bagi mereka bahwa ibadah tidaklah boleh ditujukan kecuali hanya untukNya, dan bahwa memohon pertolongan tidaklah boleh kecuali hanya kepadaNya, bukan kepada orang-orang mati baik dari para nabi dan orang-orang shalih.Janganlah Anda  tertipu dengan banyaknya shalat, puasa, dan bacaan al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an mereka karena sesungguhnya mereka [orang-orang yang beristighatsah kepada mahluk] termasuk orang-orang yang tersesat jalannya di kehidupan dunia ini, sementara mereka menyangka bahwa mereka mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Yang demikian ini karena [ibadah mereka] tidak dibangun di atas pondasi tauhid yang bersih, sehingga ibadah mereka itu hanya [sia-sia belaka] bagaikan debu yang berterbangan. Dalil-dalil dari Al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan As-Sunnah yang menyatakan kesyirikan serta terhapusnya amal mereka banyak sekali. Tengoklah ayat-ayat Al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan As-Sunah yang shahih serta kitab-kitab buah tangan ulama Ahlus Sunnah ! Kami memohon kepada Allah hidayahNya untuk kami dan Anda.[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;imah 1/498-500, Pertanyaan ke-2 &amp;amp; ke-5 dari Fatwa no. 9027 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 6/I/Dzulqa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;dah  1423H]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1355&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1355&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Istighatsah 1/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Istighatsah 1/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4434074902921199527?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4434074902921199527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4434074902921199527' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4434074902921199527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4434074902921199527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/istighatsah-12.html' title='Istighatsah 1/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-8347731851195750596</id><published>2008-07-12T17:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T17:46:14.976-07:00</updated><title type='text'>Salafiyah Dan Politik</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Salafiyah Dan Politik Salafiyah Dan Politik&lt;p&gt;Kategori Demokrasi Dan Politik&lt;p&gt;Rabu, 7 September 2005 13:06:28 WIBSALAFIYAH DAN POLITIKOlehSyaikh Salim bin Ied Al-HilalySesungguhnya salafiyah meniadakan untuk uluran apa saja kepada Hizbiyah Siasiyyah [gerakan politik] yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan bukan sebagai wasilah [perantara], mereka yang berusaha mencapai kekuasaan dengan segala makar, kelicikan dan tipu daya, serta menjadikan Islam sebagai syiar [simbol]. Jika mereka telah mencapai apa saja yang diinginkan, merekapun berpaling dari jalan Islam !Yang demikian itu karena makna politik didalam benak mereka adalah :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Kemampuan memperdaya dan menipu, dan seni membentuk jawaban-jawaban yang bermuatan [politis], serta perbuatan-perbuatan yang mempunyai halusinasi, yang diibaratkan dalam bentuk bejana yang diletakkan didalamnya baik itu warna, rasa dan baunya.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Politik seperti ini dalam pandangan salafiyyin [mereka yang mengikuti pemahaman salafus shalih] serupa dengan kemunafikan ; karena dalam politik seperti ini ada sikap tidak konsisten pada aqidah, mereka mengotori jiwa Islam, merusak keimanan, melepaskan ikatan Al-Wala&amp;#39; [loyalitas] dan Al-Bara&amp;#39; [kebencian], serta menipu kaum muslimin, para dai yang fajir [jahat] tersebut menjadikan politik sebagai tangga saja, mereka menggembor-gemborkan dakwaan untuk menolak kedzaliman, menolong kaum muslimin, meringankan bahaya atau menghilangkan kemungkaran. Dan kami telah melihat kebanyakan mereka itu berubah dan tidak merubah. Dan orang yang berbuat seperti cara mereka, tidak akan keluar dengan selamat dari permainan politik, dan tidak akan kembali dengan kemenangan.Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa salafiyah [dakwah yang menyeru kepada Al Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan sunnah dengan pemahaman sahabat nabi] tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, tidak memahami keadaan/kondisi mereka, tidak berusaha dengan sunguh-sungguh memulai kehidupan Islam yang berlandaskan kepada Manhaj Nubuwah [ajaran nabi], kemudian setelah itu mewujudkan hukum Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala dimuka bumi, agar agama itu seluruhnya menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala tiada sekutu bagi-Nya, agar tersebar keadilan dimana-mana. Oleh karena itu salafiyah menjadikan hal diatas sebagai salah satu dari tujuan-tujuannya, berusaha merealisasikan, beramal untuk mencapainya, serta mengajak kaum muslimin, khususnya para da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;salafi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; untuk bersatu diatasnya, agar kalimat mereka satu.Meskipun demikian, kami melihat sebagian orang yang masih ingusan, menyangka/menuduh bahwasan dakwah salafiyah pada saat ini tidak ada politik didalam manhajnya ! dia beralasan bahwa memulai kehidupan Islam bukan dari tujuan mereka, yang tercantum pada sampul belakang kitab-kitab mereka.Sesungguhnya tuduhan ini hanyalah untuk merobohkan dakwah Salafiyyah, sekalipun ia berusaha mengatakan akan mendirikannya, semua itu ia lakukan untuk mengelabui teman-temannya. Dibawah ini ada keterangan yang sepatutnya untuk diketahui:[1]. Sesungguhnya memulai kehidupan Islam diatas Manhaj Nubuwah [ajaran nabi] dan menumbuhkan masyarakat Rabbani, dan merealisasikan hukum Allah Azza wa Jalla dimuka bumi adalah hal yang ditegaskan oleh dakwah salafiyah dengan [tiada rasa harap dan takut], karena dakwah salafiyah akarnya kembali kepada generasi sahabat, dan metodenya adalah dasar-dasar yang telah ditetapkan oleh ulama Rabbani. Manhaj salafiyah dalam merubah adalah seperti para sahabat nabi dan ulama, yaitu dengan mengikuti sunnah bukan berbuat bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah. Dan manhaj seperti ini bertolak belakang dengan dakwah-dakwah masa kini yang mendakwahkan telah mendahului dalam segalanya dan dakwah-dakwah ini bagaikan tunas yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tegak sedikitpun.[2]. Sesungguhnya tujuan umum yang ditegaskan dakwah salafiyyah semuanya untuk merubah [kepada yang baik] :[a]. Mengembalikan umat kepada Al-Qur&amp;#39;an dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat Nabi , ini adalah merubah kondisi umat.[b]. Membersihkan kotoran yang masih melekat pada kehidupan kaum muslimin berupa kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya. Memperingatkan mereka dari perbuatan bid&amp;#39;ah yang munkar dan pemikiran-pemikiran batil yang masuk, mensucikan sunnah dari riwayat-riwayat yang dha&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;if dan palsu yang mengotori kebersihan Islam dan menghalangi kemajuan kaum muslimin, ini dalam rangka merubah kondisi umat.[c]. Menyeru kaum muslimin untuk mengamalkan hukum-hukum Islam, berhias dengan keutamaan-keutamaan dan adab-adab agama yang membuahkan ridha Allah didunia dan akhirat, serta mewujudkan kebahagiaan dan kemuliaan bagi mereka : ini juga dala rangka merubah kondisi umat.[d]. Dan sesungguhnya menghidupkan ijtihad yang benar sesuai dengan Al-Qur&amp;#39;an dan Sunnah serta pemahaman sahabat Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam untuk menghilangkan sikap fanatik madzhab, serta melenyapkan fanatik golongan agar kaum muslimin kembali bersaudara, dan bersatu diatas ajaran Allah Azza wa Jalla sebagai saudara, ini juga merubah kondisi umat.[3]. Ini yang pertama, adapun hal lainnya, sesungguhnya tujuan-tujuan itu semuanya untuk memulai kehidupan Islam akan tetapi diatas manhaj Nubuwah [metode nabi], dan penyebutan masalah ini pada pembahasan setelahnya adalah termasuk dalam bab penyebutan hal yang khusus sesudah hal yang umum.[4]. Adapun sesudah itu sesungguhnya salafiyin menempuh manhaj [metode] perubahan berdasarkan Al-Qur&amp;#39;an yang tidak terdapat kebatilan didalamnya yaitu firman Allah Azza wa Jalla :&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah diri-diri mereka.&amp;quot; [Ar-Ra&amp;#39;du : 11]Maka medan perubahan ini adalah jiwa-jiwa manusia agar jiwa-jiwa itu tegak, istiqomah diatas manhaj Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala, dan siap untuk menjadi pemimpin.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala telah berjanji untuk mengokohkan [Islam dan kaum muslimin] tapi dengan syarat mereka mau merubah diri-diri mereka sendiri :&amp;quot;Artinya : Jika kalian menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian.&amp;quot; [Muhammad  : 7]Oleh karena itu kami melihat guru kami Syaikh Al-Albani memuji kata-kata yang masyhur dibawah ini :&amp;quot;Tegakkanlah daulah Islam dalam jiwa-jiwa kalian niscaya daulah Islam itu akan tegak dibumi kalian.&amp;quot;Beliau memuji kalimat tersebut karena sesuai dengan Al Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dalam metode memperbaiki masyarakat bukan lantaran beliau terpengaruh dengan pencetusnya.Barangkali ada orang yang akan berkata : Sesungguhnya metode &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Tasfiyah dan Tarbiyah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [mensucikan dan mendidik] itu tidak jelas, untuk orang-orang seperti ini telah dikatakan : &amp;quot;Sesungguhnya manhaj ini lebih terang dari matahari akan tetapi terkadang mata mengingkari cahaya matahari karena tertutup dengan debu.&amp;quot;Sesungguhnya manhaj ini adalah metode Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam yang Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala mengutus beliau untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dan melahirkan umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan serta melarang kemungkaran dan beriman kepada Allah Azza wa jalla.&amp;quot;Artinya : Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya pada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah [As-Sunnah].&amp;quot; [Al-Jumu&amp;#39;ah : 2]Sesungguhnya ini adalah ilmu dan tazkiyah [pensucian] dan kita tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan tasfiyah [pemurnian], dan sekali-kali tidak akan bisa mewujudkan pensucian melainkan dengan tarbiyah [mendidik].Ini adalah pemahaman para pewaris Nabi, umat yang adil, yang mana Allah menyingkapkan kekaburan dengan mereka dan menghilangkan serta menghancurkan kezaliman, sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits yang hasan.&amp;quot;Artinya : Ilmu ini akan dibawah oleh orang-orang yang adil, mereka meniadakan penyimpangan orang-orang yangmelampaui batas, melenyapkan orang-orang yang batil dan orang-orang yang bodoh.&amp;quot;Manhaj salaf menyelamatkan para pemuda/generasi umat dari jaring-jaring hizbiyyah, sebagaimana dalam hadits Bukhari dan Muslim :&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala tidak mencabut ilmu sesudah Allah memberikan kepada kalian akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan kematian para ulama hingga jika tidak tersisa seorang ulama manusia menjadikan pemuka-pemuka mereka orang-orang yang bodoh lalu mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu hingga mereka menyesatkan dan mereka sendiri tersesat.&amp;quot;Dakwah salafiyah tidak mengarahkan untuk bentrok [secara frontal] dengan para penguasa dan undang-undang karena dakwah ini menginginkan perbaikan dan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki. Karena hukum dan penguasa bukanlah tujuan menurut dakwah salafiyah tetapi hal itu adalah wasilah / sarana untuk beribadah kepada Allah semata dan agar agama ini menjadi milik Allah seluruhnya.Bentrok dengan penguasa / kudeta dapat mengakibatkan urusan yang lebih besar, jika tidak percaya maka lihatlah fakta!Demikian juga sesungguhnya peraturan Islam harus mempunyai penopang dan pembela dari rencana busuk musuh-musuh Islam dan para dai yang menghalangi jalannya :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Anfal : 62]Dan tidaklah kaum muslimin menjadi penopang para rasul sesudah Allah, melainkan jika mereka terdidik diatas manhaj Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau [semoga Allah meridhai mereka]..[contoh] jihad Afghanistan, jihad ini mempunyai pembela dan penopangnya dari rakyat Afghanistan...akan tetapi kaidah tasfiyah dan tarbiyah ini terlalaikan dengan perlawanan [terhadap musuh] sebelum tarbiyah, sehingga tatkala mencapai singgasana kekuasaan bercerai-berailah sesudah sebelumnya kuat, bermusuhan diantara mereka dan mereka menjadi lemah, dan hilang kekuatan mereka, runtuh dan hancur, dan para musuh pengintai mereka menunggu kesempatan.Jika demikian [kenyataannya] haruslah dilakukan tashfiyah [pembersihan] dan tarbiyah [pendidikan] diatas manhaj Nabawi yang bersih yang terlahirkan darinya generasi yang menjadikan Muhammad Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan para sahabatnya sebagai panutan.Disamping itu sesungguhnya salafyin tidak mengingkari orang-orang yang melakukan perubahan, akan tetapi mereka mengingkari metode perubahan, yang tidak bisa &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;mengenyangkan dan tidak bisa menghilangkan rasa lapar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;, bahkan orang-orang yang tergesa-gesa dan orang-orang yang mengambil manfaat [dunia] menaiki metode itu untuk mengorbankan para pemuda muslim, mereka membuat kerusakan yang pada akhirnya mereka berguguran di sarang musuh dengan sebab ketergesa-gesaan mereka, dan sunnah Allah Azza wa jalla menimpa mereka sebagaimana yang dikatakan para ulama.&amp;quot;Artinya : Barangsiapa tergesa-gesa sebelum waktunya maka diharamkan mendapatkannya.&amp;quot;Salafiyyun menolak metode-metode yang mendukung ahli batil serta menghina kaum muslimin menjadikan kaum muslimin berpecah-pecah, berkelompok-kelompok [berpartai-partai], permusuhan diantara mereka sangat sengit. Kemudian dilecehkannya aqidah serta syariat Islam.Inilah yang diingkari salafyyin, dan mereka selalu memperingatkan darinya, pendorong mereka dalam hal ini seluruhnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala.&amp;quot;Artinya : Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada petunjuk bagiku melainkan denga pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.&amp;quot; [Hud : 88]Dan Allahlah yang menjanjikan ..[Diterjemahkan dari majalah al-Asholah edisi 18 hal 29][Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyah, Edisi 10/Th II/2004/1425H]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1567&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1567&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Salafiyah Dan Politik diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Salafiyah Dan Politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-8347731851195750596?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/8347731851195750596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=8347731851195750596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8347731851195750596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8347731851195750596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/salafiyah-dan-politik.html' title='Salafiyah Dan Politik'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5322986894341595585</id><published>2008-07-12T16:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T16:46:08.893-07:00</updated><title type='text'>SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH)</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH) Nama Dan Nasabnya&lt;p&gt;Beliau rahimahullah adalah Syaikh al-&amp;#226;&amp;tilde;Allamah Abu AhmadMuhammad Aman bin Ali Jami Ali.&lt;p&gt;Kelahirannya&lt;p&gt;Beliau dilahirkan pada tahun 1349 H di desa Thagha Thab daerah Harar,Habasyah [Ethiopia], Afrika.&lt;p&gt;Pertumbuhan Ilmiah Dan Guru-Gurunya&lt;p&gt;Beliau rahimahullah tumbuh di desanya, Thagha Thab. Di situ,beliau belajar al-Qur&amp;#226;&amp;trade;an hingga khatam kemudian belajar fiqh MadzhabSyafi&amp;#226;&amp;trade;i. Beliau juga belajar bahasa Arab kepada Syaikh Muhammad Aminal-Harari.&lt;p&gt;Kemudian beliau meninggalkan desanya guna menuntut ilmu. Hinggabertemu sahabatnya dalam menuntut ilmu, Syaikh Abdul Karim. Keduanyapergi belajar Nazhm Zubad karya Ibnu Ruslan kepada Syaikh Musadan belajar matan Minhaj kepada Syaikh Abadir. Demikian pula, keduanyamempelajari beberapa bidang ilmu lainnya.&lt;p&gt;Keduanya lantas sepakat pergi ke Saudi Arabia dalam rangka ibadah hajidan menuntut ilmu. Mereka berdua melakukan perjalanan darat dariHabasyah menuju Somalia. Dari somalia melakukan perjalanan lewat lauthingga ke Aden, Yaman. Kemudian berjalan kaki hingga Mekkah.&lt;p&gt;Setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1369 H, beliau &lt;p&gt;rahimahullah memulai belajarnya dengan menghadiri halaqah-halaqahdi masjidil haram. Beliau belajar kepada Syaikh Abdur Razaq Hamzah,Syaikh Abdul Haq al-Hasyimi, Syaikh Abdullah ash-Shomali dan ulamalainnya.&lt;p&gt;Beliau berkenalan dengan Syaikh Abdul Aziz bin bin Baz rahimahullah[mantan mufti &amp;#226;&amp;tilde;am kerajaan Arab Saudi-red] dan menemaninya dalamperjalanan ke Riyadh ketika beliau masuk ke Ma&amp;#226;&amp;trade;had Ilmi di Riyadh. Diantara rekan beliau ketika belajar di Ma&amp;#226;&amp;trade;had Ilmi adalah Syaikh AbdulMuhsin bin Hamd al-Abbad dan Syaikh Ali bin Muhanna.&lt;p&gt;Di samping belajar di Ma&amp;#226;&amp;trade;had Ilmi, beliau juga menghadirihalaqah-halaqah ilmu di Riyadh. Beliau menghadiri mejelis SyaikhMuhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdur Rahman al-Afriqi, SyaikhAbdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, SyaikhHammad al-Anshari.&lt;p&gt;Beliau rahimahullah juga belajar kepada Syaikh Abdur RazzaqAfifi, Syaikh Muhammad Khalil Harras dan Syaikh Abdullah al-Qar&amp;#226;&amp;trade;awi.&lt;p&gt;Pengabdiannya Kepada Kaum Muslimin&lt;p&gt;Beliau diusulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Syaikh Muhammadbin Ibrahim, Mufti Saudi Arabia waktu itu, agar ditugaskan mengajar diMa&amp;#226;&amp;trade;had Ilmi di Shamithah, daerah Jazan. Usulan ini disetujui SyaikhMuhammad bin Ibrahim.&lt;p&gt;Ketika Universitas Islam Madinah dibuka pada tahun 1381 H, beliaudipilih oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagai salah seorangpengajarnya dalam mata kuliah aqidah.&lt;p&gt;Beliau juga ditugaskan sebagai pengajar di masjid Nabawi dalam bidangaqidah.&lt;p&gt;Beliau kerahkan upaya beliau dalam dakwah ilallah di dalam dan di luarnegeri Saudi selama kurang lebih 40 tahun, menjelaskan aqidahsalafiyah dan membantah ahli bid&amp;#226;&amp;trade;ah serta orang-orang yang menyelewengdari jalan yang lurus. Beliau memiliki andil besar dalam menjelaskanperbedaan-perbedaan yang mendasar antara manhaj salafi danmanhaj-manhaj bid&amp;#226;&amp;trade;ah yang hendak memalingkan umat dari manhaj Nabishallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Kerena kegigihandakwah inilah, beliau banyak mendapat rintangan dan gangguan. Tidakhenti-hentinya para pemilik kesesatan melontarkan tuduhan-tuduhan danperkataan-perkataan yang tidak pantas kepada beliau. Sampai-sampai adayang berusaha memberikan gangguang fisik kepada beliau. Akan tetapi,tidak henti-hentinya pula beliau membela dakwah salafiyah dengan penuhkesabaran dan mengharap keridhaan Alloh, hingga beliau wafat.&lt;p&gt;Akhlaknya&lt;p&gt;Beliau dikenal gigih dalam melakukan nasihat terhadap Alloh, Rasul-Nya,para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam. Beliau jarangbergaul dengan manusia kecuali dalam kebaikan. Beliau selalu menjagawaktu-waktunya. Kebiasaan beliau dikenal banyak orang; keluar darirumahnya mengajar di Jami&amp;#226;&amp;trade;ah, kemudian pulang ke rumah, lalu ke masjidNabawi menyampaikan ta&amp;#226;&amp;trade;limnya sesudah Ashar, sesudah Maghrib, sesudahIsya&amp;#226;&amp;trade; dan sesudah Fajar. Begitulah jadwal beliau, sampai beliaumengalami sakit keras hingga meninggal dunia. Beliau dikenal menjagalisannya, tidak mengejek, tidak mencela dan tidak mengghibah. Bahkanbeliau tidak mengizinkan seorangpun melakukan ghibah dan menyebut aibmanusia di hadapannya. Ketika terjadi suatu kesalahan pada sebagianpanuntut ilmu pada suatu kaset atau kitab, beliau mendengarkan ataumembacanya. Jika nampak bagi beliau kesalahan tersebut, beliau lakukannasihat terhadapnya. Beliau dikenal lembut dan pemaaf. Dengankelembutan dan sikap memaafkan, beliau hadapi ujian, makar dangangguan. Beliau memiliki perhatian yang sangat besar kepadamurid-muridnya. Beliau hadiri undangan-undangan mereka. Menanyakankeadaan mereka dan mengatasi sebagian permasalahan keluarga mereka.Ringkasnya, beliau membantu mereka dengan harta, waktu dankedudukannya.&lt;p&gt;Pujian Para Ulama Kepadanya &lt;p&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Beliau dikenaldengan keilmuannya, keutamaannya, kelurusan aqidahnya dan kegigihandakwahnya kepada Alloh serta memperingatkan dari bid&amp;#226;&amp;trade;ah dan khurafat.Semoga Alloh mengampuninya, menempatkannya dalam keluasan surga-Nya,memperbagus keturunannya dan semoga Alloh mengumpulkan kita semua danbeliau di negeri kemuliaan-Nya.&amp;#226;&lt;p&gt;Dalam kesempatan lain, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahberkata. &amp;#226;&amp;oelig;Syaikh Muhammad Aman al-Jami dan Syaikh Rabi&amp;#226;&amp;trade; bin Hadi al-Madkhali,keduanya termasuk Ahli Sunnah. Keduanya dikenal dengan keilmuan,keutamaan dan kelurusan aqidahnya. Syaikh Muhammad Aman al-Jami telahwafat pada malam kamis 27 Sya&amp;#226;&amp;trade;ban tahun ini. Aku berwasiat agardipelajari kitab-kitab keduanya. Aku memohon agar Alloh memberikantaufiq kepada kita semua pada apa yang dia cintai dan dia ridhai.&amp;#226;&lt;p&gt;Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Aku mengenal SyaikhMuhammad Aman al-Jami ketika belajar di ma&amp;#226;&amp;trade;had ilmi Riyadh dan sebagaidosen di Universitas Islam Madinah. Aku mengenal beliau dengankelurusan aqidah dan keselamatan arah. Beliau memiliki perhatian yangbesar dalam menjelaskan aqidah salaf dan memperingatkan darikebid&amp;#226;&amp;trade;ahan di dalam ta&amp;#226;&amp;trade;lim-ta&amp;#226;&amp;trade;limnya, ceramah-ceramahnya dantulisan-tulisannya. Semoga Alloh mengampuninya, merahmatinya danmemberikan pahala yang berlimpah kepadanya.&amp;#226;&lt;p&gt;Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Orang-orang yang berilmu danmemiliki ijazah ilmiah banyak sekali. Tetapi sedikit dari mereka yangbisa memanfaatkan dan memberikan faedah dari ilmunya. Syaikh MuhammadAman al-Jami termasuk kelompok sedikit dari para ulama yangmengarahkan ilmu dan upaya mereka memberikan faedah dan mengarahkankaum muslimin dengan dakwah kepada Alloh melalui ta&amp;#226;&amp;trade;lim-ta&amp;#226;&amp;trade;limnya diJami&amp;#226;&amp;trade;ah Islamiyah dan masjid Nabawi serta dalam perjalanan dakwahnyadi dalam dan luar Saudi, menyeru kepada tauhid, menyebarkan aqidahyang shahih, mengarahkan para pemuda umat ini kepada manhaj salafushshalih dan memperingatkan mereka dari pemikiran-pemikiran yang merusakdan seruan-seruan yang menyesatkan. Siapa saja yang belum mengenalnyasecara langsung, bisa mengenal melalui kitab-kitabnya dankaset-kasetnya yang bermanfaat, yang menampakan keluasan ilmunya.Beliau terus melanjutkan kebaikan amalnya hingga beliau wafat. Beliautinggalkan ilmu yang bermanfaat, yang terwujud pada murid-muridnya dankitab-kitabnya. Semoga Alloh merahmatinya dan membalasnya dengankebaikan.&amp;#226;&lt;p&gt;Syaikh Rabi&amp;#226;&amp;trade; bin Hadi al-Madkhali berkata, &amp;#226;&amp;oelig; Adapun Syaikh MuahammadAman, aku tidak mengetahui beliau kecuali seorang yang beriman,bertauhid, salafi, faqih dalam agamanya, dan mempuni dalam ilmu aqidah.Tidak pernah kulihat yang lebih bagus darinya dalam memaparkan aqidah.Beliau telah mengajarkan kepada kami al-Wasithiyah dan al-Hamawiyahsaat di marhalah Tsanawiyah. Tidak pernah kami melihat yang lebihbagus dari beliau dalam memahamkan para murid. Kami mengenal beliaudengan akhlak yang mulia, tawadhu dan kewibawaan. Kami memohon kepadaAlloh agar mengangkat derajat beliau di surga dengan sebabcelaan-celaan dan perkataan-perkataan yang tidak pantas dari ahlulahwa&amp;#226;&amp;trade; [pengikut hawa nafsu] kepadanya. Terakhir, beliau meninggaldengan berwasiat agar selalu berpegang teguh dengan aqidah yang shahih,berwasiat kepada para ulama agar memperhatikan masalah aqidah. Inimenunjukan kejujurannya &amp;#226;&amp;quot;insya Alloh- dalam keimanannya dan dalil ataskhusnul khatimahnya. Semoga Alloh selalu mencurahkan kepada kita danbeliau rahmat dan keridhaanNya.&amp;#226;&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Tsani berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Beliau adalahseorang ulama salafi. Merupakan teladan utama dalam dakwah islamiyah.Beliau memiliki ceramah-ceramah di masjid-masjid danpertemuan-pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Beliau memilikitulisan-tulisan dalam masalah aqidah dan yang lainnya. Semoga Allohmemberikan balasan sebaik-baiknya kepada beliau dan mencurahkan pahalayang banyak di akhirat.&amp;#226;&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Banna berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Beliau adalahsebaik-baik yang kami cintai dalam keluhuran akhlaknya, kelurusanaqidahnya, dan kebagusan pergaulannya.&amp;#226;&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Hamud al-Waili berkata, &amp;#226;&amp;oelig;Aku mulai mengenal SyaikhMuhammad Aman al-Jami pada tahun 1381 H ketika daulah Saudi Arabiamendirikan Universitas Islam Madinah. Beliau termasuk para pengajaryang pertama ditugaskan di Universitas tersebut, sedangkan aku salahseorang mahasiswanya. Beliau termasuk diantara para masyayikh yangmemberikan perhatian yang khusus kepada para murid sehingga merekatidak berhenti dalam hubungan pengajaran. Pada kebanyakan ta&amp;#226;&amp;trade;limnya,beliau memiliki perhatian yang besar dalam menjelaskan aqidah salafushshalih dalam pelajaran aqidah maupun yang lainnya.&lt;p&gt;Ketika menjelaskan aqidah salafush shalih dan berusaha menanamkannyadalam jiwa para muridnya yang berasal dari seluruh penjuru negeri,beliau sampaikan dengan gaya bahasa yang mereka mengerti. Karenabeliau telah merasakan keindahan aqidah salaf dan menelaahkedalamannya, sampai-sampai seorang yang mendengar dan menyaksikanbeliau ketika berbicara tentang aqidah salaf merasakan hatinya merasacinta dan terikat dengan aqidah salaf. Beliau memiliki banyak rihlahdakwah dan ta&amp;#226;&amp;trade;lim di luar negeri Saudi. Tidak pernah datang suatukesempatan melainkan beliau gunakan untuk menjelaskan keagungan dankejernihan aqidah salaf dengan penjelasan yang memuaskan. Orang yangmembaca tulisan-tulisan dan risalah beliau akan meraba kebenarandakwahnya. Saya hadir ketika beliau mempertahankan disertasi doktornyadi Darul Ulum cabang Universitas Kairo Mesir. Beliau berupaya di dalamdisertasinya tersebut menjelaskan kejernihan aqidah salaf dankeselamatan manhaj salaf. Beliau singkapkan keborokan setiap manhajyang menyeleweng dari aqidah salaf serta kebatilan setiap tuduhan yangdiarahkan kepada para penyeru aqidah salaf yang menghabiskan umurnyamenyeru dan mengabdi kepada aqidah salaf. Beliau juga mematahkansetiap perkataan dan syubhat para pemilik kebatilan yang berusahamenjatuhkan manhaj salaf.&lt;p&gt;Ringkasnya, beliau begitu mendalam kecintaannya terhadap aqidahsalafush shalih, ikhlas dalam mendakwahkannya, begitu gigih dalammembelanya, serta pemberani di dalam menyampaikan kebenaran. SemogaAlloh mengampuni beliau dan kita semua.&amp;#226;&lt;p&gt;Murid-Muridnya &lt;p&gt;Di antara murid-muridnya: Syaikh Rabi&amp;#226;&amp;trade; bin Hadi al-Madkhali, SyaikhZaid bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Ali bin Nashir Faqihi, SyaikhMuhammad bin Hamud al-Waili, Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah as-Sindi,Syaikh Shalih bin Sa&amp;#226;&amp;trade;d as-Suhaimi, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid,Syaikh Falih bin bin Nafi&amp;#226;&amp;trade; al-Harbi, Syaikh Shalih ar-Rifa&amp;#226;&amp;trade;i, SyaikhFalah Isma&amp;#226;&amp;trade;il, Syaikh Falah bin Tsani, Syaikh Ibrahim bin Amirar-Ruhaili, dan masih banyak lagi selain mereka.&lt;p&gt;Tulisan-Tulisannya&lt;p&gt;Di antara tulisan-tulisan beliau: Sifat Ilahiyyah fil Kitab wasSunnah Nabawiyyah fi Dhau&amp;#226;&amp;trade;il Itsbat wa Tanzih, Manzilatus Sunnah fiTasyri&amp;#226;&amp;trade; Islami, Majmu&amp;#226;&amp;trade; Rasa&amp;#226;&amp;trade;il Jami&amp;#226;&amp;trade; Fil aqidah was Sunnah, AqidahIslamiyyah wa Tarikhuha Haqiqatu Demokratiah wa Annaha Laisat minalIslam, Haqiqatusy Syura fil Islam, Adhwa&amp;#226;&amp;trade; &amp;#226;&amp;tilde;ala Thariqi Da&amp;#226;&amp;trade;wah filIslam, Tahhih Mafahim fi Jawaniba minal aqidah, Muhadharah Difa&amp;#226;&amp;trade;iyyahanis Sunnah Muhammadiyyah, aql wa Naql &amp;#226;&amp;tilde;inda Ibnu Rusyd, ThariqatulIslam fi Tarbiyyah, Masyakilu Da&amp;#226;&amp;trade;wah wa Du&amp;#226;&amp;trade;at fi Ashril Hadits Islamfi Afriqia Abra Tarikh, dan yang lainnya.&lt;p&gt;Wafatnya&lt;p&gt;Syaikh Muhammad Aman al-Jami wafat di Madinah pada waktu pagi hariRabu 26 Sya&amp;#226;&amp;trade;ban 1416 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi&amp;#226;&amp;trade; Madinah.Semoga Alloh meridhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannah-Nya.&lt;p&gt;Rujukan&lt;p&gt;1. Tarjamah Syaikh Muhammad Aman al-Jami oleh Syaikh Musthafa binabdul Qadir al-Fullani&lt;p&gt;2. Website: sahab as-Salafiyyah&lt;p&gt;[SUMBER: Al-Furqon Edisi 4 Tahun V / Dzulqo&amp;#226;&amp;trade;dah 1426 H dengan sedikitperubahan]&lt;p&gt;Artikel SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH) diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5322986894341595585?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5322986894341595585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5322986894341595585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5322986894341595585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5322986894341595585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/syaikh-muhammad-aman-al-jami-singa.html' title='SYAIKH MUHAMMAD AMAN AL-JAMI (SINGA SUNNAH DARIHABASYAH)'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-1976465922147070161</id><published>2008-07-12T15:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T15:46:04.325-07:00</updated><title type='text'>Haid Setelah Lima Puluh Tahun, Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Haid Setelah Lima Puluh Tahun, Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun Haid Setelah Lima Puluh Tahun, Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun&lt;p&gt;Kategori Wanita - Thaharah&lt;p&gt;Senin, 14 Februari 2005 06:54:30 WIBHAID SETELAH LIMA PULUH TAHUNOlehSyaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-SyaikhPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya : Bagaimanakah hukumnya jika haidh masih datang setelah umur lima puluh tahun JawabanYang benar adalah bahwa haidh tidak dibatasi dengan usia lima puluh tahun, bahkan jika terus mengeluarkan darah pada waktu putarannya, dengan sifat darah haidh dan sesuai dengan masa haidhnya, maka berarti wanita itu sedang dalam masa haidh. Akan tetapi jika wanita itu telah lama tidak mengalami haidh setelah umur lima puluh tahun, maka darah yang keluar itu tidak dianggap darah haidh akan tetapi dianggap darah penyakit.Adapun ucapan &amp;#39;Aisyah Radhiyallahu a&amp;#39;nha : &amp;quot;Jika seorang wanita telah mencapai umur lima puluh tahun, maka ia telah keluar dari batas waktu haidh&amp;quot;. Ucapannya ini disebutkan oleh Ahmad, ucapan Aisyah ini berita yang menggambarkan tentang kondisi wanita pada umumnya. Hal ini ia ucapkan untuk melakukan sikap mawas diri terhadap pokok-pokok syariat, karena pada dasarnya darah yang keluar itu tetap dianggap haidh kecuali ada dalil yang menyatakan bahwa darah itu bukan darah haidh.[Fatawa wa Rasa&amp;#39;il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/96]KEKUAR DARAH SEPERTI DARAH HAIDH SETELAH BERUSIA TUJUH PULUH TAHUNOlehSyaikh Abdurrahman As-Sa&amp;#39;diPertanyaan.Syaikh Abdurrahman As-Sa&amp;#39;di ditanya : Jika seorang wanita telah mencapai umur tujuh puluh tahun kemudian keluar darah seperti darah haidh, apakah ia harus berhenti shalat Jawaban.Wanita yang telah mencapai umur tujuh puluh tahun kemudian keluar darah seperti darah haidh dan tidak bisa dibantah bahwa darah itu adalah darah haid, maka tidak diragukan lagi bahwa ia harus meninggalkan shalatnya, karena pendapat yang benar adalah bahwa keluarnya darah haidh itu tidak ada batasan umur termuda juga tidak ada batasan umur tertuanya, dan hukum darah tersebut adalah hukum darah haidh.[Al-Majmu&amp;#39;ah Al-Kamilah Li Mu&amp;#39;allafat Asy-Syaikh Ibnu As-Sa&amp;#39;di, 7/98][Disalin dari Kitab Al-Fatawa Al-Jami&amp;#39;ah Lil Mar&amp;#39;atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Terbitan Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1346&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1346&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Haid Setelah Lima Puluh Tahun, Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Haid Setelah Lima Puluh Tahun, Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-1976465922147070161?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/1976465922147070161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=1976465922147070161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1976465922147070161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1976465922147070161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/haid-setelah-lima-puluh-tahun-keluar.html' title='Haid Setelah Lima Puluh Tahun, Keluar Darah Seperti Darah Haid Setelah Berusia Tujuh Puluh Tahun'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-7927499236196292750</id><published>2008-07-12T14:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T14:45:59.573-07:00</updated><title type='text'>Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Di HadapanPelamarnya</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Di HadapanPelamarnya &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Apakah boleh bagi perempuan yang dilamar tampil di hadapan lelaki yangmelamarnya dengan menggunakan celak, perhiasan dan parfum Apa pulahukum bingkisan Kami memohon penjelasannya, semoga Allah membalasSyaikh yang mulia dengan kabaikan.?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Sebelum akad nikah terselenggara, maka perempuan yang dilamar tetapmerupakan perempuan asing bagi calon suaminya. Jadi, ia sepertiperempuan-perempuan yang ada di pasar. Akan tetapi agama memberikankeringanan bagi laki-laki yang melamarnya untuk melihat apa yangmembuatnya tertarik untuk menikahinya, karena hal itu diperlukan; dankarena yang demikian itu lebih mempererat dan mengakrabkan hubungankeduanya kelak. Perempuan tersebut tidak boleh keluar menghadapkepadanya dengan mempercantik diri dengan pakaian ataupun dengan makeup, sebab ia masih berstatus asing bagi lelaki yang melamarnya. Kalaulelaki pelamar melihat calonnya dalam dandanan seperti itu, lalu nantiternyata berobah dari yang sesungguhnya, maka keadaannya akan menjadilain, bahkan bisa jadi keinginannya semula menjadi sirna.&lt;p&gt;Yang boleh dilihat oleh laki-laki pelamar pada perempuan yangdilamarnya adalah wajahnya, kedua kakinya, kepalanya dan bagianlehernya dengan syarat [ketika melihatnya] tidak berdua-duaan danpembica-raan langsung dengannya tidak boleh lama. Juga tidak bolehberhubungan langsung dengannya melalui telepon, sebab hal itumerupakan fitnah yang diperdayakan syetan di dalam hati keduanya.Kemudian, jika akad nikah telah dilaksanakan, maka ia boleh berbicarakepada perempuan itu, boleh berdua-duaan dan boleh menggaulinya. Akantetapi kami nasehatkan agar tidak melakukan jima, sebab jika hal ituterjadi sebelum ilanun nikah [diumumkan/dipublikasikan] dan kemudianhamil di waktu dini bisa menyebabkan tuduhan buruk kepada perempuanitu; dan begitu pula kalau laki-laki itu meninggal sebelum ilanunnikah, lalu ia hamil maka ia akan mendapatkan berbagai tuduhan.&lt;p&gt;Tentang pertanyaan ketiga, yaitu bingkisan,itu merupakan hadiyah darilelaki yang melamar untuk calon istri yang dilamarnya, sebagai tandabahwa laki-laki itu benar-benar ridha dan suka kepada calon pilihannya,maka hukumnya boleh-boleh saja, karena pemberian hadiah seperti itumasih dilakukan oleh banyak orang sekalipun dengan nama lain.&lt;p&gt;[ Kitabud Dawah [5] oleh Ibnu Utsaimin jilid 2, hal. 85-86 ]&lt;p&gt;Artikel Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Di HadapanPelamarnya diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Di HadapanPelamarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-7927499236196292750?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/7927499236196292750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=7927499236196292750' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7927499236196292750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7927499236196292750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/tidak-boleh-bagi-perempuan-berhias-di.html' title='Tidak Boleh Bagi Perempuan Berhias Di HadapanPelamarnya'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-7458964726530552501</id><published>2008-07-12T13:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T13:45:53.876-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah &amp; Ziarah Ke Masjid Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam 1/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah &amp;amp; Ziarah Ke Masjid Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam 1/2 Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah &amp;amp; Ziarah Ke Masjid Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam 1/2&lt;p&gt;Kategori Hajji Dan Umrah&lt;p&gt;Jumat, 27 Februari 2004 21:27:08 WIBBAGAIMANA ANDA MELAKUKAN IBADAH HAJI UMRAH DAN ZIARAH KE MASJIDRASUL SHALLALLAHU &amp;#39;ALAIHI WA SALLAMOlehKumpulan UlamaBagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2Saudara yang budiman.Dalam melakukan ibadah haji terdapat tiga cara, yaitu : TAMATTU&amp;#39;, QIRAN dan IFRAD.Haji Tammatu&amp;#39; ialah berihram untuk umrah pada bulan-bulan haji [Syawal, Dzul Qa&amp;#39;dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah], dan diselesaikan umrahnya pada waktu-waktu itu. Kemudian berihram untuk haji dari Mekkah atau sekitarnya pada hari Tarwiyah [tgl 8 Dzul Hijjah] pada tahun umrahnya tersebut.Haji Qiran ialah, berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan terus berihram [tidak Tahallul] kecuali pada hari nahr [tgl 10 Dzul Hijjah]. Atau berihram untuk umrah terlebih dahulu, kemudian sebelum melakukan tawaf umrah memasukkan niat haji.Haji Ifrad ialah, berihram untuk haji dari miqat, atau dari Mekkah bagi penduduk Mekkah, atau dari tempat lain di daerah miqat bagi yang tinggal disitu, kemudian tetap dalam keadaan ihramnya sampai hari nahr apabila ia membawa binatang kurban. Jika tidak membawanya maka dianjurkannya untuk membatalkan niat hajinya dan menggantinya dengan umrah, selanjutnya melakukan tawaf, sa&amp;#39;i, mencukur rambut dan bertahallul, sebagaiman perintah Rasul Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang berihram haji tetapi tidak membawa binatang kurban. Begitu pula bagi yang melakukan haji Qiran, apabila ia tidak membawa binatang kurban, dianjurkannya untuk membatalkan niat Qiran-nya itu, dan menggantinya menjadi Umrah, sebagaimana yang tersebut diatas.Ibadah haji yang lebih utama ialah Haji Tamattu&amp;#39; bagi yang tidak membawa binatang kurban, oleh karena  Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam memerintahkan hal itu dan menekankannya kepada para sahabatnya.CARA MELAKUKAN UMRAHPertama.Apabila Anda telah sampai di miqat, maka mandilah dan pakailah wangi-wangian jika hal itu memungkinkan, kemudian kenakanlah pakaian ihram [sarung dan selendang]. Dan lebih utama apabila berwarna putih.Bagi wanita boleh mengenakan pakaian yang ia sukai, asal tidak menampakkan perhiasan. Kemudian berniat ihram untuk umrah seraya mengucapkan :&amp;quot;Labbaika &amp;#39;umratan, Labbaika allahuma labbaika, labbaika laa syariikalaka labbaika, innal hamda wan ni&amp;#39;mata laka wal mulka laa syariika laka&amp;quot;.&amp;quot;Artinya : Ku sambut panggilan-Mu untuk melaksanakan Umrah. Ku sambut panggilan-Mu ya Ilahi, Ku sambut panggilan-Mu, Ku sambut pangggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Ku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, ni&amp;#39;mat dan kerajaan adalah milk-Mu, tiada sekutu bagi-Mu&amp;quot;Bagi kaum pria hendaknya mengucapkan talbiyah ini dengan suara keras, sedangkan bagi wanita hendaknya mengucapkan dengan suara pelan.Kemudian perbanyaklah membaca talbiyah. dzikir dan istighfar serta menganjurkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran.Kedua.Apabila Anda telah sampai Mekkah. Maka lakukanlah Tawaf di Ka&amp;#39;bah sebanyak tujuh kali putaran, Anda mulai dari Hajar Aswad sambil bertakbir dan Anda sudahi di Hajar Aswad itu pula. Dan bacalah dzikir serta do&amp;#39;a yang Anda kehendaki, dan sebaiknya Anda sudahi setiap putaran dengan bacaan.&amp;quot;Rabbanaa aatinaa fiid dunyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa &amp;#39;adzaa baannari&amp;quot;&amp;quot;Artinya : Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di  dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksaan api neraka&amp;quot;.Kemudian setelah Tawaf, lakukan shalat dua raka&amp;#39;at di belakang makam Ibrahim walaupun agak jauh dari tempat tersebut jika hal itu mungkin. Dan jika tidak, maka lakukanlah di tempat lain di dalam Masjid.Ketiga.Kemudian keluarlah menuju Safa dan naiklah ke atasnya sambil menghadap Ka&amp;#39;bah, bacalah tahmid serta takbir tiga kali sambil mengangkat kedua tangan, dan bacalah do&amp;#39;a serta ulangilah setiap do&amp;#39;a tiga kali sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam, dan ucapkanlah :&amp;quot;La ilaha illallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa &amp;#39;alaa kulli syain qadiir, la ilaha illallah wahdahu anjaza wa&amp;#39;dah, wa nashara &amp;#39;abdah wahazamal ahzaaba wahdah&amp;quot;&amp;quot;Artinya : Tiada Tuhan yang patut di sembah selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, hanya bagi-Nya segala kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah yang Esa, yang menepati janji-Nya, dan memenangkan hamba-Nya serta telah menghancurkan golongan kafir, dengan tanpa dibantu siapapun&amp;quot;.Ucapkanlah bacaan tersebut tiga kali, dan tak mengapa apabila Anda baca kurang dari bilangan itu.Kemudian turunlah dan lakukanlah Sa&amp;#39;i Umrah sebanyak tujuh kali putaran dengan berjalan cepat diantara tanda hijau, dan berjalan biasa sebelum dan sesudah tanda tersebut, kemudian naiklah Anda ke atas Marwah, dan bacalah tahmid dan takbir tiga kali apabila mungkin, sebagaimana yang Anda lakukan di Safa.Dalam Tawaf atau Sa&amp;#39;i, tidak ada bacaan dzikir wajib yang khsusus untuk itu. Akan tetapi dibolehkan bagi yang melakukan Tawaf atau Sa&amp;#39;i untuk membaca dzikir dan do&amp;#39;a atau bacaan Al-Qur&amp;#39;an yang mudah baginya, dengan mengutamakan bacaan-bacaan dzikir dan do&amp;#39;a yang bersumber dari tuntunan Rasul Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam.Keempat.Bila Anda telah selesai melakukan Sa&amp;#39;i, maka cukurlah dengan bersih atau pendekkan rambut kepala anda. Dengan demikian selesailah Umrah Anda dan selanjutnya Anda diperbolehkan melakukan hal hal yang tadinya menjadi larangan.Apabila Anda melakukan haji Tamattu&amp;#39;, maka wajib bagi Anda menyembelih kurban pada hari Nahr, yaitu seekor kambing atau sepertujuh onta/sapi, jika Anda tidak mendapatkannya, maka Anda wajib melakukan puasa sepuluh hari ; tiga hari diwaktu haji, dan tujuh hari setelah Anda pulang ke keluarga anda.Dan lebih utama, Anda lakukan puasa tiga hari itu sebelum hari Arafah, jika Anda melakukan haji Tamattu&amp;#39; atau Qiran.[Disalin dari buku Petunjuk Jamaah Haji dan Umrah serta Penziarah Masjid Rasul Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam, pengarang Kumpulan Ulama, hal 14-19, diterbitkan dan diedarkan oleh Departemen Agama, Waqaf, Daawah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=313&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=313&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah &amp;amp; Ziarah Ke Masjid Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam 1/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah &amp;amp; Ziarah Ke Masjid Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam 1/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-7458964726530552501?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/7458964726530552501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=7458964726530552501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7458964726530552501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7458964726530552501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/bagaimana-anda-melakukan-ibadah-haji.html' title='Bagaimana Anda Melakukan Ibadah Haji Umrah &amp; Ziarah Ke Masjid Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam 1/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-7626905322852485500</id><published>2008-07-12T12:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T12:45:47.898-07:00</updated><title type='text'>Memohon Kepada Allah Agar Menolong Ulama-Ulama Kita Dari Mulut-Mulut Orang Bodoh</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Memohon Kepada Allah Agar Menolong Ulama-Ulama Kita Dari Mulut-Mulut Orang Bodoh Memohon Kepada Allah Agar Menolong Ulama-Ulama Kita Dari Mulut-Mulut Orang Bodoh&lt;p&gt;Kategori Aktual&lt;p&gt;Selasa, 9 Agustus 2005 20:32:41 WIBSAYA MEMOHON KEPADA ALLAH AGAR MENOLONG ULAMA KITA ATAS APA YANG MEREKA PEROLEH MELALUI MULUT-MULUT ORANG BODOHOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Membesar-besarkan kesalahan ulama adalah merupakan kebiasaan banyak para pemuda. Bagaimana Syaikh dapat memberikan pengarahan dalam sisi ini&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Jawaban.Saya Katakan: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Saya Memohon Kepada Allah Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala Agar Menolong Ulama Kita Atas Apa Yang Mereka Peroleh Melalui Mulut-Mulut Orang Bodoh, karena ulama telah mengalami banyak hal.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Pertama.Kita mendengarkan apa yang disandarkan kepada sebagian ulama yang terpandang, kemudian setelah kita menelitinya ternyata persoalannya berbeda dengan hal itu. Seringkali dikatakan: Si-Fulan mengatakan begini. Namun setelah kita mengeceknya, kita menemukan perkaranya tidaklah demikian, dan ini merupakan kejahatan yang sangat besar. Bila Rasulullah bersabda:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Sesusungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama siapapun.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [1]Atau yang semakna dengan ini, maka berdusta atas nama ulama dalam perkara yang berkaitan dengan syariat Allah Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala tidaklah sama dengan berdusta atas seseorang dari kalangan manusia biasa, karena hal ini mengandung hukum syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i yang disandarkan kepada sang alim yang dipercaya ini.Oleh karena itu, semakin banyak kepercayaan manusia terhadap seorang alim itu maka kedustaan atasnya dalam perkara-perkara ini juga akan semakin banyak dan juga berbahaya ; karena jika Anda katakan pada orang awam: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Si-Fulan mengatakan begini&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;, maka ia tidak akan menyambut anda. Namun jika Anda mengatakan: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Si Fulan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;dari orang yang ia percayai- mengatakan begini&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;, ia langsung menyambut ucapan anda. Oleh karena itu, Anda akan menemukan sebagian orang yang memiliki pendapat atau pemikiran yang ia pandang benar, dan berusaha agar dipegangi orang banyak, namun ia tidak menemukan jalan selain berdusta atas nama salah seorang ulama yang dipercayai, maka ia mengatakan: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ini adalah pendapat Syaikh Fulan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Masalah ini sangat berbahaya, dan hal itu bukan saja jarh terhadap sang alim secara pribadi, akan tetapi ia berkaitan dengan salah satu hukum dari hukum-hukum Allah.Kedua.Membesar-besarkan kesalahan sebagaimana saya katakan, dan ini juga sebuah kesalahan, dan melampaui batas. Karena seorang alim adalah manusia yang bisa salah dan benar, akan tetapi jika sang alim itu melakukan kesalahan maka wajib atas kita menghubungi dan menyampaikan padanya: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Apakah Anda mengatakan demikian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Jika mengatakan: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; sementara kita memandang bahwa itu salah, maka kita tanyakan padanya: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Apakah Anda mempunyai dalil&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; sehingga jika kita telah berdiskusi dengannya maka akan jelaslah yang haq. Dan setiap alim yang munshif [bersikap pertengahan-pen] lagi takut kepada Allah Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala pasti akan merujuk kepada yang haq dan akan mengumumkan rujuknya itu.Makanya membesar-besarkan kesalahan seorang alim lalu menyebutkan keadaannya yang paling buruk, jelas merupakan kebencian kepada terhadap saudara muslim anda, dan permusuhan hingga terhadap syariat, jika boleh saya katakanan. Karena manusia bila telah mempercayai seseorang kemudian kepercayaannya diguncang, maka kepada siapa mereka akan menuju Apakah mereka akan dibiarkan kebingungan tanpa ada yang membimbing dengan syariat Allah Atau dibiarkan mendatangi orang jahil yang akan menyesatkan dari jalan Allah [walaupun] tanpa disengaja Atau mereka dibiarkan mendatangi ulama suu [jahat] yang menghalangi mereka dari jalan Allah dengan sengaja[Kitab &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot; Ash-Shahwah Al-Islamiyah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Edisi Indonesia &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot; Panduan Kebangkitan Islam &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin BAB VII &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Perbedaan Pendapat [Khilaf] di Kalangan Ulama, Menuduh dan Merendahkan Para Dai. Hal. 239-241 Darul Haq]._________Foote Note[1] Bagian yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari no.1291 dalam kitab Al-Janaaiz bab Ma Yukrahu Min An-Niyahah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Alal Mayyit, dan Muslim no.2154,2155,2156 dalam Kitab Al-Janaaiz bab Al-Mayyit Yu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;azdzabu Bi Buka&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;I Ahlihi &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Alahi dari Hadist Al-Mughirah bin Syu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;bah&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1526&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1526&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Memohon Kepada Allah Agar Menolong Ulama-Ulama Kita Dari Mulut-Mulut Orang Bodoh diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Memohon Kepada Allah Agar Menolong Ulama-Ulama Kita Dari Mulut-Mulut Orang Bodoh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-7626905322852485500?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/7626905322852485500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=7626905322852485500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7626905322852485500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7626905322852485500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/memohon-kepada-allah-agar-menolong.html' title='Memohon Kepada Allah Agar Menolong Ulama-Ulama Kita Dari Mulut-Mulut Orang Bodoh'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-3001778425532118760</id><published>2008-07-12T11:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T11:45:43.500-07:00</updated><title type='text'>Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan Alangkah perlunya kaum muslimin hari ini untukmengkaji perjalanan hidup sayyidah yang agung ini, agar merekamenyadari betapa jauhnya perbandingan antara mereka dengan generasiawal yang keluar dari madrasah nubuwwah, sehingga mereka mengetahuibetapa pengaruh iman itu sangat menakjubkan pada jiwa mereka yangmenyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya. Hingga mereka menjadi lenterayang menebarkan petunjuk dan cahaya. Dan di antara lentera tersebutadalah Ummul Mukminin, Ramlah binti Abu Sufyan seorang pemuka Quraisydan pimpinan orang-orang musyrik hingga Fathu Makkah. Akan tetapiRamlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa beliauuntuk kafir ketika itu. Dan Abu Sufyan tak kuasa memaksakankehendaknya agar putrinya tetap dalam keadaan kafir. Justru beliaumenunjukkan kuatnya pendirian dan mantapnya kemauan. Beliau relamenanggung beban yang melelahkan dan beban yang berat karenamemperjuangkan aqidahnya.&lt;p&gt;Pada mulanya beliau menikah dengan Ubaidullah bin jahsy yang Islamseperti beliau. Tatkala kekejaman orang-orang kafir atas kaum musliminmencapai puncaknya, Ramlah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya.Dan disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan yang diberinama Habibah dan dengan nama anaknya inilah beliau dijuluki [UmmuHabibah].&lt;p&gt;Ummu Habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaranmemperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauhdari keluarga dan kampung halaman bahkan terjadi musibah yang tidakdia sangka sebelumnya. Beliau bercerita:Aku melihat didalam mimpi, suamiku Ubaidullah bin Jahsy dengan bentukyang sangat buruk dan menakutkan. Maka aku terperanjat dan terbangun,kemudian aku memohon kepada Allah dari hal itu. Ternyata tatkala pagi,suamiku telah memeluk agama Nasrani. Maka aku ceritakan mimpikukepadanya namun dia tidak menggubrisnya .&lt;p&gt;Si murtad yang celaka ini mencoba dengan segala kemampuannya untukmembawa istrinya keluar dari diennya namun Ummu Habibah menolaknya dandia telah merasakan lezatnya iman. Bahkan beliau justru mengajaksuaminya agar tetap didalam Islam namun dia malah menolak dan membuangjauh ajakan tersebut dan dia semakin asyik dengan khamr. Hal ituberlangsung hingga dia mati.&lt;p&gt;Hari-hari berlalu di bumi hijrah sementara dirinya berada dalam duaujian; pertama, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Kedua,ujian karena menjadi seorang janda tanpa seorang pendamping. Akantetapi beliau dengan keimanan yang tulus yang telah Allah karuniakankepadanya, mampu menghadapi ujian berat tersebut.Beliau wujudkanfirman Allah [artinya]:Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakanbaginya jalan keluar.Dan memberikan rezki dari arah yang tiadadisangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allahniscaya Allah akan mencukupkan [keperluan]nya.Sesungguhnya Allahmelaksanakan urusan [yang dikehendaki]-Nya. Sesungguhnya Allah telahmengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu .[ath-Thalaq:2-3].&lt;p&gt;Allah berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalammimpinya ada yang menyeru dia:  Wahai Ummul Mukminin&amp;#226;&amp;#166;.! . Maka beliauterperanjat dan terbangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkanmimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.&lt;p&gt;Setalah selesai masa &amp;#39;iddahnya, tiba-tiba ada seorang jariyah dariNajasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa dirinya telah dipinangoleh pimpinan semua manusia seutama-utama shalawat dan salam semogatercurahkan kepada beliau. Alangkah bahagianya beliau mendengar kabargembira tersebut hingga beliau berkata:  Semoga Allah memberikan kabargembira untukmu . Kemudian beliau menanggalkan perhiasan dan gelangkakinya untuk diberikan kepada Jariyah [budak wanita] yang membawakabar tersebut saking senangnya. Kemudian beliau meminta Khalid binSa&amp;#39;ad bin al-&amp;#39;Ash untuk menjadi wakil baginya agar menerima lamaranNajasyi yang mewakili Rasulullah Shallall&amp;#195;&amp;#162;hu &amp;#39;alaihi wasallam untukmenikahkan beliau dengan Ummu Habibah setelah Rasulullah menerimakabar tentang keadaan beliau dan ujian yang dia hadapi dalam menapakijalan diennya. Sedangkan tiada seorangpun yang menolong dan membantudirinya. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yangberada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja&amp;#39;farbin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallall&amp;#195;&amp;#162;hu &amp;#39;alaihi wasallam.Selanjutnya Raja Najasyi berkata:Segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, YangMengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang MahaKuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilahyang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanAllah yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam &amp;#39;alaihissalaam .&lt;p&gt;Amma ba&amp;#39;du, Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallamtelah mengirim surat untukku untuk melamarkan Ummu Habibah binti AbuSufyan dan Ummu Habibah telah menerima lamaran Rasulullah, adapunmaharnya adalah 400 dinar . Kemudian beliau letakkan uang tersebutdidepan kaum muslimin.&lt;p&gt;Kemudian Khalid bin Sa&amp;#39;id berkata: Segala puji bagi Allah, akumemuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, aku bersaksi bahwa tiada ilahyang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,yang Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untukmemenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.&lt;p&gt;Amma ba&amp;#39;du, aku terima lamaran Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wasallam dan aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan,semoga Allah memberkahi Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam.Selanjutnya Najasyi menyerahkan dinar tersebut kepada Khalid bin Sa&amp;#39;idkemudian beliau terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakanwalimah dengan mengatakan:  Kami persilahkan Anda untuk duduk karenasesungguhnya sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makanuntuk merayakan pernikahan .&lt;p&gt;Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dariHabasyah, maka Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda:  Dengansebab apa aku harus bergembira,karena kemenangan Khaibar atau karenadatangnya Ja&amp;#39;far &lt;p&gt;Sedangkan Ummu Habibah bersama rombongan yang datang. Maka bertemulahRasululah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam dengannya pada tahun keenamatau ketujuh hijriyah. Kala itu Ummu Habibah berumur 40 tahun saatmenduduki sebagai bintang berseri diantara istri-istri beliau danjadilah beliau Ummul Mukminin.&lt;p&gt;Ummu Habibah menempatkan urusan dien pada tempat yang pertama, beliauutamakan aqidahnya daripada famili. Beliau telah mengumandangkan bahwaloyalitas beliau adalah untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untukseorangpun selaiin keduanya. Hal itu dibuktikan sikap beliau terhadapayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya tersebut masuk kerumah beliau sedangkan beliau ketika itu telah menjadi istri RasulShallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam di Madinah. Sang ayah datang untukmeminta bantuan kepada beliau agar menjadi perantara antara dirinyadengan Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam untuk memperbaharuiperjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orangmusyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Nabi Shallallaahu &amp;#39;alaihiwa sallam, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah, maka Abu Sufyanbertanya dengan penuh keheranan:  Wahai putriku aku tidak tahu mengapaengkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau malarang aku dudukdiatasnya . Beliau menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpaada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya:  Ini adalahtikar Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam sedangkan engkauadalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau duduk diatastikar Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam . Abu Sufyanberkata: Demi Allah engkau akan menemui hal buruk sepeningalku nanti .Namun Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri:  bahkansemoga Allah memberi hidayah kepadaku dan juga kepada Anda wahai ayah,pimpinan Quraisy, apa yang menghalangi Anda masuk Islam sedangkanengkau menyembah batu yang tidak dapat melihat maupun mendengar!! .Maka Abu Sufyan pergi dengan marah dan membawa kegagalan.&lt;p&gt;Sungguh beliau berhak menyandang segala kebesaran dan keagungansebagai Ummul Mukminin, Ummu Habibah radhiallaahu &amp;#39;anhuma. Seandainyapara wanita itu seperti beliau niscaya hasilnyapun seperti yangterjadi pada beliau.&lt;p&gt;Setelah Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam menghadapar-Rafiiqul A&amp;#39;la, Ummu Habibah melazimi rumahnya. Beliau tidak keluarrumahnya kecuali untuk shalat dan beliau tidak meninggalkan Madinahkecuali untuk haji hingga sampailah waktu wafat yang di tunggu-tunggutatkala berumur tujuh puluhan tahun. Beliau wafat setelah memberikanketeladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya danbersemangat atasnya, tinggi dan mulya jauh dari pengaruh jahiliyah dantidak menghiraukan nasab manakala bertentangan dengan aqidahnya,semoga Allah meridhainya.&lt;p&gt;Artikel Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-3001778425532118760?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/3001778425532118760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=3001778425532118760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/3001778425532118760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/3001778425532118760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/ummu-habibah-ramlah-binti-abu-sufyan.html' title='Ummu Habibah, Ramlah Binti Abu Sufyan'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-1699990045459014070</id><published>2008-07-12T10:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T10:45:39.753-07:00</updated><title type='text'>Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal JamaÃ¢â¬â¢ah</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah&lt;p&gt;Kategori Nasehat&lt;p&gt;Sabtu, 2 Oktober 2004 08:08:50 WIBWASIAT EMAS BAGI PENGIKUT MANHAJ SALAFOleh :Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-Bagian Keempat dari Enam Tulisan [4/6]WASIAT KETIGA :MULAILAH DENGAN MEMPELAJARI POKOK-POKOK AJARAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA&amp;#39;AHKetahuilah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;semoga Allah memberimu taufik untuk menta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ati-Nya- bahwa aku tidak memaksudkan dengan pokok disini hanya macam-macam tauhid yang tiga saja, akan tetapi tauhid dan selainnya dari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yang telah disepakati dan mereka menyelisihi ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan firqoh dalam hal itu:Seperti wala&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; dan bara&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; [mencintai dan membenci], amar ma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ruf dan nahi &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anil munkar, bersikap terhadap shahabat, menghormati serta membela mereka, bersikap kepada pemimpin, kepada orang yang berbuat maksiat dan dosa besar, serta bersikap kepada Ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan membicarakan  serta bermuamalah dengan mereka dan lain sebagianya dari pokok-pokok ajaran yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, mereka memasukkannya dalam kandungan kitab-kitab aqidah dalam rangka menampakkan kebenaran dan menyelisihi ahli ahwa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; dan firqoh walaupun semua itu secara asal  adalah amal perbuatan bukan aqidah/keyakinan.Bila kamu sudah menguasai masalah-masalah dan pokok-pokok ini maka &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;dengan seidzin Allah- kamu akan terjaga dari kebanyakan syubhat yang melanda negara-negara islam.Ketika kebanyakan dari mereka yang bertaubat meremehkan hal ini, dan tidak memulai dalam taubatnya dengan mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah serta metode mereka, mereka menjadi bingung dan terombang-ambing hanya karena syubhat yang kecil, kita mohon kepada Allah keselamatan dan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;afiyah.Barangsiapa yang memperhatikan keadaan mereka maka dia akan mendapatkan gambaran dan contoh yang banyak sekali tentang terombang-ambingnya mereka, diantaranya :[1]. Kamu mendapatkan orang yang baru bertaubat itu pada awal mulanya sangat semangat sekali menjauhi ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan firqoh beberapa saat lamanya, ketika dia mendengar syubhat dari orang yang mengaku salafi yang berkata : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Sesungguhnya menjauhi ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan tidak bermu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;amalah dengan mereka tidaklah benar, hal ini akan menyia-nyiakan kebaikan yang banyak sekali, tidak ada satu orangpun yang maksum setelah Rasul &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;shallallahu alaihi wa sallam-, mereka para sahabat &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;rodhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu- juga pernah salah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166;.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;, kamu mendapatkannya [setelah dia mendengar syubhat itu-pent] telah sakit hatinya dan dia telah menenggak syubhat itu lebih cepat dari pada dia meminum air, pada waktu itu juga dia telah berkumpul dengan ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, tidak perduli lagi dengan pokok-pokok ajaran salafiyah tapi dia masih menamakan dirinya salafi.Sesungguhnya kebimbangan ini terjadi karena tidak adanya keinginan mempelajari Al-qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf, serta pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, seandainya dia mempelajarinya maka sungguh dia akan mengetahui bahwa syubhat ini batil menyelisihi sikap Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah terhadap ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yang dahulu maupun sekarang, dan dia akan mengetahui bahwa perkataan orang yang mengaku salafi itu [tidak ada seorangpun yang maksum setelah Rasul &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;shallallahu alaihi wa sallam- dan bahwa semua orang itu pernah salah] adalah benar tapi maksudnya adalah batil, demikian itu karena Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dari kalangan shahabat, tabi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;in apabila salah seorang dari mereka salah tidaklah kesalahan itu bersumber dari hawa nafsu, atau dari ketidak adanya mengikuti atsar [hadits], dan tidak juga bersumber dari menyelewengkan nash-nash, serta mengikuti hal-hal yang mutasyabih/samar-samar, seperti yang dilakukan oleh ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, akan tetapi karena ketidak tahuannya terhadap dalil atau dia mengetahui tapi menurutnya dalil tersebut tidak shohih atau lain sebagainya, yang disitu terdapat udzur baginya.Bagi mereka dan yang mengikuti mereka itulah turun sabda Nabi &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;shallallahu alaihi wa sallam- : Apabila seorang hakim berhukum dan dia berijtihad lalu  benar maka dia mendapat dua pahala dan apabila salah maka dia mendapat satu pahala [5].Hal ini berlainan dengan ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan firqoh yang tidak pernah memperhatikan atsar dan mereka lebih mendahulukan akal dari pada nash al-qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an ataupun sunnah bahkan mereka membuat ajaran sendiri yang menyelisihi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, mereka ini tidak bisa diberi udzur seperti yang dikatakan oleh pengaku salafi itu, tidaklah yang menggolongkan mereka kedalam Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah melainkan orang jahil atau ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yang angkuh.[2]. Kamu mendapatkan orang yang baru bertaubat itu sangat bersemangat pada awalnya dalam membantah ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah tapi tanpa ketentuan dan tanpa ilmu, hal ini berlangsung beberapa saat lamanya, ketika dia mendengar syubhat dari yang mengaku salafi : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Sesungguhnya membantah/mengkritik itu bukanlah dari ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah ! hal ini bisa membuat hati keras !![6] dahulu ada seorang yang suka mengkritik golongan-golongan yang ada lalu dia berbalik kebelakang dengan sebab itu !!!&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166;&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;, dia mundur kebelakang, dan mengingkari pokok yang agung yang tegak dengannya agama ini [yaitu membantah ahli bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;pent] bahkan kamu mendapatinya setelah itu berdakwah/menyeru manusia untuk meninggalkan pokok ini dengan alasan hal itu bisa mengeraskan hati.Yang benar bahwa hal ini adalah pokok yang agung tegak dengannya agama yang lurus ini, dan merupakan pintu yang kokoh dalam menjaga manhaj Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dari penyelewengan, serta merupakan ibadah yang mulia yang mendekatkan kepada Allah sekaligus menambah iman seorang muslim tapi dengan dipenuhi syarat-syaratnya diantaranya adalah ikhlas dll, pokok yang satu ini sama dengan ibadah lainnya yang dapat menambah iman.Penyimpangan ini bukan berasal dari pokok ajaran/manhaj tapi dari yang mempraktekkan pokok tersebut tanpa adanya kaidah/ketentuan, ketika syubhat itu mendapatkan tempat didalam hatinya dia lalu mengingkari pokok yang satu ini, padahal seharusnya dialah yang berhak untuk diiingkari karena tidak mempraktekkan pokok ajaran[Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah].Oleh karena itulah kita tidak mendapatkan para Imam petunjuk dari kalangan shahabat, tabi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;in dan para pengiktut mereka dengan baik kecuali dalam keadaan bertakwa, zuhud, dan takut kepada Allah, hati mereka sangat lembut padahal mereka sangat sering membantah orang atau kelompok yang menyelisih [Al-qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan sunnah-pent].Lihatlah Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, Yahya Bin Ma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;in, Ali Bin Madini, Abu Hatim Ar-Rozi dan Bukhari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166;. Sejarah hidup mereka dipenuhi dengan zuhud, wara&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;, takut kepada Allah, dan takwa.Pemutar balikan fakta dan pencampuradukan hal ini sebabnya adalah ketidak adanya keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat kepada Allah, dan ketidak adanya keinginan untuk mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah pada awal mulanya.Dari sini &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;wahai orang yang bertaubat- harus bagimu untuk berhati-hati dari perangkap yang berbahaya ini, dan kamu harus mengetahui bahwa tidak ada keselamatan bagimu dari syubhat yang menjarar dan dari perangkap yang menjerumuskan ini kecuali apabila Allah memberimu taufik/petunjuk dan kamu mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah.Maka telusurilah jalan ini dengan semangat membara dan kemauan keras, Peganglah kuat-kuat apa yang kami berikan padamu [Surat Al-Baqarah : 63], serta jujur dan ikhlas, Dan orang-orang yang berjihad untuk [mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik [Al-Ankabut : 69]Yakinlah akan firman Allah Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala : Dan sesungguhnya jika mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan [iman mereka], dan kalau demikian, pasti kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi kami, dan pasti kami tunjuki kepada jalan yang lurus [An-nisa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; : 66-68]Berhati-hatilah dari rasa lemah, loyo dan putus asa terhadap apa yang menimpamu dijalan Allah, janganlah kamu lalai dari firman-Nya : [Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan] [Ali-imron : 146][Dialihbahasakan dari : al-Washayya as-Saniyyah lit-Ta`ibi as-Salafiyyah Oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi -Hafidhahullahu-, Alih Bahasa :Abu Abdirrahman as-Salafy, Lc.]_________Foote Note[5] Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.[6] Ini diantara keajaiban mereka ! kerasnya hati itu sesungguhnya disebabkan karena menyelisihi perintah Allah dan rasul-Nya &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;shallallahu alaihi wa sallam- bukan sebaliknya.Bagaimana bisa hati orang yang mengingkari kemungkaran lebih-lebih bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan kesesatan itu [dikatakan] keras   padahal Rasulullah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : [Fitnah itu dipaparkan kepada hati seperti tikar sehelai demi sehelai, hati mana saja yang menyerapnya maka dtulis padanya titik-titik hitam, dan hati mana saja yang menolaknya maka akan ditulis titik-titik putih, sehingga terbagi menjadi dua : hati yang putih seperti batu putih yang mengkilap tidak membahayakannya fitnah selama ada langit dan bumi, kedua : hati yang hitam kelam seperti cangkir yang miring tidak mengenal yang baik dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang telah diserap oleh hawa nafsunya]  [Diriwayatkan oleh Muslim 367]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1060&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1060&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-1699990045459014070?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/1699990045459014070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=1699990045459014070' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1699990045459014070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1699990045459014070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/wasiat-mulailah-dengan-mempelajari.html' title='Wasiat : Mulailah Dengan Mempelajari Pokok-Pokok Ajaran Ahlus Sunnah Wal JamaÃ¢â¬â¢ah'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5565752938764157425</id><published>2008-07-12T09:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T09:45:35.293-07:00</updated><title type='text'>Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang DisertaiKeluarganya</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang DisertaiKeluarganya &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Syaikh Utsaimin ditanya:  Ada seorang wanita yang terkenalkeshalihannya, umurnya mendekati masa tua dan ia menginginkan haji.Akan tetapi ia tidak memiliki mahram, sementara ada seorang laki-lakidari daerah itu yang dikenal baik ingin menunaikan haji bersamabeberapa wanita yang masih ada hubungan mahram dengan laki-lakitersebut, apakah boleh wanita tersebut pergi haji bersama mereka,sebab ia tidak mendapatkan mahram yang bisa menemaninya padahal darisisi harta ia mampu, maka mohon dijelaskan, karena kami berselisihdengan sebagian temam dalam masalah ini ?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Tidak boleh bagi wanita itu pergi haji tanpa mahram walaupun bersamabeberapa wanita dan seorang laki-laki yang shalih, karena RasulullahShallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam dalam khutbahnya bersabda:  Tidaklahboleh bagi wanita bepergian kecuali bersama mahramnya . Lalu berdiriseorang lelaki dan berkata:  Ya Rasulullah, sesungguhnya istriku akanpergi haji, sementara aku telah mendaftarkan diri pada satu peperangan .Nabi Shallallaahu &amp;#39;alaihi wa sallam menjawab:  Pergilah dan berhajilahbersama istrimu . Dalam hadits ini Rasulullah Shallallaahu &amp;#39;alaihi wasallam tidak bertanya apakah perempuan itu seorang yang dapatdipercaya atau tidak, ataukah ditemani oleh wanita atau lelaki yangbaik, padahal suaminya mendapat panggilan jihad, akan tetapi suaminyadiperintahkan meninggalkan jihad dan pergi bersama istrinya. Paraulama berpendapat bahwa apabila wanita tidak mendapatkan mahram, makatidak wajib menunaikan haji walaupun hingga ia meninggal dan ahliwarisnya tidak wajib menghajikan karena ia termasuk dalam katagoritidak mampu, sementara Allah Subhaanahu wa Ta&amp;#39;ala hanya mewajibkanhaji bagi yang mampu.&lt;p&gt;Artikel Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang DisertaiKeluarganya diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang DisertaiKeluarganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5565752938764157425?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5565752938764157425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5565752938764157425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5565752938764157425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5565752938764157425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/wanita-pergi-haji-bersama-lelaki-shalih.html' title='Wanita Pergi Haji Bersama Lelaki Shalih Yang DisertaiKeluarganya'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-585295009588430092</id><published>2008-07-12T08:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T08:45:30.795-07:00</updated><title type='text'>Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 2/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 2/2 Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 2/2&lt;p&gt;Kategori Manhaj&lt;p&gt;Kamis, 8 Juli 2004 16:46:40 WIBSALAF DAN SALAFIYAH SECARA BAHASAOlehSyaikh Abu Usamah Salim bin &amp;#39;Ied Al-HilaalyBagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf Ash-Shalih.Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik. Dan diatas tinjauan inilah dipakai istilah salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj di atas pemahaman Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu a&amp;#39;nhuma sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu&amp;#39; Fatawa 4/149 : Tidak ada celanya atas orang yang menampakkan manhaj Salaf, menisbatkan kepadanya dan bangga dengannya, bahkan pernyataan itu wajib diterima menurut kesepakatan Ulama, karena madzhab Salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.Sebagian orang dari orang yang mengerti akan tetapi berpaling ketika menyebut Salafiyah, mereka terkadang menyangka bahwa Salafiyah adalah perkembangan baru dari Jama&amp;#39;ah Islamiyah yang baru yang melepaskan diri dari lingkungan Jama&amp;#39;ah Islam yang satu dengan mengambil untuk dirinya satu pengertian yang khusus dari makna nama ini saja sehingga berbeda dengan kaum muslimin yang lainnya dalam masalah hukum, kecenderungan-kecenderungan bahkan dalam tabia&amp;#39;at dan norma-norma etika [akhlak].[1]Tidaklah demikian itu ada dalam manhaj salafi, karena salafiyah adalah Islam yang murni [bersih] secara sempurna dan menyeluruh baik kitab maupun sunnah dari pengaruh-pengaruh endapan peradaban lama dan warisan kelompok-kelompok sesat yang beraneka ragam sesuai dengan pemahaman Salaf yang telah dipuji oleh nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah.Prasangka itu hanyalah rekaan prasangka salah dari suatu kaum yang tidak menyukai kata yang baik dan penuh barokah ini, yang asal kata ini memiliki hubungan erat dengan sejarah umat Islam sampai bertemu generasi awal, sehingga mereka menganggap bahwa kata ini dilahirkan dari gerakan pembaharuan yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh pada masa penjajahan Inggris di Mesir.[2]Orang yang menyatakan persangkaan ini atau yang menukilkannya tidak mengetahui sejarah kata ini yang bersambung dengan As-Salaf Ash-Shalih secara makna, pecahan kata dan periodisasi. Padahal para ulama terdahulu telah mensifatkan setiap orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dalam aqidah dan manhaj dengan Salafi. Seperti ahli sejarah Islam Al-Imam Adz-Dzahaabiy dalam Siyar &amp;#39;Alam an-Nubala 16/457 menukil perkataan Ad-Daroquthniy : Tidak ada sesuatu yang paling aku benci melebihi ilmu kalam. Kemudian Adz-Dzahaabiy berkata : Dia tidak masuk sama sekali ke dalam ilmu kalam dan jidal [ilmu debat] dan tidak pula mendalami hal itu, bahkan di adalah seorang Salafi.[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf [Studi Kritis Solusi Problematika Umat] oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin &amp;#39;Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]_________Foote Note.[1]. Lihatlah tulisan Dr. Al-Buthiy dalam kitabnya As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun La Madzhabun Islamiyatun, kitab ini lahiriyahnya rahmat tetapimsebaliknya merupakan adzab :[a] Dia berusaha mencela As-Salaf dalam manhaj ilmiyah mereka dalam talaqiy, pengambilan dalil [istidlal] dan penetapan hukum [istimbath], dengan demikian dia telah menjadikan mereka seperti orang-orang ummiy yang tidak mengerti Al-Kitab kecuali hanya dengan angan-angan.[b] Dia telah menjadikan manhaj Salaf [As-Salafiyah] fase sejarah yang telah lalu dan hilang tidak akan kembali ada kecuali kenangan dan angan-angan.[c] Mengklaim bid&amp;#39;ahnya intisab [penisbatan] kepada salaf, maka dia telah mengingkari satu perkara yang sudah dikenal dan tersebar sepanjang zaman secara turun temurun.[d] Dia berputar seputar manhaj Salaf dalam rangka membenarkan madzhab khalaf dimana akhirnya dia menetapkan bahwa manhaj khalaf adalah penjaga dari kesesatan hawa nafsu dan menyembunyikan kenyataan-kenyataan sejarah yang membuktikan bahwa manhaj khalaf telah mengantar kepada kerusakan peribadi muslim dan pelecehan manhaj Islam.[2]. Dakwaan-dakwaan ini memiliki beberapa kesalahan :[a] Gerakan yang dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh bukanlah salafiyah akan tetapi dia adalah gerakan aqliyah kholafiyah dimana mereka menjadikan akal sebagai penentu daripada naql [nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah].[b] Telah muncul penelitian yang banyak seputar hakikat Al-Afghaniy dan pendorong gerakannya yang memberikan syubhat [keraguan] yang banyak seputar sosok ini yang membuat orang yang memperhatikan sejarahnya untuk was-was dan berhati-hati darinya.[c] Bukti-bukti sejarah telah menegaskan keterlibatan Muhammad Abduh pada gerakan Al-Masuniyah dan dia dianggap tertipu oleh propagandanya dan tidak mengerti hakikat gerakan Masoni tersebut.[d] Pengkaitan As-Salafiyah dengan gerakan Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh adalah tuduhan jelek terhadapnya walaupun secara tersembunyi dari apa yang telah dituduhkan mereka kepadanya dari keterikatan dan motivasi yang tidak jelas.&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=897&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=897&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 2/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 2/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-585295009588430092?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/585295009588430092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=585295009588430092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/585295009588430092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/585295009588430092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/salaf-dan-salafiyah-secara-bahasa-22.html' title='Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa 2/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-703105048817160908</id><published>2008-07-12T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T07:45:20.945-07:00</updated><title type='text'>Menggauli Istri Lewat Dubur Atau Di Saat Haid</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Menggauli Istri Lewat Dubur Atau Di Saat Haid &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: Bagaimana hukumnya menggauli istrilewat dubur atau pada waktu haid dan nifas?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Tidak boleh menggauli istri lewat dubur atau pada waktu haid dan nifasbahkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar, berdasarkan firmanAllah : Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid ituada-lah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dariwanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelummereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyu-kaiorang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang men-sucikandiri. Istri-istrimu adalah [seperti] tanah tempat kamu bercocok tanam,maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamukehendaki. [Al-Baqarah: 222-223]. Di dalam ayat tersebut di atas,Allah mewajibkan kita agar menjauhi wanita yang sedang haid hinggasuci, berarti menggauli istri pada saat sedang haid haram hukumnyabegitu pula pada saat nifas. Dan apabila telah suci dari haid ataunifas, maka suami boleh menggauli dengan cara yang telah disyariatkanoleh Allah yaitu lewat farji yaitu tempat yang bisa meng-hasilkanketurunan. Adapun dubur bukanlah tempat yang tepat untuk menghasilkanketurunan melainkan hanya sekedar tempat keluarnya kotoran, sehinggamenggauli istri lewat dubur termasuk dosa besar dan maksiat yangpaling keji dalam Islam. Abu Daud dan An-Nasai telah meriwayatkanbahwasanya Rasulullah bersabda:  Terlaknat seseorang yang menggauli istrinya lewatduburnya. Dari Abu Daud dan An-Nasai dari Ibnu Abbas bahwasanyaRasulullah bersabda:  Allah tidak akan melihat seorangyang mendatangi laki-laki atau perempuan lewat dubur. [Sanad haditsini shahih]. Mendatangi wanita lewat dubur termasuk liwath [sodomi]yang diharam-kan bagi kaum laki-laki dan perempuan, berdasarkan firmanAllah yang menceritakan kaum Nabi Luth as: Sesungguhnya kamubenar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernahdikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. [Al-Ankabut:28]. Dan Rasulullah bersabda:  Terlaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaumLuth. [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih]. Bagi setiap kaum musliminhendaknya berhati-hati agar tidak melakukan perbuatan kaum luth danmenjauhi setiap larangan Allah. Dan bagi para suami sebaiknyamenyelamatkan istri-istri mereka dari setiap perbuatan mungkar. Dansebaliknya para istri hendaknya jangan merangsang nafsu suami merekapada saat sedang haid atau nifas agar suami tidak tergoda menggaulinya.Semoga Allah menghindarkan kaum muslimin dari menentang perintahAllah.&lt;p&gt;Artikel Menggauli Istri Lewat Dubur Atau Di Saat Haid diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Menggauli Istri Lewat Dubur Atau Di Saat Haid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-703105048817160908?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/703105048817160908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=703105048817160908' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/703105048817160908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/703105048817160908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/menggauli-istri-lewat-dubur-atau-di.html' title='Menggauli Istri Lewat Dubur Atau Di Saat Haid'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-1543796398395146617</id><published>2008-07-12T06:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T06:45:16.066-07:00</updated><title type='text'>Batasan Tasyabbuh [Menyerupai] Orang-Orang Kafir</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Batasan Tasyabbuh [Menyerupai] Orang-Orang Kafir Batasan Tasyabbuh [Menyerupai] Orang-Orang Kafir&lt;p&gt;Kategori Sikap Kepada Kafir&lt;p&gt;Senin, 10 Mei 2004 09:49:59 WIBBATASAN TASYABBUH [MENYERUPAI] ORANG-ORANG KAFIROlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa standard menyerupai orang-orang kafir JawabanStandard tasyabbuh [penyerupaan] adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang diserupainya. Menyerupai orang-orang kafir artinya, seorang Muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas mereka. Adapun jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh [tidak tergolong menyerupai] sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut, kecuali jika hal itu haram bila dilihat dari sisi lain. Inilah yang kami maksud dengan relatifitas maksud kalimat. Penulis buku Al-Fath [pada juz 10 hal. 272] menyebutkan :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Sebagian salaf tidak menyukai pemakaian &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;burnus&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; karena merupakan aksesories para pendeta. Imam Malik pernah ditanya mengenai hal ini, beliau mengatakan ; &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Tidak apa-apa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;lalu dikatakan, bahwa itu pakaian orang-orang nashrani&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; beliau menjawab, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Dulu itu dipakai disini&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.Menurut saya : Seandainya ketika Imam Malik ditanya masalah ini beliau berdalih dengan sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam tentang orang yang sedang ihram.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Tidak boleh mengenakan gamis, imamah, celana dan juga burnus&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [1] tentu akan lebih baik.Dalam Al-Fath [juz 1, hal 307] juga disebutkan, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Jika kita katakan itu terlarang karena alasan menyerupai orang-orang non Arab, maka hal ini demi kemaslahatan agama, tentunya karena hal itu termasuk simbol mereka dan mereka adalah orang-orang kafir. Kemudian, tatkala hal ini sekarang tidak lagi menjadi simbol  dan ciri khas mereka, maka hilangnya makna tersebut, sehingga hilang pula hukum makruhnya.Wallahu a&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;lam[Fatawa Al-Aqidah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 245][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fi Al-Masa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 364-365 Darul Haq]_________Foote Note[1]  Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Ilm 134, Muslim dalam Al-Hajj 2/117&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=706&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=706&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Batasan Tasyabbuh [Menyerupai] Orang-Orang Kafir diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Batasan Tasyabbuh [Menyerupai] Orang-Orang Kafir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-1543796398395146617?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/1543796398395146617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=1543796398395146617' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1543796398395146617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1543796398395146617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/batasan-tasyabbuh-menyerupai-orang.html' title='Batasan Tasyabbuh [Menyerupai] Orang-Orang Kafir'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5919607257585641478</id><published>2008-07-12T05:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T05:45:10.457-07:00</updated><title type='text'>Jenis Pakaian Wanita Ketika Ihram, Ihram Memakai Kaos Kaki Dan Kaos Tangan, Pakaian Ihram Waktu Lama</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Jenis Pakaian Wanita Ketika Ihram, Ihram Memakai Kaos Kaki Dan Kaos Tangan, Pakaian Ihram Waktu Lama Jenis Pakaian Wanita Ketika Ihram, Ihram Memakai Kaos Kaki Dan Kaos Tangan, Pakaian Ihram Waktu Lama&lt;p&gt;Kategori Hajji Dan Umrah&lt;p&gt;Selasa, 28 Desember 2004 07:28:38 WIBJENIS PAKAIAN WANITA KETIKA IHRAMOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah wanita boleh ihram dengan pakaian apa saja yang dia kehendaki JawabanYa, wanita berihram dengan pakaian yang dia mau. Sebab bagi wanita tidak ada pakaian khusus ketika ihram sebagai mana anggapan orang-orang awam. Tapi yang utama adalah dia ihram dengan pakaian yang tidak menarik pandangan laki-laki sebab dia bercampur dengan banyak manusia. Maka seyogianya bila wanita ketika ihram memakai pakaian yang wajar dan tidak mengundang fitnah. Adapun bagi laki-laki maka yang utama adalah ihram dengan baju ihram putih, yakni selendang dan kain. Tapi jika tidak ada berwarna putih maka tidak apa-apa. Sebab terdapat riwayat dari Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bahwa beliau ihram dengan baju hijau. Kesimpulannya, tidak mengapa jika laki-laki ihram dengan pakaian yang tidak berwarna putih.MASIH DALAM PAKAIAN IHRAM DALAM TEMPO YANG LAMAOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya pergi umrah pada bulan Ramadhan bersama ibu saya. Kami berdua ihram di kapal terbang ketika di atas Bi&amp;#39;r Ali dan turun di Jeddah lalu istirahat. Dan setelah kami berbuka puasa maka kami pergi pada sore harinya ke Mekkah untuk melaksanakan umrah dan kami tidak melepas pakaian ihram hingga selesai umrah. Apakah kami terkena sangsi sebab kami istirahat di Jeddah dalam keadaan berpakaian ihram. Mohon penjelasan, semoga Allah memberikan kepada Anda balasan kebaikan.JawabanJika kondisi seperti yang Anda sebutkan, maka tidak ada kewajiban membayar dam atas Anda dan juga ibu. Sebab kalian berdua muqim di Jeddah masih dalam keadaan ihram, dan orang yang sedang ihram tidak wajib menyambung perjalanannya hingga  melaksanakan umrah. Bahkan dia boleh istirahat di jalan dan muqim di mana saja yang dia kehendaki untuk melaksanakan kebutuhannya dan dia sedang ihram. Semoga Allah memberikan taufiq kepada semua kaum muslimin.IHRAM MEMAKAI KAOS KAKI DAN KAOS TANGANOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum ihram dengan memakai kaos kaki dan kaos tangan  Dan apa dalilnya tentang hal tersebut JawabanBagi laki-laki ketika ihram tidak boleh memakai kaos kaki dan khuf [sepatu slop] kecuali jika tidak mendapatkan sandal berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam.&amp;quot;Artinya : Dan barangsiapa yang tidak mendapatkan sandal, maka dia boleh memakai khuf, dan siapa yang tidak mendapatkan kain, maka dia memakai celana panjang&amp;quot;  [Muttafaqun &amp;#39;Alaih]Adapun bagi wanita, maka diperbolehkan memakai kaos kaki dan sepatu khuf, karena kaki wanita adalah aurat. Dan jika seorang wanita menjulurkan bajunya hingga menutup kedua kakinya maka cukup baginya dari kaos kaki dan khuf dalam shalat dan yang lainnya. Adapaun kaos tangan maka bagi laki-laki mupun perempuan tidak diperbolehkan memakainya ketika sedang ihram. Sebab Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda tentang wanita yang sedang ihram.&amp;quot;Artinya : Janganlah wanita bercadar, dan janganlah dia memakai kaos tangan&amp;quot;  [Hadits Riwayat Bukhari dalam shahihnya]Jika memakai kaos tangan, maka haram bagi perempuan, lebih-lebih lagi bagi laki-laki. Karena itu Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda tentang laki-laki yang meninggal ketika dia sedang ihram.&amp;quot;Artinya : Mandikanlah dia dengan air dan bidara, kafankan dia dengan dua baju [ihram]nya, jangan kamu berikan dia parfum, dan jangan kamu tutup kepala dan mukanya, sebab dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan berihram&amp;quot;  [Muttafaqun &amp;#39;alaih dan redaksinya bagi Muslim]Adapun sebagai ganti cadar bagi wanita ketika sedang ihram adalah dia dapat menutup wajahnya dengan kerudung dan yang sepertinya ketika dia berhadapan laki-laki. Demikian ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Radhiallahu &amp;#39;anha, ia berkata.&amp;quot;Artinya : Adalah rombongan laki-laki melewati kami dan kami bersama Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam. Ketika mereka berpapasan dengan kami. setiap orang diantara kami mejulurkan jilbabnya dari kepala ke mukanya, dan jika mereka telah melewati kami, maka kami membukanya&amp;quot;  [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah][Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbiatan Pustaka Imam Asy-Syafi&amp;#39;i hal. 110 - 115 Penerjemah H.ASmuni Solihan Zamakhsyari Lc]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1262&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1262&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Jenis Pakaian Wanita Ketika Ihram, Ihram Memakai Kaos Kaki Dan Kaos Tangan, Pakaian Ihram Waktu Lama diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Jenis Pakaian Wanita Ketika Ihram, Ihram Memakai Kaos Kaki Dan Kaos Tangan, Pakaian Ihram Waktu Lama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5919607257585641478?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5919607257585641478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5919607257585641478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5919607257585641478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5919607257585641478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/jenis-pakaian-wanita-ketika-ihram-ihram.html' title='Jenis Pakaian Wanita Ketika Ihram, Ihram Memakai Kaos Kaki Dan Kaos Tangan, Pakaian Ihram Waktu Lama'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5731966920741707717</id><published>2008-07-12T04:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T04:45:07.372-07:00</updated><title type='text'>Bermula Dari Pengkafiran, Akhirnya Peledakan 2/4</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Bermula Dari Pengkafiran, Akhirnya Peledakan 2/4 Bermula Dari Pengkafiran, Akhirnya Peledakan 2/4&lt;p&gt;Kategori Al-Irhab = Terorisme&lt;p&gt;Jumat, 10 September 2004 23:29:09 WIBBERMULA DARI PENGKAFIRAN, AKHIRNYA PELEDAKANBAYAN HAI&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;AH KIBAR AL-ULAMA FI DZAMMI AL-GHULUWWI FI AT-TAKFIR [Penjelasan Lembaga Perkumpulan Ulama Besar Saudi Arabia Tentang Celaan Terhadap Sikap Ghuluw &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;ekstrim- Dalam Mengkafirkan Orang Lain]Markaz Al-Imam Al-Albani YordaniaSyaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Alhalabi Al-AtsariBagian Kedua dari Empat Tulisan [2/4]PENJELASAN HAI&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;AH KIBAR AL-ULAMALembaga Perkumpulan Tokoh-Tokoh Ulama Saudi Arabia [1]Sesungguhnya Majelis Hai&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah Kibar Al-Ulama, pada pertemuannya yang ke 49 di Thaif, yang dimulai tanggal 2/4/1419H [2] telah mengkaji apa yang kini berlangsung di banyak negeri-negeri Islam dan negeri-negeri lain, tentang takfir [penetapan hukum kafir terhadap seseorang] dan tafjir [peledakan] serta konsekwensi yang diakibatkannya, berupa penumpahan darah dan perusakan fasilitas-fasilitas umum.Karena berbahayanya persoalan ini, begitu pula akibat yang ditimbulkannya, berupa melenyapkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah, perusakan harta benda yang mestinya terpelihara, menimbulkan rasa takut bagi banyak orang dan menimbulkan keresahan bagi keamanan serta ketentraman orang banyak, maka majelis Hai&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah memandang perlu untuk menerbitkan penjelasan ini, guna menerangkan hukum sebenarnya dari persoalan tersebut. Sebagai nasihat bagi Allah, bagi hamba-hambaNya dan sebagai pelepas tanggung jawab di hadapan Allah, serta sebagai upaya menghilangkan kerancuan pemahaman di kalangan orang-orang yang kacau pemahamannya.Maka dengan taufik Allah kami katakan.PERTAMATakfir [menetapkan hukum kafir/mengkafirkan] merupakan hukum syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i. Tempat kembalinya adalah Allah dan RasulNya Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam. Seperti halnya penetapan hukum halal dan haram, kembalinya kepada Allah dan RasulNya Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam ; begitupula penetapan hukum kafir.Tidak setiap perkataan atau perbuatan yang disebut kufur, berarti kufur akbar yang mengeluarkan [pelakunya] dari agama.[3]Karena sumber penetapan hukum pengkafiran kembalinya kepada Allah dan RasulNya, maka kita tidak boleh mengkafirkan seseorang, kecuali jika Al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan Sunnah telah membuktikan kekafirannya dengan bukti yang jelas. Maka [mengkafirkan orang] tidak cukup hanya berdasarkan syubhat dan dugaan-dugaan saja, sebab akan berakibat pada konsekwensi hukum-hukum yang berbahaya.Apabila hukum hudud [pidana] saja dapat terhapus dengan adanya syubhat [ketidak jelasan bukti] &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;padahal konsekwensinya lebih ringan daripada takfir-, apalagi masalah pengkafiran orang, tentu lebih dapat terhapuskan lagi dengan adanya syubhat [ketidak jelasan bukti].Itulah sebabnya Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam memperingatkan umatnya agar jangan sampai menghukumi kafir kepada seseorang yang tidak kafir. Beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Siapapun orang yang mengatakan kepada saudaranya &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Hai Kafir&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;, maka perkataan itu akan mengeneai salah satu diantara keduanya. Jika perkataannya benar, [maka benar]. Tetapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang yang mengatakannya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Muttafaq &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaih, dari Ibnu Umar].Kadang di dalam Al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dan Sunnah terdapat nash yang dapat difahami darinya, bahwa perkataan ini, perbuatan itu atau keyakinan itu adalah kufur, tetapi orang yang melakukannya tidak kafir, disebabkan adanya penghalang yang menghalangi kekafirannya.Hukum pengkafiran ini, sama seperti hukum-hukum lainnya. Yaitu tidak akan terjadi, kecuali jika sebab-sebab serta syarat-syaratnya ada [4] dan penghalang-penghalangnya tidak ada. Umpamanya dalam masalah waris. Sebabnya [misalnya] adalah adanya hubungan kerabat. Kadang-kadang seseorang [yang mempunyai hubungan kerabat] tidak bisa mewarisi disebabkan oleh adanya penghalang, yaitu perbedaan agama. Begitu pula masalah kekafiran. Seorang mukmin dipaksa melakukan perbuatan kufur &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;misalnya-, maka ia tidak kafir karenanya.Kadang seorang muslim mengucapkan kalimat kufur disebabkan oleh kesalahan lidah karena sangat gembiranya, atau sangat marahnya atau karena sebab-sebab lainnya. Iapun tidak kafir karenanya. Sebab ia tidak sengaja mengucapkannya. Seperti kisah orang yang mengatakan : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah TuhanMu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.[ Dia tidak kafir &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;red]. Dia salah mengucapkan kalimat itu karena sangat gembiranya [menemukan ontanya yang hilang ditengah kesendiriannya, -red].[5] [Hadits Shahih Riwayat Muslim, dari sahabat Anas bin Malik]Tergesa-gesa menghukumi kafir terhadap seseorang akan mengakibatkan banyak perkara yang berbahaya. Di antaranya menghalalkan darah dan harta Muslim, dilarangnya saling mewarisi, pembatalan pernikahan dan lain-lain yang merupakan konsekwensi hukum-hukum orang murtad.Jadi bagaimana mungkin seorang mukmin boleh lancang menetapkan hukum kafir hanya berdasarkan syubhat yang sangat sederhana sekalipun Dan apabila ternyata [tuduhan kafir, -red] ini ditujukan kepada para penguasa [6], maka persoalannya jelas lebih parah lagi. Sebab akibatnya akan menimbulkan sikap pembangkangan terhadap penguasa, angkat senjata melawan mereka, menebarkan isu kekacauan, mengalirkan darah dan membuat kerusakan terhadap manusia dan negara.Karena itu Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam melarang penentangan kepada penguasa. Beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166; Kecuali bila kalian lihat kekafiran yang nyata [bawaah], yang tentangnya kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Muttafaq &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaih, dari Ubadah][a] Sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam [kecuali jika kalian lihat], memberikan pengertian bahwa tidak cukup [pengkafiran, -red] hanya berdasarkan dugaan dan isu.[b] Sabda beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam [kekafiran], memberikan pengertian bahwa tidak cukup [penentangan terhadap penguasa, -red] hanya karena fasiknya penguasa, walau kefasikannya besar seperti zhalim, meminum khamr, berjudi dan dominan berbuat perkara haram.[c] Sabda beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam [nyata], memberikan pengertian bahwa tidaklah cukup kekafiran yang tidak nyata. Arti [bawaah] ialah jelas dan nyata.[d] Sabda beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam [kalian memiliki bukti jelas mengenai kekafiran yang nyata dari Allah]. Ini memberikan pengertian bahwa pengkafiran harus berdasarkan dalil yang sharih [jelas dan terang]. Dalil itu harus shahih adanya dan sharih [jelas dan terang] pembuktiannya. Sehingga tidak cukup bila dalil itu lemah sanadnya atau tidak tegas pembuktiannya.[e] Kemudian sabda beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam [dari Allah], memberikan pengertian bahwa perkataan ulama manapun [dalam pengkafiran, -red] tidak bisa dianggap, meski betapapun tinggi ilmu dan sikap amanahnya, apabila perkataannya tidak berdasarkan dalil yang sharih [nyata dan terang] pembuktiannya dan shahih berasal dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.Ikatan-ikatan syarat-syarat dari Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam [dalam hadits] di atas menunjukkan betapa pentingnya permasalahan takfir [pengkafiran terhadap seseorang].Kesimpulan.Tergesa-gesa menghukumi seseorang sebagai kafir mempunyai bahaya yang besar. Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Katakanlah : Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau yang tersembunyi, dan [mengharamkan] perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, [juga mengharamkan kalian] mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan [juga mengharamkan] kalian mengada-adakan perkataan terhadap Allah apa yang kalian tidak ketahui&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-A&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;raf : 32][Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal. 45-50]_________Foote Note.[1] Tentang penjelasan lembaga ini, saya [Syaikh Ali Hasan] telah memberikan catatan dan penjelasan pada sebuah risalah tersendiri yang saya beri judul &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Kalimatun Sawa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Fi An-Nushrati Wa Ats-Tsana&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ala Bayan Hai&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah Kibar Al-Ulama, Wa Fatwa Al-Lajnah Da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;imah Lil Ifta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Fi Naqdhi Ghuluwwi At-Tafkir Wa Dzammi Dhalalati Al-Irja&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;. Risalah ini sedang dicetak, Alhamdulillah. Di dalamnya digabungkan pula Fatwa Lajnah Da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;imah tentang celaan terhadap firqah Murji&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan faham Murji&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah.[2] Wafatnya guru kami, Syaikh Al-Imam Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah, ialah pada tanggal 27/1/1420H[3] Sesungguhnya kufur terbagi menjadi dua. Kufur asghar [kecil], tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan kufur akbar [besar], mengeluarkan pelakunya dari Islam. Kufur akbar ini ada beberapa macam, yaitu : menghalalkan [terhadap perkara yang jelas haramnya,-red], penolakan, pengingkaran, pendustaan, [menolak untuk percaya], munafik, dan ragu-ragu [terhadap kebenaran yang sudah jelas, -red]. Dalam hal ini ada beberapa sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam kufur akbar itu. Yaitu sebab-sebab yang berupa perkataan, perbuatan dan keyakinan.[4] Pada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Fatawa XIV/118 terdapat penjelasan tentang syarat-syarat itu. Beliau Rahimahullah, berkaitan dengan hukum orang yang berbicara tentang kekafiran, telah mengatakan : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Adapun bila orang tersebut : [1] mengetahui atau memahami apa yang diucapkannya, maka bila ia [2] dengan senang hati [tidak terpaksa] dan [3] sengaja dalam mengucapkan apa yang dikatakannya ; maka inilah yang perkataanya terhitung &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166;.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [maksudnya, pengkafiran terhadap orang itu dapat dianggap]. Saya [Syaikh Ali Hasan] berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Sebagai kebalikannya adalah penghalang-penghalangnya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.[5] Jadi kegembiraan yang luar biasa itulah yang menjadi sebab adanya penghalang yang menghalangi hukum kafir terhadapnya, yaitu : ketidak sengajaan. Maksudnya, ia tidak bermaksud melakukan kekafiran. Perhatikanlah ini hendaknya. Jika tidak, sesungguhnya orang yang sengaja &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;dan tanpa ada unsur paksaan- mengucapkan perkataan sejenis yang dapat menyebakan kekafiran &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;yaitu yang sama sekali berlawanan dengan keimanan dari segala sisi- baik secara ucapan maupun secara perbuatan, misalnya ; mencaci Allah atau RasulNya atau yang semisalnya, maka orang ini kafir, keluar dari agama. Murtad.[6] Yaitu para penguasa Muslim &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;semoga Allah memperbaiki negara dan hamba Allah- melalui tangan mereka. Tentang dalil yang dijadikan hujjah oleh orang-orang yang menyimpang untuk mengkafirkan para penguasa secara total, yaitu firman Allah : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oelh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Maidah : 44]. Maka tidak ada jawaban mencakup yang lebih indah dari pada perkataan Imam Ahmad Rahimahullah. [Beliau berkata] : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;[Maksud ayat itu ialah], kufur yang tidak mengeluarkan dari agama. Seperti halnya iman, sebagaimana lebih rendah dari sebagian yang lain [bertingkat-tingkat, -red], demikian pula kufur. Sampai akhirnya datang suatu bukti yang tidak diperselisihkan lagi didalamnya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. [Termuat dalam] Majmu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Fatawa Syaikhul Islam VII/254&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1015&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1015&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Bermula Dari Pengkafiran, Akhirnya Peledakan 2/4 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Bermula Dari Pengkafiran, Akhirnya Peledakan 2/4.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5731966920741707717?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5731966920741707717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5731966920741707717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5731966920741707717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5731966920741707717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/bermula-dari-pengkafiran-akhirnya.html' title='Bermula Dari Pengkafiran, Akhirnya Peledakan 2/4'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-2630998179692397318</id><published>2008-07-12T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T03:45:01.178-07:00</updated><title type='text'>Bunuh Diri, Mengapa Terjadi ?</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Bunuh Diri, Mengapa Terjadi ? Salah satu belas kasih Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;alaterhadap orang-orang shalih yakni Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;alamemberikan kepada mereka dua kebahagiaan; Kebahagiaan dunia danakhirat. Dan perlu kita ketahui bahwa rasa bosan hidup yang Allahberikan kepada orang yang banyak melakukan maksiat, atau mencarikebahagian bukan dengan cara yang Dia ridhai, akan menjadikan sempitkehidupan dunia mereka sehingga mereka merasa terus tertekan. Makaorang yang demikian ini meskipun berada dalam kehidupan yang glamourdan penuh gemerlap, namun senantiasa merasa tersiksa hidupnya. Mengapademikian&lt;p&gt;Mengapa mereka yang banyak menikmati musik, mengunjungi tempat-tempat hiburan  [baca maksiat], meminum khamer, melihat yang haram dan lainsebagainya, hanya menikmati itu dalam sesaat lalu setelah itu berubahmenjadi kesempitan, kegalauan dan kesedihan&lt;p&gt;Jawabannya yakni karena Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala menciptakanmanusia untuk satu tugas, yang tidak akan mungkin kehidupan menjadilurus jika dia melupakan tugas itu dan sibuk dengan selainnya. Tugasitu tidak lain adalah beribadah, sebagaimana firman-Nya, artinya,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya merekamenyembah-Ku.&amp;#226; [QS. adz-Dzariyat:56]&lt;p&gt;Jika seseorang menggunakan jasad dan ruhnya untuk sesuatu yangbertetangan dengan tujuan dari penciptaannya maka kehidupan akanmenjadi berantakan. Sebagai contoh, ketika seseorang sedang berjalankaki, lalu sandalnya tiba-tiba putus, kemudian dia mengatakan,  Tidakapa-apa saya menggunakan peci saya untuk alas kaki. Lalu dia berjalandengan alas peci tersebut. Maka orang yang melihatnya tentu akanmengatakan sebagai orang gila, karena peci adalah untuk tutup kepalabukan untuk alas kaki. Demikian pula ketika seseorang ingin menulistidak menggunakan pena, namun menggunakan sepatu misalnya, maka jelastidak akan dapat menulis dengannya.&lt;p&gt;Demikian pula manusia, dia diciptakan untuk beribadah dan melakukanketaatan kepada Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala. Maka barang siapayang menggunakan hidupnya bukan untuk fungsi itu dia akan celaka dansengsara. Jika Anda memperhatikan kondisi suatu masyarakat atau bangsayang kehidupannya bukan untuk beribadah kepada Allah subhanahuwata&amp;#226;&amp;trade;ala, maka akan Anda dapati mereka dalam keadaan rusak.Sehingga tidaklah mengherankan jika terlontar pertanyaan,  Mengapatingkat kasus bunuh diri di negara yang menggunkan sistem kebebasansangat tinggi Mengapa di Amerika terjadi lebih dari dua puluh limaribu kasus bunuh diri setiap tahunnya Demikian pula kasus yangterjadi di Inggris, Peracis, Swedia dan lain-lain Mengapa merekabunuh diri Apakah mereka tidak mendapati khamer secara bebas untukdiminum Tidak, bahkan khamer dan minuman sejenis amatlah banyak disembarang tempat. Apakah tidak ada negeri-negeri tempat melancongBahkan amat banyak negeri-negeri yang luas tempat merekabersenang-senang. Lalu apakah mereka tidak diberi kebebasan untuk inidan itu, apakah mereka dilarang berzina Apakah tidak ada saranahiburan, tempat-tempat permainan dan sejenisnya&lt;p&gt;Tidak sama sekali! Bahkan mereka melakukan apa saja yang merekainginkan. Hidup dengan berbagai kesenangan dunia dan kehidupan seksualbebas, dan hal itu selalu ada di depan mata mereka. Jika demikian,mengapa mereka bunuh diri, mengapa mereka bosan hidup, mengapa merekamemilih mati dan meninggalkan khamer, zina dan segala permainan hidup&lt;p&gt;Jawabannya sangatlah sederhana, yaitu sebagaimana difirmankan Allah &lt;p&gt;subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala, artinya,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, makasesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akanmenghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta . [QS.20:124]&lt;p&gt;Mereka selalu mendapatkan kesempitan hidup saat kedatangan dankepergian mereka, dalam safar dan mukimnya mereka, ketika makan danminum, tatkala berdiri dan duduk, selalu menyertai dalam tidur danbangunnya dan dalam seluruh kehidupan mereka hingga mati.&lt;p&gt;Barangsiapa yang berpaling dari Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala danperingatan-Nya, maka Allah akan memasukkan rasa ketakutan dankesedihan di dalam hatinya. Dia berfirman, artinya,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut,disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiritidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialahneraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim .[QS. 3:151]&lt;p&gt;Sedangkan orang yang mengenal Rabbnya, selalu menghadap kepada-Nyadengan sepenuh hati maka mereka mendapatkan kebahagiaan. Allah &lt;p&gt;subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala berfirman, artinya,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupunperempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikankepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikanbalasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yangtelah mereka kerjakan.&amp;#226; [QS. 16:97]&lt;p&gt;Seorang Syaikh mengisahkan, &amp;#226;&amp;oelig;Aku pernah pergi berobat ke Inggris, danaku masuk ke salah satu rumah sakit ternama yang ada di sana. Pasienyang masuk ke rumah sakit ini adalah orang-orang besar, pejabat tinggidan para menteri. Ketika seorang dokter masuk ke ruanganku dan melihatpenampilanku, dia berkata,  Anda seorang muslim Aku menjawab,  Ya! Dia lalu berkata,  Ada satu problem yang membuatku bingung setelah akumengenal diriku, apakah mungkin Anda mendengarkan apa yang saya alamiAku jawab,  Tentu!&lt;p&gt;Dia lalu memulai ceritanya,  Aku memiliki harta yang melimpah,pekerjaan yang sangat mapan, ijazah yang tinggi, dan aku telah mencobaseluruh kesenangan hidup, aku meminum berbagai jenis minuman keras,melakukan perzinaan dan seks bebas, pergi melancong ke negara ini danitu. Akan tetapi mengapa aku selalu merasakan kesempitan hidup danbosan dengan berbagai kesenangan itu Aku telah berkali-kalimendatangi psikolog dan bahkan beberapa kali aku ingin mencoba bunuhdiri, barangkali dengan itu aku mendapatkan kehidupan lain yang disana tidak ada lagi kejenuhan dan kesempitan. Apakah Anda tidakmerasakan kejenuhan dan kesempitan di dalam hidup ini  Aku katakankepadanya,  Tidak, bahkan aku terus merasakan kebahagiaan, dan akuakan tunjukkan kepada Anda jalan keluar dari masalah yang sedang andahadapi, tetapi tolong jawab dulu pertanyaan saya!&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Jika Anda ingin memuaskan mata Anda maka apa yang Anda lakukan Diamenjawab,  Aku melihat wanita cantik dan pemandangan yang indah.  Akubertanya lagi,  Jika Anda ingin memuaskan telinga Anda maka apa yangAnda lakukan Dia berkata,  Aku mendengarkan musik yang merdu.  Akubertanya lagi,  Jika yang ingin Anda puaskan adalah penciuman hidungmaka apa yang Anda lakukan Dia lalu menjawab,  Aku mencium parfumatau pergi ke taman [untuk mencium bunga]. &lt;p&gt;Aku lalu berkata kepadanya,  Baiklah&amp;#226;&amp;#166; sekarang saya bertanya,  KetikaAnda ingin memuaskan mata, mengapa Anda tidak mendengarkan musik saja Maka dia pun terheran-heran dan berkata,  Tidak mungkin, karena musikadalah khusus untuk dinikmati telinga.  Lalu aku bertanya lagi,  Danketika Anda ingin memuaskan penciuman hidung mengapa Anda tidakmelihat pemadangan yang indah  Dia semakin heran dengan pertanyaanku,lalu berkata,  Tidak mungkin karena melihat pemandangan adalah untukmemuaskan mata. &lt;p&gt;Aku pun berkata,  Baik, kini aku telah sampai kepada apa yang akuinginkan dari diri anda.  Apakah Anda merasakan jenuh di mata andaDia menjawab,  Tidak! Lalu apakah Anda merasakannya di telinga anda,di hidung, mulut dan kemaluan Anda Dia menjawab,  Tidak, tetapi akumerasakan itu di dalam hatiku, di dalam dadaku.  Aku berkata,  Andamerasakan kesempitan itu di dalam hati anda, padahal hati jugamembutuhkan kepuasan tersendiri yang tidak akan mungkin dipenuhidengan cara memuaskan anggota badan selainnya. Maka Anda harusmengetahui apa saja yang dapat memberikan kepuasan hati [batin].Karena dengan mendengarkan musik, meminum khamer, memandang danberzina yang Anda lakukan itu tidak akan mungkin dapat memuaskan hatianda. &lt;p&gt;Orang tersebut keheranan lalu berkata,  Anda benar, lalu bagaimanakahcara untuk memuaskan hatiku&amp;#226; Aku katakan,  Dengan bersaksi bahwatidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan bahwa Muhammad &lt;p&gt;shallallahu &amp;#226;&amp;tilde;alaihi wasallam adalah utusan Allah, dan andabersujud di hadapan Allah yang menciptakan, Anda mengadukan segenapkesedihan hanya kepada Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala. Dan dengan ituAnda akan merasakan kehidupan yang lapang, penuh ketenangan dankebahagiaan.  Dia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, Berikan kepadaku buku tentang Islam dan berdoalah untukku, aku akanmasuk Islam,  tambahnya.&lt;p&gt;Maka aku pun menyelesaikan pengobatanku di sana, lalu setelah itupulang kembali ke negeriku. Dan aku berharap orang itu benar-benarmasuk Islam setelah itu. Benarlah firman Allah subhanahu wata&amp;#226;&amp;trade;ala,artinya,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dariRabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit [yang berada] dalam dadadan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah,  Dengankarunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang merekakumpulkan . [QS. Yunus :57-58]&lt;p&gt;Sumber: &amp;#226;&amp;oelig;Hal tabhatsu &amp;#226;&amp;tilde;an wadzifah,&amp;#226; hal 31-35, Dr. Muhammadbin Abdur Rahman al-&amp;#226;&amp;trade;Arifi [Ibn Djawari]&lt;p&gt;Artikel Bunuh Diri, Mengapa Terjadi ? diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Bunuh Diri, Mengapa Terjadi ?.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-2630998179692397318?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/2630998179692397318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=2630998179692397318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2630998179692397318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2630998179692397318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/bunuh-diri-mengapa-terjadi.html' title='Bunuh Diri, Mengapa Terjadi ?'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-2482460212740345368</id><published>2008-07-12T02:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T02:45:00.447-07:00</updated><title type='text'>Menikah Dengan Wali Yang Jauh Jaraknya</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Menikah Dengan Wali Yang Jauh Jaraknya &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya: Telah saya teliti surat andayang menceritakan tentang banyaknya surat yang masuk ke Mahkamahtentang keluhan beberapa wanita yang ingin menikah tetapi para walitinggal di luar Saudi, karena mudahnya transportasi Mahkamah menyuruhpara wali tersebut datang atau mewakilkan, akan tetapi ka-danghasilnya terlambat atau wali tersebut tidak ditemukan, maka pernikahanditunda, tetapi orang-orang yang menganut madzhab Maliki sepertiwanita ini menuntut agar menikah dengan wali jauh karena wali dekattidak ada?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Pendapat di atas adalah madzhab hambali dan perlu diketahui bahwa apayang Anda lakukan adalah benar [yaitu menunda perkawinan sampai adawali terdekat atau wakilnya] kecuali jika di antara para wanitakhawatir tidak mendapatkan lagi calon yang sebanding atau tidak adayang memberi nafatwaah atau sebab lain maka wanita tersebut bolehmenikah dengan wali jauh demi kemaslahatan. Fatawa wa Rasaail SyaikhMuhammad bin Ibrahim, juz 22/112&lt;p&gt;Artikel Menikah Dengan Wali Yang Jauh Jaraknya diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Menikah Dengan Wali Yang Jauh Jaraknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-2482460212740345368?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/2482460212740345368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=2482460212740345368' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2482460212740345368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2482460212740345368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/menikah-dengan-wali-yang-jauh-jaraknya.html' title='Menikah Dengan Wali Yang Jauh Jaraknya'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-9056401863637178022</id><published>2008-07-12T01:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T01:44:51.110-07:00</updated><title type='text'>Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak&lt;p&gt;Kategori Ath-Thiflu = Anak Muslim&lt;p&gt;Kamis, 22 September 2005 08:08:04 WIBHUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAKOlehSyaikh Muhamamd bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh [tindakan menyerupai] dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya Jawaban.Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam. Beliau bersabda:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.Pertama.Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya [&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ied]. Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ied [hari raya] dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ied, maka beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Idul Fitri dan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Idul Adha&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Kedua.Adanya unsur tasyabbuh [menyerupai] dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;a agar  dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Semoga Allah memanjangkan umurmu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; kecuali dengan keterangan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig; Dalam ketaatanNya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; atau &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Dalam kebaikan&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur [kearah kebinasaan], dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-A&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;raf : 182-183]Dan firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Ali-Imran : 178][Fatawa Manarul Islam 1/43][Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1584&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1584&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-9056401863637178022?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/9056401863637178022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=9056401863637178022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/9056401863637178022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/9056401863637178022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hukum-merayakan-ulang-tahun-anak.html' title='Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-3820304346556466386</id><published>2008-07-12T00:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T00:44:44.575-07:00</updated><title type='text'>Waktu Pelaksanaan Shalat Ied</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Waktu Pelaksanaan Shalat Ied Waktu Pelaksanaan Shalat Ied&lt;p&gt;Kategori Hari Raya = Ied&lt;p&gt;Minggu, 18 Januari 2004 19:17:44 WIBWAKTU PELAKSANAAN SHALAT IEDOlehSyaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-AtsariAbdullah bin Busr sahabat Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam pernah keluar bersama manusia pada hari Idul Fithri atau Idul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam dan ia berkata : &amp;quot;Sesungguhnya kita telah kehilangan waktu kita ini, dan yang demikian itu tatkala tasbih&amp;quot;[1]Ini riwayat yang paling shahih[2] dalam bab ini, diriwayatkan juga dari selainnya akan tetapi tidak tsabit dari sisi isnadnya.Berkata Ibnul Qayyim :&amp;quot;Beliau Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam mengakhirkan shalat Idul Fithri dan menyegerakan shalat Idul Adha. Dan adalah Ibnu Umar -dengan kuatnya upaya dia untuk mengikuti sunnah Nabi- tidak keluar hingga matahari terbit&amp;quot; [Zadul Ma&amp;#39;ad 1/442]Shiddiq Hasan Khan menyatakan :&amp;quot;Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah setelah tingginya matahari seukuran satu tombak sampai tergelincir. Dan terjadi ijma [kesepatakan] atas apa yang diambil faedah dari hadits-hadits, sekalipun tidak tegak hujjah dengan semisalnya. Adapun akhir waktunya adalah saat tergelincir matahari&amp;quot; [Al-Mau&amp;#39;idhah Al-Hasanah 43,44]Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi :Waktu shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, shalat Idul Adha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan shalat Idul Fithri diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat Fithri mereka&amp;quot; [Minhajul Muslim 278]Peringatan :Jika tidak diketahui hari Id kecuali pada akhir waktu maka shalat Id dikerjakan pada keesokan paginya.Abu Daud 1157, An-Nasa&amp;#39;i 3/180 dan Ibnu Majah 1653 telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang termasuk sahabat Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam : &amp;quot;Mereka bersaksi bahwa mereka melihat hilal [bulan tanggal satu] kemarin, maka Nabi memerintahkan mereka untuk berbuka dan pergi ke mushalla mereka keesokan paginya&amp;quot;[Disalin dari buku Ahkaamu Al&amp;#39;Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, hal. 23-24, terbitan Pustaka Al-Haura&amp;#39;, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]_________Foote Note.[1]. Yakni waktu shalat sunnah, ketika telah lewat waktu diharamkannya shalat. lihat Fathul Bari 2/457 dan An-Nihayah 2/331[2]. Bukhari menyebutkan hadits ini secara muallaq dalam shahihnya 2/456 dan Abu Daud meriwayatkan secara bersambung 1135, Ibnu Majah 1317, Al-Hakim 1/295 dan Al-Baihaqi 3/282 dan sanadnya Shahih&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=54&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=54&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Waktu Pelaksanaan Shalat Ied diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Waktu Pelaksanaan Shalat Ied.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-3820304346556466386?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/3820304346556466386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=3820304346556466386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/3820304346556466386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/3820304346556466386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/waktu-pelaksanaan-shalat-ied.html' title='Waktu Pelaksanaan Shalat Ied'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-704971421617610899</id><published>2008-07-11T23:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T23:44:41.699-07:00</updated><title type='text'>Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1 Mukaddimah&lt;p&gt;Dalam kajian ini kami ketengahkan beberapa hal yang berkenaan denganilmu hadits, yang kirannya perlu kita ketahui untuk menambah wawasandan kami kemas dalam bentuk tanya jawab sehingga lebih mudah untukdipahami.&lt;p&gt;[1]-&lt;p&gt;TANYA:&lt;p&gt;Kenapa kita harus menuntut ilmu Hadits &lt;p&gt;JAWAB:&lt;p&gt;1. Karena ia merupakan ilmu yang paling mulia&lt;p&gt;2. Karena para penuntutnya adalah orang-orang yang menjadi lenterakegelapan. Kalau kita melihat keempat imam madzhab, tiga orang darimereka [selain Abu Hanifah] dikenal sebagai ahli hadits.&lt;p&gt;Imam Malik memiliki kitab al-Muwaththa` yang berisi banyakhadits. Imam asy-Syafi&amp;#226;&amp;trade;i memiliki kitab al-Umm yang banyakberisi hadits-hadits yang beliau ketengahkan sendiri dengan sanadnya,demikian juga dengan bukunya yang terkenal ar-Risalah. Bahkan salahseorang muridnya mengarang Musnad Imam asy-Syafi&amp;#226;&amp;trade;i yangdiringkasnya dari hadits-hadits yang diriwayatkan beliau di dalamkitab-kitabnya sehingga kitab tersebut lebih dikenal dengan nama &lt;p&gt;Musnad asy-Syafi&amp;#226;&amp;trade;i, begitu pula kitab as-Sunnan.&lt;p&gt;Sedangkan Imam Ahmad memang dikenal sebagai tokoh utama Ahli haditsdan justeru tidak diketahui kalau beliau ada mengarang buku dalammasalah fiqih. Hanya saja perlu diketahui, bahwa beliau juga terhitungsebagai Ahli fiqih. Beliau melarang para muridnya menulis sesuatudengan hanya berpedoman pada akal semata dan menganjurkan merekamenulis hadits.&lt;p&gt;[SUMBER: Fataawa Hadiitsiyyah karya Syaikh Dr. Sa&amp;#226;&amp;trade;d bin&amp;#226;&amp;tilde;Abdullah al-Humaid, hal.5]&lt;p&gt;[2]-&lt;p&gt;TANYA:&lt;p&gt;Apa perbedaan antara ungkapan &amp;#226;&amp;oelig;Haddatsana&amp;#226; [[Fulan] telahmenceritakan kepada kami] dan &amp;#226;&amp;oelig;Akhbarana&amp;#226; [[Fulan] telahmemberitahukan kepada kami]&lt;p&gt;JAWAB:&lt;p&gt;Di dalam tata cara Talaqqi [mentransfer, menerima] hadits, paraulama hadits membedakan antara lafazh yang ditransfer langsung dariSyaikh [Guru] dan yang dibacakan kepada syaikh. Bila Syaikhmenceritakan tentang hadits, baik dari hafalannya atau pun dari kitab[tulisan]-nya dan membacakan kepada para murid sementara merekamenyalin hadits-hadits yang dibicarakan Syaikh tersebut; maka inidinamakan dengan as-Samaa&amp;#226;&amp;trade; yang sering diungkapkan dengankalimat &amp;#226;&amp;oelig;Yuhadditsuni&amp;#226; atau &amp;#226;&amp;oelig;Haddatsani.&amp;#226; Bila seorangpenuntut ilmu mentransfer hadits tersebut di majlis seperti ini, makaia harus menggunakan bentuk plural [jamak], yaitu &amp;#226;&amp;oelig;Haddatsanaa&amp;#226; &lt;p&gt;karena berarti ia mentrasfer hadits itu bersama peserta yang lainnya.Dan jika ia mentransfernya secara pribadi [sendirian] dari Syaikhlangsung, maka ia mengungkapkannya dengan &amp;#226;&amp;oelig;Hadtsani&amp;#226; yaknisecara sendirian.&lt;p&gt;Adapun bila hadits tersebut dibacakan kepada Syaikh [dengan metodeQiraa`ah], seperti misalnya, Imam Malik menyerahkan kitabnya &lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;al-Muwaththa`&amp;#226; kepada salah seorang muridnya, lalu ia [si murid]membaca dan beliau mendengar; jika si murid ini salah, maka iamenjawab dan meluruskan kesalahannya, bila tidak ada yang salah, iaterus mendengar. Metode ini dinamai oleh para ulama hadits denganmetode &amp;#226;&amp;oelig;al-&amp;#226;&amp;tilde;Ardh&amp;#226; [pemaparan] dan &amp;#226;&amp;oelig;Qiraa`ah &amp;#226;&amp;tilde;Ala asy-Syaikh&amp;#226;&lt;p&gt;[membaca kepada Syaikh]. Mereka [para ulama hadits] mengungkapdengan lafazh seperti ini secara lebih detail manakala seseorang inginmenceritakan [meriwayatkan] hadits, maka ia harus mengungkapkan dengan&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Akhbarani&amp;#226; bukan dengan &amp;#226;&amp;oelig;Haddatsani&amp;#226; . Maksudnya bahwaia menerima [Mentransfer] hadits tersebut bukan dari lafazh Syaikhsecara langsung tetapi melalui murid yang membacakannya kepada Syaikhtersebut.&lt;p&gt;Inilah sebabnya kenapa mereka membedakan antara penggunaan lafazh &lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Haddatsana&amp;#226; dan lafazh &amp;#226;&amp;oelig;Akhbarana.&amp;#226; Sebagian Ahli Haditsmengatakan bahwa keduanya sama saja, baik dibacakan kepada Syaikh atauSyaikh sendiri yang membacakannya, semua itu sama saja. Akan tetapiImam Muslim Rahimahullah tidak menilai hal itu sama saja.Beliau membedakan antara keduanya. Karena itu, dalam banyak haditsnya,kita menemukan beliau memuat hal tersebut. Beliau selalu mengatakan,&lt;p&gt;&amp;#226;&amp;oelig;Haddatsana&amp;#226;&amp;#166;.Wa Qaala Fulan, &amp;#226;&amp;tilde;Akhbarana&amp;#226; [[Si fulanmenceritakan begini&amp;#226;&amp;#166;.Dan si Fulan [periwayat lain] mengatakan, &lt;p&gt;&amp;#226;&amp;tilde;telah memberitahu kami&amp;#226;&amp;trade; [Akhbarana] , demikian seterusnya.&lt;p&gt;[SUMBER: Fataawa Hadiitsiyyah karya Syaikh Dr. Sa&amp;#226;&amp;trade;d bin&amp;#226;&amp;tilde;Abdullah al-Humaid, hal.61-62]&lt;p&gt;Artikel Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-704971421617610899?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/704971421617610899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=704971421617610899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/704971421617610899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/704971421617610899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/yang-perlu-anda-ketahui-dari-hadits-1.html' title='Yang Perlu Anda Ketahui Dari Hadits-1'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4851672565646716330</id><published>2008-07-11T22:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T22:44:33.903-07:00</updated><title type='text'>Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut&lt;p&gt;Kategori Birrul Walidain&lt;p&gt;Senin, 8 Maret 2004 13:26:45 WIBWASIAT BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA TATKALA KEDUANYA BERUSIA LANJUTOlehUstadz Yazid bin Abdul Qadir JawasBerbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala dalam surat Al-Isra&amp;#39; ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala berfirman bahwa Rabb [Allah] telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan &amp;#39;uh&amp;#39; serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.Pada ayat ini Allah mengatakan &amp;#39;kibara&amp;#39;, kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan &amp;#39;indaka&amp;#39; berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :PertamaKeadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.KeduaSemakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan &amp;#39;Si Anak&amp;#39; merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan &amp;#39;ah&amp;#39; atau membentak atau dengan ucapan, &amp;quot;Orang tua ini menyusahkan&amp;quot;, atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu :&amp;quot;Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam beliau bersabda, &amp;quot;Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi [dengan itu] dia tidak masuk syurga&amp;quot; [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]Kemudian hadits berikut ini :&amp;quot;Artinya : Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, &amp;quot;Amin, amin, amin&amp;quot;. Para sahabat bertanya. &amp;quot;Kenapa engkau berkata &amp;#39;Amin, amin, amin, Ya Rasulullah&amp;quot; Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda, &amp;quot;Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : &amp;#39;Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!&amp;#39; maka kukatakan, &amp;#39;Amin&amp;#39;, kemudian Jibril berkata lagi, &amp;#39;Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!&amp;#39;, maka aku berkata : &amp;#39;Amin&amp;#39;. Kemudian Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam berkata lagi. &amp;#39;Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!&amp;#39; maka kukatakan, &amp;#39;Amin&amp;quot;. [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma&amp;#39;uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka&amp;#39;ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang masih berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja. Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25 tahun.Ketika orang tua mengurusi kita, dia mendo&amp;#39;akan agar si anak hidup dengan baik dan menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do&amp;#39;akan supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.Bagaimanapun keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh, kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita, bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid&amp;#39;ah, kita wajib mendakwahkan kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do&amp;#39;akan supaya mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik, berbuat kasar atau pun yang lainnya.[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=417&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=417&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4851672565646716330?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4851672565646716330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4851672565646716330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4851672565646716330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4851672565646716330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua.html' title='Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-8082251756354842527</id><published>2008-07-11T21:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T21:44:28.081-07:00</updated><title type='text'>Rukun Iman</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Rukun Iman Rukun Iman&lt;p&gt;Kategori Aqidah Ahlus Sunnah&lt;p&gt;Senin, 22 Agustus 2005 22:44:13 WIBRUKUN IMANOlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasIman kepada Allah Azza wa Jalla, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, dan dibangkitkannya manusia setelah mati, serta iman kepada qadar yang baik maupun buruk.Di dalam surat al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman:&amp;quot;Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi...&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Baqarah: 177] [1]Di samping ayat-ayat di atas, hadits-hadits yang shahih pun banyak sekali yang menegaskan hal yang sama. Di antara sejumlah hadits-hadits tersebut, terdapat sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam menjawab.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya :  Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [2]Keenam prinsip keimanan tersebut adalah rukun iman, maka tidak sempurna iman seseorang kecuali apabila ia mengimani seluruhnya menurut cara yang benar yang ditunjukan oleh al-Qur-an dan as-Sunnah, maka barangsiapa yang mengingkari satu saja dari rukun iman ini, maka ia telah kafir. [3]Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala artinya berikrar dengan macam-macam tauhid yang tiga serta beri&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;tiqad dan beramal dengannya, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluuhiyyah dan Tauhid Asma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;  wa Shifat. [4][Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#39;ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]_________Foote Note[1]. Lihat juga dalam surat al-Baqarah: 285, an-Nisaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;: 136 dan al-Qamar: 49-50.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [ Al-Qamar: 49-50][2]. HR. Muslim [no. 8], Abu Dawud [no. 4695], at-Tirmidzi [no. 2610], an-Nasa-i [VIII/97], Ibnu Majah [no. 63]. Hadits ini shahih.[3]. Syarah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidah Wasithiyah [hal 62] oleh Khalil Hirras, tahqiq &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Alawiy Saqqaf.[4]. Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah Azza wa Jalla, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40.&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1544&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1544&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Rukun Iman diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Rukun Iman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-8082251756354842527?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/8082251756354842527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=8082251756354842527' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8082251756354842527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8082251756354842527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/rukun-iman.html' title='Rukun Iman'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4466274521060568002</id><published>2008-07-11T20:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T20:44:23.817-07:00</updated><title type='text'>Tanaman Habis Dirusak Badai, Karena Sabar Dia DigantiDengan yang Lebih Baik</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Tanaman Habis Dirusak Badai, Karena Sabar Dia DigantiDengan yang Lebih Baik Al-Barqy[1 ] berkata:Saya melihat seorang perempuan di dusun. Saat itu, salju sudah turundan semua tanamannya habis, rusak karena salju tersebut. Banyak orangyang datang untuk menghibur dan menampakkan rasa prihatin. Tiba-tibaperempuan tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berdo&amp;#39;a: &amp;#39;YaAllah, Engkaulah satu-satunya yang dapat diharapkan oleh makhluk[Mu]yang terbaik [yaitu manusia]. Berada di tangan-Mulah pengganti dariapa-apa [tanaman] yang telah rusak. Maka, berbuatlah untuk kami sesuaidengan sifat yang Engkau miliki [Pengasih, Penyayang]. Sungguh, rizkikami ada pada-Mu, harapan kami pun hanya kepada-Mu.&amp;#39;&lt;p&gt;Tak lama setelah itu, datang seorang kaya dan dermawan dari daerahtersebut. Dan setelah mendapat informasi tentang apa yang terjadi,orang tersebut memberikan uang untuk si perempuan tadi sebesar limaratus dinar. [ 2]&lt;p&gt;[1] Dia adalah Abu Abdillah Ahmad bin Ja&amp;#226;&amp;trade;far bin Abdu Rabbih binHassan. Seorang penulis yang dikenal dengan Al-Barqy. Lihat Al-KhatibAl-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya 4/69.&lt;p&gt;[2] Al-faraj ba&amp;#226;&amp;trade;das-Syiddah 1/181.&lt;p&gt;Artikel Tanaman Habis Dirusak Badai, Karena Sabar Dia DigantiDengan yang Lebih Baik diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Tanaman Habis Dirusak Badai, Karena Sabar Dia DigantiDengan yang Lebih Baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4466274521060568002?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4466274521060568002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4466274521060568002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4466274521060568002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4466274521060568002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/tanaman-habis-dirusak-badai-karena.html' title='Tanaman Habis Dirusak Badai, Karena Sabar Dia DigantiDengan yang Lebih Baik'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5605844718334798154</id><published>2008-07-11T19:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T19:44:18.597-07:00</updated><title type='text'>Bekerja Di Bank</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Bekerja Di Bank Bekerja Di Bank&lt;p&gt;Kategori Mu&amp;#39;amalat Dan Riba&lt;p&gt;Kamis, 27 Mei 2004 08:34:14 WIBBEKERJA DI BANKOlehSyaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaan.Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Sepupu saya bekerja sebagai pegawai bank, apakah boleh hukumnya dia bekerja di sana atau tidak  Tolong berikan kami fatwa tentang hal itu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;semoga Allah membalas kebaikan anda- mengingat, kami telah mendengar dari sebagian saudara-saudara kami bahwa bekerja di bank tidak boleh.Jawaban.Tidak boleh hukumnya bekerja di bank ribawi sebab bekerja di dalamnya masuk ke dalam kategori bertolong-menolong di dalam berbuat dosa dan melakukan pelanggaran. Sementara Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala telah berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Sesungguhnya Allah amat pedih siksaan-Nya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Ma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;idah : 2]Sebagaimana dimaklumi, bahwa riba termasuk dosa besar, sehingga karenanya tidak boleh bertolong-menolong dengan pelakunya. Sebab, terdapat hadits yang shahih bahwa Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya.Beliau mengatakan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Mereka itu sama saja&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;[Kitabut Da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;wah, Juz I, hal.142-143, dari fatwa Syaikh Ibn Baz][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fi Al-Masa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 26-27  Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=755&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=755&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Bekerja Di Bank diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Bekerja Di Bank.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5605844718334798154?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5605844718334798154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5605844718334798154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5605844718334798154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5605844718334798154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/bekerja-di-bank.html' title='Bekerja Di Bank'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-6334385271389235490</id><published>2008-07-11T18:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T18:44:13.593-07:00</updated><title type='text'>Kadar Nafkah Yang Wajib Atas Suami</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Kadar Nafkah Yang Wajib Atas Suami &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin ditanya: Kebanyakan para istrimenuntut suami dengan tuntutan di luar kemampuan-nya dengan anggapanbahwa demikian itu adalah hak para istri. Apakah hal tersebutdibenarkan?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Sikap dan tindakan tersebut sangat tidak dibenarkan, berdasar-kanfirman Allah : Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurutkemampuan-nya. Dan orang yang disempitkan rizkinya kendaklah memberinafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidakmemikulkan beban kepada seseorang melainkan [sekedar] apa yang Allahberikan kepadanya. [Ath-Thalaq: 7]. Tidak boleh wanita menuntutsesuatu di luar kemampuan suaminya dan tidak dibolehkan menuntutsesuatu yang di luar kewajaran walaupun suami-nya mampu, berdasarkanfirman Allah : Dan bergaullah dengan mereka secara patut. [An-Nisa:19]. Dan juga firman Allah: Dan para wanita mempunyai hak yangseimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf. [Al-Baqarah:228]. Sebaliknya suami tidak boleh menahan harta dan tidak memberinafkah kepada istri secara wajar sebab sebagian suami yang bakhilmenahan harta-nya dan tidak mau memberi nafkah kepada istrinya, dalamkondisi seperti ini istri boleh mengambil nafkah dari harta suaminyawalaupun tanpa sepenge-tahuannya. Dalam suatu riwayat Hindun bintiUtbah mengeluh kepada Rasulullah bahwa suaminya, Abu Sofyan bakhil [pelit/kikir]tidak memberi nafkah secara wajar kepada keluarganya, beliau bersabda: Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupikebutuhanmu dan keluargamu.&lt;p&gt;Artikel Kadar Nafkah Yang Wajib Atas Suami diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Kadar Nafkah Yang Wajib Atas Suami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-6334385271389235490?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/6334385271389235490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=6334385271389235490' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6334385271389235490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/6334385271389235490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/kadar-nafkah-yang-wajib-atas-suami.html' title='Kadar Nafkah Yang Wajib Atas Suami'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-879634698709189963</id><published>2008-07-11T17:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T17:44:08.847-07:00</updated><title type='text'>Hikmah Dari Diwajibkan Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hikmah Dari Diwajibkan Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh Hikmah Dari Diwajibkan Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh&lt;p&gt;Kategori Puasa - Fiqih Puasa&lt;p&gt;Minggu, 24 Oktober 2004 08:30:19 WIBHIKMAH DARI DIWAJIBKAN MENGQADHA PUASA TANPA MENGQADHA SHALAT BAGI WANITA HAIDHOlehAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil IftaPertanyaaAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil Ifta diatanya : Apakah hikmah yang terkandung dalam ketetapan syari&amp;#39;at bahwa wanita haidh wajib mengqadha puasa tanpa diwajibkan mengqadha shalat .JawabanPertama : Telah diketahui bahwa kewajiban seorang muslim adalah melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya dan menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang Allah, baik ia tahu ataupun tidak tahu hikmah dari perintah dan larangan itu, yang disertai dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan memerintahkan hamba-Nya melainkan dalam perintah itu terdapat kebaikan bagi mereka, dan Allah tidak akan melarang mereka dari sesuatu melainkan karena  yang dilarang itu mengandung bahaya bagi mereka. Semua ketetapan yang terdapat dalam syari&amp;#39;at Allah pasti memiliki hikmah yang telah diketahui Allah, yang diantaranya ditampakkan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hama-Nya. Demikian ini agar seorang mukmin menjadi bertambah imannya kepad Allah, dan agar Allah bisa merahasiakan dengan apa yang dikehendaki-Nya agar seorang mukmin bertambah keimanannya dengan kepasrahan terhadap perintah Allah.Kedua : Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat itu banyak dan berulang-ulang, yaitu lima kali dalam sehari semalam sehinga untuk mengqadhanya adalah sesuatu hal yang sulit bagi wanita haidh, walaupun haidnya itu hanya satu atau dua hari, Allah berfirman.&amp;quot;Artinya : Allah hendak memberikan keringan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah&amp;quot; [An-Nisaa : 18].[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah, 5/397]TIDAK BERPUASA SELAMA DUA BULAN RAMADHAN KARENA SAKIT, KEMUDIAN PADA RAMADHAN KETIGA IA BERPUASA, APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK DUA RAMADHAN YANG TELAH LEWATOlehAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil Ifta  ditanya : Seorang wanita menderita sakit parah, ketika datang bulan Ramadhan dan dia tak sanggup berpuasa, lalu ketika datang bulan Ramadhan kedua ia pun belum sanggup berpuasa, kemudian datang bulan Ramadhan ketiga, saat itu kesehatannya lebih baik dari sebelumnya maka ia berpuasa, apakah wajib baginya untuk berpuasa untuk dua bulan yang ditinggalkannya itu, ataukah cukup bersedekah saja sebagai penggantinya, perlu diketahui bahwa wanita itu berpuasa selama tiga hari pada setiap bulannya dalam setiap tahun JawabanYang wajib baginya adalah mengqadha puasa yang dua bulan itu berdasarkan keumuman dalil yang terdapat dalam firman Allah.&amp;quot;Artinya : ..Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa], sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain&amp;quot;. [Al-Baqarah : 185]Adapun mengenai puasanya wanita tersebut selama tiga hari setiap bulannya sebagaimana disebutkan oleh penanya, jika niatnya untuk mengqadha puasa yang telah ia tinggalkan selama dua kali bulan Ramadhan, maka niatnya ini sah, dan hendaknya ia melaksanakan sisa puasa dari dua bulan itu, akan tetapi jika niatnya itu hanya sekedar untuk puasa sunat maka kewajiban mengqadha puasanya berarti belum terlaksana, dan karena itu hendaknya ia berpuasa selama dua bulan penuh dan tidak ada kewajiban baginya untuk memberi makan orang miskin, karena wanita itu memiliki udzur dalam menunda qadha puasanya, yaitu karena sakit.[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 14/114-115]MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN SELAMA EMPAT TAHUN KARENA GANGGUAN KEJIWAANOlehAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Ada seorang wanita yang terkena gangguan kejiwaan, demam, kejang dan sebagainya, akibat penyakit itu ia meninggalkan puasa selama kurang lebih empat tahun, apakah dalam keadaan seperti ini wajib baginya untuk mengqadha puasa atau tidak, dan bagaimana hukumnya .JawabanJika ia meninggalkan puasa karena ketidakmampuannya untuk berpuasa, maka wajib baginya untuk mengqadha hari-hari puasa yang telah ditinggalkan selama empat kali bulan Ramadhan itu di saat ia memiliki kesanggupan untuk mengqadhanya, Allah berfirman.&amp;quot;Artinya : .. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa], sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur&amp;quot; [Al-Baqarah : 185]Akan tetapi jika penyakitnya dan ketidakmampuannya untuk berpuasa tidak bisa hilang menurut para dokter, maka ia harus memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ia tinggalkan sebanyak setengah sha&amp;#39; berupa gandum atau korma atau beras atau makanan pokok lainnya yang bisa disimpan orang di rumahnya. Sama halnya dengan orang tua renta dan jompo yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, tidak ada keharusan qadha.[Fatawa Ash-Shiyam, halaman 76]IBU SAYA TELAH LANJUT USIA, IA BERPUASA SELAMA LIMA BELAS HARI KEMUDIAN TIDAK BERPUASA KARENA TAK SANGGUP PUASAOlehAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Da&amp;#39;imah Lil Ifta ditanya : Ibu saya sakit, tepatnya beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, penyakit itu cukup menyiksanya sementara ia telah lanjut usia sehingga hanya mampu berpuasa selama lima belas hari di bulan Ramadhan itu, kemudian untuk menyempurnakan puasa di bulan itu ia tidak sanggup, dan juga tidak mampu untuk mengqadhanya. Apakah boleh ia bersedekah  sebagai pengganti puasa yang ditinggalkannya, dan berapakah besarnya sedekah itu untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Perlu diketahui bahwa saat ini saya bertanggung jawab atas nafkahnya, dan apakah boleh saya membayar sedekahnya itu di saat ia tidak mampu untuk bersedekah JawabanBarangsiapa yang tidak sanggup berpuasa karena usianya yang telah lanjut atau karena sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka ia harus memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya, Allah berfirman.&amp;quot;Artinya : Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] membayar fidyah, [yaitu] memberi makan seorang miskin&amp;quot;. [Al-Baqarah : 184]Ibnu Abbas berkata : &amp;quot;Ayat ini diturunkan untuk memberi rukhshah [keringanan] kepada orang tua yang telah lanjut usia baik pria maupun wanita yang tidak sanggup berpuasa, maka keduanya harus memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari [yang ditinggalkannya] &amp;quot; [Hadits Riwayat Bukhari].Dengan demikian, wajib bagi ibu Anda memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya, yaitu sebanyak setengah sha&amp;#39; yang berupa makanan pokok setempat, jika wanita itu tidak memiliki sesuatu yang harus ia berikan untuk menebus dirinya, maka tidak ada kewajiban apapun baginya. Jika Anda ingin memberi makan kepada seorang miskin  untuk setiap hari yang ditinggalkan itu atas nama ibu Anda, maka hal itu termasuk perbuatan yang baik, dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.[Ibid, halaman 58][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami&amp;#39;ah Lil Mar&amp;#39;atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1135&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1135&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Hikmah Dari Diwajibkan Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hikmah Dari Diwajibkan Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-879634698709189963?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/879634698709189963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=879634698709189963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/879634698709189963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/879634698709189963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hikmah-dari-diwajibkan-mengqadha-puasa.html' title='Hikmah Dari Diwajibkan Mengqadha Puasa Tanpa Mengqadha Shalat Bagi Wanita Haidh'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-2476273361896687087</id><published>2008-07-11T16:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T16:44:02.816-07:00</updated><title type='text'>Syuraih Al-Qadli</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Syuraih Al-Qadli [Sisi-Sisi Keadilan Islam Nan Membuat Air MataMenitik Terharu]Ada orang yang bertanya kepada Syuraih, &amp;#39;Bagaimana andamendapatkan ilmu ini.&amp;#39; Dia menjawab, &amp;#39;Dengan bermudzakarah bersamapara ulama; Aku mengambil dari mereka dan mereka mengambil dariku  [Sufyanal-Ausi]&lt;p&gt;Amirul mu&amp;#39;minin, Umar bin Al-Khaththab membeli seekor kuda dariseorang laki-laki Badui, dan membayar kontan harganya, kemudianmenaiki kudanya dan pergi.&lt;p&gt;Akan tetapi belum jauh mengendarai kuda, beliau menemukan luka padakuda itu yang membuatnya terganggu ketika berpacu, maka beliau segerakembali ke tempat dimana beliau berangkat, lalu berkata kepada orangBadui tersebut,Ambillah kudamu, karena ia terluka. &lt;p&gt;Maka orang itu menjawab,  Aku tidak akan mengambilnya -wahai Amirulmu&amp;#39;minin- karena aku telah menjualnya kepada Anda dalam keadaan sehattanpa cacat sedikitpun. &lt;p&gt;Lalu Umar berkata,  Tunjuklah seorang hakim yang akan memutus antaramudan aku. &lt;p&gt;Lalu orang itu berkata,  Yang akan menghakimi di antara kita adalahSyuraih bin al-Harits al-Kindi. &lt;p&gt;Lalu Umar berkata,  Baiklah, aku setuju. &lt;p&gt;Amirul mu&amp;#39;minin Umar bin al-Khathab dan pemilik kuda pun menyerahkanperkaranya kepada Syuraih. Ketika Syuraih mendengar perkataan orangBadui, dia menengok ke arah Umar bin al-Khaththab dan berkata,Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirulmu&amp;#39;minin. Ya.  Jawab &amp;#39;Umar&lt;p&gt;Syuraih berkata,  Simpanlah apa yang Anda beli- wahai Amirul mu&amp;#39;minin-atau kembalikanlah sebagaimana Anda menerima. &lt;p&gt;Maka Umar melihat kepada Syuraih dengan pandangan kagum dan berkata,&lt;p&gt;Beginilah seharusnya putusan itu; ucapan yang pasti dan keputusanyang adil. Pergilah Anda ke Kufah, aku telah mengangkatmu sebagaihakim [Qadli] di sana. &lt;p&gt;Pada saat diangkat sebagai hakim, Syuraih bin al-Harits bukanlahseorang yang tidak dikenal oleh masyarakat Madinah atau seorang yangkedudukannya tidak terdeteksi oleh ulama dan Ahli Ra&amp;#39;yi dari kalanganpara pembesar Sahabat dan Tabi&amp;#39;in.&lt;p&gt;Orang-orang besar dan generasi dahulu, telah mengetahui kecerdasan dankecerdikan Syuraih yang sangat tajam, akhlaknya yang mulia danpengalaman hidupnya yang lama dan mendalam.&lt;p&gt;Dia adalah seorang berkebangsaan Yaman dan keturunan Kindah, mengalamihidup yang tidak sebentar pada masa Jahiliyah.&lt;p&gt;Ketika jazirah Arab telah bersinar dengan cahaya hidayah, dan sinarIslam telah menembus bumi Yaman, Syuraih termasuk orang-orang pertamayang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyambut dakwah hidayahdan kebenaran.&lt;p&gt;Waktu itu mereka telah mengetahui keutamaannya dan mengakui akhlak dankeistimewaannya.&lt;p&gt;Mereka sangat menyayangkan dan bercita-cita andaikata dia ditakdirkanuntuk datang ke Madinah lebih awal sehingga bertemu Rasulullah SAWsebelum beliau kembali kepada Tuhannya, dan mentransfer ilmu beliauyang jernih bersih secara langsung, bukan melalui perantara dan supayaberuntung mendapatkan predikat  sahabat  setelah mengenyam nikmatnyaiman. Dengan begitu, dia akan dapat menghimpun segala kebaikan.&lt;p&gt;Akan tetapi dia sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu denganRasulullah.&lt;p&gt;Umar al-Faruq radliyall&amp;#195;&amp;#162;hu &amp;#39;anhu tidaklah tergesa-gesa, ketikamenempatkan seorang Tabi&amp;#39;in pada posisi besar di peradilan, sekalipunpada waktu itu langit-langit Islam masih bersinar-sinar denganbintang-bintang sahabat Rasulullah Shallall&amp;#195;&amp;#162;hu &amp;#39;alaihi Wa Sallam.Waktu telah membuktikan kebenaran firasat Umar dan ketepatantindakannya dimana Syuraih menjabat sebagai hakim di tengah kaummuslimin sekitar enam puluh tahun berturut-turut tanpa putus.&lt;p&gt;Pengakuan terhadap kapasitasnya dalam jabatan ini dilakukan secarasilih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hinggaMuawiyah radliyall&amp;#195;&amp;#162;hu &amp;#39;anhum.&lt;p&gt;Begitu pula dia diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah,hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinyadibebaskan dari jabatan tersebut.&lt;p&gt;Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimanahidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.&lt;p&gt;Sejarah Peradilan Islam telah bergelimang dengan sikap Syuraih yangmenawan dan berkibar dengan ketundukan kalangan elit dan awam kaumMuslimin terhadap syari&amp;#39;at Allah yang ditegakkan Syuraih danpenerimaan mereka terhadap hukum-hukum-Nya.&lt;p&gt;Buku-buku induk penuh dengan keunikan, berita, perkataan dan tindakantokoh langka satu ini.&lt;p&gt;Di antara contohnya adalah, bahwa suatu hari Ali bin Abi Thalib RAkehilangan baju besinya yang sangat disukainya dan amat berhargabaginya.&lt;p&gt;Tidak lama dari itu, dia menemukannya berada di tangan orang kafirdzimmi. Orang itu sedang menjualnya di pasar Kufah.&lt;p&gt;Ketika beliau melihatnya, beliau mengetahui dan berkata,Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu, itempat anu. &lt;p&gt;Lalu kafir Dzimmi itu berkata,  Ini adalah baju besiku dan sekarangada di tanganku, wahai Amirul mu&amp;#39;minin. &lt;p&gt;Lalu Ali berkata,Itu adalah baju besiku, aku belum pernah menjualnya ataumemberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu. &lt;p&gt;Lalu orang kafir itu berkata,  Mari kita putuskan melalui seorangHakim kaum Muslimin. &lt;p&gt;Lalu Ali berkata,  Kamu benar, mari kita ke sana. &lt;p&gt;Kemudian keduanya pergi menemui Syuraih al-Qadli, dan ketika keduanyatelah berada di tempat persidangan, Syuraih berkata kepada Ali RA,  Adaapa wahai Amirul mu&amp;#39;minin. &lt;p&gt;Lalu Ali menjawab,  Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini,baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan di tempat anu.Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupunhibah. &lt;p&gt;Lalu Syuraih berkata kepada orang kafir itu,  Dan apa jawabmu, wahaiorang laki-laki. &lt;p&gt;Lalu dia menjawab,  Baju besi ini adalah milikku dan ia ada ditanganku tapi aku tidak menuduh Amirul mu&amp;#39;minin berdusta. &lt;p&gt;Maka Syuraih menoleh ke arah Ali dan berkata,Aku tidak meragukan bahwa Anda adalah orang yang jujur dalamperkataanmu, wahai Amirul mu&amp;#39;minin, dan bahwa baju besi itu adalahmilikmu, akan tetapi Anda harus mendatangkan dua orang saksi yang akanbersaksi atas kebenaran apa yang Anda klaim tersebut. &lt;p&gt;Lalu Ali berkata,  Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku al-Hasan akanbersaksi untukku. &lt;p&gt;Maka Syuraih berkata,Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, wahai Amirulmu&amp;#39;minin. &lt;p&gt;Lalu Ali berkata,  Ya Subhanallah!! Orang dari ahli surga tidakditerima kesaksiannya!! Apakah Anda tidak mendengar bahwasanyaRasulullah SAW bersabda,  al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemudaahli surga. &lt;p&gt;Lalu Syuraih berkata,  Benar wahai Amirul mu&amp;#39;minin! namun aku tidakmenerima kesaksian anak untuk ayahnya. &lt;p&gt;Setelah itu Ali menoleh ke arah orang kafir itu dan berkata,Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya. &lt;p&gt;Maka kafir Dzimmi itu berkata,Akan tetapi aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahaiAmirul mu&amp;#39;minin. &lt;p&gt;Kemudian dia meneruskan perkataannya,Ya Allah! Kok ada Amirul mu&amp;#39;minin menggugatku di hadapan hakim yangdiangkatnya sendiri, namun hakimnya malah memenangkan perkarakuterhadapnya!! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilahagama yang haq. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yangberhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Hamba danutusan Allah. &lt;p&gt;Ketahuilah wahai Qadli, bahwa baju besi ini adalah benar milik Amirulmu&amp;#39;minin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Shiffin [Suatudaerah di Siria, di sana terjadi peperangan besar antara Ali danMuawiyah RA] lalu menemukan baju besi terjatuh dari onta berwarnaabu-abu, lalu memungutnya. &lt;p&gt;Maka Ali RA berkata kepadanya,Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu,dan aku memberimu juga seekor kuda. &lt;p&gt;Dan belum lama dari kejadian ini, orang kafir itu ternyata ditemukanmati syahid saat ikut berperang melawan orang-orang Khawarij di bawahbendera Ali, pada perang Nahrawan. Orang itu amat bersemangat dalamberperang hingga dia mati syahid. &lt;p&gt;Di antara sikap menawan yang ditunjukkan juga oleh Syuraih adalahbahwa pernah suatu hari, putranya berkata kepadanya,  Wahai ayahku,sesungguhnya antara aku dan kaum kita ada perselisihan, maka telitilahperkaranya; jika kebenaran ada di pihakku, aku akan menggugat merekake pengadilan dan jika kebenaran ada di pihak mereka, aku akanmengajak mereka berdamai.  Kemudian sang putra menuturkan kisahnyakepada ayahnya.&lt;p&gt;Lalu ayahnya berkata kepadanya,  Kalau begitu, pergilah dan ajukanmereka ke pengadilan. &lt;p&gt;Lalu putranya menemui lawannya dan mengajak mereka memperkarakannya kepengadilan. Mereka pun menyetujuinya.&lt;p&gt;Dan ketika mereka telah berada di hadapan Syuraih, Syuraih memenangkanperkara mereka terhadap putranya.&lt;p&gt;Ketika syuraih dan putranya telah pulang ke rumah, sang putra berkatakepada ayahnya,  Engkau telah mempermalukanku, wahai ayahku!  DemiAllah seandainya aku tidak mengkonsultasikannya terlebih dahulukepadamu, tentu aku tidak akan mengecammu seperti ini. &lt;p&gt;Maka syuraih berkata,  Wahai anakku, Sungguh engkau memang lebih akucintai daripada bumi dan seisinya, akan tetapi Allah &amp;#39;Azza wa Jallalebih Mulia dan berharga bagiku daripada dirimu. Bila aku beritahukankepadamu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, aku khawatir engkauakan mengajak mereka berdamai dimana hal ini akan menghilangkansebagian hak mereka. Karenanya, aku mengatakan kepadamu seperti itutadi. &lt;p&gt;Pernah terjadi bahwa anak Syuraih menjadi jaminan seseorang, danSyuraih menerimanya, ternyata orang itu kabur dari pengadilan. MakaSyuraih memenjarakan anaknya sebagai ganti jaminan orang yang kaburitu.&lt;p&gt;Akhirinya, Syuraih sendiri yang mengirimi makanannya setiap hari kepenjara.&lt;p&gt;Terkadang, Syuraih meragukan sebagian saksi. Namun dia tidakmendapatkan jalan untuk menolak kesaksiannya, karena syarat keadilantelah mencukupi mereka, maka dia berkata kepada mereka sebelum merekamenyatakan kesaksiannya,Dengarkanlah aku -mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada andasemua- Sesungguhnya yang menghakimi orang ini adalah kalian sendiri.Dan sesungguhnya aku hanya menjaga diri dari api neraka melaluikalian. Karena itu, bila kalian sendiri yang berlindung darinya adalahlebih utama lagi. &lt;p&gt;Sekarang memungkinkan bagi kalian untuk tidak memberikan kesaksian danberlalu.&lt;p&gt;Jika mereka bersikeras untuk bersaksi, Syuraih menoleh kepada orangyang mereka bersaksi untuknya, seraya berkata,Ketahuilah, wahai tuan, sesungguhnya aku mengadili Anda melaluikesaksian mereka. Dan sesungguhnya aku melihat Anda adalah orang yangdzalim. Akan tetapi aku tidak boleh memberikan putusan berdasarkansangkaan, tetapi berdasarkan kesaksian para saksi. Dan sesungguhnyakeputusanku, tidak menghalalkan sama sekali apa yang diharamkan Allahterhadapmu. &lt;p&gt;Dan ungkapan yang sering diulang-ulang oleh Syuraih di ruang sidangnyaadalah perkataannya,Besok orang dzalim akan mengetahui siapa yang rugi. Sesungguhnyaorang yang dzalim sedang menunggu siksa. Sedangkan orang yangteraniaya menunggu keadilan. Dan sesungguhnya aku bersumpah kepadaAllah, bahwa tidak ada seorangpun yang meninggalkan sesuatu karenaAllah Azza wa Jalla, kemudian dia merasa kehilangannya. &lt;p&gt;Syuraih bukan hanya sebagai penasehat karena Allah, Rasul-Nya danKitab-Nya saja, akan tetapi dia juga penasehat untuk kalangan awam dankalangan khusus kaum muslimin semua.&lt;p&gt;Salah seorang dari mereka meriwayatkan,  Syuraih memperdengarkankepadaku suatu ucapan saat aku mengadukan sebagian sesuatu yangmeresahkanku karena ulah seorang kawanku.&lt;p&gt;Lantas Syuraih memegang tanganku dan menarikku ke pinggir serayaberkata,Wahai anak saudaraku, janganlah kamu mengadu kepada selain Allah Azzawa Jalla. Karena sesungguhnya orang yang kamu mengadu kepadanya, bisajadi dia adalah kawanmu atau musuhmu. Kalau dia kawan, berarti kamuakan membuatnya bersedih. Dan kalau dia musuh, maka kamu akanditertawakannya. &lt;p&gt;Kemudian dia berkata,  Lihatlah mataku ini- dan dia menunjuk ke salahsatu matanya- Demi Allah, aku tidak bisa melihat seseorang dan jalankarenanya sejak lima belas tahun lalu. Sekalipun demikian, aku tidakceritakan kepada siapapun mengenainya, kecuali kepadamu sekarang ini.Tidakkah kamu mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh [yakni NabiYa&amp;#39;qub a.s], &amp;#39;Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukankesusahan dan kesedihanku.&amp;#39;[Yusuf:86]. Maka jadikanlah Allah Azza waJalla sebagai tempat mengadu dan melampiaskan kesedihanmu setiap kalimusibah menimpamu.&lt;p&gt;Karena Dia adalah Dzat Yang paling Dermawan dan Yang paling dekatuntuk diseru. &lt;p&gt;Pada suatu hari, dia melihat ada seseorang sedang meminta sesuatukepada orang lain, lalu dia berkata kepadanya,Wahai anak saudaraku, siapa yang memohon hajat kepada manusia, makadia telah menjerumuskan dirinya ke dalam perbudakan. Jika orang yangdiminta itu memberinya, maka dia telah menjadikannya budak karenapemberian itu.&lt;p&gt;Dan jika orang itu tidak memberinya, maka keduanya akan kembali dengankehinaa. Yang satu, hina karena bakhil sedangkan yang satu lagi hinakarena ditolak.&lt;p&gt;Maka jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohonpertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah.&lt;p&gt;Dan ketahuilah, bahwa tidak ada upaya, kekuatan dan pertolongankecuali dengan Allah.&lt;p&gt;Saat suatu ketika, di Kufah telah mewabah penyakit Tha&amp;#39;un, lalu salahseorang sahabat Syuraih kabur dari sana menuju ke Najef untukmenyelamatkan diri dari penyakit tersebut, maka Syuraih mengirim suratkepadanya,Amma ba&amp;#39;du, Sesungguhnya daerah yang kamu tinggalkan tidakmendekatkan kematianmu dan tidak juga merampas hari-harimu.&lt;p&gt;Dan sesungguhnya daerah yang kamu pindah ke sana adalah berada dalamgenggaman Dzat Yang tidak bisa dikalahkan dengan usaha dan tidak akanluput pelarian itu dari-Nya.&lt;p&gt;Dan sesungguhnya kami dan kamu juga berada di atas hamparan Raja YangSatu.&lt;p&gt;Dan sesungguhnya Najef adalah sangat dekat dari Dzat Yang Maha Kuasa. &lt;p&gt;Di samping hal itu semua, Syuraih juga seorang penyair, mudah dicerna,manis penyampaiannya dan tema-temanya begitu memikat.&lt;p&gt;Menurut suatu riwayat, dia mempunyai seorang anak berumur sekitarsepuluh tahun, dan anak itu lebih suka meghabiskan waktu untuk bermaindan berhura-hura.&lt;p&gt;Pada suatu hari dia kehilangan anak itu, dan ternyata anak itu tidakmasuk sekolah dan menggunakan wakut tersebut untuk melihatanjing-anjing.&lt;p&gt;Dan ketika anak itu pulang, dia bertanya kepadanya, Apakah kamu sudahshalat&lt;p&gt;Maka anak itu menjawab, Belum.&lt;p&gt;Lalu Syuraih meminta kertas dan pena, lalu menulis surat kepada guruanak itu dalam untain berikut:&lt;p&gt;Anak ini meninggalkan shalat karena mencari anjing-anjing&lt;p&gt;Mengincar kejelekan bersama anak-anak nakal&lt;p&gt;Sungguh dia akan menemuimu besok membawa secarik lembaran&lt;p&gt;Dituliskan untuknya seperti lembaran pemohon [minta dieksekusi]&lt;p&gt;Jika dia datang kepadamu, maka obatilah dengan celaan&lt;p&gt;Atau nasehati dengan nasehat orang bijak lagi cerdik&lt;p&gt;Jika ingin memukulnya, maka pukullah dengan alat&lt;p&gt;Jika pukulan telah sampai tiga kali, maka hentikanlah&lt;p&gt;Ketahuilah bahwa Anda tidak akan mendapatkan sepertinya&lt;p&gt;Apapun yang diperbuatnya, ia adalah jiwa yang paling berharga bagiku&lt;p&gt;Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajahperadilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yangputih dan tampak menawan.&lt;p&gt;Beliau telah memberikan lentera terang kepada kaum muslimin yanghingga sekarang mereka masih mengambil sinar kefiqihannya terhadapsyariat Allah.&lt;p&gt;Berpetunjuk dengan cahaya kefahamannya terhadap Sunnah Rasulullah.&lt;p&gt;Dan berbangga dengannya terhadap umat-umat lain pada hari kiamat.&lt;p&gt;Mudah-mudahan Allah merahmati Syuraih aql-Qadhli.&lt;p&gt;Dia telah menegakkan keadilan di tengah manusia selama enam puluhtahun, tidak pernah berbuat dzalim terhadap siapapun, tidak pernahmelenceng dari kebenaran serta tidak pernah membedakan antara raja danmasyarakat biasa.&lt;p&gt;CATATAN:&lt;p&gt;Sebagai bahan tambahan biografi Syuraih al-Qadli, silahkan baca: &lt;p&gt;ath-Thabaqat al-Kubra, oleh Ibnu Sa&amp;#39;d, 6/11, 34, 94, 108, 109,170, 206, 268, dan 7/151, 194, 453 dan 8/ 494. &lt;p&gt;Shifat ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi [cetakan Halb], 3/38.&lt;p&gt;Hilyatu al-Auliya, oleh Al-Ashfahani, 4/256-258. &lt;p&gt;Tarikh ath-Thabari, oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jilid 4,5,6 [Lihatdaftar isi di jilid 10] &lt;p&gt;Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath, 129, 158, 184, 217, 251, 266,298, 304. &lt;p&gt;Syadzarat adz-Dzahab, 1/85-86. &lt;p&gt;Fawat al-Wafayat, 2/167-169. &lt;p&gt;Kitab al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib,80-81. &lt;p&gt;al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib, 305, 387. &lt;p&gt;Dairatu al-Ma&amp;#39;arif, oleh farid Wajdi, 5/373-473. &lt;p&gt;Artikel Syuraih Al-Qadli diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Syuraih Al-Qadli.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-2476273361896687087?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/2476273361896687087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=2476273361896687087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2476273361896687087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2476273361896687087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/syuraih-al-qadli.html' title='Syuraih Al-Qadli'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-7161572480563201251</id><published>2008-07-11T15:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T15:43:57.514-07:00</updated><title type='text'>Q a d h a</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Q a d h a Q a d h a&lt;p&gt;Kategori Puasa&lt;p&gt;Jumat, 22 Oktober 2004 14:42:10 WIBQ A D H AOlehSyaikh Salim bin &amp;#39;Ied Al-HilaalySyaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid[1]. Qadha&amp;#39; Tidak Wajib Segera DilakukanKetahuilah wahai sauadaraku se-Islam -mudah-mudahan Allah memberikan pemahaman agama kepada kita- bahwasanya mengqdha&amp;#39; puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan  segera, kewajibannya dengan jangka waktu yang luas berdasarkan satu riwayat dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu &amp;#39;anha.&amp;quot;Artinya : Aku punya hutang puasa Ramadhan dan tiak bisa mengqadha&amp;#39;nya kecuali di bulan Sya&amp;#39;ban&amp;quot; [Hadits Riwayat Bukhari 4/166, Muslim 1146] [1]Berkata Al-Hafidz di dalam Al-Fath 4/191 : &amp;quot;Dalam hadits ini sebagai dalil atas bolehnya mengakhirkan qadha&amp;#39; Ramadhan secara mutlak, baik karena udzur ataupun tidak&amp;quot;.Sudah diketahui dengan jelas bahwa bersegera dalam mengqadha&amp;#39; lebih baik daripada mengakhirkannya, karena masuk dalam keumuman dalil yang menunjukkan untuk bersegera dalam berbuat baik dan tidak menunda-nunda, hal ini didasarkan ayat dalam Al-Qur&amp;#39;an.&amp;quot;Artinya : Bersegeralah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian&amp;quot; [Ali Imran : 133]&amp;quot;Artinya : Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya&amp;quot; [Al-Mu&amp;#39;minuun : 61][2]. Tidak Wajib Berturut-Turut Dalam Mengqadha&amp;#39; Karena Ingin Menyamakan Dengan Sifat Penunaiannya.Berdasarkan firman Allah pada surah Al-Baqarah ayat 185.&amp;quot;Artinya : Maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain&amp;quot;Dan Ibnu Abbas berkata :&amp;quot;Artinya : Tidak mengapa dipisah-pisah [tidak berturut-turut]&amp;quot; [2]Abu Hurairah berkata : &amp;quot;Diselang-selingi kalau mau&amp;quot; [Lihat Irwaul Ghalil 4/95]Adapun yang diriwayatkan Al-Baihaqi 4/259, Daruquthni 2/191-192 dari jalan Abdurrahman bin Ibrahim dari Al&amp;#39;Ala bin Abdurrahman dari bapaknya dan Abu Hurairah secara marfu&amp;#39;.&amp;quot;Artinya : Barangsiapa yang punya hutang puasa Ramadhan, hendaknya diqadha&amp;#39; secara berturut-turut tidak boleh memisahnya&amp;quot;Ini adalah riwayat yang Dhaif. Daruquthni bekata : Abdurrahman bin Ibrahim Dhaif.Al-Baihaqi berkata : Dia [Abdurrahman bin Ibrahim] di dhaifkan oleh Ma&amp;#39;in, Nasa&amp;#39;i dan Daruquthni&amp;quot;.Ibnu Hajar menukilkan dalam Talkhisul Habir 2/206 dari Abi Hatim bahwa beliau mengingkari hadits ini karena Abdurrahman.Syaikh kami Al-Albany Rahimahullah telah membuat penjelasan dhaifnya hadits ini dalam Irwa&amp;#39;ul Ghalil no. 943. Adapun yang terdapat dalam Silsilah Hadits Dhaif 2/137 yang terkesan bahwa beliau menghasankannya dia ruju&amp;#39; dari pendapatnya.Peringatan.Kesimpulannya, tidak ada satupun hadits yang marfu&amp;#39; dan shahih -menurut pengetahuan kami- yang mejelaskan keharusan memisahkan atau secara berturut-turut dalam mengqadha&amp;#39;, namun yang lebih mendekati kebenaran dan mudah [dan tidak memberatkan kaum muslimin, -ed] adalah dibolehkan kedua-duanya. Demikian pendapatnya Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal Rahimahullah. Abu Dawud berkata dalam Al-Masail-nya hal. 95 : &amp;quot;Aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang qadha&amp;#39; Ramadhan&amp;quot; Beliau menjawab : &amp;quot;Kalau mau boleh dipisah, kalau mau boleh juga berturut-turut&amp;quot;. Wallahu &amp;#39;alam.Oleh karena itu dibolehkannya memisahkan tidak menafikan dibolehkannya secara berturut-turut.[3]. Ulama Telah Sepakat Bahwa Barangsiapa yang Wafat dan Punya Hutang Shalat, Maka Walinya Apa Lagi Orang Lain Tidak Bisa Mengqadha&amp;#39;nya.Begitu pula orang yang tidak mampu puasa, tidak boleh dipuasakan oleh anaknya selama dia hidup, tapi dia harus mengeluarkan makanan setiap harinya untuk seorang miskin, sebagaimana yang dilakukan Anas dalam satu atsar yang kami bawakan tadi.Namun barangsiapa yang wafat dalam keadaan mempunyai hutang nadzar puasa, harus dipuasakan oleh walinya berdasarkan sabda  Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam.&amp;quot;Barangsiapa yang wafat dan mempunyai hutang puasa nadzar hendaknya diganti oleh walinya&amp;quot; [Bukhari 4/168, Muslim 1147]Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &amp;#39;anhuma, ia berkata : &amp;quot;Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam kemudian berkata : &amp;quot;Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat dan dia punya hutang puasa setahun, apakah aku harus membayarnya&amp;quot; Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam menjawab : &amp;quot;Ya, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar&amp;quot; [Bukhari 4/168, Muslim 1148]Hadits-hadits umum ini menegaskan disyariatkannya seorang wali untuk puasa [mempuasakan] mayit dengan seluruh macam puasa, demikian pendapat sebagian Syafi&amp;#39;iyah dan madzhabnya Ibnu Hazm [7/2,8].Tetapi hadits-hadits umum ini dikhususkan, seorang wali tidak puasa untuk mayit kecuali dalam puasa nadzar, demikian pendapat Imam Ahmad seperti yang terdapat dalam Masa&amp;#39;il Imam Ahmad riwayat Abu Dawud hal. 96 dia berkata : Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata : &amp;quot;Tidak berpuasa atas mayit kecuali puasa nadzar&amp;quot;. Abu Dawud berkata, &amp;quot;Puasa Ramadhan &amp;quot;. Beliau menjawab, &amp;quot;Memberi makan&amp;quot;.Inilah yang menenangkan jiwa, melapangkan dan mendinginkan hati, dikuatkan pula oleh pemahaman dalil karena memakai seluruh hadits yang ada tanpa menolak satu haditspun dengan pemahaman yang selamat khususnya hadits yang pertama. Aisyah tidak memahami hadits-hadits tersebut secara mutlak yang mencakup puasa Ramadhan dan lainnya, tetapi dia berpendapat untuk memberi makan [fidyah] sebagai pengganti orang yang tidak puasa Ramadhan, padahal beliau adalah perawi hadits tersebut, dengan dalil riwayat &amp;#39;Ammarah bahwasanya ibunya wafat dan punya hutang puasa Ramadhan kemudian dia berkata kepada Aisyah : &amp;quot;Apakah aku harus mengqadha&amp;#39; puasanya &amp;quot; Aisyah menjawab : &amp;quot;Tidak, tetapi bersedekahlah untuknya, setiap harinya setengah gantang untuk setiap muslim&amp;quot;.Diriwayatkan Thahawi dalam Musykilat Atsar 3/142, Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/4, ini lafadz dalam Al-Muhalla, dengan sanad sahih.Sudah disepakati bahwa rawi hadits lebih tahu makna riwayat hadits yang ia riwayatkan. Yang berpendapat seperti ini pula adalah Hibrul Ummah Ibnu Abbas Radhiyallahu &amp;#39;anhu, beliau berkata : &amp;quot;Jika salah seorang dari kalian sakit di bulan Ramadhan kemudian wafat sebelum sempat puasa, dibayarkan fidyah dan tidak perlu qadha&amp;#39;, kalau punya hutang nadzar diqadha&amp;#39; oleh walinya&amp;quot; Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/7, beliau menshahihkan sanadnya.Sudah maklum bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu &amp;#39;anhuma adalah periwayatan hadits kedua, lebih khusus lagi beliau adalah perawi hadits yang menegaskan bahwa wali berpuasa untuk mayit puasa nadzar. Sa&amp;#39;ad bin Ubadah minta fatwa kepada Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam &amp;quot; Ibuku wafat dan beliau punya hutang puasa nadzar&amp;quot; Beliau bersabda : &amp;quot;Qadha&amp;#39;lah untuknya&amp;quot;. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya.Perincian seperti ini sesuai dengan kaidah ushul syari&amp;#39;at sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam I&amp;#39;lamul Muwaqi&amp;#39;in dan ditambahkan lagi penjelasannya dalam Tahdzibu Sunan Abi Dawud 3/279-282. [Wajib] atasmu untuk membacanya karena sangat penting. Barangsiapa yang wafat dan punya hutang puasa nadzar dibolehkan diqadha&amp;#39; oleh beberapa orang sesuai dengan jumlah hutangnya.Al-Hasan berkat : &amp;quot;Kalau yang mempuasakannya tiga puluh orang seorangnya berpuasa satu hari diperbolehkan&amp;quot;[2] Diperbolehkan juga memberi makan kalau walinya mengumpulkan orang miskin sesuai dengan hutangnya, kemudian mengenyangkan mereka, demikian perbuatan Anas bin Malik Radhiyallahu &amp;#39;anhu.[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.]_________Foote Note.[1]. Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah hal.422. setelah membawakan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya beliau [yakni Aisyah] tidak mampu dan tidak dapat mengqadha&amp;#39; pada bulan sebelum Sya&amp;#39;ban, dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kalaulah mampu niscaya dia tidak akan mengahhirkan qadha&amp;#39; [sampai pada ucapan Syaikh] maka menjadi tersamar atasnya bahwa ketidak mampuan Aisyah adalah merupakan udzur [alasan] Maka perhatikanlah, -pent[2]. Bukhari 4/112 secara mu&amp;#39;allaq, dimaushulkan oleh Daruquthni dalam Kitabul Mudabbij, dishahihkan sanadnya oleh Syaikhuna Al-Albany dalam Mukhtashar Shahih Bukhari 1/58&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1130&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1130&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Q a d h a diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Q a d h a.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-7161572480563201251?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/7161572480563201251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=7161572480563201251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7161572480563201251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/7161572480563201251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/q-d-h.html' title='Q a d h a'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-768417098004436884</id><published>2008-07-11T14:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T14:43:51.181-07:00</updated><title type='text'>Terlaknatnya Orang Yang Suka Menyebarkan Fitnah</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Terlaknatnya Orang Yang Suka Menyebarkan Fitnah &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Apa hukum laki-laki yang melarang istrinya berkunjung ke rumahkeluarganya jika memang keluarganya itu selalu menyebarkan konflik danikut campur dalam kehidupan rumah tangganya Apa pula batas minimalyang dituntut dari seorang istri dalam bersilaturrahmi dengankeluarganya. Apakah cukup dengan surat dan pembicaraan lewat teleponsaja?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Benar. Seorang laki-laki berhak melarang istrinya berkunjung ke rumahkeluarganya jika kunjungan tersebut merusak agamanya dan menimbulkankerusakan pada hak suaminya. Karena mencegahnya berarti tindakanpreventif terhadap hal-hal yang bisa merusak di samping masih ada caralain bagi si istri untuk menghubungi keluarganya selain denganberkunjung ke rumah mereka, yaitu dengan mengirim surat atau berbicaralewat telepon jika itu tidak menimbulkan kekhawatiran lain,berdasarkan firman Allah Taala,&lt;p&gt;Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. [At-Taghabun:16].&lt;p&gt;Ada ancaman keras terhadap orang yang berusaha merusak pan-danganseorang istri terhadap suaminya dan membuat si istri berfikiran burukterhadap suaminya. Disebutkan dalam sebuah hadits, &lt;p&gt;Bukanlah dari golongan kami orang yang sukamembual kepada seorang wanita tentang keburukan-keburukan suaminya.&lt;p&gt;Maksudnya adalah merusak perilakunya terhadap suaminya danmenyebabkannya berbuat nusyuz terhadapnya. Yang wajib atas keluarga siistri adalah memelihara kedamaian antara mereka berdua, karena hal itumerupakan kemaslahatannya dan kemaslahatan mereka juga.&lt;p&gt;[ Kitab Ad-Dawah [7], Syaikh Al-Fauzan, hal. 156.]&lt;p&gt;Artikel Terlaknatnya Orang Yang Suka Menyebarkan Fitnah diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Terlaknatnya Orang Yang Suka Menyebarkan Fitnah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-768417098004436884?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/768417098004436884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=768417098004436884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/768417098004436884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/768417098004436884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/terlaknatnya-orang-yang-suka.html' title='Terlaknatnya Orang Yang Suka Menyebarkan Fitnah'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4213638605473214760</id><published>2008-07-11T13:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T13:43:46.929-07:00</updated><title type='text'>Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik&lt;p&gt;Kategori Keluarga&lt;p&gt;Selasa, 19 April 2005 07:51:30 WIBSEORANG AYAH BERKEWAJIBAN MENDAKWAHI ANAK-ANAKNYA DENGAN CARA YANG TERBAIKOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang tua yang patuh beragama sering menghadapi kesulitan disebabkan ketidak patuhan anak-anak mereka secara sempurna terhadap hukum-hukum Islam. Misalnya dalam menjaga shalat dan dasar-dasar Islam lainnya, bahkan melakukan beberapa perbuatan maksiat, seprti menonton film, memakan riba, terkadang tidak menghadiri shalat berjama&amp;#39;ah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;kadang-kadang-, mencukur jenggot serta kemungkaran-kemungkaran lainnya. Maka apakah sikap seorang ayah yang muslim dan taat [mustaqim] terhadap anak-anak tersebut  Dan apakah ia harus bersikap keras terhadap mereka atau bersikap lembut Jawaban.Menurut pandagan saya hendaknya [seorang ayah] mendakwahi mereka dengan cara yang terbaik sedikit demi sedikit. Apabila mereka terjatuh dalam beberapa maksiat maka hendaknya ia melihat [maksiat] yang paling berat, lalu memulai [dakwah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;pen] dengannya dan mengulang-ulangi diskusi dengan mereka hingga Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala memudahkan urusan ini dan merekapun meninggalkannya. Namun jika mereka tidak mungkin meresponnya maka perbuatan-perbuatan maksiat berbeda-beda, sebagian di antaranya  tidak mungkin membiarkan anak bersama Anda sementara ia melakukannya, dan sebagian ada yang dibawahnya. Maka bila seorang menghadapi pertentangan antara dua mafsadah, sementara keduanya pasti harus terjadi atau salah satunya pasti terjadi, maka melakukan yang lebih ringan [mafsadah]nya itulah yang adil dan itulah yang hak.Akan tetapi problem yang juga terjadi adalah kebalikan dari pertanyaan ini, yaitu bahwa sebagian pemuda menemui kesulitan disebabkan penyimpangan ayahnya, dimana sang pemuda itu adalah seorang yang multazim namun ayahnya justru berbeda dari itu. Maka Anda akan menemukan ayahnya selalu menentangnya dalam banyak masalah. Kini nasehat saya kepada para bapak tersebut adalah hendaknya mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala terhadap diri mereka dan anak-anak mereka, hendaknya mereka memandang arah [perilaku] anak-anak mereka dan istiqomahnya itu sebagai suatu nikmat yang patut mereka syukuri kepada Allah baginya, karena keshalihan anak-anak mereka itu akan bermanfaat bagi mereka ketika masih hidup dan ketika telah mati. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;quot;Artinya : Apabila seorang insan mati maka terputuslah semua amalannya, kecuali dari tiga hal : sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo&amp;#39;akannya&amp;quot; [1]Saya juga mengarahkan pembicaraan kepada para putra dan putri, bahwa ayah ataupun ibu mereka jika memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak ada keataatan dalah hal itu,  tidak wajib taat kepada mereka[2], dan menyelisihi mereka &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;walaupun mereka marah- tidaklah termasuk kedurhakaan, bahkan itu termasuk berbakti dan berbuat  baik pada keduanya agar dosa dan kejahatan mereka tidak bertambah disebabkan kalian melakukan maksiat yang mereka perintahkan. Maka apabila kalian menolak berbuat maksiat yang mereka perintahkan, maka sebenarnya kalian telah berbakti pada mereka, karena kalian telah menghalangi mereka untuk tidak menambah dosa. Maka kalian jangan menta&amp;#39;ati mereka dalam kemaksiatan selama-lamanya.Adapun dalam ketaatan yang itu meninggalkannya bukan termasuk maksiat, maka seyogyanya seseorang melihat apakah yang lebih mengandung maslahat. Jika ia melihat yang lebih maslahat adalah menyelisihi mereka, maka hendaknya ia menyelisihi mereka. Akan tetapi hendakanya menyiasatinya jika ketaatan tersebut termasuk yang boleh ditolak dan disembunyikan dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka, maka hendaklah ia menolak dan menyembunyikannya dari mereka. Dan jika [ketaatan] tersebut termasuk [yang mungkin di tolak namun] tidak mungkin disembunyikan maka ia dapat menampakkannya dan berusaha untuk menjelaskan dengan tuntas kepada mereka [para orang tua] bahwa hal itu tidaklah membawa mudharat jika dilakukan, atau dengna ungkapan yang semacamnya yang dapat memuaskan [orang tua].[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]_________Foote Note[1] Hadits Riwayat Muslim No. 1631 dalam kitab Al-Wshiyah, bab Maa Yalhaqul Insan Min Ats-Tsawaab Ba&amp;#39;da Wafatihi, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu &amp;#39;anhu[2] Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam : &amp;quot;Tidak ada keta&amp;#39;atan bagi makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq&amp;quot; Dikeluarkan oleh Ahmad [1/131]. Al-Arna&amp;#39;uth berkata : &amp;quot;sanadnya lemah, akan tetapi mempunyai syahid dari hadits Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari dan Imran bin Hushain Radhiyallahu &amp;#39;anhu pada Ahmad [5/66,67] dan Ath-Thayalisi 856 dan sanadnya shahih, dishahihkan oleh Al-Hakam [2/443] dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Ia juga mempunyai syahid [dari] apa yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 7145, Muslim no. 1840 dari Ali Radhiyallahu &amp;#39;anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda : &amp;quot;Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, keta&amp;#39;atan itu hanya  pada yang ma&amp;#39;ruf&amp;quot; Lihat Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani [179-181].&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1408&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1408&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4213638605473214760?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4213638605473214760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4213638605473214760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4213638605473214760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4213638605473214760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/seorang-ayah-berkewajiban-mendakwahi.html' title='Seorang Ayah Berkewajiban Mendakwahi Anak-Anaknya Dengan Cara Yang Terbaik'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-2870763083204812601</id><published>2008-07-11T12:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T12:43:40.662-07:00</updated><title type='text'>Putri-Putri Saudara Kandung Tidak Mewarisi Warisan Paman Yang Meninggal Jika Ada Laki-Laki</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Putri-Putri Saudara Kandung Tidak Mewarisi Warisan Paman Yang Meninggal Jika Ada Laki-Laki Putri-Putri Saudara Kandung Tidak Mewarisi Warisan Paman Yang Meninggal Jika Ada Laki-Laki&lt;p&gt;Kategori Waris Dan Wasiat&lt;p&gt;Selasa, 14 Juni 2005 07:17:59 WIBPUTRI-PUTRI SAUDARA KANDUNG TIDAK MEWARISI WARISAN PAMAN YANG MENINGGAL JIKA ADA LAKI-LAKIOlehSyaikh Abdul Aziz bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Seorang laki-laki meninggal dunia, ia tidak mempunyai istri tidak pula anak, tapi ada keponakan dari saudara kandungnya yang telah meninggal. Apakah keponakan-keponakan itu, baik laki-laki maupun perempuan, mewarisi harta pamannya yang meninggal itu JawabanJika kenyataannya seperti yang disebutkan oleh penanya, maka seluruh warisan itu menjadi hak anak-anak laki-laki saudaranya itu, adapun anak-anak perempuannya tidak mewarisi, demikian menurut ijma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; kaum Muslimin berdasrkan sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Berikanlah bagian-bagian warisan itu kepada ahli warisnya, adapun selebihnya menjadi hak kerabat laki-laki yang paling dekat hubungannya [dengan si mayat]&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Disepakati keshahihannya]Karena keponakan-keponakan perempuan itu tidak termasuk ashabul furudh dan tidak juga ashabah tapi termasuk dzawil arham menurut ijma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; para ahlul ilmi.[Ibnu Baz, Fatawa Islamiyah, Juz 3, hal. 56]BAGIAN WARISAN BAGI YANG TELAH MENINGGAL KETIKA AYAHNYA MASIH HIDUPOlehSyaikh Abdullah bin Abdurrahman  Al-JibrinPertanyaan.Syaikh Abdullah bin Abdurrahman  Al-Jibrin ditanya : Apa hukum syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at tentang mencegah seorang laki-laki yang meninggal ketika ayahnya masih hidup dari harta  warisan, walaupun yang meninggal itu mempunyai banyak anak yang masih kecil-kecil dan juga miskin  Apakah kita boleh memberikan sedikit bagian kepada mereka [anak-anaknya] walaupun tidak disukai oleh para ahli waris Jawaban.Disyari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;atkan bagi seseorang, bila anaknya meninggal dunia dengan meninggalkan anak-anak, ketika ia masih hidup, untuk mewasiatkan bagi mereka [cucu-cucunya itu] bagian yang kurang dari sepertiganya walaupun paman-paman mereka tidak menyukai hal ini. Karena seseorang itu berhak menggunakan sepertiga hartanya  setelah ia meninggal dunia. Jika cucu-cucu itu tidak ikut mewarisi maka dianjurkan untuk mewasiatkan bagian ayah mereka jika sebanyak sepertiganya atau kurang, sesuai dengan ijtihadnya. Kalau ia tidak berwasiat, maka cucu-cucunya itu tidak mendapatkan apa-apa kecuali jika paman-paman mereka mengizinkannya.[Syaikh Ibnu Jibrin, Fatawa Islamiyah, Juz 3, hal. 54][Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;iyyah Fi Al-Masa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1456&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1456&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Putri-Putri Saudara Kandung Tidak Mewarisi Warisan Paman Yang Meninggal Jika Ada Laki-Laki diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Putri-Putri Saudara Kandung Tidak Mewarisi Warisan Paman Yang Meninggal Jika Ada Laki-Laki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-2870763083204812601?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/2870763083204812601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=2870763083204812601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2870763083204812601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2870763083204812601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/putri-putri-saudara-kandung-tidak.html' title='Putri-Putri Saudara Kandung Tidak Mewarisi Warisan Paman Yang Meninggal Jika Ada Laki-Laki'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-592998776637383743</id><published>2008-07-11T11:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T11:43:36.896-07:00</updated><title type='text'>Pendahuluan : Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah 1/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Pendahuluan : Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah 1/2 Pendahuluan : Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah 1/2&lt;p&gt;Kategori Rifqon Ahlassunnah&lt;p&gt;Kamis, 29 April 2004 07:57:56 WIBPENDAHULUAN : RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAHOlehSyaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Abbad Al-BadrBagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR &amp;amp; HAJR]Segala puji hanya milik Allah, yang telah mempersatukan hati orang-orang beriman, yang mendorong mereka untuk berkumpul dan bersatu, serta memperingatkan mereka dari perpecahan dan perselisihan. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, yang menciptakan dan menentukan, menetapkan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at dan memudahkannya. Allah Maha Penyayang terhadap hama-hambaNya yang beriman. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, yang memerintahkan untuk memberikan kemudahan dan kabar gembira. Beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Mudahkanlah dan jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau yang disucikan, serta para sahabat beliau yang disebutkan oleh Allah sebagai orang-orang keras terhadap orang-orang kafir dan amat lemah lembut terhadap sesama mereka. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan tadi juga tercurah kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan benar sampai hari kiamat.Ya Allah berilah aku petunjuk, dan tunjukkanlah [kebenaran] padaku serta jadikanlah aku sebagai sebab bagi orang lain untuk mendapatkan petunjuk.Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari rasa dengki dan luruskanlah lisanku dalam menyampaikan kebenaran.Ya Allah, aku berlindung kepadaMu agar tidak menjadi orang yang menyesatkan atau disesatkan, orang yang menggelincirkan atau yang digelincirkan, orang yang mendzalimi atau didzalimi, membodohi atau dibodohi.Amma ba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;du.Ahlus Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah adalah orang-orang yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka menisbatkan [menyandarkan] diri kepada Sunnah Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berpegang teguh kepada Sunnahnya.Beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah sesudahku yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah tersebut, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Beliau juga telah memperingatkan kita agar tidak menyelisihi sunnah beliau. Dalam hal ini beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Hati-hatilah kalian terhadap segala perkara yang baru [dalam masalah agama], karena setiap perkara yang baru seperti itu adalah bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah, dan setiap bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah adalah sesat&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dalam hadits yang lain beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Keadaan Ahlus Sunnah ini berbeda dengan kelompok lainnya, yaitu kalangan para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah. Para pengikut hawa nafsu dan para pelaku bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah menempuh jalan yang tidak ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Akidah Ahlus Sunnah tampak sejak Nabi diangkat menjadi rasul dan selama beliau masih hidup, sedangkan akidah ahli hawa [para pengikut hawa nafsu]  muncul setelah beliau wafat. Ada yang muncul pada akhir generasi sahabat; ada yang muncul setelah generasi sahabat.Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam pernah memberitakan kepada para sahabat beliau bahwa barangsiapa di antara mereka berumur panjang niscaya akan menjumpai perpecahan dan perselisihan. Rasulullah bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang berumur panjang maka dia akan melihat perselisihan&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Kemudian Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam memberi tuntunan kepada mereka untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu dengan mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khalifahnya yang mendapatkan petunjuk [Khulafa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Ar-Rasyidah]. Rasulullah juga telah memperingtkan kita agar menjauhi perkara-perkara yang baru dalam agama, dan memberitahukan bahwa semua itu adalah sesat.Suatu hal yang sangat tidak masuk akal bila para sahabat tidak mengetahui kebenaran dan petunjuk [dengan jelas dan gamblang] sementara orang-orang yang datang setelah mereka lebih mengetahui kebenaran dan petunjuk. Sesungguhnya bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yang diada-adakan orang-orang setelah generasi sahabat itu tidak lain dalah keburukan. Seandainya bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yang mereka ada-adakan itu lebih baik, niscaya para sahabat akan melakukannya terlebih dahulu.[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir &amp;amp; Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;Abbad Al-Badr, hal 7-16, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=670&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=670&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Pendahuluan : Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah 1/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Pendahuluan : Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah 1/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-592998776637383743?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/592998776637383743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=592998776637383743' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/592998776637383743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/592998776637383743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/pendahuluan-rifqon-ahlassunnah-bi.html' title='Pendahuluan : Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah 1/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-8684503753087939568</id><published>2008-07-11T10:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T10:43:32.092-07:00</updated><title type='text'>Hukum Orang Yang Berpuasa Ramadhan Selama Tiga Puluh Hari Terus Menerus</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hukum Orang Yang Berpuasa Ramadhan Selama Tiga Puluh Hari Terus Menerus Hukum Orang Yang Berpuasa Ramadhan Selama Tiga Puluh Hari Terus Menerus&lt;p&gt;Kategori Puasa - Fiqih Puasa&lt;p&gt;Senin, 10 Oktober 2005 11:48:28 WIBHUKUM ORANG YANG BERPUASA RAMADHAN SELAMA TIGA PULUH HARI TERUS MENERUSOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazPertanyaanSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada sekelompok kaum muslimin yang setiap kali Ramadhan selalu berpuasa selama 30 hari. Bagaimana hukumnya JawabanBerdasarkan hadits-hadits shahih yang sangat terkenal dan berdasarkan ijma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; para shahabat Radhiyallahu anhum dan para ulama yang mengikuti mereka dengan baik, jumlah hari dalam satu bulan adalah kadang-kadang 30 dan kadang-kadang 29.Maka barangsiapa yang [setiap tahun] terus menerus berpuasa Ramadhan selama 30 hari tanpa melihat hilal ; maka dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah dan ijma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; dan dia telah mengada-adakan bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah dalam agama ini yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala. Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Ikutilah apa yang telah diturunkan dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti selain itu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-A&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;raaf : 3]Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Katakanlah : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku [Muhammad] niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Ali-Imran : 31]Firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Hasyr : 7]Firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Itulah hudud [hukum-hukum] Allah. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya niscaya Allah akan masukkan dia ke dalam Surga [taman-taman] yang didalamnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya serta melannggar batasan-batasan [larangan-larangan]Nya niscaya Allah akan memasukkan dia kedalam Neraka dan dia kekal di dalamnya dan baginya azab yang menghinakan&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [An-Nisaa : 13-14]Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini jumlahnya cukup banyak.Disebutkan di dalam dua kitab shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Brpuasalah kalian kalau kalian melihat hilal [bulan] dan jika mendung maka perkirakanlah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Di dalam riwayat Muslim disebutkan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166;.. Maka genapkanlah 30 hari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain disebutkan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Jika kalian melihat hilal [Ramadhan] maka berpuasalah. Dan jika kalian melihat hilal [Syawal] maka berhentilah puasa. Dan jika mendung genapkanlah 30 hari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Di dalam shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Berpuasalah kalian ketika kalian melihat hilal dan berhentilah berpuasa ketika kalian melihat hilal. Dan jika mendung, maka berpuasalah selama 30 hari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dalam riwayat lain disebutkan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166; Maka sempurnakanlah bilangannya menjadi 30 hari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dalam riwayat lain disebutkan&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;&amp;#166; Maka sempurnakan bulan Sya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ban menjadi 30 hari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dalam riwayat Hudzaifah Radhiyallahu anhu Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersanda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Janganlah kalian berpuasa sebelum kalian melihat hilal [Ramadhan] atau kalian sempurnakan bilangannya [Sya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ban menjadi 30 hari]. Dan  janganlah kalian berhenti berpuasa [Ramadhan] sebelum kalian melihat hilal [Syawal] atau kalian sempurnakan bilangannya [Ramadhan menjadi 30 hari]&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Abu Dawud dan An-Nasaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i] dengan sanad shahihDalam beberapa hadits Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam juga bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Sesunnguhnya dalam sebulan itu terdapat 29 hari. Maka janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal [Ramadhan] dan janganlah kalian berhenti berpuasa sebelum kalian melihat hilal [Syawal]. Jika cuaca mendung, maka genapkanlah [30 hari]&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Bulan itu sekian dan sekian dan sekian, sambil beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam menunjukkan 10 jarinya tiga kali, yang terakhir dengan melipat satu ibu jarinya, kemudian beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam melanjutkan : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Bulan itu sekian dan sekian dan sekian, sambil beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam menunjukkan 10 jari beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam tiga kali tanpa melipat salah satu jarinya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.Dalam  hadits tersebut beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam ingin menunjukkan bahwa di dalam satu bulan itu kadang-kadang 30 hari dan kadang-kadang 29 hari.Hal ini telah diterima secara bulat oleh orang-orang yang berilmu dan beriman, dari kalangan para sahabat Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Mereka semua mengamalkan sunnah Rasul Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam yang satu ini, yaitu melihat hilal pada bulan Sya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ban, Ramadhan dan Syawal. Oleh karena itu wajib bagi seluruh kaum muslimin mengikuti jalan dan cara yang telah mereka contohkan ini dengan menggenapkan bulan atau menguranginya. Kaum muslimin harus meninggalkan sesuatu yang bertentangan dengan hal itu, yang hanya merupakan pendapat-pendapat manusia dan perbuatan bid&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah yang diada-adakan dalam agama.Jika kita menentukan awal dan akhir Ramadhan dengan cara melihat hilal [bukan dengan cara hisab, -pent] berarti kita telah menempuh dan meniti jalan orang-orang yang dijamin masuk Surga dan dijamin mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala, yaitu Rasul Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhum.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Dan inilah kemenangan yang besar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [At-Taubah : 100][Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, terbitan At-Tibyan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig; Solo]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1598&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1598&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Hukum Orang Yang Berpuasa Ramadhan Selama Tiga Puluh Hari Terus Menerus diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hukum Orang Yang Berpuasa Ramadhan Selama Tiga Puluh Hari Terus Menerus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-8684503753087939568?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/8684503753087939568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=8684503753087939568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8684503753087939568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/8684503753087939568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hukum-orang-yang-berpuasa-ramadhan.html' title='Hukum Orang Yang Berpuasa Ramadhan Selama Tiga Puluh Hari Terus Menerus'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-922551595880505338</id><published>2008-07-11T09:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T09:43:25.839-07:00</updated><title type='text'>Mengakhirkan Penguburan Mayat Karena Menunggu Datangnya Kerabat</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Mengakhirkan Penguburan Mayat Karena Menunggu Datangnya Kerabat Mengakhirkan Penguburan Mayat Karena Menunggu Datangnya Kerabat&lt;p&gt;Kategori Jenazah&lt;p&gt;Selasa, 10 Mei 2005 06:32:12 WIBMENGAKHIRKAN PENGUBURAN MAYAT KARENA MENUNGGU DATANNYA KERABATOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pendapat Syaikh tentang  mengakhirkan penguburan mayat karena menunggu datangnya sebagian kerabat mayit dari tempat yang jauh Jawaban.Disyariatkan untuk menguburkan mayat sesegera mungkin, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Segerakanlah [pengurusan] jenazah, apabila ia orang yang baik maka itu adalah kebaikan yang kalian segerakan terhadapnya, tetapi jika tidak demikian maka ia adalah kejelekan yang kalian letakkan dari punggung kalian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [1]Tidak selayaknya mengaakhirkan penguburan mayat karena menunggu sebagian keluarganya, kecuali jika hanya sebentar saja. Jika tidak maka menyegerakannya adalah lebih utama. Jika keluarganya datang maka mereka bisa menshalati di atas kuburannya sebagaimana yang diperbuat Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam saat beliau shalat di atas kuburan seorang perempuan yang suka membersihkan masjid, lalu mereka menguburkannya tanpa memberitahu beliau, maka beliau bersabda :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Tunjukkanlah kuburannya kepadaku&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. Maka merekapun menunjukkannya lalu beliau shalat di atsa kuburannya. [2]Pertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Mengabarkan kematian seseorang kepada keluarga atau kerabatnya dengan tujuan mengumpulkan mereka untuk menshalatinya, apakah termasuk undangan yang terlarang ataukah ia dibolehkan Jawaban.Ini adalah termasuk undangan kematian yang dibolehkan,oleh karenanya Nabi mengumpulkan orang-orang atas kematian Najasyi, [3]  dan beliau berkata tentang wanita yang membersihkan masjid yang dikuburkan para sahabat tanpa memberi tahu beliau Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Mengapa kalian tidak memberi tahu aku&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Jadi tidak mengapa mengkhabarkan kematian seseorang dengan tujuan memperbanyak orang yang menshalatinya, karena hal itu ada riwayat yang mirip dengannya dalam sunnah. Demikian pula memberi tahu keluarganya dan anak keturunannya untuk berkumpul menshalatinya tidaklah mengapa.[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah Oleh Syaikh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]_________Foote Note.[1]. Bukhari, Kitab Al-Janaiz, bab mempercepat prosesi jenazah 1315, dan Muslim, Al-Janaiz, bab bersegera dalam mengurus mayat 944[2]. Bukhari, Kitab Al-Janaiz, bab shalat di atas kubur setelah dimakamkan 1337, dan Muslim, Kitab  Al-Janaiz, bab shalat di atas kubur 956[3]. Bukhari, Kitab Al-Janaiz, bab seseorang yang mengundang keluarga mayat 245 dan Muslim, Al-Janaiz, bab bertakbir untuk jenazah 951&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1427&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1427&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Mengakhirkan Penguburan Mayat Karena Menunggu Datangnya Kerabat diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Mengakhirkan Penguburan Mayat Karena Menunggu Datangnya Kerabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-922551595880505338?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/922551595880505338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=922551595880505338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/922551595880505338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/922551595880505338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/mengakhirkan-penguburan-mayat-karena.html' title='Mengakhirkan Penguburan Mayat Karena Menunggu Datangnya Kerabat'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-2241645078778018052</id><published>2008-07-11T08:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T08:43:19.419-07:00</updated><title type='text'>Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 3/4</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 3/4 Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 3/4&lt;p&gt;Kategori Akhlak&lt;p&gt;Jumat, 3 Desember 2004 06:54:27 WIBBERAKHLAK BAIK DAN PENTINGNYA BAGI PENUNTUT ILMUOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahBagina Ketiga dari Empat Tulisan 3/4ADAPUN PERKARA KETIGA DALAM PEMBAHASAN BERAKHLAK BAIK KEPADA ALLAH ADALAH :Ridha dan sabar pada taqdir-taqdir Allah, dan kita semua telah mengetahui bahwa taqdir-taqdir Allah yang Allah timpakan kepada mahluk-Nya, sebagiannya sesuai dan sebagiannya tidak disukai.Apakah sakit disukai manusia  [tidak sama sekali]. Manusia menyukai sehat.Apakah kefakiran disukai manusia  Tidak, manusia menyukai menjadi orang kaya.Apakah bodoh disukai manusia  tidak, manusia menyukai menjadi seorang yang pandai [alim].Akan tetapi taqdir Allah dengan hikmah-Nya bermacam-macam, sebagiannya ada yang disukai manusia dan ia lapang dada dengan taqdir sesuai dengan tabiatnya, dan sebagiannya tidak demikian halnya. Maka bagaimanakah berakhlak baik kepada kepada Allah terhadap taqdir-taqdir-Nya Berakhlak baik kepada Allah berkenaan dengan taqdir-taqdir-Nya adalah dengan sikap engkau ridha dengan apa yang Allah taqdirkan bagimu, dan hendaknya engkau merasa tenang pada taqdir itu, dan hendaknya engkau mengetahui bahwa tidaklah Allah mentakdirkan bagimu melainkan dengan hikmah dan tujuan yang terpuji serta patut dipuji dan syukur. Dan berdasarkan hal ini, berakhlak baik kepada Allah berkenaan dengan taqdir-taqdir-Nya adalah ridha, menyerah dan merasa tenang. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang sabar yaitu orang &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;orang yang apabila ditimpa dengan suatu musibah mereka berkata :&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita kembali&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Baqarah : 156]Dan Allah berfirman :&amp;quot;Artinya : Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar&amp;quot; [Al Baqarah : 155]Dan kita meringkas pembahasn yang di atas bahwa berakhlak baik sebagaimana terjadi kepada makhluk juga terjadi kepada Al Khalik [Allah], dan yang dimaksud berakhlak baik kepada Allah adalah menerima Al Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dengan membenarkannya, dan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;menemui&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; hukum-hukumnya dengan menerima serta mengamalkannya, dan menerima taqdir-taqdir-Nya dengan sabar, dan ridha, inilah yang dimaksud berakhlak baik terhadap Allah.Adapun berakhlak baik terhadap mahluk, sebagian ulama menerangkan dan menyebutkan dari Hasan Al Basri bahwa berakhlak baik adalah : mencegah gangguan, mengerahkan kedermawanan, dan berwajah ceria.Tiga perkara :[1]. Mencegah gangguan [Kaffu Al-Adzdzaa][2]. Dermawan [Badzlu An-Nadaa][3]. Berwajah ceria [Tholaaqotu Al-wajhi]Pertama  : MENCEGAH GANGGUAN [Kaffu Al-Adzdzaa]Apakah makna &amp;quot;Mencegah gangguan &amp;quot;  Maknanya adalah bahwa seseorang mencegah [dirinya] untuk mengganggu orang lain, baik itu gangguan yang berhubungan dengan harta, jiwa, atau kehormatan. Barangsiapa tidak menahan dirinya dari mengganggu orang lain, maka ia tidak mempunyai akhlak yang baik, dan ia berakhlak jelek. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memberitahukan dihadapan sejumlah besar umat beliau Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam [ketika beliau Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam  menunaikan haji wada&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;]&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, dinegeri kalian ini&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]Jika seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan melakukan pengkhianatan, atau berbuat aniaya dengan memukul, dan kejahatan, atau berbuat aniaya kepada manusia dalam kehormatannya, atau mencela, atau ghibah [menggunjing hal-hal yang jelek], maka hal ini bukanlah termasuk berakhlak baik kepada manusia, karena ia tidak menahan [dirinya] dari mengganggu orang. Dan dosanya semakin besar manakala perbuatan aniaya itu dilakuakan kepada seseorang yang mempunyai hak paling besar padamu. Berbuat jahat kepada kedua orangtua misalnya, lebih besar [dosanya] dari berbuat jahat kepada selain keduanya, dan berbuat jahat kepada karib kerabat lebih besar [dosanya] dari berbuat jahat kepada orang yang lebih jauh, dan berbuat jahat kepada tetangga lebih besar dosanya dari berbuat jahat kepada selain tetanggamu, oleh karena itu Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;quot;Artinya : Demi Allah, demi Allah, demi Allah, tidaklah beriman, ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam  : Siapa wahai Rasulullah  beliau Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda : orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya&amp;quot;.Dalam riwayat Muslim :&amp;quot;Artinya : Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Kedua  : DERMAWAN[Badzlu An-Nadaa]Makna &amp;quot;Dermawan&amp;quot; [Badzlu An-Nadaa] : Yaitu engkau mendermawakan kedermawanan. Dan Kedermawan itu artinya bukanlah sebagaimana yang difahami oleh sebagian manusia, yaitu engkau mendermakan harta [hanya bermakna ini], tetapi yang dimaksud dermawan adalah mendermakan jiwa, kedudukan dan harta.Jika kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu mereka, membantu mengarahkan mereka kepada seseorang yang mereka tidak mampu [menemuinya kecuali dengan perantaraannya] hingga berhasil [menemui] nya, atau menyebarkan ilmu diantara manusia, mendermakan hartanya kepada manusia, maka kami mensifatinya sebagai orang yang berakhlak baik, karena ia mendermakan kedermawanan, oleh karena itu Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda :&amp;quot;Artinya : Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kalian berada, ikutilah perbuatan jahat dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan jahat, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik&amp;quot; [Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Darimi]Dan makna hal itu adalah jika engkau dianiaya atau dipergauli dengan perbuatan buruk maka engkau memaafkan. Dan sungguh Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia, Allah berfirman tentang penghuni surga :&amp;quot;Artinya : [Yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan [kesalahan]orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan&amp;quot; [Ali Imran :134]Dan Allah berfirman&amp;quot;Artinya : Dan pema`afan kamu itu lebih dekat kepada takwa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al Baqarah : 237]&amp;quot;Artinya : Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada&amp;quot; [An Nur : 22]Dan Allah berfirman :&amp;quot;Artinya : Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas [tanggungan] Allah&amp;quot; [Asy Syuura : 40]Seseorang yang berhubungan dengan manusia lainnya, mesti akan mengalami suatu gangguan, maka sepatutnya sikapnya dalam menghadapi gangguan ini adalah hendaknya memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa sikap pemaaf dan lapang dadanya dan harapannya untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat [dapat mengakibatkan] permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan. Allah berfirman :&amp;quot;Artinya : Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia&amp;quot; [Al Fushilat : 34]Maka apakah yang lebih baik  bersikap buruk atau baik  [tentu] bersikap baik, dan perhatikanlah wahai orang yang mengerti bahasa Arab, bagaimana datang hasil yang diperoleh dengan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;idza Al fujaiyyah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; yang menunjukkan kejadian langsung dalam hasil yang diperolehnya :&amp;quot;Artinya : Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia&amp;quot; [Al Fushilat : 34]Akan tetapi apakah setiap orang mendapatkan petunjuk untuk mengamalkan hal ini Tidak, :&amp;quot;Artinya : Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar&amp;quot; [Al Fushilat : 35]Dan disini terdapat masalah :Apakah kita memahami dari keterangan ini memaafkan orang yang berbuat jahat secara mutlak [merupakan tindakan] terpuji dan diperintahkan  Akan tetapi, hendaknya kalian ketahui bahwa memaafkan itu akan terpuji, jika sikap memaafkan itu lebih terpuji. Maka jika sikap memaafkan lebih terpuji, maka sikap itu lebih utama. Oleh Karena itu Allah berfirman :&amp;quot;Artinya : Maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas [tanggungan] Allah&amp;quot; [Asy Syuura : 40]Allah menjadikan sikap memaaf diiringi dengan [kata] berbuat baik [pada ayat di atas]. Maka apakah mungkin sikap memaafkan tanpa diiringi berbuat baik Jawabannya : Ya, mungkin, terkadang seseorang berani dan berbuat aniaya padamu, dan ia seorang yang dikenal jahat dan berbuat kerusakan oleh manusia. Kalau engkau memaafkannya ia akan terus dalam perbuatan jahatnya dan berbuat kerusakan. Maka sikap apakah yang lebih utama dalam kondisi ini  kita maafkan atau kita membalas kejahatannya  yang lebih utama adalah membalas kejahatannya. Karena dengan sikap ini terdapat sikap berbuat baik.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : &amp;quot;Memperbaiki itu wajib, dan memaafkan itu dianjurkan&amp;quot;.Maka jika dalam sikap memaaf itu terlewatkan sikap berbuat baik, maka maknanya bahwa kita mendahulukan anjuran daripada kewajiban, dan hal ini tidak ada dalam syariat. Dan Ibnu Taimiyyah benar [semoga Allah merahmatinya][Disalin dari Majalah Adz-Dzakhirah Al-Islamiyah Th I/No.06/1424/2003]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1206&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1206&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 3/4 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 3/4.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-2241645078778018052?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/2241645078778018052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=2241645078778018052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2241645078778018052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2241645078778018052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/berakhlak-baik-dan-pentingnya-bagi.html' title='Berakhlak Baik Dan Pentingnya Bagi Penuntut Ilmu 3/4'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4390898163167295397</id><published>2008-07-11T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T07:43:15.420-07:00</updated><title type='text'>Penjelasan Penting Tentang : Peringatan Dari Bahaya Gerakan Kristenisasi Dan Wasilah-Wasilahnya 2/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Penjelasan Penting Tentang : Peringatan Dari Bahaya Gerakan Kristenisasi Dan Wasilah-Wasilahnya 2/2 Penjelasan Penting Tentang : Peringatan Dari Bahaya Gerakan Kristenisasi Dan Wasilah-Wasilahnya 2/2&lt;p&gt;Kategori Propaganda Sesat&lt;p&gt;Jumat, 24 Desember 2004 07:18:47 WIBPENJELASAN PENTING TENTANG : PERINGATAN DARI BAHAYA GERAKAN KRISTENISASI DAN WASILAH-WASILAHNYA.OlehLajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal IftaBagian Terkahir dari Dua Tulisan 2/2Diantaranya juga adalah : Kristenisasi melalui jasa pendidikan. Yaitu dengan mendirikan sekolah-sekolah dan universitas-universitas Kristen atau lembaga-lembaga pendidikan yang secara lahiriyah adalah pendidikan murni namun membawa misi Nasrani secara terselubung. Akibatnya banyak diantara kaum muslimin menyerahkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan tersebut hanya dengan harapan anaknya dapat mempelajari bahasa asing atau mata pelajaran tertentu. Maka jangan tanya seberapa besar kesempatan yang diberikan kaum muslimin kepada umat Nasrani tatkala mereka telah menyerahkan buah hati mereka yang masih kanak-kanak atau mendekati usia baligh, masa yang ketika itu akal mereka masih kosong dan siap menerima apa saja ! Ya, apa saja!.Dianataranya juga adalah kristenisasi melalui media-media informasi, yaitu melalui siaran-siaran radio dan televisi yang diarahkan ke negeri-negeri Islam. Disamping siaran-siaran langsung melalui satelit akhir-akhir ini, ditambah lagi majalah-majalah, surat kabar, selebaran-selebaran yang dicetak dalam jumlah yang sangat banyak.Media-media informasi ini, mulai dari audio, visual dan tulisan, seluruhnya merupakan katalis penyebaran kristenisasi melalui cara-cara berikut :[a] Seruan kepada agama Nasrani dengan menonjolkan keutamaannya, kasih sayang dan kesantunannya yang semu kepada seluruh umat manusia.[b] Melemparkan syubhat ke dalam aqidah dan syiar kaum muslimin serta syubhat tentang hubungan kaum muslimin terhadap mereka.[c] Menyebarkan pornogarafi dan barang-barang pembangkit syahwat dengan tujuan merusak orang-orang yang melihatnya, merobohkan pilar akhlak mereka dan mengotori kehormatan diri mereka serta menghilangkan rasa malu dari diri mereka. Pada akhirnya menggiring mereka kepada penghambaan diri mereka kepada syahwat dan kenikmatan sesaat yang rendah. Melalui cara tersebut mereka dengan mudah dapat melancarkan dakwah kepada apa saja ! Hingga kepada kemurtadan dan kekufuran kepada Allah sekalipun ! Wal iyadzubillah! Yaitu setelah tercabut akar keimanan dari hati dan hilangnya fanatisme kepada Islam di dalam jiwa![*].  Masih banyak cara lain lagi yang dapat diketahui oleh setiap orang yang sering memperhatikan kondisi negeri-negeri Islam. Kami akan sebutkan secara ringkas saja karena tujuan di sini adalah memberi peringatan bukan membahasnya panjang lebar, karena Allah Subhanahu wa ta&amp;#39;ala juga telah menyatakan.&amp;quot;Artinya : Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu dya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya&amp;quot; [Al-Anfal : 30]Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala.&amp;quot;Artinya : Mereka ingin memadamkan cahaya [agama] Allah dengan mulut [ucapan-ucapan mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci&amp;quot; [Ash-Shaf : 8]Itulah makar orang-orang Nasrani untuk menyesatkan kaum muslimin, lalu apakah kewajiban kaum muslimin dalam menghadapinya ! Bagaimanakah caranya menghadapi serangan yang ditujukan secara membabi buta terhadap Islam dan kaum muslimin !Tentu saja tanggung jawab besar ada di pundak kaum muslimin, baik secara individu maupun kelompok, rakyat maupun pemerintah dalam menghadapi arus kristenisasi yang memangsa setiap individu umat ini, yang besar maupun kecil, lelaki maupun wanita ! &amp;#39;Hasbunallah wa ni&amp;#39;mal wakil!&amp;#39;. Boleh kita katakan bahwa kewajiban itu berlaku secara menyeluruh meskipun harus kita akui bahwa ada solusi dan pemecahan syar&amp;#39;i secara khusus bagi setiap kondisi dan peristiwa, berikut perinciannya.[1]. Menancapkan kembali dasar-dasar aqidah Islamiyah di hati kaum muslimin. Melalui kurikulum-kurikulum pendidikan dan tarbiyah dalam skala umum. Dan lebih memusatkan penanaman dasar-dasar aqidah ini bagi generasi muda, khususnya anak-anak, di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal, negeri maupun swasta.[2]. Membangkitkan fanatisme beragama yang positif di segala lapisan umat dan menumbuhkan keasadaran membela kesucian dan kehormatan Islam.[3]. Menutup seluruh saluran masuknya produk-produk kristenisasi, seperti film, selebaran, majalah dan lainnya. Yaitu dengan tidak memberi izin masuk dan menetapkan hukuman keras bagi yang melanggarnya.[4]. Memberikan penyuluhan kepada kaum muslimin tentang bahaya-bahaya kristenisasi serta wasilah-wasilahnya, menjauhkan kaum muslimin darinya serta mencegah mereka agar tidak terjerat jaring-jaringnya.[5]. Memperhatikan seluruh bidang yang menjadi kebutuhan primer kaum muslimin, diantaranya adalah pelayanan kesehatan dan pendidikan secara khusus. Berdasarkan realita yang ada dua perkara tersebut merupakan sarana yang vital bagi kaum Nasrani untuk mengambil simpati kaum muslimin dan menguasai akal pikiran mereka.[6]. Hendaknya setiap muslim dimana saja ia berada berpegang teguh kepada agama dan aqidah Islam walau bagaimanapun kondisi dan kesulitan yang dihadapi. Hendaklah mereka memegang teguh syiar-syiar Islam dalam diri mereka dan orang-orang yang berada di bawah penguasaannya sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing, dan hendaknya setiap keluarga muslim memiliki benteng yang kokoh dalam menghadapi setiap usaha yang ingin merusak aqidah dan akhlak mereka.[7]. Hendaknya setiap pribadi maupun keluarga muslim tidak melakukan perjalanan ke negeri-negeri kafir kecuali untuk kepentingan yang sangat darurat, seperti untuk berobat atau menuntut ilmu yang sangat vital yang tidak dapat dipelajari di negeri-negeri Islam dibekali dengan kesiapan dalam menghadapi berbagai syubhat dan fitnah yang dibidikkan kepada kaum muslimin.[8]. Menggugah kesadaran sosial diantara kaum muslimin dan semangat tolong menolong diantara mereka. Orang-orang berada hendaknya memperhatikan kaum fuqara&amp;#39;, mengulurkan tangan kedermawanan mereka dalam hal-hal kebaikan dan program-program yang bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan kaum muslimin. Sehingga tangan-tangan kotor Nasrani tidak terulur kepada mereka dan memanfaatkan kemiskinan dan kefakiran untuk memurtadkan mereka!.Akhirnya, kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dengan asma-Nya yang husna dan sifat-Nya yang &amp;#39;Ula agar menyatukan barisan kaum muslimin, menautkan hari mereka, mendamaikan diantara mereka, menunjuki mereka jalan-jalan kebaikan, melindungi mereka dari makar dan kejahatan musuh-musuh mereka serta menjauhkan mereka dari kekejian dan fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, sesunguhnya Dia Maha Pengasih.Ya Allah, siapa saja yang menginginkan kejahatan terhadap Islam dan kaum muslimin maka sibukanlah ia dengan urusan dirinya sendiri, dan tolaklah makar dan rencana busuknya itu serta timpakanlah keburukan atas dirinya, sesunguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.[Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta tentang Peringatan dari Bahaya Gerakan Kristenisasi dan Wasilah-Wasilahnya, No. 20096 Tanggal 22/12/1418H]Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta&amp;#39;Ketua.Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazWakil Ketua.Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Ali SyaikhAnggotaSyaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-GhudayyanSyaikh Bakr bin Abdillah Abu ZaidSyaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan[Disalin dari kitab Al-Ibthalu Linazhariyyatil Khalthi Baina Diinil Islaami Wa Ghairihii Minal Adyan, edisi Indonesia Propaganda Sesat Penyatuan Agama, Oleh Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Terbitan Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1257&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1257&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Penjelasan Penting Tentang : Peringatan Dari Bahaya Gerakan Kristenisasi Dan Wasilah-Wasilahnya 2/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Penjelasan Penting Tentang : Peringatan Dari Bahaya Gerakan Kristenisasi Dan Wasilah-Wasilahnya 2/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4390898163167295397?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4390898163167295397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4390898163167295397' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4390898163167295397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4390898163167295397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/penjelasan-penting-tentang-peringatan.html' title='Penjelasan Penting Tentang : Peringatan Dari Bahaya Gerakan Kristenisasi Dan Wasilah-Wasilahnya 2/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4909567664401801096</id><published>2008-07-11T06:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T06:43:09.672-07:00</updated><title type='text'>Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah&lt;p&gt;Kategori Wanita - Darah Wanita&lt;p&gt;Minggu, 15 Mei 2005 06:57:19 WIBISTIHADHAH DAN HUKUM-HUKUMNYAOlehSyaikh Muhammad bin Shaleh Al &amp;#39;UtsaiminBagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2][1]. Makna IstihadhahIstihadhah ialah keluarnya darah terus menerus pada seorang wanita tanpa henti sama sekali atau berhenti sebentar seperti sehari atau dua hari dalam sebulan.Dalil kondisi pertama, yakni keluarnya darah terus menerus tanpa henti sama sekali, hadits riwayat Al-Bukhari dan Aisyah Radhiyallahu bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy berkata kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak pernah suci&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Dalam riwayat lain : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Aku mengalami istihadhah maka tidak pernah suci&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dalil kondisi kedua, yakni darah tidak berhenti kecuali sebentar, hadits dari Hamnah bin Jahsy ketika datang kepada Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan berkata.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Ya Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami istihadhah yang deras sekali&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan menyatakan shahih. Disebutkan pula bahwa hadits ini menurut Ima Ahmad Shahih, sedang menurut Al-Bukhari hasan][2]. Kondisi Wanita MustahadhahAda tiga kondisi bagi wanita mustahadhah[a]. Sebelum mengalami istihadhah, ia mempunyai haid yang jelas waktunya. Dalam kondisi ini, hendaklah ia berpedoman kepada jadwal haidnya yang telah diketahui sebelumnya. Maka pada masa itu dihitung sebagai haid dan berlaku baginya hukum-hukum haid. Adapun selain masa tersebut merupakan istihadhah yang berlaku baginya hukum-hukum istihadhah.Misalnya, seorang wanita biasanya haid selama enam hari pada setiap awal bulan, tiba-tiba mengalami istihadhah dan darahnya keluar terus menerus. Maka masa haidnya dihitung enam hari pada setiap awal bulan, sedang selainnya merupakan istihadhah. Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anha bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Ya, Rasulullah, sungguh aku mengalami istihadhah maka tidak pernah suci, apakah aku meninggalkan shalat  Nabi menjawab : Tidak, itu adalah darah penyakit. Namun tinggalkan shalat sebanyak hari yang biasanya kamu haid sebelum itu, kemudian mandilah dan lakukan shalat&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits riwayat Al-Bukhari]Diriwayatkan dalam shahih Muslim bahwa Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda keapda Ummu Habibah binti Jahsy.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Diamlah selama masa haid yang biasa menghalangimu, lalu mandilah dan lakukan shalat&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Dengan demikian, wanita mustahadhah yang haidnya sudah jelas waktunya menunggu selama masa haidnya itu. Setelah itu mandi dan shalat, biarpun darah pada saat itu masih keluar.[b]. Tidak mempunyai haid yang jelas waktunya sebelum mengalami istihadhah, karena istihadhah tersebut terus menerus terjadi padanya mulai dari saat pertama kali ia mendapati darah. Dalam kondisi ini, hendaklah ia melakukan tamyiz [pembedaan] ; seperti jika darahnya berwarna hitam, atau kental, atau berbau maka yang terjadi adalah haid dan berlaku baginya hukum-hukum haid. Dan jika tidak demikian, yang terjadi adalah istihadhah dan berlaku baginya hukum-hukum istihadhah.Misalnya, seorang wanita pada saat pertama kali mendapati darah, dan darah itu keluar terus menerus ; akan tetapi ia dapati selama sepuluh hari dalam sebulan darahnya berwarna hitam kemudian setelah itu berwarna merah, atau ia dapati selama sepuluh hari dalam sebulan darahnya kental kemudian setelah itu encer, atau ia dapati selama sepuluh hari dalam sebulan berbau darah haid tetapi setelah itu tidak berbau. Maka haidnya yaitu darah yang berwarna hitam [pada kasus pertama], darah kental [pada kasus kedua] dan darah yang berbau [pada kasus ketiga]. Sedangkan selain hal tersebut, dianggap sebagai darah istihadhah.Berdasrkan sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Darah haid yaitu apabila berwarna hitam yang dapat diketahui. Jika demikian maka tinggalkan shalat. Tetapi jika selainnya maka berwudhulah dan lakukan shalat karena itu darah penyakit&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits riwayat Abu Dawud, An-Nasa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim]Hadits ini, meskipun perlu ditinjau lagi daris egi sanad dan matannya, telah diamalkan oleh para ulama rahimahullah. Dan hal itu lebih utama daripada dikembalikan kepada kebiasaan kaum wanita pada umumnya.[c].Tidak mempunyai haid yang jelas waktunya dan tidak bisa dibedakan secara tepat darahnya. Seperti : jika istihadhah yang dialaminya terjadi terus menerus mulai dari saat pertama kali melihat darah sementara darahnya menurut satu sifat saja atau berubah-ubah dan tidak mungkin dianggap sebagai darah haid. Dalam kondisi ini, hendaklah ia mengambil kebiasaan kaum wanita pada umumya. Maka masa haidnya adalah enam atau tujuh hari pada setiap bulan dihitung mulai dari saat pertama kali mendapati darah. Sedang selebihnya merupakan istihadhah.Mislnya, seorang wanita saat pertama kali melihat darah pada tanggal 5 dan darah itu keluar terus menerus tanpa dapat dibedakan secara tepat mana yang darah haid, baik melalui warna ataupun dengan cara lain. Maka haidnya pada setiap bulan dihitung selama enam atau tujuh hari dimulai dari tangal 5 tersebut.Hal ini berdasrkan hadits Hammah binti Jahsy Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anha bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Ya, Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami istihadhah yang deras sekali. Lalu bagaimana pendapatmu tentangnya  karena ia telah mengahalangiku shalat dan berpuasa  Beliau bersabda : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Aku beritahukan kepadamua [untuk menggunakan] kapas dengan melekatkannya pada farji, karena hal itu dapat menyerap darah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. Hamnah berkata : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Darahnya lebih banyak dari itu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. Nabipun bersabda : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;ini hanyalah salah satu usikan syetan. Maka hitunglah haidmu 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala, lalu mandilah sampai kamu merasa telah bersih dan suci, kemudian shalatlah selama 24 atau 23 hari dan puasalah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Menurut Ahmad dan At-Tirmidzi hadits ini shahih sedang menurut Al-Bukhari hasan]Sabda Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;6 atau 7 hari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; tersebut bukan untuk memberikan pilihan, tapi agar si wanita berijtihad dengan cara memperhatikan mana yang lebih mendekati kondisinya dari wanita lain yang lebih mirip kondisi fisiknya, lebih dekat usia dan hubungan kekeluargaannya serta memperhatikan mana yang lebih mendekati haid dari keadaan darahnya dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Jika kondisi yang lebih mendekati selama 6 hari, maka dia hitung masa haidnya 6 hari ; tetapi jika kondisi yang lebih mendekati selama 7 hari, maka dia hitung masa haidnya 7 hari.[Disalin dari buku Risalah Fid Dimaa&amp;#39; Ath-Thabii&amp;#39;iyah Lin-Nisa&amp;#39; Penulis Syaikh Muhammad bin Shaleh Al &amp;#39;Utsaimin, dengan edisi Indonesia Darah Kebiasaan Wanita hal 44 - 49  terbitan Darul Haq, Penerjemah Muhammad Yusuf Harin. MA]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1432&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1432&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4909567664401801096?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4909567664401801096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4909567664401801096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4909567664401801096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4909567664401801096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/makna-istihadhah-dan-kondisi-wanita.html' title='Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4430429774397917515</id><published>2008-07-11T05:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T05:43:03.668-07:00</updated><title type='text'>Dalil Ã¢â¬ËAqli (Akal) Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli/Nash Yang Shahih</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Dalil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqli (Akal) Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli/Nash Yang Shahih Dalil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqli [Akal] Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli/Nash Yang Shahih&lt;p&gt;Kategori Aqidah Ahlus Sunnah&lt;p&gt;Sabtu, 26 Februari 2005 14:21:50 WIBPENJELASAN KAIDAH-KAIDAH DALAM MENGAMBIL DAN MENGGUNAKAN DALILOlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasBagian Ketiga dari Enam Tulisan 3/6Penjelasan Kaidah Keenam&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Dalil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;aqli [akal] yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shahih.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Kata &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aql dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti [1],  di antaranya: Ad-diyah [denda], al-hikmah [kebijakan], husnut tasharruf [tindakan yang baik atau tepat]. Secara terminologi, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;aql [selanjutnya ditulis akal] digunakan untuk dua pengertian:[1].  Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia.[2]. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang.Akal merupakan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa hilang. Sifat ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya:&amp;quot;Artinya : ...dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;[2]Akal adalah insting yang diciptakan Allah Subahnahu wa Ta&amp;#39;ala kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah Azza wa Jalla.Firman-Nya:&amp;quot;Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Israa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;: 70]Syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Dan itu dapat dilihat pada beberapa point berikut:Pertama [3]:Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal, karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya.Allah Subahanahu wa Ta&amp;#39;ala berfirman:&amp;quot;Artinya :...Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal.&amp;quot; [Shaad: 43]Kedua [4] :Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif [beban kewajiban] dari Allah Azza wa Jalla. Hukum-hukum syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Dan di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya.Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda:&amp;quot;Artinya : Pena [catatan pahala dan dosa] diangkat [dibebaskan] dari tiga golongan; orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai bermimpi, orang gila sampai ia kembali sadar [berakal].&amp;quot;[5]Ketiga [6].Allah Azza wa Jalla mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala berfirman:&amp;quot;Artinya : Dan mereka berkata: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan [peringatan itu] niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala.&amp;quot; [Al-Mulk: 10]Keempat [7].Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam al-Qur-an, seperti tadabbur, tafakkur, ta-aqqul dan lainnya. Maka kalimat seperti &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;la&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;allakum tatafakkaruun&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [mudah-mudahan kamu berfikir], atau &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;afalaa ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;qiluun&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [apakah kamu tidak berakal], atau &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;afalaa yatadabbaruuna al-Qur&amp;#39;ana&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur&amp;#39;an] dan lainnya.Kelima.Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala berfirman:&amp;quot;Artinya : Dan apabila dikatakan kepada mereka: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami. [Apakah mereka akan mengikutinya juga] walau-pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk &amp;quot;[Al-Baqarah: 170]Perbedaan antara taqlid dan ittiba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ittiba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; adalah sese-orang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [8]Ibnu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Abdil Barr [wafat th. 463 H] dalam kitabnya, Jaami&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ul Bayanil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ilmi wa Fadhlihi [9] menerangkan perbedaan antara ittiba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; [mengikuti] dan taqlid yaitu terletak pada adanya dalil-dalil qath&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i yang jelas. Bahwa ittiba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; yaitu penerimaan riwayat berdasarkan diterimanya hujjah sedangkan taqlid adalah penerimaan yang ber-dasarkan pemikiran logika semata.Berkata Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki [namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Abdillah, wafat th. 390 H] : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Makna taqlid secara syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i adalah merujuk kepada perkataan yang tidak ada hujjah/dalil atas orang yang mengatakannya. Dan makna ittiba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah/dalil yang tetap. Ittiba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; diperkenankan dalam agama, namun taqlid dilarang.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [10]Jadi definisi taqlid adalah menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil.[11]Keenam [12]Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran.Allah Azza wa Jalla berfirman:&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : ..Sebab itu sampaikanlah berita [gembira] itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.&amp;quot; [Az-Zumar: 17-18]Ketujuh.Pembatasan wilayah kerja akal dan pikiran manusia sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.&amp;quot;Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ruh itu adalah urusan Rabb-ku. Dan tiadalah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.&amp;quot; [Al-Israa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;: 85]Firman Allah Azza wa Jalla :&amp;quot;Artinya : Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.&amp;quot; [Thaahaa: 110]Ulama Salaf [Ahlus Sunnah] senantiasa mendahulukan naql [wahyu] atas &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;aql [akal]. Naql adalah dalil-dalil syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i yang tertuang dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan akal ialah, dalil-dalil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;aqli yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan/mengalahkan dalil-dalil syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i.Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan rasio semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli [dalil syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i] yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka.Imam Abul Muzhaffar as-Sam&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ani Rahimahullah [wafat th. 489 H] [13] berkata: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ketahuilah, bahwa madzhab Ahlus Sunnah mengatakan bahwa akal tidak mewajibkan sesuatu bagi seseorang dan tidak melarang sesuatu darinya, serta tidak ada hak baginya untuk meng-halalkan atau mengharamkan sesuatu, sebagaimana juga tidak ada wewenang baginya untuk menilai ini baik atau buruk. Seandainya tidak datang kepada kita wahyu, maka tidak ada bagi seseorang suatu kewajiban agama pun dan tidak ada pula yang namanya pahala dan dosa.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal, di antaranya sebagai berikut :[14][1]. Syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at didahulukan atas akal, karena syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at itu ma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;shum sedang akal tidak ma&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;shum.[2]. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global, tidak bersifat detail.[3]. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at.[4]. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang berten-tangan dengan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at.[5]. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah [terinci seperti wajib, haram dan seterusnya] adalah hak prerogatif syariat.[6]. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk.[7]. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at.Allah Azza wa Jalla berfirman:&amp;quot;Artinya : Kami tidak akan meng&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul.&amp;quot; [Al-Israa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;: 15][8]. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at.[9]. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah Azza wa Jalla yang diten-tukan oleh akal kita kepada-Nya. Karena Allah mengatakan tentang diri-Nya:&amp;quot;Artinya :Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya&amp;quot; [Al-Buruuj: 16]Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi, akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan al-Qur&amp;#39;an dan as-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. Dan jika ia bertentangan dengan keduanya, maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Dan keruntuhan pondasi berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. Sehingga akal tidak lagi menjadi hujjah [argumen, alasan] namun berubah men-jadi dalil yang bathil.[15][Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#39;ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]_________Foote Note[1]. Lihat al-Madkhal li Diraasatil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidatil Islamiyyah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah [hal. 40].[2]. HR. Abu Dawud [no. 4403], Shahiih Sunan Abi Dawud [no. 3703] dan Irwaa-ul Ghaliil [II/5-6].[3]. Lihat al-Madkhal li Diraasatil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidatil Islamiyyah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah [hal. 40].[4]. Ibid, hal. 40.[5]. HR. Abu Dawud [no. 4403], Shahiih Sunan Abi Dawud [III/832 no. 3703].[6]. Lihat al-Madkhal li Diraasatil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidatil Islamiyyah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jamaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah [hal. 41].[7]. Ibid, hal. 41.[8]. Lihat Taarikh Ahlil Hadits Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;yiin al-Firqah an-Najiyah wa Annaha Tha-ifah Ahlil Hadits oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad ad-Dahlawi al-Madani, tahqiq oleh Syaikh &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ali bin Hasan al-Halaby hal. 116.[9]. Ibid, hal. 116.[10]. Ibid, hal. 117 dan Jaami&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; Bayanil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Ilmi wa Fadhlihi, tahqiq Abu Asybal az-Zuhairi [II/993].[11]. Lihat Manhaj Imam asy-Syafi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i fii Itsbaatil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidah [I/121] karya Dr. Muhammad bin &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Abdil Wahhab al-&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiil.[12]. Lihat al-Madkhal [hal. 41].[13]. Beliau adalah Abu Muzhaffar Manshuur bin Muhammad bin &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Abdil Jabbar as-Sam&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ani at-Taimi seorang ahli fikih, imam yang masyhur, beliau memiliki kitab-kitab tentang fikih dan ushul fikih serta hadits. Lihat al-Hujjah fi Bayyan al-Mahajjah [I/314] oleh Imam al-Ashbahani, tahqiq Muhammad bin Rabi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; bin Hadi &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Amir al-Madkhaly. Cet. Daar ar-Raayah, 1411 H[14]. Lihat al-Madkhal li Diraasatil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidatil Islamiyyah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jamaa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah [hal. 45].[15]. Lihat al-Madkhal li Diraasatil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqiidatil Islamiyyah &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah. hal. 46.&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1360&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1360&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Dalil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqli (Akal) Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli/Nash Yang Shahih diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Dalil &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Aqli (Akal) Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli/Nash Yang Shahih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4430429774397917515?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4430429774397917515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4430429774397917515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4430429774397917515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4430429774397917515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/dalil-aqli-akal-yang-benar-akan-sesuai.html' title='Dalil Ã¢â¬ËAqli (Akal) Yang Benar Akan Sesuai Dengan Dalil Naqli/Nash Yang Shahih'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-968546238085087653</id><published>2008-07-11T04:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T04:43:02.232-07:00</updated><title type='text'>Agama Islam Adalah Agama Yang Haq (Benar) Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Agama Islam Adalah Agama Yang Haq (Benar) Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad Agama Islam Adalah Agama Yang Haq [Benar] Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad&lt;p&gt;Kategori Aqidah Ahlus Sunnah&lt;p&gt;Selasa, 19 Juli 2005 08:28:28 WIBAGAMA ISLAM ADALAH AGAMA YANG HAQ [BENAR] YANG DIBAWA OLEH MUHAMMAD SHALLALLAHU &amp;#39;ALAIHI WA SALLAMOlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasDengan Islam, Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala mengakhiri  serta  menyempurnakan agama-agama lain untuk para hambaNya. Dengan Islam pula, Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala menyempurnakan kenikmatanNya dan meridhai Islam sebagai agama. Agama Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima Allah, kepercayaan selain Islam tidak akan diterima Allah.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Ali &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Imran: 85]Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk memeluk agama Islam karena Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Katakanlah: &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-KalimatNya [Kitab-Kitab-Nya] dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-A&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;raaf: 158]Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, tidaklah mendengar seorang dari ummat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya Muhammad, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya [Islam], niscaya dia termasuk penghuni Neraka.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;[1]Mengimani Nabi Muhammad Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam, artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan pada seluruh apa yang dibawanya bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib [paman Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam] termasuk kafir, yaitu orang yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam meskipun dia membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam dan dia membenarkan pula bahwa Islam adalah agama yang terbaik.Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang terkandung di dalam agama-agama terdahulu. Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan  sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi ummat.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab [yang diturunkan sebelumnya] dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain...&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;[Al-Maa-idah: 48]Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat dan kondisi ummat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan ummat bahkan, dengan Islam ini ummat akan menjadi baik, sejahtera, aman dan sentausa. Tetapi harus diingat bahwa Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi ummat sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila ummat manusia menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan tunduk dalam melaksanakan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at Islam.Agama Islam adalah agama yang benar, Allah menjanjikan kemenangan kepada orang yang berpegang teguh kepada agama ini dengan baik, namun dengan syarat mereka harus mentauhidkan Allah, menjauhkan segala perbuatan syirik, menuntut ilmu syar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i dan mengamalkan amal yang shalih.Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala  berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyu-kainya.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [At-Taubah: 33]&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang yang fasik.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [An-Nuur: 55]Islam adalah agama yang sempurna dalam &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;aqidah dan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at. Bentuk kesempurnaannya di antaranya adalah[1]. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik.[2]. Memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang bersikap bohong.[3]. Memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang bersikap zhalim.[4]. Memerintahkan untuk bersikap amanah dan melarang ingkar janji.[5]. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang bersikap khianat.[6]. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta me-larang mendurhakainya.Dan yang lainnya.Secara umum Islam memerintahkan agar berakhlak yang mulia, bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang burukAllah  Subahanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Sesungguhnya  Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;  [ An-Nahl: 90]Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Umar Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam bersabda&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Islam dibangun atas lima hal, [yaitu]; [1] bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, [2] dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, [3] menegakkan shalat, [4] membayar zakat, [5] berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah.&amp;quot;[2]Rukun Islam ini wajib diimani, diyakini dan wajib diamalkan oleh setiap muslim dan muslimah.Pertama: Kesaksian tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Azza wa Jalla dan Muhammad Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam  adalah hamba serta RasulNya merupakan keyakinan yang mantap, yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan ia dapat menyaksikanNya.Syahadah [kesaksian] merupakan satu rukun padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam adalah penyampai risalah dari Allah  Azza wa Jalla. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam  adalah hamba dan utusan Allah Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian Laa ilaha illa Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.Syahadatain [dua kesaksian] tersebut merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal akan sah dan diterima bila dilakukan dengan keikhlasan hanya karena Allah Azza wa Jalla dan mutaba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah [mengikuti] Sunnah Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam. Ikhlas karena Allah Azza wa Jalla  terealisasi pada Syahadat [kesaksian] laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Sedangkan mutaba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah atau mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam  terealisasi pada kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya.Faedah terbesar dari dua kalimat syahadat tersebut adalah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk dengan beribadah hanya kepada Allah saja serta tidak mengikuti melainkan hanya kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.Kedua: Mendirikan shalat artinya beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat wajib lima waktu secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya. Shalat harus sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Shalatlah kalian sebagaimana engkau melihatku shalat.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [3]Salah satu hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.[4]Ketiga: Mengeluarkan zakat artinya, beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla dengan menyerahkan kadar yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya.[5]Salah satu hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan harta, jiwa dan moral yang buruk, yaitu kekikiran serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan ummat Islam, menolong orang fakir dan miskin.Keempat: Puasa Ramadhan artinya, beribadah hanya kepada Allah dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan di siang hari di bulan Ramadhan [puasa sebulan penuh].Salah satu hikmahnya ialah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridha Allah Azza wa Jalla.Kelima: Naik Haji ke Baitullah [rumah Allah], artinya beribadah hanya kepada Allah dengan menuju ke al-Baitul Haram [Ka&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;bah di Makkah al-Mukarramah] untuk mengerjakan syiar atau manasik Haji.[6]Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah  Azza wa  Jalla. Oleh karena itu Haji merupakan salah satu macam jihad fi sabilillah.[7][Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama&amp;#39;ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]_________Foote Note[1]. HR. Muslim [I/134, no. 153], dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &amp;#39;anhu[2]. Mutafaqun &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi. HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Iman pada bab Qaulu Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallm: [&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#203;&amp;dagger;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#181;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#164;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#182;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#173;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#179; &amp;#195;&amp;fnof;&amp;#226;&amp;#161;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#186;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#161;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#226;&amp;#166;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#182;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#226;&amp;oelig;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#186;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#161;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#226;&amp;#161;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#179;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#163;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#181; &amp;#195;&amp;fnof;&amp;#197;&amp;#161;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#179;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#161;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#179;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#172; &amp;#195;&amp;fnof;&amp;#197;&amp;#189;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#179;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#163;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#186;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#226;&amp;oelig;&amp;#195;&amp;fnof;&amp;#194;&amp;#178;] no. 8, Muslim dalam Kitabul Iman bab Arkanul Islam no. 16, Ahmad [II/26, 93, 120, 143], at-Tirmidzi [no. 2609] dan an-Nasa-i [VIII/107][3]. HR. Al-Bukhari [no. 631], dari Shahabat Malik bin Khuwairits radhiyallahu &amp;#39;anhu[4]. Lihat QS. Al-Ankabut: 45.[5]. Lihat QS. Al-Baqarah: 43.[6]. Lihat QS. Ali &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Imran: 96.[7]. Diringkas dan ditambah dari kutaib Syarhu Ushuulil Iimaan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [hal. 4-10]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1490&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1490&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Agama Islam Adalah Agama Yang Haq (Benar) Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Agama Islam Adalah Agama Yang Haq (Benar) Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-968546238085087653?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/968546238085087653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=968546238085087653' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/968546238085087653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/968546238085087653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/agama-islam-adalah-agama-yang-haq-benar.html' title='Agama Islam Adalah Agama Yang Haq (Benar) Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-963326106924987001</id><published>2008-07-11T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T03:42:53.806-07:00</updated><title type='text'>Melihat Perempuan Yang Dilamar</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Melihat Perempuan Yang Dilamar &lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Pertanyaan :&lt;p&gt;Di antara faktor penyebab perceraian [thalak], wahai Syaikh yangterhormat, adalah suami tidak melihat istrinya sebelum menikahdengan-nya, padahal agama kita, Dienul-Islam membolehkan hal itukepada kita. Apa komentar Syaikh terhadap topik ini?&lt;p&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jawaban :&lt;p&gt;Tidak diragukan lagi bahwa tidak melihat calon istri sebelummenikahinya kadang-kadang menjadi salah satu sebab pemicu perceraianapabila ternyata suami menemukannya tidak seperti yang diberitakankepadanya. Maka dari itu Allah Subhannahu wa Ta&amp;#39;ala mensyariatkanbagi calon suami melihat perempuan [yang akan dinikahinya] sebelumpernikahan terjadi, selama hal itu bisa dilakukan. RasulullahShalallaahu alaihi wasalam bersabda, &lt;p&gt;Apabila seorang dari kalian meminang perempuan,maka jika memungkinkan melihat kepada apa yang mendorongnya untukmenikahinya, maka lakukanlah, sebab yang demikian itu lebih bisamenjamin kelanggengan hubungan di antara mereka berdua.&lt;p&gt;Hadits tersebut dinilai shahih oleh Al-Hakim yang bersumber darihadits Jabir Radhiallaahu anhu. Imam Ahmad, At-Turmudzi, An-Nai danIbnu Majah telah meriwayatkan dari sumber Al-Mughirah bin SyubahRadhiallaahu anhu., bahawasanya [ketika] ia meminang seorang perempuan,Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, &lt;p&gt;Lihatlah dia, karena yang demikian itu lebih bisamenjamin ke-langgengan hubungan di antara kalian berdua.&lt;p&gt;Imam Muslim meriwayatkan juga di dalam Shahih-nya hadits yangbersumber dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu., bahwasanya ada seoranglelaki mence-ritakan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalambahwasanya ia telah meminang seorang perempuan, maka RasulullahShalallaahu alaihi wasalam bersabda kepadanya, Apakah engkau telahmelihatnya.&lt;p&gt;Hadits-hadits di atas dan hadits lain yang semakna dengannya, semuamenunjukkan dibolehkan [bagi laki-laki] melihat perempuan yangdipinangnya sebelum akad nikah terlanjur dilaksanakan, karena yangdemikian itu lebih menguatkan hubungan dan akan lebih baik akibatnyadi kemudian hari. Itu merupakan bagian dari keindahan Syariat Islamyang datang dengan membawa segala apa yang menjadi maslahat dankebaikan bagi seluruh manusia dan kebahagiaan bagi masyarakat baik didunia maupun di akhirat kelak. Maha Suci Allah yang telahmensyariatkan dan menjelaskannya serta menjadikannya bagaikan bahteraNabi Nuh, yang siapa saja yang ikut mengendarainya pasti selamat dansiapa yang keluar darinya pasti binasa.&lt;p&gt;[ Fatwa Syaikh Ibnu Baz dimuat di dalam Majalah al-Dawah, tanggal4/4/1410. ]&lt;p&gt;Artikel Melihat Perempuan Yang Dilamar diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Melihat Perempuan Yang Dilamar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-963326106924987001?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/963326106924987001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=963326106924987001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/963326106924987001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/963326106924987001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/melihat-perempuan-yang-dilamar.html' title='Melihat Perempuan Yang Dilamar'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-36098594573050345</id><published>2008-07-11T02:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T02:42:51.217-07:00</updated><title type='text'>Kaffarat Orang Yang Menyetubuhi Istrinya, Bolehkah Memberi Makan Kepada Selain Kaum Muslimin ?</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Kaffarat Orang Yang Menyetubuhi Istrinya, Bolehkah Memberi Makan Kepada Selain Kaum Muslimin ? Kaffarat Orang Yang Menyetubuhi Istrinya, Bolehkah Memberi Makan Kepada Selain Kaum Muslimin &lt;p&gt;Kategori Puasa - Fiqih Puasa&lt;p&gt;Selasa, 26 Oktober 2004 22:11:49 WIBKAFFARAT ORANG YANG MENYETUBUHI ISTRINYAOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seorang yang berpuasa telah menyetubuhi istrinya, bolehkah ia memberi makan enam puluh orang miskin sebagai kaffaratnya .Jawaban.Barangsiapa yang menyetubuhi istrinya di siang hari Ramadhan padahal ia sendiri wajib berpuasa, maka ia wajib berkaffarat berupa memerdekakan hamba sahaya ; jika tak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut ; jika tak mampu, wajib memberi makan enam puluh orang miskin.Penanya mengatakan : &amp;quot;Bolehkah dirinya berkaffarat dengan cara memberi makan enam puluh orang miskin &amp;quot; Kami jawab : &amp;quot;Jika masih kuat berpuasa, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut&amp;quot;. Puasa dua bulan akan ringan bila seseorang bertekad ingin melakukannya kecuali jika malas. Segala Puji bagi Allah yang telah menjadikan bagi kita beberapa hal yang jika dilakukan akan dapat menghapus siksa akhirat. Karena itu, kepada saudara penanya, kami sarankan hendaklah saudara berpuasa berturut-turut jika tak ada hamba sahaya untuk di merdekakan. Puasa kaffarat tersebut boleh dilakukan pada musim hujan biar udara dingin dan sejuk. Kewajiban kaffarat tersebut berlaku pula bagi istrinya, jika bersetubuh atas kehendaknya sendiri, kecuali jika dipaksa. Bagi yang dipaksa tak wajib kaffarat dan qadla serta puasanya tetap sempurna.BERSETUBUH DI SIANG HARI RAMADHANPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana hukum orang yang bersetubuh di siang hari Ramadhan ..Jawaban.Jika ia termasuk orang yang boleh berbuka, seperti tengah menempuh suatu perjalanan, maka tidak mengapa bersetubuh. Dan jika keduanya tidak termasuk yang boleh berbuka, maka bersetubuh haram, berdosa serta wajib qadla. Di samping wajib qadla, iapun wajib memerdekakan hamba sahaya ; jika tak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut ; jika tak mampu, wajib memberi makan kepada enam puluh orang miskin. Kewajiban ini berlaku pula kepada istrinya, kecuali jika dipaksa melakukannya.BOLEHKAH MEMBERI MAKAN KEPADA SELAIN KAUM MUSLIMIN Pertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah memberi makan kepada selain muslimin dan berpakah macam orang sakit dalam berpuasa .Jawaban.Pertama, kami kemukakan bahwa sakit itu ada dua macam ; [a] sakit yang bisa diharapkan sembuh, maka hukumnya diterangkan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Orang yang sakit seperti ini hendaknya menunggu sembuh setelah itu baru berpuasa. Jika diperkirakan bahwa sakitnya akan berkepanjangan dan ternyata ia meninggal dunia sebelum sempat membayar puasanya, maka ia tak wajib mengqadlanya, sebab terburu mati, tak jauh berbeda dengan yang meninggal dunia pada bulan Sya&amp;#39;ban. [b] sakit yang tak kunjung sembuh, seperti kanker atau rematik, mag, pusing atau yang lainnya. Orang yang berpenyakit seperti ini boleh selamanya tak berpuasa dan digantikan kewajibannya dengan memberi makan seorang miskin pada setiap harinya. Yang berpenyakit seperti ini sama kedudukannya dengan orang yang sudah tua renta yang tak sanggup lagi berpuasa. Allah berfirman :&amp;quot;Artinya : Dan wajib bagi orang berat menjalankannya [jika mereka tida berpuasa] membayar fidyah, [yaitu] memberi makan seorang miskin&amp;quot;. [Al-Baqarah : 184]Itulah keringanan pertama bagi yang tak mampu berpuasa, namun akan lebih baik jika mereka tetap berpuasa menurut kelanjutan ayat di atas. Maka dalam hal ini ada pilihan antara berpuasa dan memberi fidyah. Kemudian puasa sendiri wajib pada ayat berikutnya [Al-Baqarah : 185]. Dengan demikian Allah menjadikan pemberian makanan sebagai imbangan puasa. Jika seseorang tak mampu berpuasa, baik pada bulan Ramadlan atau sesudahnya, maka kita kembalikan kepada imbangannya yaitu memberi fidyah. Karena itu, fidyah wajib bagi yang sakit tak kunjung sembuh atau kepada yang sudah tua renta yang tak sanggup berpuasa, baik dengan cara langsung diberikan kepada fakir miskin atau mereka yang diundang untuk makan sesuai dengan jumlah hari-hari puasa, seperti yang pernah dilakukan oleh Anas sewaktu tua.Kedua, jika orang yang hendak fidyah masih menemukan orang Islam yang miskin di negerinya, maka berika fidyah tersebut kepada mereka. Jika tidak ada orang Islamnya, maka fidyah hendaknya disalurkan kepada negara Islam yang membutuhkannya.WAJIB PUASA TANPA FIDYAHPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Saya nikah dengan seorang wanita yang punya hutang puasa Ramadlan sepuluh hari, apakah saya keluarkan fidyah untuknya karena diketahui ia bukan menjadi tanggunganku atau wajib bagi orang tuanya. Ia sendiri sekarang hamil delapan bulan, wajibkah ia berpuasa .Jawaban.Bismillahirahmanirrahim. Jika wanita tersebut melahirkan dan habis masa nifasnya, ia wajib berpuasa tanpa fidyah.FIDYAH ORANG SAKITPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah yang sakit tak kunjung sembuh wajib berpuasa atau fidyah. Jika wajib fidyah, apakah boleh dikeluarkan lebih dulu dan bolehkah diberikan kepada satu orang atau beberapa orang. Jika ia sembuh, wajibkah ia qadla atau tidak .[Mahmud Zaky Hawary, Amman]Jawaban.Jika sembuh dari penyakitnya, ia tak wajib berpuasa, sebab telah menunaikan kewajiban dan telah bebas.WAJIB QADLA ATAU MEMBERI FIDYAH BAGI YANG TIDAK BERPUASA KARENA SAKIT TERJATUHPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :Saya terkena musibah sakit terjatuh hingga tak dapat berpuasa Ramadlan karena terus berobat tiga kali sehari. Pernah pula saya puasa dua hari namun tak mungkin meneruskannya. Akan tetapi, saya seorang pensiunan yang bergaji sekitar 83 dinar perbulan dengan seorang istri dan tak ada penghasilan lain, maka bagaimana hukumnya bila saya tak mungkin memberi makan kepad tiga puluh orang miskin selama bulan Ramadlan dan sebanyak apa yang mesti saya keluarkan .Jawaban.Jika penyakitnya bisa diharapkan sembuh pada suatu hari, maka tunggullah sampai hilang sakitnya lalu berpuasa sebagaimana firman Allah [Al-Baqarah : 185]. Dan jika penyakitnya tak ada harapan sembuh, maka wajib mengeluarkan makanan kepada seorang miskin pada setiap harinya atau dibuatkan makanan lalu diundang seorang miskin untuk menikmatinya selama hari-hari puasa yang ditinggalakannya. Dengan demikian, tanggung jawab seseorang terpenuhi. Saya kira hal seperti ini akan mampu dilakukan oleh setiap orang. Jika tak mampu memberikannya selama satu bulan, maka boleh dicicil dalam beberapa bulan sesuai dengan kemampuan.[Disalin dari buku 257 Tanya Jawab Fatwa-Fatwa Al-Utsaimin, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, hal.227-230, terbitan Gema Risalah Press, alih bahasa Prof,Drs.KH.Masdar Helmy]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1145&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1145&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Kaffarat Orang Yang Menyetubuhi Istrinya, Bolehkah Memberi Makan Kepada Selain Kaum Muslimin ? diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Kaffarat Orang Yang Menyetubuhi Istrinya, Bolehkah Memberi Makan Kepada Selain Kaum Muslimin ?.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-36098594573050345?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/36098594573050345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=36098594573050345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/36098594573050345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/36098594573050345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/kaffarat-orang-yang-menyetubuhi.html' title='Kaffarat Orang Yang Menyetubuhi Istrinya, Bolehkah Memberi Makan Kepada Selain Kaum Muslimin ?'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-5262236257838836179</id><published>2008-07-11T01:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T01:42:43.187-07:00</updated><title type='text'>Suami Saya Melemparkan Sumpah Talak Kepada Saya Dengan Ucapan : Kamu Haram Bagiku Sebagaimana Ibuku</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Suami Saya Melemparkan Sumpah Talak Kepada Saya Dengan Ucapan : Kamu Haram Bagiku Sebagaimana Ibuku Suami Saya Melemparkan Sumpah Talak Kepada Saya Dengan Ucapan : Kamu Haram Bagiku Sebagaimana Ibuku&lt;p&gt;Kategori Sumpah Dan Nadzar&lt;p&gt;Senin, 12 September 2005 13:32:12 WIBSUAMI SAYA MELEMPARKAN SUMPAH TALAK KEPADA SAYA DENGAN UCAPAN : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;KAMU HARAM BAGIKU SEBAGAIMANA IBUKU&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;.OlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaan.Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Suamiku melemparkan sumpah talak kepada saya, dengan ucapannya : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Kamu haram bagiku sebagiaman ibuku dan saudariku&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. Maka terjadi hal tersebut kemudian kami rujuk kembali sedangkan saya dalam keadaan hamil di bulan ketujuh dan keluargaku menghukuminya untuk memberi makan tiga puluh orang fakir miskin sebelum saya melahirkan. Sekarang saya telah melahirkan sejak dua bulan yang lalu sedangkan keadaan suamiku dalam keadaan sulit padahal dia berniat untuk dengan keharusan memberi makan 30 orang fakir miskin tapi ia belum mampu memberi makan mereka sampai sekarang. Sedangkan saya seorang wanita muslimah yang beragama dan takut akan adzab Allah, takut terjerumus ke dalam sesuatu yang haram bersama suamiku. Saya meminta penjelasan dari pertanyaan ini.JawabanKata-kata yang dinyatakan oleh suami kepada Anda bukanlah talak tetapi zhihar karena dia berkata : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Kamu haram untukku sebagaimana ibuku dan saudariku&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Zhihar &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;seperti telah digambarkan oleh Allah Azza wa Jalla- adalah kata-kata kemunkaran dan dusta, maka suami Anda harus bertaubat kepada Allah atas apa yang diperbuatnya dan ia tidak boleh untuk bersenggama dengan Anda hingga ia melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla. Allah telah berfirman dalam masalah kafarat zhihar.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Orang-orang yang menzihar istrinya, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan budak, maka ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka barangsiapa yang tidak kuasa hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Mujadilah : 2-3]Maka ia tidak boleh mendekati anada dan bercumbu rayu dengan Anda hingga ia mengerjakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Dan Anda juga tidak boleh memberi peluang untuk hal tersebut sampai dia mengerkalan apa yang duperintahkan oleh Allah. Adapun perkataan keluarga sang istri bahwa ia harus memberi makan 30 orang fakir miskin adalah salah karena sesungguhnya ayat tersebut &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;sebagaimana yang Anda ketahui- menunjukkan bahwa ia wajib membebaskan budak. Apabila tidak menemukannya maka ia harus puasa dua bulan berturut-turut. Apabila tidak mampu maka hendaklah ia memberi makan 60 orang miskin. Membebaskan budak berarti ia harus membebaskan budak belian dari perbudakan.Puasa dua bulan berturut-turut berarti ia harus berpuasa dua bulan secara sempurna, tidak membatalkan puasa antara dua bulan itu sama sekali walaupun satu hari kecuali karena ada udzur yang memperbolehkannya seperti sakit atau bepergian. Namun apabila ia telah hilang udzurnya maka ia harus melanjurkan puasanya dan menyempurnakannya.Adapun memberi makan enam puluh orang miskin maka ia mempunyai dua cara untuk melaksanakannya.Pertama : Ia harus membuat makanan kemudian mengundang orang-orang miskin untuk memakannya.Yang kedua : Ia harus membagi-bagikan beras dan semisalnya dari makanan pokok mausia kepada mereka, setiap orang mendapat satu mud gandum dan semisalnya serta setengah sha&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162; selain makanan pokok.[Fatawa Nur A&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;laa Ad-Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 111][Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah Lil Mar&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1572&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1572&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Suami Saya Melemparkan Sumpah Talak Kepada Saya Dengan Ucapan : Kamu Haram Bagiku Sebagaimana Ibuku diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Suami Saya Melemparkan Sumpah Talak Kepada Saya Dengan Ucapan : Kamu Haram Bagiku Sebagaimana Ibuku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-5262236257838836179?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/5262236257838836179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=5262236257838836179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5262236257838836179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/5262236257838836179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/suami-saya-melemparkan-sumpah-talak.html' title='Suami Saya Melemparkan Sumpah Talak Kepada Saya Dengan Ucapan : Kamu Haram Bagiku Sebagaimana Ibuku'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-2201656087242805339</id><published>2008-07-11T00:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T00:42:39.378-07:00</updated><title type='text'>Menghitung Zakat Perhiasan Dan Cara Mengeluarkannya</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Menghitung Zakat Perhiasan Dan Cara Mengeluarkannya Menghitung Zakat Perhiasan Dan Cara Mengeluarkannya&lt;p&gt;Kategori Zakat&lt;p&gt;Rabu, 3 Maret 2004 23:06:02 WIBMENGHITUNG ZAKAT PERHIASAN DAN CARA MENGELUARKANNYAOlehSyaikh Abdullah Shalih Al-FauzanPertanyaanSyaikh Abdullah Shalih Al-Fauzan ditanya : Bagaimanakah seorang wanita menghitung perhiasannya yang hendak ia keluarkan zakatnya  Apakah berdasarkan nilainya atau beratnya  Apakah ia harus mengeluarkan zakat dalam bentuk emas yang sejenis ataukah dalam bentuk uang yang senilai  Dan bagaimanakah ukuran nishab dan zakatnya itu JawabanJika perhiasan diproyeksikan untuk perniagaan atau bukan untuk digunakan, maka wajib mengeluarkan zakat dari perhiasan itu, ini adalah pendapat yang tidak diperselisihkan oleh ulama.Zakat yang dikeluarkan adalah berupa nilai dari harga perhiasan itu jika diproyeksikan untuk perniagaan [diperjual belikan], maka nilai yang harus dikeluarkan adalah dua setengah persen dari harga perhiasan itu.Adapun jika emas perhiasan itu tidak untuk dipakai dan tidak untuk diperjual belikan melainkan hanya berjaga-jaga [simpanan] maka zakat dari perhiasan adalah beratnya, dengan demikian jika berat emas perhiasan itu telah mencapai sembilan puluh dua gram, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah dua setengah persen dari berat emas yang ada, dan boleh baginya untuk mengeluarkan emas yang akan dizakatkan itu dalam bentuk uang atau perak seharga emas yang akan dikeluarkan.[Kitab Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, 3/108-109]ZAKAT EMAS YANG DIPROYEKSIKAN UNTUK DIPINJAMKANOlehAl-Lajnah Ad-Daimah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apakah wajib zakat pada emas yang digunakan wanita atau untuk dipinjamkan pada rekannya tanpa imbalan . Jika diwajibkan menzakatinya, bagaimana cara menzakatinya .JawabanWajib zakat  pada perhiasan yang digunakan wanita untuk berhias atau untuk dipinjamkan, baik berupa emas ataupun perak, karena kedua jenis barang itu termasuk dalam keumuman dalil yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang mewajibkan zakat pada emas dan perak, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala.&amp;quot;Artinya : Dan orang-orang yang menuyimpan emas dan perak dan tidak menafakahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka [bahwa mereka akan medapat] siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka [lalu dikatakan] kepada mereka : &amp;#39;Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang [akibat dari] apa yang kamu simpan&amp;quot;. [At-Taubah : 34-35]Dan sebagaimana yang dinyatakan dari Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.&amp;quot;Artinya : Tidaklah orang yang memiliki emas dan perak yang tidak memenuhi haknya, kecuali pada hari Kiamat nanti dibuatkan baginya lempengan-lempengan yang terbuat dari api, lalu dipanaskan dalam neraka Jahannam, kemudian ia disetrikakan oleh itu pada bagian lambungnya, dahinya, dan punggungnya, setiap kali lempengan itu dingin maka akan dipanaskan seperti semula, yang mana satu harinya seukuran lima puluh ribu tahun, hingga Allah menentukan ketetapan-Nya bagi hamba-hambanya, dan setelah itu ia akan mengetahui jalannya, menuju Surga atau ke Neraka&amp;quot;.Juga berdasarkan hadits Abdullah bin Amr bin Al-&amp;#39;Ash : Bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam, ia bersama anak perempuannya yang ditangannya terdapat dua gelang emas yang tebal, maka Rasulullah Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;quot;Artinya : Apakah engkau telah menzakati ini ., wanita itu menjawab : &amp;quot;Tidak&amp;quot;, beliau bersabda : &amp;quot;Apakah engkau senang jika Allah memberimu gelang karena itu pada hari Kiamat nanti terbuat dari api Neraka&amp;quot;. Abdullah berkata : Maka wanita itu memberikan kedua gelang itu kepada Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam dan berkata : &amp;quot;Keduanya untuk Allah Subhanahu wa Ta&amp;#39;ala dan Rasul-Nya&amp;quot;.[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 16/122]MENGELUARKAN ZAKAT SESUAI NILAI HARGA BERATNYAOlehAl-Lajnah Ad-Daimah Lil IftaPertanyaanAl-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Dalam mengeluarkan zakat perhiasan, apakah dibolehkan dengan ukuran harga perhiasan itu ataukah harus dengan ukuran beratnya saat mengeluarkan zakatnya sesuai dengan harga berat emas tersebut .JawabanZakat perhiasan tidak dikeluarkan dengan ukuran harga saat dibelinya melainkan zakat tersebut dikeluarkan sesuai dengan harga berat perhiasan saat tiba masanya kewajiban mengeluarkan zakat yaitu setelah satu tahun. [ibid, 21/63][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami&amp;#39;ah Lil Mar&amp;#39;atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 204- 209, penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=368&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=368&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Menghitung Zakat Perhiasan Dan Cara Mengeluarkannya diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Menghitung Zakat Perhiasan Dan Cara Mengeluarkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-2201656087242805339?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/2201656087242805339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=2201656087242805339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2201656087242805339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/2201656087242805339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/menghitung-zakat-perhiasan-dan-cara.html' title='Menghitung Zakat Perhiasan Dan Cara Mengeluarkannya'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-1798368997022119676</id><published>2008-07-10T23:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T23:42:34.153-07:00</updated><title type='text'>Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Shalat Di Masjidil Haram Atau Di Rumah</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Shalat Di Masjidil Haram Atau Di Rumah Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Shalat Di Masjidil Haram Atau Di Rumah&lt;p&gt;Kategori Wanita - Fiqih Shalat&lt;p&gt;Kamis, 12 Februari 2004 07:41:39 WIBMANAKAH YANG LEBIH UTAMA BAGI WANITA PADA BULAN RAMADHAN, MELAKSANAKAN SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAHOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaanSyaikh Ibnu Utsaimin ditanya : Bagi kaum wanita khsususnya yang melakukan umrah di bulan Ramadhan, dalam pelaksanaan shalat, baik itu shalat fardhu ataupun shalat tarawih, manakah yang lebih utama bagi mereka, melaksanakan di rumah atau di Masjidil Haram JawabanSunnah Rasul Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam menunjukkan bahwa yang lebih utama bagi seorang wanita adalah melaksanakan shalat di dalam rumahnya, di mana saja ia berada, baik di rumahnya, di Mekkah ataupun di Madinah, karena itulah Nabi Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam bersabda.&amp;quot;Artinya : Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk mendatangi masjid-masjid Allah, walaupun sesungguhnya rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka&amp;quot;.Beliau mengucapkan sabda ini saat beliau berada di Madinah, sedangkan saat itu beliau telah menyatakan bahwa shalat di Masjid Nabawi [Masjid di Madinah] terdapat tambahan kebaikan, mengapa beliau melontarkan sabda yang seperti ini  Karena jika seorang wanita melakukan shalat di rumahnya maka hal ini adalah lebih bisa menutupi dirinya dari pandangan kaum pria asing kepadanya, dan dengan demikian ia lebih terhindar dari fitnah. Maka shalatnya seorang wanita di dalam rumahnya adalah lebih baik dan lebih utama.[Al-Fatawa Al-Makkiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin, halaman 26]SHALATNYA KAUM WANITA YANG SEDANG UMRAH DI BULAN RAMADHANOlehSyaikh Muhammad bin Shalih Al-UtsaiminPertanyaanSyaikh Ibnu Utsaimin ditanya : Manakah yang lebih utama bagi seorang wanita, melaksanakan shalat pada malam-malam Ramadhan di rumahnya atau di masjid, dengan pertimbangan bahwa jika seorang wanita melakukan shalat di masjid maka ia akan medapatkan siraman-siraman rohani dari penceramah masjid. Dan apa saran Anda bagi kaum wanita yang melaksanakan shalat di masjid-masjid JawabanYang lebih utama dan lebih baik bagi seorang wanita adalah melaksanakan shalat di rumahnya, berdasarkan keumuman makna yang terdapat sabda Rasul Shallallahu &amp;#39;alaihi wa sallam.&amp;quot;Artinya : ... Namun ruamh-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka [kaum wanita]&amp;quot;Karena keluarnya mereka dari rumah mereka lebih dapat menimbulkan fitnah daripada mereka tidak keluar rumah, maka keberadaan wanita di dalam rumah adalah lebih baik bagi mereka daripada mereka pergi keluar untuk shalat di masjid. Adapun siraman-siraman rohani masih mungkin mereka dapatkan melalui rekaman-rekaman kaset. Saran saya bagi kaum wanita melalui rekaman-rekaman kaset. Saran saya bagi kaum wanita yang melaksanakan shalat di masjid, adalah hendaknya mereka keluar dari rumah mereka dengan tidak berdandan dengan tidak berhias [bersolek] dan tidak pula  memakai wangi-wangian.[Al-Fatawa Al-Makiyah, Syaikh Ibnu Utsaman, halaman 26][Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami&amp;#39; ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia  Fatawa-Fatawa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan terbitan Darul Haq  hal. 146-147  penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=178&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=178&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Shalat Di Masjidil Haram Atau Di Rumah diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Shalat Di Masjidil Haram Atau Di Rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-1798368997022119676?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/1798368997022119676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=1798368997022119676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1798368997022119676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/1798368997022119676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/manakah-yang-lebih-utama-bagi-wanita.html' title='Manakah Yang Lebih Utama Bagi Wanita Pada Bulan Ramadhan, Shalat Di Masjidil Haram Atau Di Rumah'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-504990623729145421</id><published>2008-07-10T22:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T22:42:26.392-07:00</updated><title type='text'>Tawassul 1/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Tawassul 1/2 Tawassul 1/2&lt;p&gt;Kategori Tauhid&lt;p&gt;Senin, 2 Agustus 2004 21:57:37 WIBTAWASSULOlehLajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal IftaBagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]PertanyaanLajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya :  Di negeri kami terdapat kuburan seseorang yang disebut-sebut sebagai orang shalih. Diatas kuburan itu dibangun sebuah bangunan yang indah dan dihiasi dengan hiasan-hiasan yang sempurna. Ada orang-orang yang menjadi penunggunya yang disebut sebagai pewaris jabatan penunggu kubur tersebut secara turun temurun. Mereka menyeru manusia dengan berkata : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Sesungguhnya penghuni kuburan ini pada malam ini telah berkata begini dan begitu, dan meminta ini&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. Orang-orang yang tinggal di sekitar kuburan itu kemudian terpikat hatinya dan meyakini setiap yang dikatakan penunggu kuburan tersebut. Akhirnya, mereka melakukan taqarrub [mendekatkan diri], thawaf [berkeliling], dan penyembelihan hewan [di kuburan tersebut] serta hal-hal lain. Apa hukum mereka yang meyakini bahwa wali [penghuni kuburan] tersebut mampu mendatangkan manfaat atau madharat  Apa saja kewajiban orang yang mengetahui bahwa hal-hal yang seperti itu bertentangan dengan syariat, sementara dia tinggal bersama mereka Jawaban.Petunjuk Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam tenatng ziarah kubur telah dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shahih. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahih-nya dari Buraidah Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu, dia berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam sering mengajarkan kepada mereka [para sahabatnya] jika mendatangi pekuburan agar mengucapkan.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Keselamatan atas kalian, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Kalian adalah pendahulu kami. Aku meminta kepada Allah kesejahteraan untuk kami dan kalian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Ahmad II/300, 375,408. V/353,359,360. VI/71,76,111,180,221. Muslim dengan Syarh Nawawi VII/44,45. Nasa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;i IV/94 dan Ibnu Majah I/494]Imam Ahmad dan Tirmidzi &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;dan dia menyatakan hasan- meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu, ia berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam melewati pekuburan Madinah, maka beliau menghadapkan wajahnya ke arah pekuburan itu dan berkata.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Keselamatan atas kalian, wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian pendahulu kami dan kami akan mengikuti&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Tirmidzi III/369]Para Khalifah yang Empat dan sahabat Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam yang lain serta Tabi&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;in yang mengikuti mereka dengan baik telah menjalankan petunjuk Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam tersebut.Mereka yang mendatangi penghuni kubur itu, jika mereka melakukannya untuk berdoa kepada Allah di sisi kubur tersebut dengan sangkaan bahwa yang demikian itu lebih bermanfaat dalam berdo&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;a, sekaligus dengan tujuan ber-tawassul [menjadikannya sebagai perantara] dan meminta syafaat dengannya, maka yang demikian ini tidak ada dalam syariat agama. Sedangkan wasilah [sarana/perantara] memiliki hukum yang sama dengan hukum tujuan dalam hal pelarangan. Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Katakanlah, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Serulah mereka yang kamu anggap [sebagai sesembahan] selain Allah, mereka tidak memiliki [kekuasaan] seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam [penciptaan] langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Saba : 22]Ayat ini menunjukkan bahwa [ilah/sesembahan] yang diseru [selain Allah] bisa jadi memiliki [kekuasaan di langit dan bumi] atau bisa pula tidak. Jika dia tidak memiliki, maka bisa jadi dia adalah sekutu [bagi Allah dalam kekuasaanNya itu], atau bisa juga bukan. Jika dia bukan sekutu [bagi Allah], bisa jadidia pembantu [bagi Allah], atau bisa juga bukan. Jika dia bukan pembantu [bagi Allah], maka bisa jadi dia adalah pemberi syafaat tanpa &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;harus mendapat- izin dari Allah, atau bisa pula bukan. Dan keempat macam [yang diseru] ini adalah batil, tidak bisa diterima. Lalu yang terakhir jelas bahwa pemberi syafaat tidaklah dapat memberi syafaat melainkan denan izin-Nya [dan ini syarat pertama, pent]. Sedangkan firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala yang berikut.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan mereka tidak memberi syafa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Anbiya : 28]Menunjukkan bahwa keridhaan Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala kepada yang disyafaati &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;juga- merupakan sarat. Inilah dua syarat [dalam memperoleh] syafaat.Para sahabat Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ajmain dahulu tidaklah ber-tawassul dengan zat Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam. Yang mereka lakukan adalah meminta Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam supaya mendo&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;akan mereka. Jadi, memita tolong kepada orang yang hadir [ada di tempat], masih hidup lagi mampu memberi bantuan adalah dibolehkan, namun tidak boleh meminta sesuatu yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Ini untuk orang yang masih hidup. Adapun orang yang sudah mati, tidak boleh ber-tawassul dan meminta syafaat kepadanya secara mutlak, bahkan itu merupakan salah satu di antara perantara-perantara menuju kesyirikan.Adapun orang yang ber-I&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;tikaf [tinggal berdiam] di kuburan tersebut, maka [keadaannya] tidak lepas dari dua perkara yang berikut.Pertama.Tujuannya, ber-it&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ikaf disana adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala, maka yang seperti ini tidak boleh dilakukan karena padanya terkumpul dua bentuk kemaksiatan [penyelewengan], yaitu bermaksiat ber-ukuf [tinggal dikuburan] dan maksiat beribdah kepada Allah di kuburan karena yang demikian itu merupakan wasilah [mengantarkan kepada] syirik yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.Adapun tentang keharaman ber-&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ukuf, Tirmidzi di dalam kitab Jami-nya dalam sebuah hadits yang dinyatakan shahih meriwayatkan dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam menujua Hunain ketika kami belum lama [meninggalkan] kekafiran. Sementara itu, orang-orang musyrik memiliki sebatang Sidrah [jenis pohon] yang biasa mereka  jadikan tempar ber-ukuf [berdiam] dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, yang mereka sebut dengan Dzatu Anwat, maka [ketika] kami melewati sebatang pohon Sidrah [yang lain], kami berkata : &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Ya Rasulullah Shalallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam adakan untuk kami Dzatu Anwat sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwat, maka berkata Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi was allam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Allahu Akbar, sesungguhnya yang demikian adalah tradisi. Perkataan kalian, demi zat yang jiwaku di tangannya, sebegaimana perkataan Bani Israil kepada Musa. &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Jadikan untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan. [Musa] berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh [1]&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Ahmad V/218, Tirmidzi IV/475]Nabi Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam mengabarkan bahwa perkara yang mereka minta, yaitu menjadikan pohon sebagai temopat &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ukuf [berdiam] dan menggantungkan senjata untuk mendapatkan berkah, adalah serupa dengan permintaan yang diajukan oleh Bani Israil kepada Musa &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Alaihis Salam, maka demikian pula &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;ukuf [berdiam] di kubur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;anhu, dia berkata, &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Telah bersabda Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan dan jangan jadikan kuburku senagai tempat perayaan, dan bersalawatlah atasku, sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku bagaimanapun keadaan kalian&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Hadits Riwayat Tirmidzi V/157, Abu Dawud II/534, dan Ibnu Majah I/348 di dalam Sunan][Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;imah 1/1492-498, Fatwa no. 315 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 3/I/Dzulqa&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;dah  1423H]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=954&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=954&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Tawassul 1/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Tawassul 1/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-504990623729145421?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/504990623729145421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=504990623729145421' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/504990623729145421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/504990623729145421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/tawassul-12.html' title='Tawassul 1/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-4592483218573217858</id><published>2008-07-10T21:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T21:42:21.439-07:00</updated><title type='text'>Hukum Penyanderaan Dan Pembajakan Pesawat 1/2</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hukum Penyanderaan Dan Pembajakan Pesawat 1/2 Hukum Penyanderaan Dan Pembajakan Pesawat 1/2&lt;p&gt;Kategori Al-Irhab = Terorisme&lt;p&gt;Jumat, 8 Juli 2005 06:59:44 WIBHUKUM PENYANDERAAN DAN PEMBAJAKAN PESAWATOlehSyaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin BazBagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau.Amma ba&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;duTelah diketahui bersama bagi orang-orang yang memiliki akal bahwasanya membajak pesawat dan menyandera orang merupakan bentuk tindakan kriminal yang menimbulkan kerugian dan bahaya yang besar serta menyusahkan orang-orang tak berdosa dan mengganggu mereka yang pelindungnya tidak lain adalah Allah.Seperti juga dipahami bahwasanya dampak dari tindakan krminal tersebut tidak hanya menimpa suatu negara dan satu kelompok saja, akan tetapi menimbulkan pengaruh bagi semuanya, apalagi jika tindakan kriminalitasnya yang keji seperti ini [pembajakan dan penyanderaan]. Maka wajiblah bagi pemerintah dan pihak yang berwenang dari para ulama untuk memberikan perhatian yang sangat, dan bersungguh-sungguh untuk mencegah dampak buruknya serta memberikan penyelesaian terhadapnya.Sungguh Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala telah menurunkan kitabNya yang mulia sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin, dan Allah telah mengutus NabiNya Muhammad Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi sekalian alam, menjadikan beliau sebagai hujjah bagi sekalian makhluk dan Allah mewajibkan atas seluruh jin dan manusia untuk berhukum dengan syariatNya dan mengembalikan segala perselisihan yang  terjadi di tengah mereka kepada kitabNya dan sunnah RasulNya Muhammad Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perlselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [An-Nisa : 65]Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan [hukum] siapakah yang lebih baik daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Maidah : 50]Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;atilah Allah dan ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah [Al-Qur&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;an] dan Rasul [sunnahnya], jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [An-Nisa : 59]Para ulama &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;semoga Allah merahmati mereka- telah sepakat bahwasanya yang dimaksud dengan menentang Allah adalah dengan menentang kitabNya yang mulia dan bahwa menentang beliau pada masa hidupnya dan menentang sunnah beliau yang shahih setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam,  Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala berfirman.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya [terserah] kepada Allah&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194;. [Asy-Syura : 10]Ayat ini berserta maknanya menunjukkan wajibnya mengembalikan segala apa yang diperselisihkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala, dan kepada RasulNya Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam. Maksudnya adalah mengembalikannya kepada hukum Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala dan memperingatkan dari menyelisihiNya dalam segala perkara.Pembajakan pesawat merupakan perkara yang paling penting yang bahaya dan kejelekannya berlaku secara menyeluruh, maka wajib bagi negara yang menjadi tempat para pembajak untuk menghukum mereka dengan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at Allah mengingat dampak yang ditimbulkan dari tindakan kotor mereka yang melanggar hak-hak Allah, hak hambaNya, menimbulkan bahaya dan kerugian yang besar. Dan tidak ada solusi untuk menyelesaikan dan mencegah akibat buruknya kecuali solusi yang telah diberikan oleh Yang Maha Bijaksana dan Maha Pemurah di dalam kitabNya yang Mulia dan apa yang digiatkan oleh orang-orang paling baik [dalam menasehati] dan paling mulia serta paling pemurah, penghulunya manusia Muhammad Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam atasnya sebaik-baik shalawat dan salam dari Rabbnya.Itulah solusi yang wajib dipahami bagi si pembajak dan yang dibajak serta orang-orang yang mempunyai hubungan dengan hal itu, semoga pintu hati mereka terbuka jika mereka orang-orang yang beriman, jika bukan orang-orang yang beriman maka Allah telah memerintahkan kepada NabiNya Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam untuk menghukumi mereka dengan syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;at Islam seperti pada firmanNya.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [A;-Maidah : 49]Dan firmanNya&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah [perkara itu] di antara mereka dengan adil&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [Al-Maidah : 42]Berdasarkan apa yang telah kami kemukakan, maka wajib bagi negara tempat berlindungnya para pembajak untuk melakukan hal-hal sebagai berikut : Membentuk lembaga yang tediri dari para ulama Islam untuk meneliti permasalahan ini, mempelajarinya dari segala aspek, kemudian memberikan putusan hukum yang sesuai dengan syariat Allah. Dan seyogyanya para ulama memberikan putusan hukum dengan dalil-dalil dari kitabullah dan Sunnah RasulNya, dan mengambil penjelasan para ulama berkenaan dengan ayat Al-Muharabah dalam surat Al-Maidah dan penjelasan para ulama madzhab mengenai [bab : hukum terhadap para pengacau atau perompak], setelah itu baru mengeluarkan hukuman bagi mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap dalil-dalil syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah.Dan bagi negara yang menjadi tempat berlindungnya para pembajak hendaklah melaksanakan hukum secara syari&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ah [Islam] sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, memuliakan perintahNya, mencegah menyebarnya tindakan kriminal ini, mewujudkan terciptanya rasa aman serta sebagai bentuk kasih sayang kepada orang-orang yang dibajak dan memberikan keadilan kepada mereka.Adapun undang-undang yang merupakan hasil karya manusia tanpa ada dasarnya dari kitab Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala dan Sunnah RasulNya Shallallahu &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;alaihi wa sallam tidak dibenarkan bagi umat Islam untuk berhukum dengannya. Sebagian yang lain tidaklah lebih mulia dari yang lainnya, karena semuanya merupakan hukum jahiliyah dan hukum thaghut yang Allah telah memperingatkannya dan menisbatkannya kepada kaum munafiq yang cenderung berhukum kepada thaghut seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;ldquor;&amp;#162;ala.&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#197;&amp;quot;Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu  Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka [dengan] penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka ; &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#203;&amp;oelig;Marilah kamu [tunduk] kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul, niscaya kalian lihat orang-orang munafik menghalangi [manusia] dengan sekuat-kuatnya dari [mendekati] kamu&amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#194; [An-Nisa : 60-61]Maka tidaklah dibenarkan bagi umat Islam untuk menyerupai musuh-musuh Allah yaitu kaum munafiqin yang ingin berhukum kepada selain Allah dan juga menghalangi manusia dari hukum Allah dan RasulNya.[Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]&lt;p&gt;Sumber : &lt;a href="http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1478&amp;amp;bagian=0"&gt;http://almanhaj.or.id/index.phpaction=more&amp;amp;article_id=1478&amp;amp;bagian=0&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Artikel Hukum Penyanderaan Dan Pembajakan Pesawat 1/2 diambil dari &lt;a href="http://www.asofwah.or.id"&gt;http://www.asofwah.or.id&lt;/a&gt;&lt;br&gt;Hukum Penyanderaan Dan Pembajakan Pesawat 1/2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4299859607696724339-4592483218573217858?l=kumpulanartikelislami.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/feeds/4592483218573217858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4299859607696724339&amp;postID=4592483218573217858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4592483218573217858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4299859607696724339/posts/default/4592483218573217858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulanartikelislami.blogspot.com/2008/07/hukum-penyanderaan-dan-pembajakan.html' title='Hukum Penyanderaan Dan Pembajakan Pesawat 1/2'/><author><name>Artikel Islam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04171473467327406776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4299859607696724339.post-3610236052398257298</id><published>2008-07-10T20:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T20:42:16.006-07:00</updated><title type='text'>Hakimiyah Termasuk Pelengkap Dakwah Politik</title><content type='html'>Kumpulan Artikel Islami&lt;p&gt;Hakimiyah Termasuk Pelengkap Dakwah Politik Hakimiyah Termasuk Pelengkap Dakwah Politik&lt;p&gt;Kategori Tauhid&lt;p&gt;Minggu, 22 Februari 2004 16:16:53 WIBPENGGUNAAN KATA HAKIMIYAH TERMASUK PELENGKAP DAKWAH POLITIKOlehSyaikh Muhammad Nashiruddin Al-AlbaniSyaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : &amp;quot;Wahai Syaikh kami &amp;#195;&amp;#162;&amp;#226;&amp;lsquor;&amp;#172;&amp;#226;&amp;oelig;semoga Allah memberkahimu- para ulama salaf -semoga rahmat Allah atas mereka-menyebutkan bahwa tauhid ada tiga macam yaitu ; Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa Sifat. Maka, apakah dibenarkan jika kita mengucapkan bahwa di sana terdapat tauhid yang keempat yaitu &amp;#39;Tauhid Hakimiyah&amp;#39; atau &amp;#39;Tauhidul Hukum &amp;#39;Beliau menjawab : &amp;quot;Al-Hakimiyah adalah bagian dari &amp;#39;Tauhid Uluhiyah&amp;quot;. Mereka yang mendengung-dengungkan kalimat yang &amp;#39;muhdats&amp;#39; tadi di zaman ini bukanlah untuk mengajari kaum muslimin tentang tauhid yang dibawa oleh para nabi dan para rasul seluruhnya, melainkan hanyalah sebagai senjata politik. Karena itu aku akan tetap menyatakan untuk kalian apa yang telah aku ucapkan tadi, walaupun sebenarnya sudah berulang kali ditanyakan dan berulang kali aku menjawabnya. Atau kalau kau suka kita lewatkan saja apa yang sedang kita bahas.Dalam satu kesempatan seperti ini aku telah menyampaikan pendukung apa yang telah aku ucapkan tadi bahwa penggunaan kata &amp;#39;hakimiyah&amp;#39; adalah pelengkap dakwah politik yang merupakan ciri khas bebe
